Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

MELAWAN POLITIK SARA BERBASIS KEARIFAN LOKAL 3’S (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge)

Seiring dengan tahun politik pemilu serentak 2024 semakin dekat, maka mulailah banyak bermunculan berita hoax di media sosial. Rentetan akun bodong kini gencar melakukan kampanye berbau sara. Tahukah kalian seberapa bahaya isu politik sara itu ? Dalam beberapa kajian akademik mengatakan bahwa politik sara bisa mengancam integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kenapa? karena menebar kebencian sara atas dasar perbedaan pilihan politik itu dapat memecah belah antar kelompok baik itu agama, suku dan ras. Ibaratnya kita menggelendingkan bola salju di gunung bersalju, yang semakin lama akan membesar dan hancur lebur ketika membentur sesuatu yang keras.

Perbedaan suku, kelompok dan ras merupakan pondasi keberagaman terbentuknya bangsa Indonesia, kemudian dikemas dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, artinya meskipun Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan agama serta memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang berbeda-beda, namun keseluruhannya tetap merupakan satu kesatuan dibawah naungan benderah merah putih.

Apa sih defrnisi dari politik SARA ?

SARA merupakan akronim dari Suku Agama Ras dan Antargolongan, jika dikaitkan dengan politik maka defenisinya adalah suatu tindakan politik yang menggunakan ‘sentimen’ perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan untuk mendapatkan suara pendukung dalam rangka memenangkan kompetisi pemilu. Poin ‘sentimen’ ini digaris bawahi karena merupakan benih-benih kebencian yang bisa berujung pada perpecahan hingga kekerasan. 

Dalam undang-undang pemilu nomor 7 tahun 2017 pasal 280 (1) Pelaksana, peserta, dan tim kampanye pemilu pada poin ‘C’ dilarang menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, dan/atau peserta pemilu yang lain. Namun sering kali kita melihat aturan ini tidak diindahkan apa lagi bagi netizen pengguna media sosial. Tak heran jika kita banyak menemukan Bullying yang menginterpretasikan politik sara di facabook, instagram dan youtube.

Masih ingatkah kita dengan istilah ‘Cebong dan Kampret’ produk politik sara pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta 2017. Sampai ada yang mengkampanyekan untuk tidak memilih calon non muslim, tidak mau mensalatkan jenazah hanya karena perbedaan pilihan politik. Dan celakanya lagi, sara itu menjalar ke polosok Negeri, tersebar di media sosial hingga secara tidak lansung itu mempengaruhi alam bawah sadar si pembaca untuk ikut membenci walaupun kita bukan daftar pemilih tetap di Jakarta.

Untuk mencegahnya maka perlu diberikan edukasi kearifan lokal di tiap-tiap daerah. Menjadikan perbedaan suku sebagai spirit kebangsaan untuk saling menghargai walaupun berbeda pilihan, bahwa leluhur kita telah mewariskan pesan-pesan bijak kemanusian kepada kita semua, misalnya dalam suku Bugis di kenal filosofi 3S ‘Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge. 

Sipakatau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah saling memanusiakan, merupakan prinsip kemanusian orang Bugis yang mengajarkan bahwa secara universal hanya ada satu yang disebut manusia yaitu “Ye’ de’ naengka nabbelle rilaleng alemu” (sesuatu yang tidak pernah berbohong di dalam dirimu). Pernahkah kalian ketika ingin melakukan kejahatan, misalnya mencuri tiba-tiba kalian merasakan intuisi berupa larang untuk tidak melakukannya! Yup itulah tafsiran manusia universal yang dimaksud oleh leluhur suku Bugis. 

Kemudian Sipakatau dijabarkan lagi menjadi saling mengarahkan kepada kebaikan dan kebenaran. Saling berkata benar dan saling saling mempercayai, saling memperlakukan manusia kepada kadar yang seharusnya ia diberikan penghormatan yaitu pada kebaikan dan kebenaran (Buku To Ugi hal, 97). 

Sebenarnya mereka yang masih tinggal dalam lingkungan suku Bugis, lazimnya memahami konsep sipakatau ini, cuman butuh sedikit sentuhan moral agar mengingatkan mereka pada jadi diri ke Bugis’annya. Dan ini sejalan dengan undang-undang pemilu, tinggal bagaimana kita mengelabporasi dan memberikan edukasi tentang kampanye dengan prinsip sipakatau. Tapi yang paling utama harus dimulai dari diri sendiri terutama penyelenggara pemilu.

Sipakalebbi artinya saling memuliakan, merupakan turunan dari kata sipakatau. Tau atau manusia, merupakan sesuatu kebenaran dan kebaikan yang bersemanyam dalam diri setiap orang. Kebenaran yang setiap saat hadir dalam bentuk intuisi dalam pribadi tiap individu, sesuatu yang universal yang dimiliki setiap personal, jadi jika seseorang memuliakan orang lain maka ia juga akan memulikan dirinya sendiri. Dari prinsip inilah kita bisa saling menjaga ‘siri na pesse’ sifat rasa malu dan kebersamaan yang menjadikan seseorang manusia mulia.


KEARIFAN LOKAL PEREMPUAN BUGIS

Pada akhir abad ke 18 di belahan bumi barat, tepatnya di Inggris, muncul sebuah gerakan politik diprakarsa oleh seorang perempuan. Ia menyebut kelompoknya dengan women’s movement (gerakan perempuan). Ia mengalami gejolak dalam dirinya karena adanya partisipasi yang timpang antara laki-laki dan perempuan dalam politik. Perempuan dianggap sebagai sosok inferior, dianggap tidak punya rasionalitas seperti laki-laki.

Untuk itu, ia menilai, penggulingan monarki absolut semestinya akan menjadi momentum bagi perempuan untuk bergerak. “Telah tiba waktunya untuk mempengaruhi sebuah revolusi melalui cara perempuan, telah tiba saatnya untuk memulihkan kewibawaan perempuan yang telah hilang. “tulis Mary Wollstonecraft, lewat bukunya ‘A Vindication of the Rights of Woman. Gerakan ini nanti disebut Feminisme.

Berselang satu abad kemudian (abad ke 19), di belahan bumi timur, tepatnya di ’Pancana Toa’ salah satu kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan, seorang perempuan dinobatkan sebagai Arung (pemimpin). Ia adalah Colliq Pujie. Nama lengkapnya Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa. Ia juga menulis sebuah naskah (buku) dengan judul “Lontaraq Tanete. Selain itu ia juga berperan dalam mengumpulkan catatan kuno, yang dikenal dengan La Galigo, ‘sastra kuno terpanjang di dunia.

Berbeda dengan Mary, Colliq Pujie malah memperkuat integritas monarki absolut untuk melawan imperialisme, yakni penjajahan yang dilakukan oleh kolenial Belanda. Statusnya sebagai perempuan, tidak menjadi penghalang bagi dirinya berdiri digaris terdepan, untuk melakukan perlawanan militer terhadap penjajah.

Sosok Colliq Pujie memberikan gambaran bahwa kebudayaan Bugis tidak mendiskriminasikan perempuan dalam politik kepemimpinan. Perempuan Bugis juga memiliki sisi superior layaknya laki-laki. “Lalu pantaskah ini disebut Feminisme ? Colliq Pujie hanya salah satu dari sekian banyak tokoh perempuan Bugis. Perlu juga diketahui bahwa beberapa kerajaan Bugis memiliki pemimpin pertama (to manurung) mereka adalah sosok perempuan, sebuat saja kerajaan Bugis Suppa di Pinrang.

Dalam sejarah mencatat bahwa perempuan bugis dapat mengambil peran ganda sekaligus. Baik dilingkungan keluarga maupun dalam dunia publik. Perempuan sebagai pendamping suami, perempuan sebagai penggerak sosial kemasyarakatan, dan sebagai pendidik anak, generasi muda yang kelak menjadi penerus mereka. Semua itu ada pada sosok Colliq Pujie Arung Pancana Toa, seorang  istri, ibu, dan Ratu (pemimpin) sekaligus intelektual perempuan dizamannya, sebagaimana disebutkan dalam petuah Bugis. 

“We’dittoi situnreng pung ade’e jemma te’be’e makka’i mancaji dulung papole enrengnge asalewangeng.

(Perempuan juga berhak untuk dipilih seluruh rakyat untuk menjadi pemimpin mereka di jalan kemakmuran dan keselamatan)

Mancaji pattaro tettong rilempu’e punnai cirinna engrenge lampe ‘Nawa-nawa mewai sibaliperri waroanena sappa laleng atuong.

(Menjadi penuntun yang jujur, hemat bijaksana sekaligus mitra pendukung dan penopang dalam mengatasi kesulitan maupun perjuangan dalam mengatasi segala hal)

Kembali ke abad sekarang (abad 21). Seorang kawan pernah bercerita. Dikampungnya Dusun Moti Kabupaten Bantaeng. Dibidang pertanian, jika waktu tanam tiba, perempuan mempunyai peran menanam padi di sawah, setelah sawah itu dibajak oleh laki-laki. Budaya itu sudah turun temurun diwariskan oleh leluhurnya, “tutur kawan. Ini salah satu bukti penerapan kesetaraan gender dalam mengelolah pertanian dan tidak ada pembatasan untuk mengambil peran. Bisakah ini disebut Emansipasi ?

Selain itu, terdapat juga filosofis Bugis yang memberikan penghormatan kepada kaum perempuan untuk kerja-kerja berat, yakni ‘’Makkunrai majjujung, uroane mallempa (Perempuan menjunjung, laki-laki memikul). Maksudnya perempuan hanya membawa satu bawaan (beban), istilahnya majjujung, yakni membawa satu barang dengan menyimpannya di atas kepala.

Sedangkan laki-laki membawa dua barang dengan menggantungkannya pada dua ujung tongkat (pikulan) yang ditaruh di atas bahu. Filosofinya adalah perempuan membawa hanya satu dan laki-laki dua. Beda lagi pada pernikahan, sebaliknya laki-laki memberikan dua dan perempuan hanya meberikan satu agar tidak membebani perempuan secara finansial. Begitulah budaya bugis dalam memberikan keistimewahan terhadap perempuan.

Cuman sangat disayangkan pendidikan formal kita, terlalu berkiblat pada teori barat tentang diskursus Feminisme, Gender, Emansipasi, dan gerakan perempuan lainnya. Apakah mereka tidak mengetahui perempuan Bugis, Colliq Pujie tidak kalah tangguhnya jika disandingkan dengan Mary Wollstonecraft?

Diakhir tulisan ini saya ingin mengutip petuah Bugis, tentang peran perempuan bugis sebagai Istri dan Ibu?

 mancaji Indo Ana Tettong ridecengnge tudang ripacingnge” Terjemahan : Menjadi seorang Ibu yang berada pada kebaikan dan kebersihan (sholeh dan suci)

Sementara pesan untuk perempuan yang sudah menikah (berstatus sebagai Istri).

mancaji siatutuiang siri na enrengnge napabbatina ritomatoanna, riselessureng macoana lettu ri’orowanena. Terjemahan : Menjaga kehormatan diri dan keluarga, menjadi kebanggaan orang tua beserta saudara dan suaminya.

Fatimah Ummul Banin Sagena
Foto hanya pemanis

Makassar, 12 Maret 2021

Nurfasirah Muh. Nur

(Aktifis Perempuan)

WISATA BUDAYA MAKASSAR, BENTENG FORT ROTTERDAM

PARADOKS BENTENG FORT ROTTERDAM, Peninggalan Kerajaan Gowa atau Belanda? 

Oleh Haeruddin Syams

Di hulu Jalan Ujung Pandang Kota Makassar terlihat deretan batu hitam yang tersusun rapi menjulang ke atas, kira-kira tingganya sekitar 5 meter. Batu itu kukuh membentuk sebuah benteng menghadap ke bibir pantai kota Makassar yang luasnya tidak lebih dari 2 kali lapangan sepak bola. 

Terlihat aksara latin berwarna merah di bibir jalan trotoar bertuliskan “Fort Rotterdam”. Tepat di bagian depan benteng terlihat patung seorang laki-laki memakai pengikat kepala yang mengarahkan jari telunjuknya ke depan, berwarna putih sambil mengendarai seekor kuda.

Benteng yang berbentuk persegi itu memiliki taman tepat di tengah, tersusun pula bangunan tua mengelilingi pinggir bagian dalam banteng. Di sekitaran taman bunga tampak dua orang perempuan berpose sembari salah seorang temannya mengabadikan gambar di handphone mereka. Ada juga pengunjung yang hanya duduk santai  menikmati pemandangan taman. 

Daya tarik wisata budaya Fort Rotterdam memikat banyak pengunjung yang berdatangan dari berbagai daerah, kata teman saya “mereka akan merugi jika jalan-jalan ke Kota Makassar kemudian tidak main ke Benteng Fort Rotterdam. Tempat yang menakjubkan untuk memanjakan mata, dan wajib bagi kalian mengabadikan dalam koleksi foto smartphone

*****

Dalam sejarah tercatat, sebelum kekalahan kerajaan Gowa di perang Makassar (1667) oleh Belanda belum ada yang namanya Fort Rotterdam. Tameng kuat di pesisir pantai Makassar itu bernama benteng Jumpandang atau Ujung Pandang. Namun sebelum nama itu, orang Gowa-Tallo dulu menyebutnya dengan Panyyua

Pada awal pembangunan benteng oleh Raja Gowa ke 9, Daeng Matanre, Karaeng Manguntungi Tumapparisi Kallonna pada tahun 1545, benteng itu dibuat menyerupai penyu (Panyyua, dalam ejaan bahasa Makassar), menghadap ke bibir pantai seolah-olah ingin bergerak turun ke laut, itulah alasan kenapa disebut dengan Panyyua

Sketsa Benteng Panyyua
Sumber, grup FB Sejarah Makassar Oleh Natsir

Ada dua masa untuk menyempurnakan bangunan benteng. Pertama saat Raja Gowa ke 10, beliau menambahkan batu karang yang awalnya hanya berupa tanah liat. Kedua Sultan Alauddin Raja Gowa ke 14. Dimasanya benteng dibuat dinding persegi empat dengan meggunakan batu. Dibangun pula rumah panggung khas Makassar yang terbuat dari kayu beratapkan daun nipah sebagai pumukiman prajurit kerajaan Gowa.

Hanya saat ini saya belum mendapat informasi terkait perubahan nama dari Benteng Panyyua ke Jumpandang. Kalau Fort Rotterdam sendiri merupakan pemberian dari Belanda. Ketika Gowa kalah perang, Belanda mengambil alih benteng tersebut untuk dijadikan pusat pemerintahan dan komando pertahanan serta gudang penampungan rempah-rempah.  

Nama Fort Rotterdam merupakan kota kelahiran Cornelis Speelman, ia seorang panglima pasukan Belanda yang menjadi pemimpin pada saat perang penaklukan kerajaan Gowa. Selain mengganti nama, Belanda juga melakukan perombakan total terhadap bentuk dan struktur benteng serta membangun rumah dengan desain eropa sebagai tempat tinggal mereka.

*****

Setelah kemerdekaan pada tahun 1970, Benteng Fort Rotterdam diambil alih oleh departemen pendidikan dan kebudayaan untuk dijadikan sebagai cagar budaya yang bertanggng jawab atas perawatan hingga pelestariannya. Dibuatlah beberapa fasilitas seperti Museum La Galigo Provinsi Sulawesi Selatan, Perpustakaan, Musollah hingga taman bermain anak-anak. 

Untuk memudahkan pengunjung mengetahui fungsi tiap bangunan, maka diberi tanda huruf tiap gedung mulai dari A sampai P beserta dengan keterangannya. Misalnya gedung N dulunya digunakan untuk menerima tamu dan sempat pula dijadikan ruang tahanan Pangeran Diponegoro saat ia tertangkap oleh pasukan Belanda. 

Bangunan 'N'
Oleh Haeruddin Syams

Saat ini pengelolah juga menyediakan jasa penyewaan gedung dan halaman benteng, jika ingin membuat sebuah kegiatan dengan tema budaya. Beberapa kali saya dapatkan pentas seni diselenggarakan, sempat pula event Internasional yakni Festifal Aksara Lontaraq. Tahun 2015 yang lalu saya beserta kawan Lontaraq Project pernah membuat pameran dalam rangka meramaikan World Heritage Day di benteng Fort Rotterdam. ( baca tulisannya disini )

Ada beberapa kesan saya dapatkan setelah kunjungan di benteng Fort Rotterdam. Pertama, saya heran kenapa pemerintah tidak mengembalikan nama benteng Fort Rotterdam menjadi benteng Jumpandang atau Panyyua !? kesannya seakan-akan kita mengabadikan kekalahan perang dan proses jatuhnya benteng ketangan Belanda. Cornelis Speelman saja lansung mengganti namanya sesaat setelah mengambil alih benteng. Dengan penyebutan Fort Rotterdam itu juga akan menjadi pengaburan sejarah sebelum dikuasai oleh Belanda.

Kedua saya kurang sepakat dengan pernyataan beberapa kawan ketika benteng Fort Rotterdam dijadikan sebagai identitas Makassar. Cobalah sejenak berjalan mengelilingi benteng, mulai dari pintu gerbang melangkahkan kaki dari ujung kanan hingga ke ujung kiri kemudian kembali lagi ke pintu gerbang. Adakah yang kalian lihat sesuatu yang memiliki ciri khas Makassar (kerajaan Gowa-Tallo)? Dinding beserta struktur bangunan yang sangat identik dengan desain klasik eropa tepatnya bangunan-bangunan Belanda.

Paradoks benteng Fort Rotterdam, apakah peninggalan Kerajaan Gowa atau Belanda ? 

Mungkin yang tersisa hanya lokasinya, bahwa di tanah itu dulunya pernah dibangun sebuah benteng yang mirip penyu oleh arsitek perang kerajaan Gowa.


Membaca Sejarah Islamisasi Suku Bugis Makassar

Pekan ini dengan adanya wabah covid19 kantor saya mengambil kebijakan Work From Home (WFH). Di rumah, sembari menyelesaikan pekerjaan kantor, saya menyempatkan diri untuk membaca buku Islamisasi kerajaan Gowa, oleh Prof. DR. Ahmad M.Sewang, M.A. Dengan segala keterbatasan, saya hendak berbagi bacaan melalui tulisan ini.

Naskah  kuno suku Bugis-Makassar yaitu lontara, mencatat peristiwa bagaimana masuknya agama Islam di beberapa kerajaan Sulawesi Selatan. Adapun naskah tersebut adalah Lontara Bilang, Lontara Pattorioloanga Togawaya, Lontara Pattorioloanga ri Totallo, dan Lontara Sukkuna Wajo.

Mungkin masih ada lontara lain yang merekam penyebaran Islam, tapi yang saya dapatkan sejauh ini hanya empat lontara di atas. Selain naskah kuno kita juga bisa melacak proses islamisasi melalui prasasti-prasasti, cerita tutur rakyat, benda-benda pusaka dan tempat-tempat bersejarah.

Tapi dikesempatan ini saya lebih merujuk kepada naskah Lontara sebagaimana Prof. Ahmad menuliskan dalam bukunya. Agar lebih mudah dipahami saya akan membagi tiga masa penyebaran agama Islam suku Bugis-Makassar.

Masa Tiga Datuk

Di Awal abad XVII tiga orang mubalig, Abdul Makmur, Sulaiman, dan Abdul Jawad dari Koto Tangah Minangkabau datang ke tanah Sulawesi, mereka dikenal dengan tiga orang datuk, datuk tallua (Makassar) datuk tellue (Bugis), yaitu Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, Datuk ri Tiro.

Mereka juga kadang dipanggil dengan sapaan Khatib Tunggal, Khatib Sulung, dan Khatib Bungsu. Kedatangan tiga datuk inilah kemudian dijadikan rujukan sebagian sejarawan sebagai awal penyebaran agama Islam.

Penyebaran Islam oleh tiga Datuk di mulai dari tanah Luwu hingga Raja Luwu La Patiware Daeng Parabu masuk Islam pada hari jum’at 15 Ramadan 1013 H bertepatan dengan 4 Februari 1605 M. Kemudian Raja Luwu diberi gelar Sultan Muhammmad Waliy Muzahir al-Din.
Dari Luwu ketiga datuk melanjutkan dakwah ke tanah Gowa atas usulan Raja Luwu. Berkata Raja Luwu “Alebbiremmani engka ri-Luwu, awatangeng engka ri-Gowa” (Hanya kemuliaan saja yang ada di Luwu, sedangkan kekuatan terdapat di Gowa).

Strategi dakwah ketiga Datuk dalam proses mengislamkan di Sulawesi Selatan dengan cara menyebar satu sama lain. Datuk ri Bandang di Gowa-Tallo, Datuk Patimang tetap tinggal di Luwu, sedangkan Datuk ri Tiro bertugas di daerah Tiro Bulukumba.

Mereka melakukan penyiaran agama Islam dengan cara yang berbeda sesuai dengan budaya masyarakat setempat. Jadi tidak heran kemudian jika kita menemukan budaya Bugis-Makassar yang terikat dengan ajaran Islam, karena adanya akulturasi Islam dengan budaya lokal.

*****

Sehubungan dengan kepergiaan Datuk ri Bandang ke Gowa-Tallo, tiba-tiba saya teringat cerita seorang kawan tentang asal asul penamaan kota Makassar. Ini versi cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun. Alkisah, di pesisir pantai kerajaan Tallo telah berlabuh sebuah kapal membawa seorang lelaki yang tidak dikenal.

Ia datang dengan menggunakan perahu ajaib yang terbuat dari kulit kacang hijau. Saat tiba di pantai ia lansung melaksanakan sembahyang. Kejadian itupun terekam dalam benak masyarakat setempat hingga menjadi buah bibir.

Tak lama berselang cerita pun sampai ditelinga Raja Tallo, I Malingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka. Ia bersegera datang untuk menemui lelaki itu. Akan tetapi di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang lelaki tua.

Mau kemana engkau dengan begitu terburu-buru, “Tanya orang tua itu. Aku hendak menemui seorang lelaki yang sedang hangat dicerita oleh rakyat ku, “jawab Raja Tallo. Mengetahuinya, orang tua itu kemudian menuliskan sesuatu di atas ibu jari Raja Tallo untuk diperlihatkan kepada lelaki yang hendak ditemuinya sembari menitipkan untuk disampaikan salam.

Bertemulah Raja Tallo dengan lelaki itu, sesaat setelah ia selesai menyampaikan salam kemudian lelaki itu menjawab salamnya sambil mengatakan, “bahwa yang tertulis di ibu jarinya adalah surat Al-Fatiha. Yah, Engkau telah bertemu dengan nabi Muhammad, Rasulullah SAW, “tambahnya lagi.

Pertemuan Raja Tallo dengan Rasulullah SAW disebut dalam bahasa Makassar, “Makkasara’mi Nabbi Muhammad ri buttaya ri Tallo” (Nabi Muhammad SAW, menampakkan diri di Kerajaan Tallo). Nama itu kemudian menjadi awal penyebutan Makassar.

Bagi saya cerita rakyat tentang asal usul nama Makassar merupakan bukti bahwa kita memiliki budaya tutur yang sangat kaya akan makna, yang penuh dengan teka-teki, jadi kita cuma butuh mengabadikannya dalam sebuah tulisan dengan baik tanpa harus melakukan penilaian benar atau salah, karena butuh kajian lebih jauh untuk memahami cerita rakyat di atas yang tidak sempat dibahas dalam tulisan ini, intinya cerita itu tidak akan bisa di pahami  secara tekstual.

Adapun peristiwa kedatangan tiga Datuk tercatat dalam lontaraq Wajo yakni pada abad ke XVII. Jadi kalau merujuk pada masa ini agama Islam masuk ke sendi-sendi kehidupan suku Bugis-Makassar sekitaran tahun 1600-1700an.

Masa Islam Diterima Secara Resmi Oleh Kerajaan-Kerajaan

Jum’at 22 September 1605 M/ 09 Jumadil Awal 1014 H. Raja Tallo Karaeng Matoaya bersyahadat dan menerima agama Islam menjadi keyakinannya. Ia pun diberi gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Semasa dengan itu Raja Gowa Karaeng I Mangngarangi Daeng Manra’bia pun memeluk agama Islam dengan gelar Sultan Alauddin. Kedua kerajaan inilah yang kemudian akan mengambil peran besar dalam proses Islamisasi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.

Dua tahun berselang yakni 09 November 1607 M/ 19 Rajab 1016 H untuk pertama kalinya sholat jum’at dilaksanakan di Tallo. Raja Sultan Alauddin pada saat itu juga menyampaikan keputusan dihadapan para jamaah, bahwa kerajaan Gowa resmi menjadikan Islam sebagai agama kerajaan dan sebagai pusat Islamisasi. Lembaga sarak pun dibentuk dalam struktur kerajaan  yang dipimpin oleh Daeng Ta kaliya (Makassar) Petta Kalie (Bugis).

Lembaga sarak berfungsi untuk mengatur masalah keagamaan dalam masyarakat seperti nikah, talak-rujuk, warisan, zakat, serta pengurusan tempat ibadah. Bertanggung jawab pula atas dakwah Islam di kalangan rakyat Gowa-Tallo guna memperdalam ilmu  keislaman.

Pemimpin lembaga sarak Daeng Ta kaliya dibantu oleh pejabat di bawahnya, yaitu Daeng Imang, Guruwa, Katte, Bidala, dan Doja atau Jannang Masigi. Mereka biasanya dipanggil sebagai pegawai sarak (aparat keagamaan). Jadi semua kegiatan keagamaan seperti penentuan awal puasa, Lebaran, sholat jumat, dan hari-hari besar Islam lainnya harus melalu Lembaga sarak.

*****

Penerimaan Islam oleh Gowa-Tallo menjadi awal untuk menyebarkan Islam di kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, Raja Gowa melalui politik Islamisasi menggunakan perjanjian yang dulu pernah disepakati oleh beberapa kerajaan seperti, Bone, Soppeng, Wajo, Sawitto, Suppa, Alitta, Sidenreng, Rappang dan kerajaan-kerajaan yang lain.

Adapun bunyi perjanjian tersebut, ‘’Barang siapa menemukan jalan yang lebih baik, maka ia harus memberitahukan kepada raja-raja sekutunya’’.

Raja Sultan Alauddin pun mengirim utusannya ke berbagai kerajaan untuk meyampaikan penerimaan Islam di kerajaan Gowa, serta menyampaikan ajakan kepada para sekutunya untuk memeluk agama Islam. Awalnya penyiaran agama Islam dilakukan secara damai, itulah kenapa setiap utusan Raja Gowa membawa hadiah untuk diberikan kepada kerajaan sekutunya.

Hadiah ini sebagai simbol penghormatan Raja Gowa kepada para sejawatnya. Ada beberapa diantara Raja yang menerima hadiah dan ajakan itu, maka Raja tersebut akan memberikan balik hadiah kepada Raja Gowa sebagai tanda terima kasih.

Adapun kerajaan yang menolak maka diselesaikan dengan peperangan. Dari situlah kemudian muncul istilah Musu Selleng (Bugis) atau Bundu’ Kasallanga (Makassar) yang artinya adalah musuh Islam.
*****

Pernah seorang kawan berdiskusi dengan saya, ia menyampaikan bahwa masyarakat di Wajo sudah mengenal Islam sebelum Gowa datang membawanya. Hanya saja belum secara resmi diterima oleh pihak kerajaan.

Bukan cuma di Wajo itu juga terjadi di beberapa kerajaan lain. Ini merupakan bukti bahwa nyawa Islam sudah lama hadir dalam sendi-sendi masyarakat dan mungkin saja proses dakwahnya secara sembunyi-sembunyi. Jadi tidak heran ketika Islam begitu mudah diterima di kerajaan-kerajaan Bugis Makassar.

Adapun peristiwa masuknya Islam Raja Gowa dan Tallo tercatat dalam tiga lontaraq :

  • Lontaraq Tallo : malam Jumát 09 Zulhijah 1025 H/ 20 September 1605 M
  • Lontaraq Bilang : malam Jumát 09 Jumadi I 1015 H/ 22 September 1603 M
  • Lontaraq Gowa : hari jumát 09 Jumadi I / 22 September (tidak ada keterangan tahun)

Masa Perdagangan

Tahun 1513 M, Tome’ Pires mencatat dalam perjalanannya melaut dari Malaka ke laut Jawa, bahwa dia telah menemukan orang-orang Makassar sebagai pelaut ulung. Ia mengemukakan bahwa ‘’Orang-orang  Makassar telah berdagang sampai ke Malaka, Jawa, Borneo, negeri Siam dan juga semua tempat yang terdapat antara Pahang dan Siam”.

Pada saat itu perdagangan masih dikendalikan oleh pedagang Melayu Muslim, sebelum kedatangan orang-orang Eropa yang memonopoli semua perdagangan di kawasan Asia Tenggara.

Catatan Pires bisa memberikan gambaran, bahwa interaksi orang-orang Makassar sudah terjalin dengan pedagang Melayau Muslim di tahun 1500an. Itu berarti sebelum kedatangan tida datuk.

Meskipun masa ini tidak termuat dalam lontara tapi kita bisa mengambil asumsi, bahwa bisa saja hubungan dagang antara orang-orang Makassar dengan pedagang muslim mereka mempelajari agama Islam dan menjadikannya sebagai sebuah keyakinan. Mungkin saja sudah ada pedagang Makassar yang sudah menjadi muslim sebelum Kerajaan Gowa dan Tallo di terima secara resmi di tahun 1606 M.

Pada zaman Raja Gowa Tonipallangga (1546-1565 M) ia memindahkan pusat pemerintahan dari Bonto Biraeng ke Maccini Sombala yang diberi nama Somba Opu. Ini karena posisinya sangat strategis untuk jalur perdagangan, berada di muara sungai Jeneberang yang berhadapan lansung dengan laut. Perpindahan ibu kota kerajaan ini pun sangat berdampak baik terhadap perdangangan Gowa yang semakin berkembang.

Banyak pedagang Melayu Muslim  yang berdatangan ke Gowa hingga diantara mereka ada yang sampai bermukim. Melalui jalur perdagangan sebenarnya sudah banyak masyarakat Bugis-Makassar menjalin interaksi dengan para pedagang Melayu Muslim dan tidak menutup kemungkinan banyak diantara meraka yang sudah menjadi Muslim sebelum kedatangan tiga datuk di abad ke XVII.

Analisa

Pertama, penafsiran catatan lontaraq tentang masuknya Islam Raja Gowa-Tallo pada tahun 1605 M tidak bisa ditafsirkan sempit secara teks. Pengenalan Islam tidak langsung serta merta mengucapkan dua kalimat syahadat akan tetapi perlu dulu pemahaman tentang usuluddin (dasar-dasar ajaran Islam), seperti ilmu Tauhid, Nubuwwah, hari akhir, qada dan qadar.

Untuk melakukan sholat Jum’at pertama saja setelah ajaran Islam resmi diterima Kerajaan Gowa-Tallo nanti setelah dua tahun kemudian yakni 1607 M.

Bagaimana dengan mengajarkan Usuluddin? Mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk mendakwakannya agar bisa diterima sebagai keyakinan dan sebagai konsekuensinya adalah masuk agama Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Yang kedua, hubungan dagang masyarakat Bugis-Makassar dengan pedagang Muslim Melayu sudah terjalin lama jauh sebelum Islam dibawah oleh tiga datuk.  Meskipun tidak tertulis dalam lontara tapi catatan Tome’ Pires bisa dijadikan sebagai rujukan, bahwa interaksi itu pernah terjalin.

Kemungkinan adanya pedagang Bugis-Makassar memeluk agama Islam bisa saja terjadi, hingga mereka pulang ke kampung halaman dan memperkenalkannya dengan keluarga dan orang-orang terdekat mereka, hanya saja kita perlu melacak data sejarah untuk menguatkan hal tersebut. 

Ketiga, saya pernah mendengar sebuah diskursus yang menceritakan tentang Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini sudah membawa agama Islam di tanah Bugis-Makassar tepatnya di Tosora Wajo pada tahun 1300an. Cuman saya belum menemukan data sejarah akan hal itu seperti yang dijelaskan pada Lontara Bilang, Lontara Pattorioloanga Togawaya, Lontara Pattorioloanga ri Totallo, dan Lontara Sukkuna Wajo tentang sejarah masuknya Islam. 


Maqam Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini

Di luar sana bisa saja ada diskursus lain yang belum saya dapatkan mengenai kedatangan Islam dalam sendi-sendi suku Bugis-Makassar sebelum tahun 1300an. Adakah dari pembaca sekalian yang ingin berdiskusi atau berbagi data dan cerita mengenai jejak Islam suku Bugis-Makassar?

Makassar, 12 April 2020

Kisah di Balik Maccera Arajang Kerajaan Alitta

Rombongan masyarakat adat dengan pakaian khas Bugis telah meniggalkan rumah kepala desa Alitta menuju tempat penyimpanan Arajang kerajaan Alitta. Sebelumnya mereka telah menjemput Sanro Wanua secara adat yang nantinya akan diarak keliling desa oleh empat orang dengan menggunakan walah suji bersama dengan warga yang diiringi irama musik tradisional. Yah, Sanro wanua-lah yang akan memimpin prosesi maccera Arajang di rumah adat dan di dalam halaman sumur Manurung Lapakkita. Tidak ingin ketinggalan, beberapa tamu yang begitu antusias turut berpartisipasi sembari mendokumentasikan moment yang amat penting itu. Salah satu dari mereka adalah komunitas LSM Sempugi dan saya tergabung dalamnya.

Rombongan Masyarakat Adat
Anggota Komunitas LSM Sempugi
Sanro Wanua
Acara adat ini kurang lebih sudah lima puluh dekade terselenggara secara turun temurun dikalangan masyarakat Alitta. Semenjak masa kepemimpinan Arung Alitta yang ke tiga La Massora yang memprakarsai lahirnya sebuah Arajang kerajaan. Dan dilakukan kegiatan Maccera satu kali dalam lima tahun hingga sekarang. Kali ini dana yang digunakan berasal dari swadaya warga Alitta berupa uang ataupun beras yang sudah ditetapkan nominalnya dan beberapa donatur yang masih menjujung tinggi adatnya dengan memberikan bantuan agar kegiatan tersebut bisa terselenggara.

****

Alitta merupakan salah satu dari lima kerajaan konfederasi Ajatappareng yang dulunya membentuk sebuah kekuatan untuk membentengi kekuatan militer Goa. Tapi saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang itu tapi lebih kepada era La Massora. Menurut informasi dari daeng Cindang, Arajang Alitta berupa pakaian/selendang seorang bidadari yang pernah menjadi istri Arung Alitta ke tiga. Dalam lontara Alitta pun mendeskripsikan kisah mereka dan begitu juga tutur yang dipecayai oleh warga setempat.

Seperti biasa senyum tipis Daeng Cindang senantiasa ia pancarkan saat lagi bercerita, saya duduk santai didepannya bersama dengan sureng Sempugi sambil menyimak secara seksama ia menjelaskan kisah di balik Arajang Alitta. Adapun ceritanya sepeti berikut ; Setiap malam jum'at La Bolong-anjing peliharaan La Massora tidak pernah pulang kerumah nanti ketika malam sabtu anjing itu baru kembali, anehnya La Bolong selalu pulang dengan aroma harum dan itu sudah berlansung selama beberapa pekan sehingga membuat ia penasaran. Hal itu pun ia sampaikan kepada para penjaga dan masyarakat Alitta hingga cerita itu menyebar.

Di tempat yang lain tepatnya hutan di gunung yang masih wilayah Alitta, Lato-lato'e pangonrang manu kale'na La Massora (penjaga ayam hutan La Massora) mendengar suara anaddara (perempuan) beserta percikan air dan gongngongan anjing. Rasa penasaran pun menggerakkan ia melangkahkan kaki untuk mencarinya. Saat ia menemukan asal suara itu ia melihat tujuh perempuan "dalam lontara Alitta dituliskan anak bidadari" sedang mandi dan bermain air dengan La Bolong, Tempat itu dinamakan Bujung Pitue "tujuh buah sumur kecil kira-kira besar mulut sumur seperti piring makan. Dengan wajah kaget ia bersegera pergi untuk mencari La Massora guna menyampaikan peristiwa tersebut.

Di siang hari ba'da sholat Jum'at Lato-lato'e menemui La Massora di rumahnya dan menceritakan semua yang ia saksikan. Masa itu Arung Alitta sudah memeluk agama islam sekitar abad ke lima belas. Hari Jum'at berikutnya La Mossora masuk hutan untuk memastikan kebenaran informasi yang ia dapatkan tentang anak bidadari dan anjing peliharaannya. Bersama Lato-lato'e, La Bolong dan beberapa orang pengawal ia pun sampai di tempat itu dan membuat tempat persembunyian yang strategis menggunakan kayu besar yang ditancapkan kedalam lubang yang ia buat sedalam pusar, dengan begitu mereka bisa melihat dengan jelas yang di tunggu-tunggunya.

Matahari tepat berada di atas kepala dari kejauhan terlihat tujuh perempuan yang mendekat menujuh bujung pitue. Begitu juga dengan La Bolong tiba-tiba berlari kesana. Seperti yang dikatakan Lato-lato'e, anjing kesayangan La Massora pernah bersama anak bidadari di sana dan sekarang ia melihat lansung hal tersebut. Sepertinya keberadaan mereka tercium, salah satu dari anak bidadari mengatakan "dioko magatti nasang engka sedding mabbau tau lino" (cepatlah kalian mandi karna saya mencium aroma manusia disekitaran sini) akan tetapi yang paling bungsu tidak mempedulikan kata-kata itu dan tetap asyik bermain air. Keenam kakanya pun bersegera meninggalkan Bujung Pitue, karna terbawa keceriaan bersama La Bolong si bungsu tidak menyadari bahwa ia telah di tinggal sendiri.

Kesempatan inilah yang digunakan oleh La Massora untuk mengambil selendang anak bidadari dan menangkapnya. Dengan bantuan pasukannya anak bidadari ditandu ke perkampungan. Saat sampai diperkampungan masyarakat Alitta berkumpul di suatu tempat untuk melihat lansung anak bidadari itu. Tempat itu kemudian dinamakan Makkita (melihat) sekarang menjadi La Pakkita. La Massora kemudian meminta anak bidadari untuk menjadi istrinya. Akan tetepi anak bidadari mengajukan satu syarat, ia ingin dibuatkan sumur khusus karna ia tidak ingin bercampur air yang dipakai untuk mandi dengan manusia. Sumur itu sekarang menjadi situs budaya karna ia berada di kampung yang sudah diberi nama La Pakkita maka namanya mengikuti yaitu Sumur La Lapakkita.

Sedangkan anak bidadari dipanggil We Bungko artinya bungsu. Dari penikahan La Massora dengan We Bungko mereka dikaruniahi seorang anak laki-laki, namanya adalah La baso. Singkat cerita suatu peristiwa yang tidak pernah diduga oleh La Massora, ketika sang bidadari Mallajang (menghilang) dan menitipkan pakaian/selendang-nya yang kemudian menjadi Arajang (Kebesaran) di Alitta hingga sekarang ini.

-HS’Masagenae

SEJARAH KERAJAAN SUPPA Part II

ILUSTRASI, Sumber : http://goo.gl/lhB5cq
Sejarah Kerajaan Suppa Part I saya telah menjabarkan tentang proses terbentuknya kerajaan suppa oleh kedatangan To Manurung We Tipulinge yang kemudian ia dinobatkan sebagai Datu Suppa pertama oleh masyarakat Suppa. Untuk kesempatan kali ini saya akan mepaparkan regenerasi dari Datu suppa.

****

Dengan dianggakatnya We Tipulinge sebagai Datu Suppa pertama dan setelah ia di persunting oleh Labangngenge Manurung Ri Bacukiki maka terbentuklah keluaga dalam kerajaan Suppa, ini kemudian menjadi cikal bakal regenerasi Datu Suppa yang kelak akan meneruskan kepemimpinan.
Dari persilangan kedua To Manurung Suppa dan Sawaitto, kemudian melahirkan tiga orang anak,

1.    Lateddung Lompoh (lk)
2.    Laboting Langi (lk)
3.    We Pawawoi (pr)

Atas kehendak kedua orang tuannya, Lateddung Lompoh ditunjuk sebagai Datu Suppa sekaligus merangkap sebagai Addatuang Sawitto. Kebijakan itu kemudian menimbulkan kekecewaan dari adiknya karna ia hanya diberikan kerajaan kecil yaitu Tanete. apa’na akkarungang baiccu-mi ripamanakiangngi “Hanya kepemimpinan kecil diwariskan kepada saya” kata  Laboting Langi yang menjabat sebagai Arung Tanete. (sumber : Terjemahan Lontara Suppa Dinas Sosial, Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Pinrang 2012). Sedangkan adiknya yang bungsu We Pawawoi menjadi Arung di Bacukiki, dan di nikahi oleh anak Addaowang Sidenreng La Songko Ulaweng.

Tanpa menafikkan alasan/pendekatan yang lain, mungkin saja garis hirarkis yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa Lateddung Lompo yang diberi kuasa penuh untuk menggantikan ayah dan ibunya di Suppa dan Sawitto. Karna Datu Suppa yang menggantikan La Teddung Lompo juga merupakan anak pertamanya yaitu La Putebuluh. Akan tetapi Jika kita menggunakan pendekatan lain, biasanya dalam budaya Bugis, anak yang paling mirip dengan sosok ayah dan ibunya yang akan mewarisi pusaka sebagai bukti bahwa dia adalah pemimpin selanjutnya. Mirip yang di maksud bukan secara biologis akan tetapi karakter. Walaupun Itu hanya hipotesis saya dan masih membutuhkan pendalam data yang falid untuk kebenarannya.

-HS’Masagenae

Situs Sejarah Makam Raja Tallo

Seorang lelaki sedang duduk terdiam sembari memandangi batu nisan dalam komleks makam raja Tallo, ia sedang mejalankan tugas di makam tersebut. setiap hari kerja ia selalu melakukan aktifitas itu berhubung ia adalah penjaga yang mengelolah makam. Selamat siang Pa’ sapa saya, Ia lansung terkejut saat mendengar suara saya. Dengan perlahan ia melangkahkan kaki ke arah saya dan mengarahkan saya untuk mengisi absen registrasi pengujung, kemudian ia mengajak saya duduk bersama di pos jaga sambil mengobrol.

Pa Ibrahim, panggilan akrabnya. Ia berasal dari kabupaten pangkep datang ke Makassar pada tahun 1990. Ia adalah PNS kemendikbud yang bertugas untuk merawat dan menjaga kompleks makam raja Tallo. Sebagai PNS ia dituntut untuk megikuti ketentuan admistrasi, jadi setiap pagi di hari kerja sebelum pukul 08:00 Wita ia harus ke benteng Rotterdam untuk mengisi daftar hadir setelah itu ia lansung ke makam raja Tallo untuk menjalankan tugas, dan kembali lagi ke benteng Rotterdam pukul 15:00 untuk mengisi lagi daftar hadir sebelum ia pulang ke rumah. Yah itulah rutinitas yang dilakukannya sebagai tanggung jawab pekerjannya, tutur Pa Ibrahim ke saya.

Tampak salah satu makam yaitu Sultan Mudafar, Imanginyarrang Dg Makkiyo Raja Tallo VII selalu ramai oleh peziarah, apa lagi jika menjelang bulan ramadhan. Peziarah bukan cuman dari masyarakat yang tinggal di sekitar makam, akan tetapi dari luar makassar juga sering datang kesana. Adapun para pengunjung dari luar negri yaitu para turis mereka hanya datang untuk berwisata dan ada juga dari kalangan Mahasiswa yang datang untuk mencari informasi tentang sejarah kerajaan Tallo. Sultan Mudaffat sewaktu masih menjadi Raja Tallo ia di beri gelar macang kebo karaeng Tallo (macan putih raja Tallo). Karna beliau adalah raja pemberani, bagaikan macan ketika ia berada dalam medan perang.

Papan Nama Makam Sultan Mudaffar
Biasanya para peziarah yang datang kesana harus ditemati oleh pinati, seorang juru doa makam yang menemani peziarah. Pinati merupakan seorang juru kunci para peziarah karna mereka tidak bakalan bisa berziarah tanpa kehadiran pinati. Menurut Pa Ibrahim sosok pinati adalah orang yang secara turun temurun bertanggung jawab untuk mebacakan doa para peziarah yang datang kesana. Secara administarsi memang Pa Ibrahim selaku pengelolah dan penjaga makam akan tetapi budaya masyarakat Tallo tetap meyakini, pinati-lah yang sebenarnya penjaga makam, karna tanggung jawab itu merupakan tugas lansung yang diberikan oleh raja tallo kepada pinati pertama sampai pinati sekarang yang memiliki garis keturunan yang sama.

*****

Kompleks makam raja Tallo sangatlah mudah diakses berhubung karna tahun 2013 kemarin jalannya sudah diperbaiki hingga sampai di depan makam. Letaknya juga tidak jauh dari pusat kota (lapangan karebosi) hanya sekitar 6 km sebelah utara pusat kota, dengan waktu 15 menit kita sudah sampai di makam tersebut kalau kita berangkat dari pusat kota. Dan letak wilayah Kecamatan Tallo yang dekat dengan pintu tol Tallo, yaitu Jl Tol Ir Sutami dan Jl Tol Pelabuhan membuat situs ini juga mudah diakses baik dari pusat Kota Makassar maupun Bandara Sultan Hasanuddin, bisa menggunakan taksi maupun angkutan kota (petepete).

Di depan makam terdapat tembok besar yang terukir tulisan 21 nama-nama orang yang dimakamkan di dalam komleks. Menurut Pa Ibrahim bahwa ke 21 nama tersebut adalah nama beberapa raja-raja Tallo beserta dengan keluarga raja. Dalam sejarah pun dijelaskan bahwa sekitar abad  17 sampai dengan abad 19 kompleks makam raja Tallo merupakan pemakaman khusus keluarga kerajaan. Itulah sebabnya kenapa pemerintah memberikan nama situs sejarah tersebut Kompleks Makam Raja Tallo Sul-Sul pada saat makam itu dipukar menjadi objek wisata tahun 1974-1975 dan 1981-1982 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Adapun 21 nama tersebut :

1.    Sultan Mudafar (Imanginyarrang Dg Makkiyo, Raja Tallo VII, 1598 – 1641)
2.    Sawerannu (istri Raja Tallo VII)
3.    Sultan Abd. Kadir (Mallawakkang Dg Matinri, Raja Tallo IX)
4.    Sultan Syaifuddin (Imakkasumang Dg Mangurangi, Raja Tallo XII, 1770 – 1778)
5.    Sultana Sitti Saleha (Madulung, Raja Tallo XIII)
6.    Sultan Muh Zainal Abidin (La Oddang Riu Dg Mengeppe, Raja Tallo XV, Raja Gowa XXX)
7.    Yandulu (Krg Sinrijala)
8.    Pakanna (Raja Sanrobone XI)
9.    Sultana Sitti Aisyah (Mangati Dg Kenna)
10.    I Malawakkang Dg Sisila (Abd Kadir)
11.    Abdullah Bin Abd Gaffar (Duta Bima di Tallo)
12.    Linta Dg Tasangnging (Krg Bonto Sunggua Tumabicara Butta Gowa)
13.    Abdullah Daeng Riboko
14.    Arif Krg Labbakang
15.    Imanuntungi Dg Mattola
16.    Karaeng Parang-Parang (Krg Bainea Ri Tallo)
17.    Saribulang (Krg Campagana Tallo)
18.    Mang Towayya
19.    Sinta (Karaeng Samanggi)
20.    Karaenta Yabang Dg Talomo (Krg Campagaya Krg Bainea Ri Tallo)
21.    Karaeng Mangarabombang (Krg Bainea Ritallo).

Tallo merupakan kerajaan kembar Gowa, di masa pemerintahan Tunatangka Lopi Gowa di bagi menjadi dua wilayah dan kedua anaknya yang meneruskan kepemimpinan tersebut yaitu Batara Gowa dan Karaeng Leo RI Sero sebagai raja Tallo. Hingga pada era Lamakkarupa Daeng Parani Arung Lipukasi kerajaan Tallo dilebur kedalam Gowa dan sekarang domain Tallo hanya menjadi salah satu kecamatan di kota Makassar.

-HS’Masagenae

Tinjauan Kritis Asal Mula Nama Pinrang

Majalah Sastra SALO SADDANG
Kamis, 30/Januari/2014, Aku mendapatkan sebuah majalah dari seorang teman, ia adalah sosok spirit bagiku untuk terus belajar menulis terutama tentang sejarah dan kebudayaan Pinrang. Selama ini referensi yang aku dapatkan tentang sejarah dan kebudayaan pinrang hampir semuanya kuperoleh darinya.

Satu kebahagian bagiku karna majalah yang ia berikan diterbikan oleh Komunitas Penulis Pinrang, aku menganggap bahwa majalah itu merupakan partisipasi reel perjuangan pemuda Pinrang untuk melestarikan kebudayaan lokal. ekspresi kebahagian itu merupakan puncak dari kegelisahanku karna selama ini hampir-hampir aku tidak menemukan saudara-saudarku di Pinrang yang melakukan hal itu.

Majalah itu adalah Majalah Sastra “Salo Saddang" media yang menampung kreasi berupa esai, cerpen, puisi, resensi, riset ataupun laporan jurnalistik. Aku sangat mengapresiasi karya itu karna sangat jarang kutemukan komunitas pemuda Pinrang yang memiliki perhatian lebih terhadap sejarah dan kebudayaan Pinrang dan partisipasi Komunitas Penulis Pinrang dengan membuat majalah itu menuruku sangat luar biasa karna media itu bisa menjadi sumber informasi untuk berbagai pengetahuan seputaran sejarah dan kebudayaan Pinrang, Yah semoga apa yang dilakukan oleh kawan-kawan team Majalah Sastra Salo Saddang bisa memberikan sumbangsi besar untuk perubahan Pinrang menjadi lebih baik lagi kedepannya.

***

Salah satu artikel dalam Majalah Sastra Salo Saddang  edisi I Januari-April terdapat tulisan yaitu Asal Mula Nama Pinrang oleh La Dawan Piazza, kesempatkan waktu untuk membuat tulisan ini untuk menjalin silaturahmi melalui media antar sesama pemerhati sejarah dan kebudayaan Pinrang.dan memberikan sudut pandang berbeda dari apa yang telah dipaparkan oleh La Dawan Piazza.

Dalam tulisannya La Dawan Piazza menyebutkan ada dua peristiwa asal mula penamaan Pinrang.

Peristiwa pertama “Pinra-Pinra Onroang” artinya pindah-pindah tempat, beliau mengatakan dalam tulisannya bahwa zaman dahulu banjir besar melanda Sulawesi, banyak daerah yang tergenang air termasuk daerah Pinrang. Jadi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut hidupnya berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk mencari  wilayah pemukiman yang bebas genangan air dalam bahasa bugis disebut “Pinra-pinra Onroang” (berpindah-pindah tempat). Setelah masyarakat menemukan tempat pemukiman yang baik maka dinamakan tempat tersebut, “Pinra-pinra” (Pindah-pindah).

Peristiwa kedua, Sekitar tahun 1540 kerajaan Gowa melakukan invasi militer terhadap kerajaan Sawitto dan perlawanan yang dilakukan oleh La Palateang Raja Sawitto pada saat itu dan para perajuritnya yang gagah berani tumbang oleh kekuatan militer Gowa. Kekelahan itu mengakibatkan ditangkapnya Raja La Palateang dan permaisurinya dan mereka dibawa ke Gowa sebagai tanda kemenangan Gowa atas Sawitto.

Singkat cerita diutuslah dua bersaurada To Barani yaitu To Lengo dan To Kipa untuk membebaskannya. Akhirnya mereka berhasil menyelamatkan raja La Palateang beserta permaisurinya dan dibawa kembali ke Sawitto. Kedatangannya pun disambut dengan luapan kegembiraan oleh rakyat dan dielu-elukan sepanjang jalan menuju istana.

Dibalik kebahagian itu, mereka terharu melihat kondisi sang raja yang mengalami banyak perubahan seraya mengatakan “Pinra kana’ni tappana datu’e pole ri Gowa” yang artinya wajah raja mengalami perubahan sekembalinya dari Gowa. (untuk lengkapnya silahkan baca di Majalah Sastra SALO SADDANG hal.34 Asal mula nama Pinrang oleh La Dawan Piazza)

Dalam penjelasan La Dawan Piazza mengatakan bahwa Pinrang berasal dari kata Pinra yang mengalami pengaruh intonasi dan dialek bahasa bugis sehingga menjadi Pinrang yang sekarang diabadikan menjadi Kabupaten Pinrang.

Dari tulisan beliau aku akan mencoba melakukan tinjauan kritis dari apa yang telah beliau jelaskan, misalnya penggunaan kata Pinra pada dua kalimat yang mempunyai arti yang berbeda yaitu “Pinra=Pindah” pada kalimat “Pinra-Pinra Onroang” dan “Pinra=Perubahan” pada kalimat “Pinra kana’ni tappana datu’e pole ri Gowa” bagaimana bisa satu kata yang mimiliki arti yang berbeda dalam dua kalimat?

Dan kedua peristiwa yang beliau sebutkan yang mejadi momentum kata Pinra dan digunakan untuk melegitimasi penamaan Pinrang terjadi pada waktu yang berbeda peristiwa pertama adalah peristiwa banjir besar sebelum terbuntuknya kerajaan Sawitto, dimana kerajaan Sawitto terbentuk pada abad ke 13-14 (ini masih menjadi perdebatan dikalangan sejarahwan). Jadi banjir besar yang dimaksud terjadi sebelum abad 13-14 dan peristiwa kedua penyelamatan raja Sawitto dan permaisurinya oleh To Barani terjadi pada abad ke 15.

Beliau juga mengatakan bahwa pemberian nama Onder Afdeling Pinrang merupakan ketetapan yang dilakukan oleh Belanda yang menjajah Sawitto pada saat itu, jadi ketetapan itu terjadi pada abad 19.  Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kata Pinrang yang diberikan oleh Belanda berasal dari kata Pinra yang mengalami pengaruh intonasi dan dialek bahasa bugis?

Menurutku, mungkin perlu penjelasan ilmiah kenapa bisa Belanda menggunakan kata Pinrang karna tidak mungkin Belanda menggunakan kedua peristiwa yang dijelaskan oleh La Dawa Piazza sebagai dasar untuk meberikan nama Pinrang karna belanda bisa saja tidak mengetahui kedua peristiwa tersebut.

Kalau kita melihat UU penetapan daerah tingkat II sulawesi yg membentuk tingkat II Pinrang yang ditetapkan pada tahun 1959, dimana selisi munculnya kata Pinra pada kalimat “pinra kana'ni tappana datue pole ri gowa” dengan penetapan pinrang sebagai daerah tingkat II sulawesi sekitar 4 abad 15 tahun (sekitar 8-10 keturunan)  dan kata Pinra pada kalimat “Pinra-Pinra Onroang” yaitu peristiwa banjir besar selisihnya sekitar 5 abad lebih karna peristiwa banjir terjadi sebelum terbentuknya kerajaan Sawitto.

Jadi perubahan intonasi kata Pinra menjadi Pinrang pada peristiwa pertama mengalami proses sekitar 5 abad lebih dan pada peristiwa kedua sekitar 4 abad lebih. Menurutku perlu penjelasan yang lebih detail dan komprehenship terkait penamaan Pinrang dari kedua peristiwa tersebut karna kata Pinra yang diliustrasikan pada dua peristiwa yang berbeda sebagai pembenaran untuk penamaan Pinrang terjadi sangat jauh dengan penetapan Pinrang sebagai sebagai daerah tingkat II Sulawesi.

Dalam tulisan La Dawa Piazza juga menyebutkan Pinrang terdiri dari empat gabungan kerajaan yaitu Kassa, Batu Lappa, Sawitto dan Suppa jadi Pinrang bukan hanya Sawitto sederhananya adalah kedua peristiwa tersebut tidak bisa menjadi refresentatif dari ke empat kerajaan yang tergabung dalam Onder Afdeling Pinrang karna pada saat terjadinya kedua peristiwa itu Sawitto, Batu Lappa, Kassa,  dan Suppa belum tergabung dalam Onder Afdeling Pinrang.

Untuk mengetahui Kerajaan yang tergabung dalam Pinrang baik itu secara wilayah kekuasaan ataupun secara kepemimpinan (persetujuan Raja) kita harus membedakan, Onder Afdeling Pinrang yang ditetapkan oleh pemerintahan Hindia Belanda dan Onder Afdeling Pinrang sebagai daerah tingkat II Sulawesi.

Tapi kalau kita melihat Pinrang sekarang daerahnya terdiri dari beberapa wilayah kerajaan yaitu Kerajaan Akkarungan Tungke dan Akkarungan Lili. Akkarungan Tungke terdiri dari 6 kerajaan, 3 dari pecahan federasi Ajatappraeng yaitu Suppa, Sawitto, Alita dan 3 dari pecahan federasi Masenrengpulu yaitu Kassa, Batu Lappa, Letta. Sedangkan Akkarungan Lili yaitu kerajaan yang tergabung dalam masing-masing Akkarungan Tungke seperti Akkarungeng Lili Suppa adalah Bacukiki, Nepo, Bojo dan Palanro.

Semoga coretan kumuh ini bisa menjadi ajang silaturahmi bagi sesama pemerhati sejarah dan kebudayaan pinrang terutama buat daengku malebbie La Dawan Piazza dan Coretan ini juga akan aku kirim ke email Majalah Sastra SALO SADDANG dan berharap bisa diterbitkan pada edisi berikutnya. (hhe)

Coretan ini juga aku buat sebagai bentuk kecintaanku kepada tanah kelahiranku Pinrang dan sebagai Wija To Penrang yang selalu bermimpi untuk mewujudkan masyarakat Pinrang yang adil dan makmur dalam bingkai kearifan lokal. Mudah-mudahan coretan ini bisa bermanfaat sebagai dialektika gagasan sejarah dan kebudayaan Pinrang. Mohon masukan dan kritikan.

-HS’Masagenae

SEJARAH KERAJAAN SUPPA Part I

ILUSTRASI
Daerah kerajaan Suppa pada jaman pemerintahan Hindia-Belanda merupakan daerah Onder Afdeling Pinrang dimana terdapat enam arung tungke (pemerintahan tunggal) terdiri dari Kerajaan Suppa, Sawitto, Alitta, Letta, Batu Lappa, dan Kassa.

Sampai saat Indonesia merdeka dan Pinrang ditetepkan sebagai daerah Tingkat II yaitu Kabupaten pinrang. Secara etimologi Suppa berasal dari kata Subba = Muncul. Pembahasan pada tulisan ini akan lebih terfokus membahas asul-usul Suppa secara pemerintahan bukan suppa secara wilayah sebelum adanya pemerintah, pemerintah yang dimaksud adalah kerajaan Suppa.

Pembentukan kerajaan Suppa diawali dengan pengangkatan Manurung’nge sebagai Datu Suppa pertama oleh orang-orang yang menyaksikan dan mendengar berita kedatangannya di tanah Suppa.

Dalam lontara suppa diceritakan manurung’nge mompo ri lura malowangnge (muncul didanau yg besar : maksudnya ialah laut. pen.) bersama dengan sarung lumut dan benda-benda Arajang/kebesarannya yang serba emas, seperti periuk emas, sendok nasi emas, periuk sayur emas, dan peralatan dapur lain-lainnya yang terbuat dari emas.

Orang-orang yang mengetahui kedatang Manurung’nge kemudian berkerumung mulai dari orang tua, anak/cucu tanpa terkecuali untuk menyaksikan peritiwa itu dengan mata kepala mereka sendiri. Manurung’nge di Suppa tidak ada seorang pun yang mengetahui sosoknya, dari mana datangnya, maka dilekatkanlah kata Manurung’nge kepadanya.

Pada umumnya orang-orang yang melihat manurung’nge adalah seorang perempuan yang rupawan dan tidak ada yang menyamai kecantikannya ditanah Suppa begitupula dengan arajang yg bawa olehnya. Dengan alasan itu sehingga Manurung’nge mendapat perlakuan yang spesial dan mempercayakan sebagai pemimpin mereka.

Dikatakan dalam lontara suppa Lurangngi pabbanua’e ri onrong masennge patuwo engngi alane (Bawalah penduduk ke tempat yang menyenangkan yang bisa menghidupkan dirinya). Pabbanua percaya bahwa Manureng’nge sebagai pemimpin yang mengantarkan kehidupan mereka menjadi lebih baik, sejahtra, dan tentram dari sebelum kedatangannya.

Adapun gelar dari manurung’nge adalah Puatta Kewaramparangnge karna manurung’nge datang dengan harta bendanya dalam bahasa bugis disebut waramparang sedangkan nama dari Manurung’nge adalah We Tipulinge. Dengan dinobatkannya We Tipulinge sebagai Datu Suppa pertama maka resmilah kerajaan Suppa secara pemerintahan, beliau kemudian dipersunting oleh Labangngenge manurung ri bacukiki.

Penulisan cerita kedatangan Manurung’nge ri Suppa tidak disertai oleh penulisan tahun jadi untuk melacak waktu kedatangannya saya menggunakan masa kepemimpinan datu Suppa yang ke IV yaitu Lamakkarawi 1544 M yang dituliskan dilontara Suppa. Jika dirata-ratakan 1 peride 50 tahun jadi 4x50 = 200 tahun. Jadi 1544-200 = 1344 jadi asumsinya kedatangan Manurung’nge pada abad ke 13. Salah satu budayawan pinrang juga yaitu daeng chindang pernah mengatakan kepada saya bahwa kedatangan Manurung’nge ri Suppa pada ke 13 dengan asumsi generalisasi beberapa Manurung di Ajatappareng seperti di Manurung bacukiki dan Manurung cempa yang tertulis dilontara lain.

 -HS'Masagenae
Sumber Gambar : http://hot.detik.com

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger