Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

“Drama Raja Sawitto dan Raja Lembang Oleh Wija To Penrang KMP-PNUP“




Kain berwarna biru yang terikat dikepalanya beserta sarung yang dipinggangnya menjadikan ia terlihat perkasa, “Iyya’na okkoe bakkalolona Sawitto degage tau mulle jamaka” teriak “Kurniawan (pemeran raja Sawitto) sambil menunjuk ke arah depan dengan melangkahkan kakinya, “teriakan itu seolah menggemakan heningnya malam di desa ta’deang kabupaten Maros. “desiran angin yang dingin seolah tak terhiraukan oleh warga KMP yang asyik menonton, “Nampak tawa tipis mereka menyaksikan sang raja yang sangat percaya diri.
 
Tak lama berselang “Patando (pemeran raja Lembang) unjuk gigi “wha..haa.haa.. “ketawa kejam, menantang, sembari menujuk wajah raja Sawitto Apa mu’pau ngena !? joo’o ku’kilajako “Seru, “raja Lembang, menantang raja Sawitto untuk berduet. Kemudian  terjadi adu mulut di antara mereka yang berujung kepada pertarungan, “keduanya pun mencabut kris-nya untuk mengadu kehebatan satu sama lain.  Akhir dari drama “raja Sawitto memenangkan pertarungan dan mengajak raja Lembang untuk berdamai untuk bersama-sama membangun Pinrang kedepan.

Deskripsi singkat drama raja Sawitto dan raja Lembang setelah aku selesai menonton video-nya, “karya peserta kaderisasi “Pengenalan Organisasi Daerah Kerukunan Mahasiswa Pinrang Politeknik Negeri Ujung Pandang (PLOD 14 KMP-PNUP), silahkan nonton videonya yang ada di atas.

***

Rasa sesal masih terbayang dalam diri-ku karna tidak bisa melihat lansung drama itu, aku hanya menonton lewat video yang baru saja aku copy dari “Yudhi salah satu joniorku di KMP. Meskipun demikian aku merasa sangat bangga kepada mereka karna senantiasa menanamkan nilai-nilai kedaerahan sebagai "Wija To Penrang" dalam kegiatan kaderisasi. “saat aku selesai melihat video’nya, aku mendapat pembelajaran yang sangat bermanfaat “bahwa kita sebagai warga Pinrang harus meretas gesekan etnit yang sering terjadi, karna terkadang kita masyarakat Pinrang begitu tersekat oleh perbedaan itu sangat jelas terlihat jika di antara kita berbicara menggunakan bahasa masing-masing. 

Dari sini kemudian aku baru menyadari bahwa organisasi daerah merupakan wadah yang sangat ideal untuk menanamkan benih-benih kebudayaan lokal kepada generasi muda agar tidak tertelan oleh laju modernisasi yang berusaha menggeser kekayaan kearifan lokal yang kita miliki. Yaa, organda (organisasi daerah) adalah salah satu tameng untuk membentengi hegemoni budaya barat, korea, india, jepang, dan lainnya yang mereka kempanyekan lewat film-film yang tersebar sampai pelosok bumi melalui media elektronik. Sungguh ironis jika kita pemuda/i bangsa ini begitu membanggakan budaya luar sementara disisi lain budaya kita sendiri hampir terhapus oleh zaman.

Semoga pembelajaran “budaya” yang diajarkan kepada re-generasi KMP-PNUP bisa menjadi amunisi bagi mereka, agak kelak mereka menjadi volunteer untuk membangun kampung halaman tercinta seperti ikrar raja Sawitto dan raja Lembang pada akhir drama, mudah-mudahan ikrak itu bukan hanya lagiah belaka. 



Catatan : 
  • “Iyya’na okkoe bakkalolona Sawitto degage tau mulle jamaka” ( saya disini pemudanya Sawitto, tidak ada satupun orang yang bias mengalahkan saya) 
  • “Apa mu’pau ngena !? joo’o ku’kilajako (apa tadi yang kau katakana !? saya tidak takut)
  • Wija To Penrang (Keturunan orang pinrang)
  • Sawitto dan Lembang (Nama kerajaan di Pinrang)
Makassar, 8/Desember/2014

Gazebo AD Tempat Paling Seksi di Kampus Hitam

Gazebo AD Kampus Hitam
Suara riuh musik game on line membuat saya berhenti sejenak menyaksikan mahasiswa yang sedang asyik main game di gazebo AD kampus hitam (Sebutan Politeknik Negeri Ujung Pandang dengan almamater berwarna hitam). Kerumunan mahasiswa Gamers itu menjadi perhatian setiap orang yang lewat, bagaimana tidak gema suaranya sangat menggoda apa lagi bagi mereka pecinta game.

Fasilitas wifi gratis membuat mahasiswa betah duduk belama-lama di depan leptop, apa lagi sekarang gazebo AD sudah dilengkapi fasilitas meja khusus untuk mahasiswa yang ingin on line. Selain main game ada juga yang sibuk browsing, main FB, bahkan saya sempat dengar cerita ada mahasiswa yang bela-belain datang jam enam pagi untuk download film karna kecepatannya sangat bagus bisa sampai 2 Mb/s karna masih kurang yang memakainya.

Terlihat wajah cengengesan mereka yang cuek dan tampaknya tidak memperhatikan orang-orang disekitarnya walaupun mereka duduk berdekatan, seolah-olah gazebo itu miliknya sendiri. Sosial media telah membawanya berpetualang di dunia maya. Dunia yang mebuat mereka berteman dengan banyak orang di belahan bumi sana, sementara orang yang duduk di sampingnya, sama sekali mereka tidak pernah menyapanya.

****

Pertengahan tahun 2010 lalu, ketika gazebo AD baru saja selesai di bangun, tempat itu menjadi pilihan utama bagi mahasiswa untuk membuat diskusi pelataran dan rapat organisasi. Baik itu organisasi internal maupun eksternal, mereka semua berbondong-bondong untuk memberdayakan tempat itu, saya juga termasuk mahasiswa yang sering sekali beraktifitas di gazebo AD.

Masih hangat dalam ingatan saya waktu ka Dila menjadi pemateri diskusi yang kami buat selaku pengurus HmI komisariat poltek di gazebo AD. Dan teman-teman dari Humaniora juga sering melakukan diskusi rutin di sana bahkan mereka sempat membuat lapak bazar buku di gazebo AD. Berulang kali malah saya dapatkan dua pengurus organisasi yang berbeda sedang melaksanakan rapat di sana dan mereka bisa berbagi tempat satu sama lain.

Entah kenapa birokrasi kampus menyediakan meja agar on line di gazebo AD sangat nyaman, akibatnya tempat itu padat dan menjadi tempat ter-seksi untuk nongkrong sambil menikmati fasilitas wifi gratis kampus. Bagus, kalau mahasiswa bisa memanfaatkannya untuk kerja tugas, bagaimana kalau digunakan untuk main game sampai-sampai lupa masuk kuliah!

Dengan wajah cemberut yang heran saya duduk sejenak terdiam dan bertanya-tanya, kenapa yah mereka tidak menyediakan papan tulis dan spidol saja(?) Supaya diskusi dan rapat-rapat organisasi bisa lebih lancar. Atau mereka sengaja lebih memilih meja agar bisa menggeser aktifitas organisatoris disana. Entahlah! Saya juga tidak ingin menuduh begitu saja tanpa data yang jelas.

Sempat sih ade-ade HmI membuat bedah buku di gazebo AD dan saya yang dipanggil menjadi pematerinya, akan tetapi meja-meja yang memadati-nya membuat gerah. Peserta harus berdempet-dempetan karna tempat itu jadi sempit oleh meja bersama dengan penggunanya yang sibuk senyum dan tertawa sendiri di depan leptop, mereka terlalu banyak mengambil area gazebo AD. Nampak suasananya sangat berbeda dengan diskusi yang kami buat dulu karna saat itu belum ada meja-meja yang menjajah gazebo AD.

Memang dari lima gazebo di kampus hitam, gazebo AD yang paling seksi selain besar, luas, posisinya juga berada di tengah-tengah kampus, sehingga mudah diakses oleh semua mahasiswa dari lima jurusan. Di tambah lagi fasilitas wifi dan meja yang membuat tempat itu makin ramai sekarang.

Cuman yang berbeda dari keramaian gazebo AD dulu dengan sekarang hanyalah penggunanya, karna papan tulis dan spidol telah dikalahkan oleh meja dan wifi gratis.


Senin, 1/April/2014
-HS'Masagenae

KMP PNUP : SAHABAT MELEBIHI KELUARGA, Refleksi LDK/Pengenalan Lembaga KMP PNUP

Foto Bersama Peserta LDK/Pengenalan Lembaga KMP PNUP

LDK/Pengenalan lembaga KMP PNUP merupakan proses transformasi nilai-nilai budaya kekeluargaan dan intelektual kepada regenerasi sebagai kader wija Tu Penrang yang akan melanjutkan roda kepengurusan. Satu kebanggaan bagi saya mengikuti suksesnya kegitan tersebut, dan sangat memberikan kesan yang tak terlupakan dan  saya yakin ade-ade peserta yang mengikuti kegiatan ini tidak akan bertanya-tanya lagi, Kenapa saya harus ber KMP ?

Semangat panitia dan pengurus dalam memfasilitasi peserta merupakan nilai plus yang sangat saya apresiasi, mereka berhikmat  menguras tenaga dan pikirannya sebagai seorang keluarga yang berusaha memberikan yang terbaik bagi adik-adiknya, yang selama ini mungkin mereka tidak dapatkan dari generasi sebelumnya.  Beberapa dari mereka sampai-sampai tidak sempat melihat mimpi malam sabtunya karna semalaman tidak pernah tidur.

Saat keheningan malam yang bersahabat dengan dingin mencengkram sekitar pukul 03:17-05:07 disaksikan oleh buih ombak,rembulan dan bintang saya mendengarkan suara bergema yang amat Lantang  dari pemuda(i) wija tu penrang mengikrarkan spirit kekeluargaan, “KMP PNUP SAHABAT MELEBIHI KELUARGA” sesaat membuat tubuh saya gemetar, dari suara itu saya melihat masa depan KMP PNUP yang amat cerah dangan lahirnya kader-kader mudah yang progresif. Dari mereka saya memilki ekspektasi yang amat besar agar ikrar itu bisa diinterpretasikan dalam bentuk loyalitas untuk merealisasikan kegiatan-kegiatan KMP PNUP kedepan. Saya menantang kader lepasan pelatihan ini apakah mereka bisa menuliskan sejarah yang lebih baik di KMP PNUP dibangding torehan sejarah yang sudah ada.? Sekiranya suara lantang mereka bukan hanya ikrar palsu yang tersembunyi dibalik senyum yang selalu mereka perlihatkan kepada saya selama menjalani proses pelatihan.

Rekan anggota kehormatan yang menyempatkan waktu untuk mendampingi adik-adik menjadi catatan tersediri bagi saya bahwa kekeluargaan KMP PNUP tidak pernah putus walaupun status pengurus dan akademik kampus sudah selesai. Kekeluargaan itu akan senantiasa terjalin selama eksistensi KMP PNUP masih ada di Kampus hitam dan generasi-ganerasi berikut selalu menjaga nilai-nilai kekeluargaan itu. dan untuk rekan anggota kehormatan yang tidak sempat hadir dalam hati saya mereka pasti selalu menyempatkan diri untuk memikirkan KMP PNUP bisa menjadi yang terbaik diantara oraganda pinrang.

Semua orang yang berpartisipasi dalam kegitan tersebut pasti mempunyai kesan tersendiri, saya berharap kepada keluarga KMP PNUP yang menyempatkan membaca refleksi ini, menuliskan kesan itu dalam sebuah komentar, agar bisa menjadi referensi dan evaluasi untuk LKD/Pengenalan Lembaga kedepan.

Apa kesan menarik yang anda dapatkan ???

Siapa Bilang Mahasiswa Makassar Hanya Pintar Demo? “Potret Kreativitas Mahasiswa KMP PNUP Makassar”

Salah seorang teman saya yang kuliah di Jakarta pernah mengatakan kepada saya, bahwa di Jakarta mahasiswa Makassar dikenal sebagai tukang demo anarkis. Sebagai mahasiswa makassar saya pribadi merasa risi mendengarnya, karna selama 4 tahun saya dikampus, saya sudah mengikuti puluhan aksi jalan bersama teman-teman di Makassar dan tidak ada satu pun demonstrasi kami yang anarkis. 

Beberapa media nasional kurang adil dalam memberitakan potret mahasiswa Makassar, hampir semua aksi mahasiswa Makassar yang diberitakan hanya menampilkan ketika demonstrasi itu berujung bentrok antara pihak keamanan ataupun warga sekitar. dan sangat jarang kita dapatkan aksi damai yang diliput oleh media, apalagi kegiatan kreativitas mahasiswa Makassar hampir-hampir tidak pernah sama sekali diberitakan oleh media seperti yang dilakukan oleh salah satu Organisasi daerah Makassar (Organda Makassar) yaitu Kerukunan Mahasiswa Pinrang Politeknik Negeri Ujung Pandang ‘KMP-PNUP’ dengan melakukan kegiatan penggalangan danah Morning Café.

Minggu/22/09/2013 pukul 06.00 Wita 10 mahasiswa KMP-PNUP berkumpul di GOR Sudiang Makassar untuk melakukan kegiatan penggalangan dana morning café, kegitan ini dilakukan dengan cara menjual bubur kacang hijau kepada orang-orang yang sedang melakukan jogging. Saat istirahat biasanya pejoging membeli makan dan minum, dari situlah mereka berkreasi agar bubur mereka bisa terjual habis berhubung karna banyak sekali pedangan dipingir jalan halaman GOR sebagai saingan mereka. Beberapa dari mereka mendatangi pejoging yang sedang duduk santai beristirahat untuk menawarkan bubur dan yang lain tinggal dilapak menjaga jualan, harga 1 gelas bubur dijual sebesar Rp 5.000

Foto bersama setelah selesai morning cafe
Saya sempat melakukan wawancara bersama mahasiswa KMP-PNUP yaitu Addha, Ida, Dewi, dan Nurfah, katanya mereka membuat bubur kacang hijau itu jam 3 subuh tadi, setelah buburnya masak mereka berangkat ke GOR sekitar jam 5 subuh, alasannya jarak GOR dengan tempat mereka sangat jauh takutnya lambat sampai disana karna bisa saja bubur mereka tidak laku, keburu duluan sama penjual lain. Adapun dana yang digunakan untuk membuat bubur hanya Rp120.000 dan ketika bubur tersebut habis terjual mereka bisa mengdapatkan keuntungan sampai 1 juta’an. Uang hasil morning café tersebut akan digunakan untuk melakukan pengkaderan anggota baru dikampus ujur Nurfah salah satu panitia kegiatan pengkaderan KMP-PNUP.

Nurfah menambahkan, bahwa selama ini organisasi mereka tidak pernah meminta bantuan dana kepada lembaga donor atapun pemerintah setempat ketika merealisasikan kegiatan organisasi, karna terkadang instansi tersebut meminta timbal balik dari batuan dana yang diberikan. jadi mereka hanya melakukan kretivitas untuk mengumpulkan dana, seperti morning café, bazar makan-minum, menjual stiker, baju, gantungan kunci dan lain-lain.


(Mohon kritikan dan sarannya) 
 “Haeruddin Syams Masagenae

Mahasiswa dan Kehidupan Sosial ; Spekulasi Heroisme Mahasiswa

Akademis dan organisasi merupakan terminologi yang selalu diidentikkan dengan mahasiswa yang dalam perkembangannya mengkonstruk logika kompetisi yang tak berujung. Dimana indikator kemapanan mahasiswa akademisi dengan indeks prestasinya yang tinggi sedangkan mahasiswa organisatoris dengan improvisasi yang hebat. Kalau bercermin dari sejarah, seperti yang terjadi pada saat penggulingan rezim orde baru dimana peran gerakan mahasiswa sangat besar walaupun disatu sisi ada isu yang mengklaim bahwa gerakan tersebut adalah kendaraan politisi partai sebagai batu loncatan karirnya dalam instansi pemerintahan, moment ini tidak pernah disebutkan dalam sejarah bahwa perjuangan tersebut hanya dilakukan oleh mahasiswa akademisi saja ataupun mahasiswa organisatoris, akan tetapi mereka berbaur membuat simpul perjuang mahasiswa. 
 
Kontribusi mahasiswa dalam sejarah perkembangan RI telah menganggkat stratafikasinya, digambarkanlah posisi mahasiswa berada ditengah-tengah antara rakyat dengan pemerintah sehingga timbul perspektif dalam masyarakat mahasiswa sebagai kaum terdidik yang mampu menjadi motorik untuk membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Buah dari gerakan mahasiswa yang sifatnya temorer yang dicatat dalam sejarah, kini direproduksi menjadi cerita heroid, spekulasi heroisme mahasiswa dijadikan dongeng yang dicerikan pada mahasiswa baru dalam prosesi pengkaderan. Dimana spekulasi tersebut merupakan usaha pelarian dari ketidak mampuan mahasiswa sekarang melakukan perlawanan terhadap dominasi oligarki dalam lingkungan kampus.

Pengultusan inilah yang membuat mahasiswa besar kepala seolah-olah harapan untuk mencapai sila ke 5 dari pancasila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” ada ditangan mereka, yang menjadi pertanyaan kemudian kenapa sampai sekarang keadilan tersebut belum bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia? malah kondisinya keadilan itu hanya milik orang kaya saja, begitu besar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin secara finansial maupun dimata hukum.

Dikotomi mahasiswa, rakyat, dan pemerintah merupakan kecelakaan berpikir yang terbangun selama ini, yang mejadikan rakyat menggantungkan harapan mereka kepada mahasiswa atas kezaliman yang dilakukan oleh penguasa, apakah perubahan bisa terwujud jika hanya mahasiswa yang berjuang? Ohh tidak,  itu sangat mustahil karna tanpa ada integritas ketiga elemen tersebut secara komprehenshif maka harapan untuk tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya akan menjadi mimpi belaka.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat itu tersusun atas mahasiswa, rakyat, pemerintah dan tidak akan berubah keadaan mereka kalau perjuangannya tidak sinergis untuk merubah keadaan mereka sendiri menjadi lebih baik.

Coretan ini dalam rangka kegiatan Youth Camp



" mohon kritikan dan masukannya"
Haeruddin Syams Masagenae
 

“Keluarga, sahabat, pacar dan pengaruhnya terhadap pengkaderan”


Ketimpangan sosial sering sekali di dapatkan  dalam interaksi antar satu individu dengan individu yang lain dalam institusi sosial. Terkadang  fenomena tersebut menjadi percikan api yang berujung pada perdebatan, permusuhan, bahkan sampai perkelahian, bisa juga sebaliknya. Ketimpangan sosial yang dimaksud adalah adanya perlakuan berbeda suatu individu dengan individu yang lain hal tersebut terjadi  karna adanya ikatan sosial yakni sebagai keluarga, sahabat,dan pacar.

Berbicara masalah pengkaderan tentu hal tersebut sangat identik dengan lembaga karna syarat mutlak suatu lembaga , baik itu lembaga profit, kemahasiswaan, pemerintah adalah regenerasi sebagai sosok untuk melanjutkan agenda-agenda lembaga tersebut dan  kualitas regenerasi sangat dipengaruhi oleh prosesi pengkaderan struktural maupun kultural. Jadi bagaimana seseorang regenerasi ditempa sedemikian rupa untuk menghasilkan generasi yang berkulitas, dalam proses pengkderan inilah dilakukan internalisasi nilai-nilai tujuan lembaga tersebut.

Pengkaderan akan sangat normatif jikalah didefenisikan dengan pendekatan lembaga, mari kita membahas pengkaderan secaran universal dengan menggunakan pendekatan spirit perjuangan “setiap hembusan nafas adalah pengkaderan”  pada dasarnya pengkaderan merupakan metodelogi  untuk menularkan spirit perjuangan kepada seseorang, dengan kata lain ada transformasi nilai. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan rasa perhatian lebih dan saling menjaga satu sama lain, walaupun tanpa adanya ikatran keluarga, sahabat, dan pacar, jadi esensi proses pengkaderan adalah bagaimana individu memberikan perhatian lebih terhadap individu yang lain begitu pula sebaliknya, dan saling menjaga satu sama lain dan hal tersebut dilakukan dalam setiap hembusan nafas. Esensi itulah yang akan menghasilkan ikatan spirit perjuangan lebih kuat dari ikatan keluarga, sahabat, dan pacar.

Pada dasarnya keluarga adalah ikatan darah antara satu individu dengan individu yang lainnya dan sangat normatif. Hal itu bisa dilihat dari kartu keluarga (KK) dan informasi lisan dari individu yang memiliki ikatan darah seperti, kakek, ayah, dan saudara. Keluarga juga terkadang didefenisikan sebagai kesamaan dalam suatu komunitas seperti kesamaan suku, mahasiswa, profesi kerja dll. itulah beberapa gambaran keluarga, selanjutnya akan diintegritaskan bagaimama pengaruhnya terhadap proses pengkaderan.

Pembasan diatas telah disampaikan esensi pengkaderan yakni rasa perhatian dan saling mejaga satu sama lain, jikalah hal tersebut tidak bisa diintegrasikan didalam lingkungan keluarga maka akan menimbulkan kecanggungan untuk berkomunikasi dan bahkan bisa saling tidak mengenal kalau keluarga tersebut berdomisili ditempat yang berbeda, sebaliknya jika esensi pengkaderan bisa di integrasikan dalam interaksi sosial maka akan menghasilkan ikatan kekeluargaan yang sangat kuat walaupun tanpa adanya ikatan darah, begitu pula dengan ikatan sahabat dan pacar.


( Mohon kritikan dan sarannya )
Haeruddin Syams Masagenae

INI CERITA KU (BAKTI SOSIAL KMP PNUP)


Desa Suppirang, leppangan, dan salusape, kecamatan lembang merupakan merupakan daerah yang berada dikabupaten pinrang letaknya kira-kira 30 km dari pusat pemerintahan. Akses jalan dari kota kecamatan menuju desa saat ini sudah bisa dilewati menggunakan sepeda motor walaupun jalannya belum diaspal. Didesa leppangan hanya ada 5 rumah dan desa salusape 3 rumah, masyarakat kesehariannya bekerja sebagai petani yang merupakan sumber penghidupan untuk memenuhi kebuthan keluarga. Mayoritas anak-anak disana belum bisa menikmati pendidikan gratis yang selalu dikampanyekan politikus partai saat berkunjung didesa tersebut. Sungguh sangat ironis ketika melihat kehidupan eksklusif dan glamor anggota pemerintahan kabupaten pinrang sementara masih banyak penduduknya yang harus bermandikan keringat hanya untuk mencari sesuap nasi.
Foto Bersama Anak-anak di Desa Salusapae
Hari senin 5 agustus 2013 bertepatan dengan ibadah puasa yang ke 27 mahasiswa KMP PNUP melakukan kegiatan Bakti Sosial, selain kegiatan tersebut merupakan program kerja organisasi juga merupakan interpretasi fungsi mahasiswa yaitu social of control, dimana mahasiswa harus berpartisipasi reel ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Inilah bentuk tindakan kemanusiaan yang sangat mulia oleh mahasiswa KMP PNUP dengan membuat kegiatan Bakti Sosial. Ada beberapa item dalam kegiatan baksos tersebut, yang pertama membersihkan mesjid didesa suppirang, yang kedua membagikan bahan makanan berupa telur, indomie, ikan kaleng, minyak goreng didesa leppangan dan salusape.

Mahasiswa KMP PNUP sangat antusias dalam menjalankan kegiatan tersebut mulai dari anggota kehormatan, pengurus, dan adik-adik mahasiswa baru yang sangat bersemangat ketika dalam perjalanan menuju desa, walaupun harus melewati jalan terjal yang penuh dengan bebatuan sampai-sampai mereka harus menyebrangi sungai untuk sampai kedesa. Yang paling luar biasa adalah semangatnya tetap berkobar saat salah satu diantara mereka terjatuh dari motor dan ada juga yang terpeleset sampai jatuh di air saat menyebrangi sungai.

11:00 wita desa suppirang, agenda pertama membersihkan mesjid, Mahasiswa KMP PNUP sampai didesa suppirang tepatnya didepan mesjid, dengan arahan ketua KMP dan ketua panitia baksos mereka masing-masing mengambil peran untuk membersihkan mesjid seperti menyapu/mengepel lantai, merapikan barang-barang dan perlengkapan ibadah, tapi ada juga beberapa diantara mereka yang bermalas-malasan, hanya duduk sembil cerita dan tertawa disekitaran mimbar mesjid. Dalam keadaan menjalankan ibadah puasa ditambah lagi cengkraman panas matahari yang membuat energi terkuras dan tubuh kelelahan mereka tetap memancarkan senyum bahagia diwajahnya bagaikan lilin yang meleburkan dirinya untuk menjaga agar bunga api tetap menyala agar dapat memancarkan cahaya ditengah-tengah kegelapan. Inilah karakter kader KMP PNUP yang memiliki spirit perjuangan dalam menyelesaikan tanggung jawab.Satu jam berlalu dengan dibumbuhi canda tawa akhirnya kegiatan membersihkan mesjid  pun selesai, mereka kemudian melaksanakan sholat duhur berjamah bersama dengan masyarakat sekitar dilanjutkan dengan briefing untuk mengevaluasi dan mebicarakan agenda berikutnya, ketua KMP sempat mengevaluasi kekurangan saat membersihkan mesjid yaitu WC yang tersumbat belum sempat diperbaiki dan harusnya bisa memberikan bantuan berupa lap kaki karna mesjid tersebut tidak memiliki lap kaki. Briefing selesai, perjalanan dilanjutkan untuk menyelesaikan agenda kedua. Jarak yang harus ditempuh untuk sampai kedesa berikutnya sekitar 4-5 km melewati jalan yang sangat tidak bersahabat ini karna kurangnya perhatian pemerintah setempat untuk memperbaiki jalan tersebut.


13:45 akhirnya sampai didesa leppangang, barisan motor diparkir rapi dibawah rumah masyarakat kemudian mereka burkumpul untuk membagi team kerja yang akan melakukan pembagian bahan makanan ditiap-tiap rumah. Sesuai kesepakatan team terbagi dua dan tiap team terdiri dari 4-5 orang, setelah terbentuknya team mereka kemudian mendatangi rumah masyarakat untuk membagikan bahan makan. Ada juga beberapa anggota yang hanya tinggal duduk santai bercanda ria dibawah rumah dan menikmati pemandangan alam sambil berfoto-foto. Saat sampai dirumah masyarakat tiap team terlebih dahulu berbincang-bincang dan meminta kesediaan masyarakat untuk menerima pemberian bahan makanannya, karna biasanya masyarakat desa pinrang “masiri” malu menerima pemberian seseorang terlebih lagi kalau mereka tidak mengenal siapa orang tersebut, itulah tipologi masyarakat pedesaan dipinrang yang menjadikannya tekun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka karna ada konstruk budaya lokal dalam pahaman mereka ‘jangan pernah berharap pemberian seseorang, ketika engkau masih bisa mencarinya. Berhubung hanya ada 5 rumah didesa leppangan jadi tidak memakan banyak waktu untuk membagikan bahan makanannya, mereka dapat menyelesaikan dalam waktu kurang lebih 30 menit, begitu pula didesa salusape.
Desa Leppangang
Setelah kegiatan Bakti Sosial selesai, mereka berkumpul didesa bungi tepatnya rumah saudari Nunu Bondeng untuk berbuka puasa ‘menikmati masakan ala mace Nunu Bondeng’.

Mohon keritikan dan masukannya (atau sekalian ditambah)

“HAERUDDIN SYAM MASAGENAE”

“Pragmatisme dalam Berorganisasi”

             

Masih adakah mahasiswa ideal, yang rela mengorbankan waktu, material, dan pemikiran untuk berhikmat kepada sesama manusia yang membutuhkan bantuan, yang terorganisir dalam sebuah wadah dan bergerak secara kolektif di “Organisasi Kemahasiswaan”! ! !

Ungkapan prihatin penulis coba curahkan dalam coretan ini, melihat realitas organisasi kemahasiswaan yang mengalami Disorientasi. Hal mendasar sebagai indikator untuk membenarkan Distorsi tersebut adalah terlalu banyak kepentingan pribadi seseorang dalam berpartisipasi di organisasi kemahasiswaan, dan menafikkan kepentingan bersama, baik itu kepentingan materil ataupun kepentingan intelektual.

Setelah mendapatkan kepentingannya di organisasi maka berbondong-bondonglah mereka meninggalkan organisasi tersebut, yang mana tempat mereka menimbah ilmu dan memenuhi kepentingannya. Lebih parah lagi di antara mereka yang berpartisipasi dalam organisasi kemahasiswaan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka yang menunjang hidupnya selama menjalani status akademik sebagai mahasiswa. 

Entah mengapa sangat susah mendapatkan kader ideal yang rela berhikmat untuk organisasi yang meniscayakan implikasi terhadap masyarakat yang membutuhkannya. Seolah-olah organisasi kemahasiswaan adalah organisasi yang orientasinya untuk mencari keuntungan secara material untuk memberikan gaji kepada semua anggotanya, ini akikbat persepsi material yang sudah berkarat dikalangan civitas akademik mahasiswa yang terkonstruk oleh hegemoni media.

Jika kita melihat sejarah 1998 saat tumbangnya rezin Suharto peran aktor organisasi kemahasiswaan sangat besar, karna memiliki kader yang sangat progresif dan sangat ideal. Tapi kini kesuksesan gerakan organisasi kemahasiswaan hanya tinggal cerita heroid yang disajikan sedemikian rupa baik itu di pengkaderan struktural maupun dalam kajian-kajian kultural. Harus kita pahami bersama bahwa peran organisasi kemahasiswaan pada saat menumbangkan rezim Suharto sangatlah besar.

Salah seorang tokoh sosial yaitu E.Humans menyatakan bahwa seseorang melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan hadiah, atau untuk mendapatkan keuntungan. Seseorang yang dinyatakan oleh E.Humans sangat mayoritas dalam organisasi kemahasiswaan yang mana mereka berpartisipasi dalam organisasi semata-semata hanya untuk kepentingan pribadi, atau dalam bahasa lainnya pragmatisme dalam berorganisasi.

Inilah pandangan subjektifitas penulis yang di curahkan dalam sebuah tulisan, yang dinilai dari kaca mata penulis bahwa kader-kader atau regenerasi dalam organisasi kemahasiswaan mayoritas sangat pragmatis. Maka dari pada itu penulis mengajak kepada para pembaca untuk memberikan perhatian lebih terhadap realitas tersebut karna menurut penulis ini tanggung jawab kita bersama. 

Bahwa kompleksitas masalah organisasi kemahasiswaan sekarang membutuhkan formulasi-formulasi yang baru untuk eksistensinya kedepan, dan hal itu membutuhkan buah pemikiran kawan-kawan, karna untuk terpenuhinya ekspektasi bangsa ini sangat di pengaruhi oleh proses regenerasi di organisasi kemahasiswaan

Makassar 09 November 2012
 Haeruddin Syams Masagenae

“SURAT DARI MAHASISWA UNTUK BIROKRASI”


Seorang ulama berkata ; Bayarlah sebuah luka dengan kebaikan,,,,
Seorang dosen berkata ; Jika kamu membayar luka dengan kebaikan , lalu dengan apa kamu membalas kebaikan ?  “kamu seharusnya membayar sebuah luka dengan keadilan dan kebaikan dengan kebaikan

Wahai para orang tua kami yang duduk di kursi birokrasi kampus Hitam Politeknik Negeri Ujung Pandang, kami itu sering bertanya ketika kalian bertemu dengan kami, yang tersudut dengan interpensi kalian melalui KOMPEN (kompenisasi yang dibayar ketika tidak masuk kuliah), pembatasan jam ekstrakurikuler, dan pemotongan beasiswa saat kami mendemonstrasikan inspirasi kami. Apa yang sesungguhnya  kalian pikirkan tentang kami? 

Jika kalian dengan baju yang bersih kemudian melakukan ibadah dan berdoa, sungguh kami ingin tau doa apa yang kalian panjatkan kehadapan tuhan. Kadang dalam bilik kepala kami yang kecil ini muncul pertanyaan,"Mengapa mahasiswa selalu saja tidak pernah percaya dengan keputusan yang kalian ambil? Saat kami tersudut dengan teguran kalian atas demonstrasi kami, mengapa kalian asyik berwisata keluar negeri.

Kekuasaan memang panggung yang lebih baik dijalankan dengan seni peran, ketimbang dengan tindakan-tindakan yang nyata, karena berupa panggung maka yang dibutuhkan kadang buka kejujuran, tapi kecerdikan untuk meyakinkan penonton. “Bahwa apa yang sedang pura-pura dilakukan, buatlah seolah-olah sebagai adengan yang sungguh-sungguh”.

Jika kami boleh meminta keajaiban, kami minta agar para penguasa yang duduk dikursi birokrasi menyapa kami disudut kantin, seperti anaknya sendiri yang dia sayangi. Kami membayangkan suatu saat ketika kalian akan turun dari kursi kekuasaan, dan kalian mengucupkan kalimat yang tak pernah sekalipun kalian katakan,"Anakku maafkan kami atas kebijakan, tindakan, dan sikap kami yang tidak sesuai dengan harapanmu, sekali lagi maafkan kami.

Suara Aspirasi Mahasiswa Sudut Kantin

Makassar, 09 November 2012
Haeruddin Syams Masagenae

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger