Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Malaikat Pencari Darah : Lingkar Donor Darah Makassar (kisah 1)

Seseorang terlihat memasuki pintu gerbang UTD Makassar (unit transfusi darah Makassar) mengendarai motor suzuki smash berwarnah biru-hitam. Setelah menyimpan kendaraan di tempat parkir ia kemudian menghampiri saya yang lagi duduk depan ruangan tunggu pendonor, dari tadi kak Rudi? "Sapanya, sambil menarik kursi dekat saya untuk duduk. Saya hanya senyum dan menganggukkan kepala untuk mengiyyakan.

Namanya Iccang, mahasiswa fakultas perikanan Universitas Hasanuddin berasal dari kabupaten Bone. Di selah-selah kesibukan kuliah ia selalu menyempatkan diri ke UTD bahkan hampir setiap hari, itulah kenapa wajanya begitu akrab di kalangan pegawai dan saya tidak heran jika ia begitu bersahabat dengan mereka.

Di UTD Iccang selalu sibuk menelpon pendonor baik orang itu ia kenal maupun tidak untuk meminta kesediaannya mendonor darah secara sukarela. Di dalam  tasnya ia selalu membawa buku yang berisi biodata para pendonor. Terdapat ratusan nama beserta alamat dan kontak person tercatat di buku itu, entah bagaimana cara ia mengumpulkannya, "wajah heran saya menatap ke Iccang. Yah itu merupakan tanggung jawabnya selaku direktur LDDM (Lingkar Donor Darah Makassar). LDDM merupakan komunitas mahasiswa yang aktif mencari pendonor untuk membantu pasien yang sedang membutuhkan darah saat persediaan di UTD habis. Selain itu mereka juga terkadang mendampingi si pasien hingga ia keluar dari rumah sakit.

Hal itu mereka lakukan dengan sukarela tanpa meminta bayaran, mereka bilang kami senang berhikmat untuk kemanusiaan, itulah alasan mengapa saya menyubut mereka sebagai malaikat pencari darah. Karna malaikat merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang bertugas melakukan kebaikan sampai kiamat datang, dan apa yang mereka lakukan di LDDM memperlihatkan sisi malaikat di balik wujud manusia mereka. Pada dasarnya manusia memliki dua sisi yakni baik dan buruk. Manusia bisa lebih mulia dari malaikat jika senantiasa mengaktualkan sisi baiknya dan akan lebih hina dari iblis ketika mereka sering berbuat keburukan.

Hampir semua orang yang mereka bantu berasal dari kampung pedalaman kabupaten di Sul-Sel, saat mereka terdesak akan kebutuhan darah untuk melakukan operasi dan pihak UTD tidak sanggup menyediakan darah karna stok darah kosong. Biasanya pegawai UTD merekomendasikan kepada keluarga si pasien yang butuh darah agar menghubungi kontak person LDDM untuk meminta bantuan agar dicarikan pendonor darah.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kecemasan orang-orang desa yang datang jauh berobat ke Makassar, ketika di rumah sakit mereka di desak oleh dokter mencari 10 kantong darah sementara UTD dan PMI (palang merah Indonesia) tidak bisa membantu di tambah lagi mereka tidak memiliki keluarga dan kenalan di Makassar. Hah! Kira-kira apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisi mereka? dan jika kalian bertanya kepada saya, pasti saya akan menjawab “saya akan menghubungi Iccang Direktur LDDM untuk meminta bantuan. he,,he.

Beberapa di antara orang yang pernah mereka tolong ada yang sempat memberikan uang, makanan, minuman dan lain-lain sebagai rasa terima kasih kepada teman-teman LDDM tapi mereka selalu menolak kemudian mengatakan "kami menolong tidak pernah mengharapkan bayaran dan semacamnya dan kami sangat bersyukur jika yang kami lakukan bisa membantu.

*****

Hari ini saya berencana ikut bersama Iccang ke rumah sakit Wahidin untuk menjenguk pasien yang ia dampingi. Tepat pukul lima sore kami berangkat. Namanya Ahmad Fadil, penderita penyakit Leukimia. Kemarin Iccang beserta teman-teman LDDM sempat membantu Fadil untuk mencari pendonor yang bergolongan darah A+ sebanyak 10 kantong guna memenuhi kebutuhan operasinya.

Baju merah Iccang dan Ahmad fadil beserta Ayahnya
Ketika kami sampai di RS ruangan lontaraq kamar satu-kelas tiga Ibu Fadil lansung menyambut kami dengan senyum dan wajah ceria. Salam Ibu, "tegur Iccang, sambil berjalan menuju kasur tempat Fadil terbaring. Jam 6 nanti anak saya akan di operasi dek "seru si Ibu. Kata dokter ada pendarahan di kepalanya yang harus segera diobati "lanjutnya. Hmm, Saya hanya bisa terdiam di sebelah Iccang sembari mendengarkan percakapan mereka.

Kami juga sempat menyapa pasien yang lain namanya Sahwan berasal dari kabupaten Barru, meskipun tidak banyak yang kami perbincangkan berhubung banyak keluarga Sahwan yang tiba-tiba datang untuk menjenguknya. Begitu juga dua pasien lagi setelah Sahwan yang kami temui tapi sayang saya lupa nama mereka. Yah hari ini sangat menyenangkan karna kami bisa mengunjungi empat pasien sekaligus, terima kasih untuk Iccang telah mengajak saya. Mungkin besok-besok saya akan lebih sering menemani direktur LDDM dinas di UTD dan melakukan kunjungan pasien di rumah sakit agar saya bisa menulis lebih banyak lagi cerita di blog kesayangan saya tentang “Malaikat Pencari Darah”

Sahwan dan Iccang

Makassar 4 Januari 2016

Kebetulankah !? Bertemu Gede Pasek


Sore hari (11/02/2015) di Country Coffe Resto (CCR) Toddopuli Makassar terlihat banyak wartawan mengerumuni seseorang, tampaknya mereka lagi mewancari orang itu. Sementara aku di luar Café menyaksikannya sedang menunggu salah seorang seniorku namanya “Ka Idam. Aku tak tau pasti apa yang mereka perbincangkan, karna lantunan suara hujan yang menyelimuti pendengaranku. Meskipun aku penasaran tapi aku tidak punya keberanian untuk masuk. Tak lama kemudian HP-ku berdering itu panggilan yang aku tunggu-tunggu. Ternyata Ka Idam juga berada di dalam café bersama dengan kerumunan wartawan, ia menyuruhku masuk, “Panggil Ka Idam lewat telpon.

Dengan langkah yang tertatih-tatih ku beranikan diri untuk bergabung. Dalam hatiku berbisik “aku ingin sekali kabur dari tempat ini, saat melihat penampilan rapi ala pejabat orang di sekitaranku, sementara hanya aku dengan kaos oblong dan beralaskan sandal jepit. Tapi aku sudah janji untuk ketemu dengan Ka Idam di sini itulah yang mendorongku untuk tetap tinggal dan berusaha menikmati perbincangan.

Aku sempat mendengar, bahwa orang yang lagi diwawancarai itu adalah Gede Pasek. Hah!? Heranku. “Gede Pasek baru saja datang dari maros, ia kesana untuk membawakan materi dalam pelatihan kader tingkat dua  HmI Cabang Maros “Ujar orang di sampingku. Diselang kesibukannya sebagai sekertaris jendral Perhimpunan Pergerakan Indonesia Gede Pasek juga aktif untuk mengisi forum-forum diskusi di berbagia kampus di tanah air, ia salah satu tokoh pergerakan yang masih konsisten berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan Mahasiswa, sebagai orang yang pernah bergelut dalam  pergerakan Mahasiwa yang kini bisa dibilang sukses meniti karier dipanggung politik.

Aku sering melihat ia tampil dalam berita-berita di media, namun tak pernah kudapati ia diberitakan saat mengisi ruang diskusi di kampus, aku sempat membaca salah satu berita on-line bahwa kedatangan Gede Pasek di Makassar dihubung-hubungkan dengan kongres salah satu partai politik, entahlah aku juga tidak tau pasti akan hal itu. Yang pastinya aku bukan wartawan yang ingin membuat berita tentang dia. Aku hanya sekedar membuat coretan tentang pertemuan singkatku dengangnya, dan sebagai pelampaisan bagiku karena aku hanya banyak diam mendengarkan cerita beserta gagasan-gagasannya saat aku mengantar dan menemaninya di bandara hingga pukul 4 subuh, maklum aku minder untuk berbicara jadi ku lampiaskan itu dalam tulisan ini.

Meskipun singkat aku bisa mengambil banyak pembelajaran darinya, sepintas ku lihat kepribadiaannya sangat ramah dan humanis. Masih hangat dalam ingatanku ketika ia menceritakan salah seorang temannya, aku tidak tau pasti namanya. Tapi temannya itu pernah ke Cina untuk mebuat ukiran rumah ala bali, awalnya ia berpikiran akan dikontrak untuk membuat satu kompleks perumahan tapi setelah ia membuat baruga dan satu rumah ukiran bali di Cina ia tidak lagi dipanggil mengerjakan rumah berikutnya karna rumah dibuatnya hanya dijadikan percontohan dan selanjutnya orang Cina itu yang membuat rumah yang lainnya. “aku sampai tertawa mendegar cerita itu karna dijadikan sebagai lolucon. Yah begitulah orang Cina meskipun tidak orisinil tapi mereka bisa membuat karya yang mirip dengan aslinya. Kita bisa melihat begitu banyak barang elektronik duplikat buatan Cina yang beredar di pasaran.

Gede Pasek juga sempat menyinggung tentang kebudayaan bangsa ini, “panggung yang begitu sedikit orang yang berkarir dan memperjuangkannya, “ujar Gede. Ungkapan prihatinnya menyaksikan kondisi kekayaan kebudayaan kita yang terpinggirkan oleh cekokan budaya impor. Walaupun agak minder aku sempat menjelaskan makna petuah bijak bugis yang tertulis di baju yang ia pakai. “Rebba Sipatokkong, Mali’ Siparappe, Sirui’ Menre, Tessirui No, Malilu Sipakainge, Mainge’pi Mupaja” sambil berbisik dalam hati "aku merasa senang bisa bertemu dengannya. Yah semoga kedepan aku mempunyai kesempatan lagi menjadi pendengar setia cerita dan gagasan beliau.


Foto Bersama Gede Pasek

Foto Bersama Gede Pasek

Memancing ; Meditasi Untuk Melatih Kesabaran

Haeruddin

Tiap kali saya mendengarkan ceramah-ceramah baik itu di mesjid mau pun di tv, hampir semua penceramah selalu menyampaikan masalah kesabaran. Bahwa sabar merupakan salah satu indikator kemanusian seseorang. Jika kita pernah menelaah sejarah islam maka kita akan menemukan betapa para Nabi memiliki kesabaran yang sangat luar biasa, mereka adalah orang-orang yang mulia berkat kesabaran yang mereka miliki dan itulah yang menjadikan mereka istimewa disisi sang Pencipta. 

Setiap lantunan doa, saya tak pernah bosan untuk meminta agar diberikan kesabaran sebagai orang yang meneladani Nabi maka seharusnya kita harus mencontoh mereka, mungkin hampir semua orang juga begitu! namun pernahkah kalian berpikir bahwa memancing merupakan meditasi untuk melatih kesabaran ?

Haeruddin dan Kak Nawa
Kemarin merupakan pengalaman pertama saya memancing, saya diajak oleh teman untuk memancing dirumahnya. Awalnya sih cuman ingin melihat-lihat saja maklum saya tidak punya pengalaman apa lagi saya juga tidak punya pancing. Akan tetapi setelah saya menikmati makan siang dari hasil pancingan teman, saya berubah pikiran dan mencoba juga untuk memancing. 

Saya melihat teman yang begitu menikmati ikan yang ia tangkap, katanya ada kenikmatan tersendiri ketika kita memakan ikan hasil pancingan sendiri. Ehmm saya hanya tertawa kecil sambil ikut melahap ikan. Yahh kenikmatan yang saya rasakan mungkin karna lapar, berbeda dengan yang dirasakan oleh teman saya.

*****

Pemancing pemula biasannya akan menjadi bulan-bulan-an, kenapa demikian ? Yah namanya pemula pastilah pertanyaannya kita banyak sekali dan itu bisa mengganggu kosentrasi pemancing disekitaran kita dan dengan penuh candaan kita akan ditertawi oleh teman-teman kita, begitulah kondisi saya saat itu dan dari situlah bermula kesabaran kita diuji. 

Dengan pengetahuan pas-pas’an saya begitu pede melempar umpan ke air. Tak membutuhakan waktu yang lama saya lansung "strike" spontan saya berteriak sambil melompat-lompat gembira menyambut tangkapan pertama saya. Hore-hore-hore,,, saya "strike”

Tampaknya ikan memakan umpan saya adalah ikan patin jenis ikan berkumis yang termasuk dalam genus Pangasius, familia Pangasiidae. Nama "patin" sendiri disematkan dari salah satu anggotanya, P.Nasutus. disini ikan Patin menjadi incaran semua pemancing yang datang pokoknya mereka tidak akan puas kalau belum bisa mendapatkan ikan itu. 

Bagaimana saya tidak bangga dengan tangkapan pertama saya. Namun saat saya lagi berkosentrasi untuk menarik ikan patin saya, tiba-tiba senar pancingnya putus, wajah yang tadinya begitu gembira pun berubah menjadi kesedihan sambil mengelus-elus dada dan berkata, “Sabbaki ati” (sabar yah hati).

Bayangkan jika tangkapan pertama kalian lepas ditengah-tengah orang yang lagi memancing! Saya membayangkan masuk surga sejenak kemudian dilemparkan ke neraka, saking sakitnya sampai hari ini masih terasa. Tapi setelah itu saya tidak menyerah saya tetap mencoba untuk mendapat tangkapan berikutnya. 

Tahukah kalian! duduk diam berjam-jam sambari menunggu ikan memakan umpang kita adalah pekerjaan yang sangat membosankan, yahh bagi saya itu sangat,sangat, sangat membosangkan. Apalagi jika kita tidak mendapatkan hasil satu ikan-pun hingga kita selesai memancing, itulah yang saya alami.

Namun dibalik itu saya memperoleh banyak pembelajaran, bahwa proses se-harian belajar mancing bersama teman-teman (Ka Nawa dan Camrun) adalah meditasi untuk melatih kesabaran saya. Mungkin Tuhan mengabulkan doa saya melalui proses ini. Mungkin apa yang saya alami sifatnya kasuistik jadi tidak semua orang akan mengalami itu, tergantung dari kepribadian masing-masing orang, ujian tuhan untuk melatih kesabaran seseorang pasti berbeda tergantung dari kualiatas jiwanya tidak mungkin orang yang kapasitasnya seperti Nabi diuji dengan meditasi mancing, akan teapi saya menyarankan bagi kalian yang ingin menguji kesabarannya silakah pergi mancing.

Makassar 28/November/2014

Menghadiri Pelantikan PP-KPMP : Selamat Atas Dilantiknya Saudara Awaluddin Nadjib Sebagai Ketua Umum PP-KPMP

Minggu, 18-Mei-2014

Beberapa orang panitia terlihat lagi sibuk di depan panggung, nampaknya mereka lagi mempersiapkan pelantikan PP-KPMP. Ruangan masih terlihat sepi karna belum ada satu pun tamu datang, padahal jadwal pembukaan yang di cantumkan di dalam undangan yang diedarkan sudah lewat. Sepertinya kami dari KMP-Poltek undangan yang paling cepat datang, hampir sekitar setengah jam kami nongkrong di luar karna acaranya lambat dimulai. Saya sempat heran kenapa kegiatan ini bisa molor padahal kata salah seorang teman kegiatan ini akan di hadiri oleh wakil Gubernur Sul-Sel,  Ir. H. Agus Arifin Nu'mang, M.S. dan Bupati Pinrang, Andi Aslam Patonangi SH MSi. Kegiatan ini juga bakalan dirangkaikan dengan rapat kerja pengurus PP-KPMP.

Tak lama berselang rombongan wakil gubernur Sul-Sel dan Bupati Pinrang menaiki tangga menuju tempat pelantikan, kedatangan mereka sepertinya menjadi lampu hijau untuk dimulainya acara pelantikan. Setelah berada di dalam ruangan acara pembukaan pun lansung dimulai walaupun undangan yang lain masih banyak yang belum datang, karna beberapa menit acara berjalan kursi untuk tamu masih banyak yang kosong.

Gedung Local Education Center (LEC) Athirah Antang
Nanti setelah sambutan-sambutan barulah kursi tersebut menjadi padat. Sambutan pertama di mulai oleh Ketua PP-KPMP terpilih, dalam sambutannya iyya sempat menyinggung tentang pengadaan KPMP Center sebagai sentrum untuk pengurus kedepan. Karna di antara delapan asrama Pinrang yang ada sekarang tidak satu pun yang dijadikan sebagai KPMP Center untuk menjadi titik pertemuan kader KPMP Pinrang. Sejenak dalam pikiran saya pun terlintas pertanyaan, kenapa yahh bukan asrama yang sudah jadi saja dijadikan KPMP Center? bukankah hal itu bisa lebih cepat! dan selain itu pengurus juga bisa berbaur dengan mahasiswa Pinrang yang sudah menjadi penghuni asrama. Lagian jika harus membangun asrama baru maka itu akan menguras anggaran pemerintah sementara disisi lain 71.253 jiwa (data tahun 2010) masyarakat miskin membutuhkan tetesan dana yang merupakan hak mereka sebagai warga Pinrang. Bukankah lebih humanis(?) jika alokasi dana pengadaan KPMP Center di alihkan ke sana dan seluruh elemen mahasiswa organisasi daerah Kabupaten Pinrang tinggal mengawal bagaimana dana itu bisa tepat sasaran kalau pun pemerintah mengindahkan pembuatan asrama baru. Setelah sambutan ketua PP-KPMP dilanjutkan oleh sambutan Bupati Pinrang dan Wakil Gubernur Sul-Sel sekaligus membuka acara rapat kerja PP-KPMP hingga acara itu di tutup dengan pembacaan doa oleh salah satu panitia pelaksana.

*****

Melalui tulisan ini saya menyempatkan diri dengan segala hormat mengucapakan selamat kepada saudara Awaluddin Nadjib atas dilantiknya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Pelajar Mahasiswa Pinrang (PP-KPMP) 2014-2016. Semoga bisa mewujudkan visi dan misi-nya selama satu periode kepengurusan dan bisa menjadi jembatan aspirasi masyarakat Pinrang. Amin.

Hormat Saya. -HS'Masagenae

Terima Kasih Atas Senyum Anda; Sampah Visual di Ruang Publik

Foto Caleg di Kompleks BTN Antara makassar
Tahun ini ada yang berbeda dari potret jalan poros kompleks btn antara makassar, jalur yang setiap hari saya lewati ketika keluar dari rumah. Sepanjang jalan terlihat senyum yang sama sekali tidak pernah saya harapkan, apa lagi senyum itu dari orang yang tidak saya kenal. Tapi mereka sangat baik dan tetap menyapa lewat senyum beserta janji mereka. Sungguh bahagianya saya setiap hari melihat senyum itu. Yah senyum itu adalah spanduk, umbul-umbul dan baliho calon legeslatif (caleg) partai politik (parpol).

****

Sejak KPU membuka jadwal kampanye tanggal 15 maret 2014 senyum itu bertambah banyak. Setiap pohon, tiang listrik dan apapun itu yang bisa menjadi alternatif untuk menempelkan senyum visual beserta pesan janji para caleg. Saya pernah mendapatkan seseorang memasang spanduk dan baliho pukul dua dini hari di kompleks saya. Tapi sayang saya tidak sempat bertanya kepada mereka kenapa memasangnya jam segitu. Saya tidak menyangka ternyata senyum itu bisa merampas waktu istirahat/tidur seseorang.

Pernah suatu hari (24/03/2014) saya lewat di jalan Hertasning Makassar. Kebenaran salah satu senyum yang tertempel di kompleks saya hadir di sana melakukan kampanye politik. Betapa kagum saya kepada ia, saat saya terjebak macet di jalan itu. Ini bukan sulap, senyum itu memiliki massa yang banyak hingga bisa memacetkan jalan, luar biasa yahh? Apakah anda pernah membayangkan, hanya dengan menebar foto senyum anda, anda bisa mendapat pendukung yang bisa memacetkan jalan, hebat bukan!

Jumlah dana (cost politik) sepertinya bukan masalah bagi mereka asalkan bisa menang. Yang namanya demokrasi pemilih terbanyak pasti selalu menjadi pemenang meskipun butuh banyak dana untuk itu. Andai saja saya mempunyai kerabat yang nyaleg, Ingin sekali saya bertanya, berapa uang yang ia habiskan untuk membuat spanduk, baliho, baju, dan atribut kampanye lainnya. Dan menyarankan agar separuh dari uang itu disumbangkan saja kepada orang yang membutuhkan. Bukankah itu lebih bermanfaat! Dan bisa membuat mereka juga tersenyum.

****

Penahkah kalian berpikir bahwa baliho, billboard, umbul-umbul, spanduk, rontek, dan poster adalah sampah yang mengotori keindahan kota Makassar. keberadaannya menjadi masalah yang amal krusial dalam estetika kota karna menjajah ruang publik milik masyarakat. Kehadirannya di ruang publik memaksa kita untuk melihatnya, jadi mau tidak mau kita tidak bisa menghindarkan pandangan kita.

Menurut Sumbo Tinarbuko, seorang Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta dalam artikelnya "Sampah Visual Iklan Pemilukada" mengatakan bahwa; sampah visual adalah limbah iklan politik yang dipasang, ditancapkan, direntangkan, digantungkan, dan ditempelkan di seluruh area ruang publik, karena penempatannya tidak mempertimbangkan estetika dan ekologi visual, maka muncullah sampah visual iklan politik yang "menjajah" ruang publik.

****

Terlepas apa kata orang terhadap atribut kampanye di ruang publik, saya selalu berpikiran positif, bahwa senyum para caleg melalui visualisasi adalah niat baik mereka sebagai calon wakil rakyat. Bukankah "Senyum itu adalah Ibadah? Pesan verbal yang mengisyaratkan untuk memilih mereka yang tertulis di visiualisasi itu merupakan cita-cita mulia. Pun kedepan mereka tidak bisa merealisasikannya kita sebagai pemilih cerdas bisa menuntut melalui media aspirasi.

Tapi untuk mencegah itu semua, baiknya kita memilih wakil rakyat yang mudah kita akses agar bisa mengingatkan janji mereka saat duduk di kursi pemerintahan. Karna jika tidak, ketika mereka terpilih maka senyum visual-nya tidak akan bisa kita lihat lansung kecuali melalui media meanstreme. Di balik kaca televisi mereka berbicara program kesejahtraan rakyat tapi di satu sisi mereka tidak turung lansung mendegarkan keluhan kita.

****

Bagi mansyarakat makassar, hindarilah berkendara di jalan hertasning sekitaran lapangan sebelum pesta demokrasi 9 April 2014 diselenggarakan. Karna jalan itu sangat rawan macet oleh kehadiran senyum visual beserta dengan massanya guna berkampanye. Beberapa dekade terakhir ini lapangan Hertasning kerap kali menjadi tempat bulan-bulanan massa kampanye pilitik. Saya sendiri sudah menyaksikan lansung senyum caleg disana, sampai satu jam baru bisa keluar dari jalur jalan karna macet.

Macet di Jalan Hertasning
Selain di hertasning lapangan BTP makassar juga acap kali di gunakan sebagai tempat kampanye. Hasilnya yah macet. Hari minggu kemarin saya juga terjebak macet disana. Orang-orang yang memakai baju bergambarkan senyum caleg konvoi mulai dari gerbang BTP hingga lapangan.  Yaah, Sekali lagi saya terperangkap macet oleh ekspresi senyum visual. Terdengar suara orasi politik dihadapan kerumunan orang yang memakai baju tipis dengan desain yang seragam di halaman lapangan BTP Makassar seolah ia tidak bersalah dengan macet yang ditimbukan.

Untuk kali kedua saya berada di tengah-tengah orang dengan mimik wajah jengkel gara-gara macet. Berulang kali Nada “Aaahh" (suara keluhan) pun terlontar dari mulut mereka. Bahkan polisi pun sampai turun tangan untuk mengatur kendaran di lampu lalu lintas depan gerbang BTP karna macet yang ditimbulkan oleh massa kampanye yang ugal-ugalan berkendara. Beberapa di antara massa yang konvoi malah asyik menarik gas motor mereka dengan knalpot bogar-nya (racing) agar suara motornya teriak bagaikan guntur yang bisa memecah gendang telinga.

****

Inilah konsekuensi dari demokrasi, setiap orang bisa saja merampas kebahagian orang banyak untuk mencapai obsesi pribadinya. Sebagian orang memang menganggapnya “wajar” termasuk saya. Karna senyum itu sangat setia menyapa saya di sepanjang jalan kompleks rumah saya. “Terima kasih atas senyum Anda”

-HS’Masagenae

Coretan Kasih untuk Adinda Irfan : Hanya Bisa Bilang Maaf


IRFAN
SAYA sangat tercengang membaca tulisan yang dibuat oleh adinda Irfan.  judul tulisannya adalah “Maaf, Gerakan Mati Karna Senior” sekarang dia menjabat sebagai ketua HmI Komisariat Poltek, dan sementara melanjutkan pendidikan S1 di Poltek setelah tahun kemarin dia baru saja menyelesaikan pendidikan D3 dikampus yang sama. Kemarin Saya menyempatkan diri untuk bertanya tentang senior yang dia maksud (?) dengan senyum yang tipis dia pun menjelaskan panjang lebar hingga saya terkesima.

Semenjak dia menjabat sebagai ketua komsariat, banyak forum ke-ilmuan yang dia buat seperti basic training dan mengawal sampai follow up-nya, bedah buku minggu-an yang sempat saya dipangggil menjadi pemateri, diskusi pelataran kampus, diskusi di café perintis, diskusi kontemporer dan lainnya. Selain itu dia juga aktif mengikuti forum diskusi sebut saja partisipanya di bedah buku nasional Eko Presetyo  seperti yang dia sebutkan dalam tulisannya. Bukan cuman itu, dia juga aktif mengisi forum ke-ilmuan sebagai seorang pemateri apalagi dia sudah mengikuti jenjang pengkaderan tingkat II bulan dua tahun kemarin, sebagai syarat untuk menjadi pemateri di Himpunan Mahasiswa Islam.

Wajah datar saya heran dan berpikir, kenapa bisa-dia mengatakan gerakan mati, sementara banyak yang dia lakukan untuk menghidupkan gerakan Mahasiswa. apalagi sampai menyalahkan senior.

Saya tambah heran dengan justifikasi gerakan mati dalam tulisannya dengan indikator“Perdebatan tentang wacana kapitalisme, neoliberalisme, sosialisme, gerakan mahasiswa, filsafat bahkan kebenaran itu sendiri menjadi hal yang tabu bagi kalangan mahasiswa hari ini” sedangkan sebagai seorang Mahasiswa wacana itu tidak tabu baginya. Bahkan dia punya tulisan tentang itu, sebut saja tulisannya tentang “Sejarah Tasawuf, Emile Durkheim dengan Fakta Sosialnya, Penguatan Civil Society Dalam Mengawal Demokrasi” dan masih banyak lagi tulisan yang ia buat di blog-nya. Bukankah dia juga adalah Mahasiswa?

Dia juga menyebutkan indikator yang lain dari “Gerakan Mati” yakni ; “mahasiswa yang lahir adalah mahasiswa yang hanya bisa membangun baliho-baliho yang berisikan seminar nasional dan lomba. Atau bahasanya temanku mahasiswa EO (event  organizer), yang berujung pada ajang mencari popularitas. Tapi dia tidak menyebutkan mahasiswa mana yang dia maksud, karna dia selaku mahasiswa tidak lahir dalam kategori yang dia sebutkan. Karna selama ini dia tidak pernah membuat kegiatan yang berorientasikan EO (event  organizer) dan mencari popularitas dari apa yang dia lakukan.

****

Sebuah justifikasi hanya akan menjadi hipotesis dan asumsi bagi kita tanpa data yang kuat untuk mendukung kebenarannya atau minimal kita punya penelitian tentang hal tersebut. Telalu naïf jika kita menyalahkan senior. Apalagi jika kita belum mengetahui sumbangsih mereka untuk gerakan kemanusian dan apa yang dilakukannya sekarang untuk tetap di jalan perjuangan itu. Apakah kita pernah bertanya tentang itu kepada mereka? Dan apakah semua senior harus melakukan apa yang telah dilakukan oleh Bung Eko Presetyo untuk menginsipirasi juniornya? kalau dengan itu mahasiswa bisa tetap konsisten dengan gerakannya seperti yang disebutkan oleh adinda Irfan “bung eko adalah sosok senior yang mampu menginspirasi banyak mahasiswa salah satunya adalah saya”

Bagi saya, tulisan adinda Irfan  malah membuat saya berpikiran sebaliknya bahwa gerakan sekarang sangat progres. Di era saya dulu saat menjadi ketua komisariat, hampir-hampir saya tidak menemukan teman-teman pengurus yang menulis, sedangkan pengurus generasi dia banyak yang aktif menulis. Bahkan saya selaku ketua komisariat tidak pernah membuat tulisan seperti yang dia buat hingga saya dimisioner. Akan tetapi dia selaku ketua komisariat bisa berkarya dengan menorehkan perjuangan dalam sebuah tulisan, apalagi itu bukan tulisan satu-satunya yang dia buat masih banyak lagi karya yang dia torehkan dalam blog-nya http://catatan-pergerakan.blogspot.com.  Bukankah itu sebuah prestasi yang baik dalam sebuah proses regenerasi di organisasi (?)

Saya hanya bisa bilang maaf, jika selama ini tidak memberikan yang terbaik kepada adinda Irfan sebagai seorang senior. Dan tidak bisa seperti Bung Eko Presetyo yang bisa menginspirasinya.

Senin 31/Maret/2014
-HS’Masagenae

Hari Pertama Pelatihan Menulis

Beberapa hari lalu aku mendapat kabar dari salah seorang teman bahwa aku lulus pelatihan dan pendampingan menulis yang diselenggarakan oleh team MakassarNolKm.Com,  aku tidak menyangka sih dapat kabar bahagia itu. Karna salah satu syarat pendaftarannya adalah mengirim tulisan non fiksi, dan kriteria tulisan adalah deskripsi hasil dari observasi atau wawancara. Selama ini aku tidak pernah menulis seperti itu karna hampir semua tulisan yang aku buat adalah opini.

Kemarin adalah hari pertamaku mengikuti pelatihan menulis, adapun peserta yang lulus dalam pelatihan tersebut hanya sembilan orang dari empatpuluh pendaftar dan yang mengirim tulisan hanya duabelas orang.  Dalam pelatihan itu kami didampingi oleh dua orang yaitu Ka Jimpe dan Ka Ipul. Mereka berdua adalah penulis buku profesional  salah satu karyanya yang sangat terkenal yaitu Makassar Nol Km, buku itu merupakan kumpulan tulisan tentang potret kota Makassar, kata Ka Jimpe buku itu sempat menjadi buku wajib disalah satu fakultas universitas Makassar.

Peserta kegiatan itu terdiri dari beberapa kalangan ada mahasiswa, ibu rumah tangga, serjana, dan salah satu dari peserta adalah team dari Makassar Nol Km. Tema tulisan yang di buat oleh peserta juga sangat menarik seperti pangkas rambut Madura, musik jass Makassar, sampah visual, Makassar dalam mie, lingkar donor Makassar,  penjahit sepatu dan objek wisata gowa

Banyak hal yang aku dapatkan di hari pertamaku, diantaranya.

  1. Jurnalis warna, kami diajari bagaimana membuat tulisan jurnalis warga. Kata Ka Jimpe dalam situs jurnalis warga semua orang mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan berita karna profesinya berbeda dengan jurnalis konvensional yang memiliki tuntutan kerja dari media meanstrem dan berita yang mereka dapatkan pun harus difilter sebelum dipublikasikan. Hal utama dalam tulisan jurnalis warga adalah tema tulisan, biasanya tema tulisan jurnalis konvensional jika kita membaca judul tulisannya maka kita sudah bisa mengetahui isi tulisan, contoh “10 orang korban kecelakaan tabrakan Bus” tanpa harus membaca isi tulisan kita sudah bisamengetahui apa isi tulisan tersebut. Sedang tulisan jurnalis warga harus memilih judul, yang mana ketika orang membacanya maka mereka akan tertarik karna ingin mengetahui apa isi tulisan tersebut. Contoh “pro dan kontra jumlah korban tabrakan bus”
  2. Tulisan Fokus. Dalam membuat tulisan kita harus fokus dengan objek  yang ingin kita sampaikan, misalnya aku mengambil tema Makam Raja Tallo jadi deskripsi tulisannya harus difokuskan disitu adapun hal-hal yang berkaitan dengan tema hanya sebagai  tambahan tulisan yang bisa kita ambil dari buku, artikel dan lainnya, dan hal itu tidak bisa mendominasi dari tema yang kita pilih.
  3. Paragraf pertama. Hal ini sangat penting karna paragraph pertama merupakan moment kontrak antara penulis dengan pembaca, ketika paragraf pertama tidak bisa mengikat pembaca maka tulisan kita tidak akan dibaca sampai selesai oleh pembaca. Kata ka jimpe paragraf pertama harus di tuliskan kalimat aktif karna kalimat pasif biasanya membuat pembaca jenuh dengan tulisan kita. Contoh kalimat aktif : Rudi memakan roti dan Contoh kalimat pasif : Roti dimakan rudi
  4. Menhindari tulisan refleksi. Tulisan yang kita buat harus hasil dari wawancara dan observasi. sederhanya, kita menulis tentang sesuatu objek berdasarkan dari pandangan orang lain bukan hasil dari penalaran kita. Karna kata Ka Jimpe kalau tulisan refleksi  sama halnya kita membuat pidato tentang objek yang ingin kita tulis. Jadi tulisan yang kita buat adalah segala sesuatu yang kita dapatkan dari lapangan.
Ada banyak lagi sebenarnya yang disampaikan oleh pendamping yang tidak tersimpan dalam memori ingatanku karna harusnya kemarin pas setelah selesai pelatihan aku membuat tulisan ini, akan tetapi  aku tidak sempat karna setelah pelatihan aku di panggil oleh teman-teman HmI untuk bawa materi dalam kegiatan bastra dan setelah itu aku harus menulis surat kepada seseorang yang selalu menginspirasiku menulis. Sampai pagi hari surat itu baru selesai jadi aku baru sempat untuk menulis pengalamanku dalam pelatihan dan berusaha mengingat pembelajaran yang aku dapatkan.

Btn Antara, Minggu 02 Maret 2014
-HS’Masagenae

Coretan Refleksi : Ekspose hasil survei IDEC dan Diskusi Politik “Membaca Politik Makassar, dan Meramal Politik Nasional”


Foto Narasumber Diskusi Politik
HARI ini aku baru saja mengikuti ekspose dan diskusi politik yang dilaksanakan oleh salah satu lembaga riset yaitu IDEC di woodsy Gab. Sebagai lembaga riset IDEC telah melaksanakan survei tentang persepsi pemilih menyangkut partai politik sebagai peserta pemiliu 2014 mulai dari tanggal 25 januari – 10 Februari. Dengan mengambil 640 sampel dan margin of eror ± 4 % pada lima daerah pemilihan kota Makassar. Acara itu juga diikuti oleh beberapa caleg partai politik dan media.

Direktur Riset IDEC yang akrab disapa Bang Rahmat mengawali diskusi dengan memaparkan hasil survei yang telah mereka lakukan bersama team survei IDEC. Salah satu hasil survei yang masih hangat dalam ingatanku adalah tentang alasan partisipasi pemilih pada 9 April mendatang adapun hasil surveinya sebagai berikut.

•    54.55 % karna sadar akan hak dan tanggung jawab sebagai warga Negara
•    1.01 % karna tertarik kepada visi dan misi caleg parpol yang saya dukung
•    14.14 % karna ingin ada perubahan dan perbaikan nasib melalui partai yang didukung
•    8.33 % ikut-ikutan
•    2.02 % karna ada keluarga yang menjadi caleg
•    1.26 % karna ada calon president atau tokoh partai yang disenangi
•    18.69 % karna menanti pemberian dari caleg dan parpol dimasa jelang pemilihan

Dari hasil survei di atas sangat terlihat jelas bahwa parpol tidak bisa menyajikan caleg yang berkulitas yang memiliki nilai jual kepada masyarakat dalam pesta demokrasi politik, terlihat hanya 1.01 % responden yang berpartisiapasi untuk memilih karna tertarik kepada visi dan misi caleg.

***
Pada kesempatan ini aku tidak akan banyak bercerita tentang hasil survei IDEC karna takutnya yang aku sampaikan sangat subjektif. Aku lebih tertarik dengan diskusi politiknya. Karna selain direktur IDEC ada tiga narasumber yang di hadirkan pada acara disikusi politik tersebut yaitu Pa Firdaus Muhammad, Pa Hidayat Nawir Rasul, dan Pa Aswar Hasan.

Hampir semua narasumber menjelaskan secara gamblang tentang bobroknya sistem demokrasi politik di negri ini, dari berbagai sudut pandang berbeda baik itu perspektif media, akademisi, praktisi, pemerintah, partai politik dan lain sebagainya, seperti yang disampaikan oleh salah satu narasumber tentang sistem pemilihan transaksional yang mendominasi dalam pesta demokrasi, hingga sampai kepada kesimpulan bahwa mayoritas pemilih dalam hal ini rakyat membutuhkan pendidikan politik untuk menjadi pemilih cerdas.

Ketika salah satu seorang peserta bertanya akan hal itu, siapa yang bertanggung jawab atas kurangnya pendidikan politik yang didapatkan oleh rakyat? Aku sangat kecewa mendengar jawaban yang diberikan oleh beberapa narasumber karna mereka memberikan jawaban yang ambigu dan saling melempar bola, ditambah lagi komentar beberapa peserta diskusi yaitu para caleg papol yang melempar kembali bola yang diberikan kepadanya oleh narasumber.

Dan ujung-unjungnya mereka menyalahkan rakyat karna menjadi pemilih pragmatis. Sekiranya rakyat sebagai pemilih juga diberikan kesempatan dalam panggung-panggung publik untuk menyampaikan pembelaan diri, mereka juga pasti memantulkan bola yang diberikan kepadanya. Tapi sayang punggung publik hanya milik elite bangsa ini, mulai dari elite parpol, politisi, akademisi, media, NGO sampai kepada elite mahasiswa. Karna tukang beca, supir angkot, dan semua non elite tidak pernah diundang untuk berekspresi di atas panggnug publik.

Aku sangat heran mendengar ketika tuduhan itu ditujukan kepada rakyat, karna pada dasarnya mereka hanya memilih, apa yang disajikan oleh parpol sebagai aktor utama demokrasi politik. Toh rakyat juga tidak pernah ditanya celag dan pemimpin apa yang mereka inginkan, yang terjadi hanyalah rakyat menjadi pemilih determitis dari pilihan yang disajikan oleh berbagai parpol dan beberapa diantara mereka juga takut berdosa karna melanggar fatwa bahwa gol-put itu haram. Dan rakyat juga menjadi pemilih pragmatis (transaksional) itu karna mereka ditawari oleh beberapa caleg dan parpol bukan mereka yang memintannya, bukankah yang melakukan serangan fajar itu adalah orang-orang parpol dan caleg?

Setelah acara diskusi itu selesai aku sempat berpikir, bagaimana jika rakyat yang dituduh pemilih pragmatis di panel dengan caleg parpol dengan dua tema yang berbeda yang pertama masalah pendidikan politik, yang kedua masalah cara bertani yang baik bagi pemilih pragmatis petani, ataukah cara mencari penumpang bagi pemilih pragmatis tukang beca atau supir angkot, intinya tema kedua disesuaikan dengan profesi pemilih pragmatis “katanyan mereka” !!!

Hmmm aku pun ingin bertanya kepada pembaca, siapakah yang bertanggung jawab atas pendidikan politik rakyat (?)

Makassar 18 Februari 2014
-HS’Masagenae

Tan Malaka Pahlawan Tanpa Pamrih

Sumber http://salihara.org
Deretan nama pahlawan nasioanal telah memarginalkan sosok Tan Malaka dalam lembaran sejarah RI, ia hanya menjadi kenangan gelap beserta buah bibir para aktivis kampus, terutama bagi aktivis aliran kiri. Dan tak jarang pula kita dapatkan cacian yang ditujukan kepadanya oleh beberapa akademisi karna deskripsi sejarah telah menokohkan ia sebagai tokoh komunis.

Beberapa hari yang lalu aku  sempat melihat berita di media saat salah satu lembaga yang berlabelkan islam membubarkan forum diskusi dan bedah buku tentang pimikiran Tan Malaka. Sungguh malang nasip sang inspirator RI,  ia menjadi pelukis yang terlupakan sementara disisi lain karya lukisan beliau dipuja-puja bagaikan dewa penyelamat.

Rintihan dalam hati kecilku pun bertanya-tanya, kenapa mereka tidak sekalian memboikot situs di dunia maya yang menyajikan pemikiran komunis? Karana mereka membubarkan diskusi tentang pemikaran Tan Malaka dengan tuduhan bahwa ia adalah seorang komunis dan melarang penyebaran buah pemikirannya. Mungkin mereka tidak pernah membaca karya-karya revolusioner Tan Malaka yang begitu fantastik, sehingga wajar mereka begitu gamblang menuduhnya komunis.

Di kampus-kampus aku sering mendengarkan mahasiswa membangga-banggakan pahlawan nasional idola mereka dan tak banyak dari mereka yang mengidolakan Tan Malaka. Jika dibandingkan dengan Soekarno, Hatta, Soedirman, atau pahlawan nasional lain, nama Tan Malaka bukanlah apa-apa ia tidak terlalu dikenal oleh publik. Bahkan di era orde baru , tiap orang termasuk mahasiswa yang mengagumi perjuangannya terpaksa harus berhadapan dengan aparat karna bagi penguasa orde baru, Tan Malaka adalah momok jadi  setiap orang yang mengaguminya harus dicurigai.

Tan Malaka memang lebih dikenal dengan pimikiran-pimikirannya. Ia lebih banyak berjuang melalui ide-ide, mungkin inilah salah satu alasan kenapa bangsa ini tidak terlalu menganggap penting perjuangannya. Selama ini, orang-orang yang mendominasi daftar nama pahlawan nasional adalah mereka yang berjuang melalui perang, sedangkan Tan Malaka yang memilih berjuang dengan caranya sendiri yaitu bukan dengan angkat senjata tidak di kategorikan sebagai pahlawan nasional.

Tak heran jika banyak orang yang berlomba membangun prasasti untuk mengenang hasil perjuangan mereka melalui kebendaan. Maka, wajar ketika Marx mengukur sejarah manusia melalui materi. Dimana logika pikir kebanyakan orang terbentur pada materialisme. Logika pikir yang memberikan penghargaan perjuangan secara fisik. Olehnya itu Seorang atlet bisa mendapat penghargaan lebih dibanding seorang peneliti karna IDE telah dikalahkan oleh FISIK.

Aku pun kembali bertanya-tanya dalam rintihan hati kecilku, kenapa perjuangan seseorang pahlawan diukur dari perjuangan fisik? diukur dari berapa banyak serdadu yang mereka bunuh? Apakah mereka tidak paham bahwa revolusi pasti berawal dari gagasan? Dan apakah mereka tidak tau bahwa setiap perubahan kecil selalu diawali dari ide? Hingga mereka berusaha menghapus Tan Malaka dalam lipatan sejarah karna perjuangan ide-idenya dipecundangi oleh perjuangan fisik pahlawan nasional.

***
Meski mereka tidak menganggap Tan Malaka sebagai pahlawan nasional, hal itu tidak akan meruntuhkan kekagumanku kepada beliau, karna bagiku ia adalah sosok yang misterius dalam kancah pahlawan nasional dan sosok yang  keberadaannya selalu saja kontroversial, seperti ketika ia mendukung Soekarno untuk menjadi presiden pertama RI dan melawan ketika Soekarno mulai menerapkan demokrasi terpimpinnya.

Yang membuat aku kagum dari sosok Tan Malaka, karna ia adalah pejuang tanpa pamrih. Sejarah mencatat bahwa Tan Malaka tak pernah menduduki jabatan-jabatan birokrat seperti Soekarno ataupun Hatta. Perjuangan politik Tan Malaka lebih diwarnai pembangkangan terhadap penguasa dan bahkan kehidupannya harus ia habiskan dari penjara ke penjara.

Ketika zaman imperialisme Belanda, ia harus mendekam di penjara begitu pula ketika Jepang berkuasa ia juga harus dipenjara, bahkan ketika Indonesia telah merdeka pun Tan Malaka harus dipenjara karna ia selalu menjadi pembangkang para penguasa.

Itulah sebabnya kenapa terlalu sedikit orang yang mengerti tentang Tan Malaka. Subjektivitas plus politisasi sejarah orde baru membuahkan gambaran gelap tentang peran ia untuk memperjuangkan republik ini. Dan pada akhirnya, Diponegoro, Imam Bonjol, Soekarno, Hatta, Soedirman, dan sederet nama pahlawan nasional lain menjadi lebih glamor dibanding Tan Malaka. Di antara nama-nama tersebut, Tan Malaka bukanlah apa-apa.

Walaupun Tan Malaka kalah tren dengan pahlawan nasional, dituduh komunis oleh beberapa orang terutama organ islam yang membubarkan acara diskusi dan bedah buku pemikirannya, sampai-sampai era orde baru mencoreng nama baiknya dan mengubur sejarah perjuangan yang ia lakukan untuk RI, dalam hati kecilku akan tetap selalu, selalu, dan selalu kagum kepada engkau TAN MALAKA.!

Makassar 17 Februari 2014
-HS’Masagenae

EMILE DURKHEIM : “Tinjauan Kritis Bunuh Diri”

Sumber, australianculturalsociology.wordpress.co
BEBERAPA, tahun silang saat aku masih sering mengikuti forum-forum ke-ilmuan di kampus, aku sering diajak diskusi oleh teman-teman mahasiswa yang mengklaim komunitas mereka sebagai gerakan kiri. Alasan atas pengklaiman tersebut, karna mereka selalu mengkunsumsi wacana pemikir liberal barat seperti Aguste Comte, Herbert Spencer, Marx Webber, Emile Durkheim, Kalr Max dan beberapa tokoh sosial yang lain.

Hal itulah yang mempengaruhi kenapa pejuangan yang mereka lakukan sangat konfrontatif dan hampir semua demonstrasi yang mereka lakukan selalu berujung bentrok dengan aparatus pemerintah (perjuangan ala gerakan kiri).

Hhm, aku bingung sendiri ketika meraka menyebutku sebagai mahasiswa gerakan kanan, mungkin karna aku orangnya tidak terlalu suka belajar teori sosial jadi mereka menyebutku seperti itu. Yah aku memang fobia dengan wacana sosial, olehnya senyumku kepada mereka sebagai ekspresi men-iyakan panggilan itu kepadaku.

Hari ini aku baru saja membaca beberapa buku tentang teori sosial yang membuatku teringat kepada teman-teman mahasiswa gerakan kiri, pernah suatu waktu aku menjadi pendengar setia ketika seorang temanku bercerita panjang tentang otobigrafi dan pemikiran Emile Durkheim dan aku mencoba mengkomparasikanya dengan hasil bacaanku dan mengabadikannya dalam sebuah coretan sebagai proses perjalanan intelektulku. Aku memanggil temanku dengan panggilan Mr.Aco (nama samaran) ia adalah mahasiswa aktivis gerakan kiri.

****

Emile Durkheim, tokoh sosiolog keturunan pendeta yahudi, ia lahir di Etipal Prancis 15 April 1858, sebagai keturunan pendeta ia dituntut untuk belajar menjadi seorang pendeta. Di saat berumur 10 tahun ia diminta menjadi pendeta tetapi ia menolak karna perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademis ketimbang teologis.

Lahirnya pemikiran Durkheim sebagai aspirasi untuk menkritik demonasi positivistic Aguste Comte yang terlalu filoshopis, Comte sebagai peletak batu pertama disiplin ilmu sosiologi ia berhasil membawa pengaruh besar terhadap kontigen intelektual barat, terutama para teoritis sosiologi selanjutnya seperti Hebert Spencer dan Emile Durkheim.

Salah satu karya besar Durkhem ialah “Suicide”1897/1951, (George Ritzer, teori sosilogi modern) buku itu merupakan hasil penelitian empirisnya tentang studi bunuh diri. Ia melakukan penelitian dibeberapa Negara eropa dan megkomparasikan data-data yang ia didapatkan. 

Menurut Durkhem seseorang nekat melakukan bunuh diri bukan karna gejalah-gejalah psikologi, melainkan karna adanya integritas kenyataan-kenyataan sosial kepada kediriannya Durkhem manganggap gejalah bunuh diri sebagai fenomena sosial. 

Meskipun Durkheim tidak sampai menjajal mengapa individu A dan B melakukan bunuh diri, melainkan ia melakukan komparasi, apa faktor external yang mempengaruhi seseorang bunuh diri karna ia menganggap bahwa seseorang yang nekat bunuh diri karna ada sesuatu tekanan sosia dari luar kediriannya (external) yang ia sebut sebagai fakta sosial atau barang sesuatu (thing).

Durkhem menempatkan faktor sosial sebagai alasan yang mendesak seseorang melakukan bunuh diri, ia pun menyimpulkan empat pemicu bunuh diri

1. Egoistik
2. Fatalistik
3. Altruistik, dan
4. Anomik

****

Hikzt, Aku akan mencoba mengingat peristiwa bunuh diri yang pernah diceritakan oleh temanku Mr.Aco berdasarkan apa yang telah disimpulkan oleh Durkhem.
  • Ada seorang mahasiswa yang sangat pendiam, ia memiliki kebiasaan menyendiri dan merenung, kediriannya sangat tertutup dengan mahasiswa lain sehingga ia tidak pernah sama sekali menceritakan setiap masalah yang ia dapatkan. Akibatnya adalah interaksi sosial dengan teman-temannya terputus dan ia pun merasa terkucilkan karna Ia menganggap dirinya terpisah dengan mahasiswa yang lain hal itulah kemudian mendorong Ia untuk mengakhiri hidupnya. Mr.Aco menyebut itu sebagai bunuh diri egoistik (Durkhem).
  • Seorang siswa yang baru saja lulus SMA/SMK dengan mendapat prestasi lulusan terbaik, ketika ia mendaftar di Universitas Negri ternyata predikatnya sebagai lulusan terbaik tidak selaras dengan hasil yang ia dapatkan saat mendaftar di Universitas Negri karna ia tidak lulus, beberapa kali ia mencoba untuk mendaftar kembali akan tetapi hasilnya tetap saja sama yaitu tidak lulus. Karna ekspektasinya sangat besar untuk kuliah di Universitas Negri, hasil buruk itulah yang mengakibatkan ia stres dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Mr.Aco menyebut itu sebagai bunuh diri Fatalistik (Durkhem)
  •  Mr.Aco mengkatagorikan bunuh diri Altruistik (Durkhem) sebagai sifat yang mulia karna mereka mengorbankan dirinya untuk kepentingan masyarakat. Misalnya aktivis kampus yang memiliki kepekaan kuat terhadap ketimpangan sosial sehingga ia rela mati-matian memperjuangkan hak-hak rakyat walaupun ia harus mengorbankan dirinya dengan melakukan aksi bunuh diri seperti membakar diri dan bom bunuh diri di tempat umum.
  • Depresi ekonomi merupakan salah satu penyebab seseorang nekat mengakhiri hidupnya. Mr.Aco menyebutnya sebagai bunuh diri Anomik (Durkhem). Misalnya seorang mahasiswa hedonis yang hidupnya tidak pernah susah dimana kebutuhan ekonominya selalu lebih dari cukup. Ketika orang tuanya terkena musibah dan kehilangan semua harta bendanya, hal itu kemudian berimbas kepada anakya karna kehidupan mewah yang selama ini ia nikmati dari kekayaan orang tuanya tidak bisa lagi ia rasakan, perlahan tapi pasti, musibah itu membuat ia mengalami depresi ekonomi dan memilih untuk bunuh diri.
 
-
"ILUSTRASI" theunutterablebeautyofphrases.wordpress.com
Sekarang aku baru menyesal karna melihat proses pembelajaranku yang sangat lambat, ketertarikanku untuk mempelajari teori sosial baru mekar setelah aku menyelesaikan studi di Kampus Hitam ! dan mulai sekarang aku akan giat membaca buku-buku sosial walaupun kali ini aku agak susah untuk mencari teman diskusi karna semenjak selesai di Kampus Hitam aku putus komunikasi dengan teman-teman gerakan kiri.

Makassar 4/Februari/2014
-HS’Masagenae.

FREEDOM : Gaya Penulis Amatir

1/Februari/2014

-HS'Masagenae
 HARI ini, aku berhasil merobohkan tembok yang mengurung inisiatif, kreativitas, dan pemikiran kritisku dikala aku sedang membuat sebuah coretan, tembok yang selama ini menjadikanku sebagai penulis plagiat dan aku pun terkadang menulis hanya untuk memenuhi hasrat para pembaca agar disebut sebagai seorang yang hebat dengan mendapat pujian, hingga aku harus mengikuti gaya menulis orang lain padahal hal itu sangat berbeda dengan kedirianku.

Dengan robohnya tembok itu, aku memulai lagi membuat coretan dengan gayaku sendiri, menorehkan perjalanan dan pengalaman hidup di blogg kesayanganku agar kelak aku bisa menertawainya ketika aku membaca ulang coretan itu. Aku juga akan menorehkan coretan pahit dan manisnya cerita hidupku beserta dengan orang-orang yang selalu mensupportku, mengulurkan tangan di saat aku terjatuh, menopang bahuku setiap kali aku ingin melangkahkan kaki untuk belajar dan terus belajar menulis.

Baru kali ini aku sepakat dengan pemikiran kaum muthazillah, mereka adalah kaum yang berpendapat bahwa manusia itu memiliki kehendak bebas untuk memilih. Ketika Tuhan telah menciptakan manusia maka tidak ada lagi garis hirarki antara manusia dengan Tuhan. Kuasa Tuhan hanya sampai kepada pencipaan dan setelah itu manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan takdirnya sendiri. Segala sesuatu yang dilakukan manusia adalah kehendak bebas mereka. Kaum Muthazillah telah memberikan corak dalam dinamika peradaban islam di abad ke dua Hijria mereka muncul sebagai kelompok yang melakukan perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan oleh pemerintah pada saat itu yang didominasi oleh kaum Asyaria.

Aku baru saja tersadar, betapa bodohnya aku selama ini yang terlalu determinis dengan membiarakan karakter menulisku di bentuk oleh kebutuhan para pembaca yaitu mereka para pengguna sosial media yang senantiasa mencari informasi di situs-situs berita On-Line karna ingin mengupdate perkembangan  dinamika politik Indonesia, peristiwa-peristiwa penting yang terjadi diberbagai tempat, aktivitas selebriti idola mereka, dan tindakan-tindakan kriminal yang merajalela di berbagai daerah.

Kesadaran itu kemudian membuat aku bertanya-tanya, Baut apa aku menulis tentang semua itu? terutama tentang aktivitas selebriti yang selalu populer di dunia maya dan menjadi berita headline di media On-Line dengan membeberkan privasi mereka kepada publik melalui para wartawan mulai dari nikah-cerai, putus-nyambung, sampai pakaian dan makanan kesukaan mereka. Toh aku juga tidak bakalan di gaji kalau menulis tentang mereka karna aku bukan seorang wartawan media On-Line.

Dan aku juga tidak ingin larut dalam meanstrem, yang mengkategorisasikan tulisan keren dengan mencontoh gaya menulis para akademisi dan penulis-penulis terkemuka. karna aku menulis bukan untuk mencari uang seperti mereka, lagian aku juga tidak memiliki embel-embel dibelakang yang namaku yang menuntut untuk membuat tulisan, karna gelar akademisi yang mereka miliki sebagai seorang penulis yang membuat mereka harus selalu menulis untuk memenuhi permintaan pasar yaitu hasrat para pembaca berita.

FREEDOM adalah bekal dan modal utamaku sebagai penulis amatir, dengan kebebasan itu aku akan  menulis untuk memperjuangkan hak-hak saudaraku yang dirampas oleh rezim penindas, mengkritik segala bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah, berbagi pengetahuan kepada orang lain dan mengabadikan potret perjalanan hidupku dengan membuat coretan di dinding Bloggku. Kalau pun ada orang yang mencemooh coretanku, pastinya aku akan selalu berbesar hati menerimanya, toh yang kotor itu dinding Bloggku sendiri jadi buat apa aku risih dengan cemooh itu.

Aku adalah penulis amatir yang bebas !!!

Oleh karna itu aku akan senantiasa membuat coretan dengan gayaku sendiri, menorehkan gagasan-gagasanku agar kelak itu bisa bermanfaat, sembari mengasa kemampuan sebagai penulis amatir.

-HS'Masagenae

HADIAH

HARI ini aku mendapatkan hadiah sebuah majalah dari seorang teman, ia adalah sosok yang menginspirasiku untuk terus menulis. sejak aku mengenalnya aku sudah membuat puluhan coretan tentang ia. beberapa moment pertemuanku dengannya aku selalu menyampatkan diri untuk menurehakan kisah itu dalam sebuah coretan kumuh.

Akan kukotori dinding Blog kesayanganku untuk menuliskan momen perjalanku bersama dengan dia, karna aku menganggap ia adalah bagian dari hidupku yang akan menemani manis/pahit perjalan hidupku.

Satu hal yang sangat lucu di dia ketika lagi marah-marah sambil tertunduk tersipu malu. alasan itu kemudian kenapa aku sering membuatnya marah-marah. :D

KOMPEN KAMPUS HITAM MASIH MENJADI MISTERI

ILUSTRASI Sumber : http://www.azri.my
 22/Januari/2014

Seperti biasanya setiap akhir semester mahasiswa kampus hitam selalu disibukkan dengan kartu bengkalai dan kartu kompen, mereka sibuk mencari dosen untuk menandatangani kartu bengkalainya, yang merupakan syarat untuk mengabil kwitansi pembayaran dan kartu kompen yang harus mereka bayar dengan uang atau membersihkan ruangan lab dan bengkel.

TUJUH tahun yang lalu saat pertama kali aku memegang kartu bengkalai dan kartu kompen kulihat nama-nama dosen yang tertulis bagaikan deretan nama artis idolaku yang harus aku dapatkan tandangan mereka sebagai fans sejati.

Seorang idola tren dengan gaya cueknya minta ampun harus aku lebarkan senyum agar ia memberikan tanda tangan. Senyum itu juga harus kutampakkan kepada dosen yang ingin kumintai tanda tangan dengan mimik muka cuek melibihi artis idolaku. Aku heran  kenapa tiap akhir semester beberapa dosen ternama selalu menjadi artis momemtuman yang dikejar-kejar oleh mahasiswa sebagai fansnya.

Hari ini aku duduk di kantin melihat mahasiswa kampus hitam mondar-mandir mencari artis idola mereka hanya untuk mendapatkan tanda tangannya.

Tiap akhir semester beberapa mahasiswa kampus hitam juga harus menyisihkan uang jajan mereka untuk membayar kompenisasi karna selama perkuliahan mereka absen di dalam kelas, bagi yang uang jajannya pas-pasan terpaksa harus membersihkan ruangan belajar sebagai kompenisasi.

Kompen adalah aturan untuk mahasiswa yang absen dalam perkuliahan, biasanya tiap-tiap jurusan memberlakukan kompeniasi yang berbeda. Tapi umumnya mahasiswa harus membayar 1.000/jam dan ada beberapa jurusan yang memberlakukan aturan tambahan 1.000/jam di kali 2 jadi 2.000/jam.

Terkadang juga beberapa kelas diarahkan oleh wali kelasnya mengumpulkan uang kompen mereka untuk membeli fasilitas kampus seperti pot bunga, kursi dan meja belajar. Sungguh ironis kampus yang berstatus negri yang mendapatkan anggaran pendidikan, memakai uang mahasiswa untuk membeli fasilitas kampus.

Sewaktu masih menjadi pengurus salah satu lembaga internal  kampus hitam aku pernah mencari aturan tentang kompen di buku-buku statuta kampus tapi aku tidak pernah mendapatkan aturan itu. Beberapa dosen pun yang sempat kutanya memberikan jawaban ambigu hingga kompen menjadi misteri bagiku sampai aku menyelesaikan pendidikan di kampus hitam.

Dikantin saat aku diskusi dengan beberapa mahasiswa yang baru saja membayar kompennya, aku bertanya kepada mereka apakah pernah membaca statuta kampus tentang aturan kompen?  mereka semua menjawab tidak.

Sampai saat ini kompen masih menjadi misteri bagiku, dan mungkin sampai generasi terakhir kampus hitam hal itu akan tetap mejadi mesteri.

-HS’Masagenae

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger