Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Banjir Batu Akik di Mall Pinrang

Kemarin aku bertemu dengan seorang senior di Pinrang,  katanya ia ingin pergi ke mall Pinrang untuk melihat temannya yang tereliminasi dalam perlombaan batu akik, alasannya karna batu yang ia ikutkan lomba tidak memenuhi salah satu syarat, yaitu membawa bongkahan batu yang dilombakan. Ribet juga yah, karna jika batu yang kita punya meskipun berkelas dan sudah di olah akan tetapi jika tidak punya bongkahannya akan sia-sia dalam event lomba batu Akik di Pinrang seperti yang dialami oleh teman seniorku, yang katanya batu yang ia punya memiliki nilai jual yang tinggi. Sayang sekali aku tidak sempat menanyakan jenis batunya.

Malam tadi aku menyempatkan diri ke mall Pinrang. Ternyata di sana bukan cuman lomba tapi acara itu juga dirangkaikan dengan pameran batu. Terlihat halaman depan dan samping mall dipenuhi dengan etalase yang berjejeran dan didalamnya terdapat banyak batu akik, sampai-sampai beberapa peserta malah membawa mesin pengolah batunya. Mereka mungkin tak sadar kalau suara mesin itu sangat menggangu pengunjung seperti saya. Hhhe.

Semenjak mall Pinrang diresmikan ini kali pertama aku kesini, itupun hanya untuk melihat pameran batu. Aku sangat tertarik melihat batu yang membanjiri pekarangan mall, suasananya sangat berbeda jika dibandingkan dengan mall yang ada di Makassar yang isinya dipenuhi dengan barang impor yang menjajah produk-produk lokal. 

Entah kenapa kecenderunag masyarakat kita lebih menyukai barang luar negri! mungkin saja itu efek dari hegemoni iklan yang menjajal seluruh media sosial yang hampir setiap hari kita dipaksa untuk melihatnya walaupun pada dasarnya kita tidak membutuhkan itu tapi karna sering dilihat jadi itu terinternilisasi dalam kedirian kita menjadi sebuah kebutuan. Entahlah,  bisa juga karna ada sebab yang lain.

Aku merasa ada kebanggaan tersendiri saat berada dikerumunan pengungjung, hampir semua dari mereka terlihat senang dengan adanya kegiatan ini. Wajah riang disertai senyum tipis terpukau melihat keindahan deretan batu dibalik kaca etalase. Yah karna batu yang dipajang hampir semua berasal dari bumi Lasinrang (peristilahan nama lain kabupaten Pinrang) mungkin itu yang membuat wajah mereka memancarkan kekaguman yang tak ternilai. 

Spanduk yang dipasang di depan tiap stand memperjelas asal batunya. Seperti foto di bawah ini. Batu yang berasal dari Kecamatan Batu Lappa Pinrang. 

Stand batu Lappa
Batu Akik

Aku baru sadar ternyata Pinrang kaya akan batu Akik, ruang kosong pakarangan Mall Pinrang yang kemarin-kemarin hanya menjadi tempat parkir sekarang di penuhi oleh lapak batu Akik. Kini bukan lagi banjir air yang terjadi di Pinrang karna musim hujan sudah lewat, gilirang batu Akik yang membajirinya, tidak tangggung-tanggung tempat yang dibanjiri pun merupakan salah satu tempat mewah di kabupaten tersebut yaitu Mall Pinrang. 


Pinrang, 22/Februari/2015

Kebetulankah !? Bertemu Gede Pasek


Sore hari (11/02/2015) di Country Coffe Resto (CCR) Toddopuli Makassar terlihat banyak wartawan mengerumuni seseorang, tampaknya mereka lagi mewancari orang itu. Sementara aku di luar Café menyaksikannya sedang menunggu salah seorang seniorku namanya “Ka Idam. Aku tak tau pasti apa yang mereka perbincangkan, karna lantunan suara hujan yang menyelimuti pendengaranku. Meskipun aku penasaran tapi aku tidak punya keberanian untuk masuk. Tak lama kemudian HP-ku berdering itu panggilan yang aku tunggu-tunggu. Ternyata Ka Idam juga berada di dalam café bersama dengan kerumunan wartawan, ia menyuruhku masuk, “Panggil Ka Idam lewat telpon.

Dengan langkah yang tertatih-tatih ku beranikan diri untuk bergabung. Dalam hatiku berbisik “aku ingin sekali kabur dari tempat ini, saat melihat penampilan rapi ala pejabat orang di sekitaranku, sementara hanya aku dengan kaos oblong dan beralaskan sandal jepit. Tapi aku sudah janji untuk ketemu dengan Ka Idam di sini itulah yang mendorongku untuk tetap tinggal dan berusaha menikmati perbincangan.

Aku sempat mendengar, bahwa orang yang lagi diwawancarai itu adalah Gede Pasek. Hah!? Heranku. “Gede Pasek baru saja datang dari maros, ia kesana untuk membawakan materi dalam pelatihan kader tingkat dua  HmI Cabang Maros “Ujar orang di sampingku. Diselang kesibukannya sebagai sekertaris jendral Perhimpunan Pergerakan Indonesia Gede Pasek juga aktif untuk mengisi forum-forum diskusi di berbagia kampus di tanah air, ia salah satu tokoh pergerakan yang masih konsisten berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan Mahasiswa, sebagai orang yang pernah bergelut dalam  pergerakan Mahasiwa yang kini bisa dibilang sukses meniti karier dipanggung politik.

Aku sering melihat ia tampil dalam berita-berita di media, namun tak pernah kudapati ia diberitakan saat mengisi ruang diskusi di kampus, aku sempat membaca salah satu berita on-line bahwa kedatangan Gede Pasek di Makassar dihubung-hubungkan dengan kongres salah satu partai politik, entahlah aku juga tidak tau pasti akan hal itu. Yang pastinya aku bukan wartawan yang ingin membuat berita tentang dia. Aku hanya sekedar membuat coretan tentang pertemuan singkatku dengangnya, dan sebagai pelampaisan bagiku karena aku hanya banyak diam mendengarkan cerita beserta gagasan-gagasannya saat aku mengantar dan menemaninya di bandara hingga pukul 4 subuh, maklum aku minder untuk berbicara jadi ku lampiaskan itu dalam tulisan ini.

Meskipun singkat aku bisa mengambil banyak pembelajaran darinya, sepintas ku lihat kepribadiaannya sangat ramah dan humanis. Masih hangat dalam ingatanku ketika ia menceritakan salah seorang temannya, aku tidak tau pasti namanya. Tapi temannya itu pernah ke Cina untuk mebuat ukiran rumah ala bali, awalnya ia berpikiran akan dikontrak untuk membuat satu kompleks perumahan tapi setelah ia membuat baruga dan satu rumah ukiran bali di Cina ia tidak lagi dipanggil mengerjakan rumah berikutnya karna rumah dibuatnya hanya dijadikan percontohan dan selanjutnya orang Cina itu yang membuat rumah yang lainnya. “aku sampai tertawa mendegar cerita itu karna dijadikan sebagai lolucon. Yah begitulah orang Cina meskipun tidak orisinil tapi mereka bisa membuat karya yang mirip dengan aslinya. Kita bisa melihat begitu banyak barang elektronik duplikat buatan Cina yang beredar di pasaran.

Gede Pasek juga sempat menyinggung tentang kebudayaan bangsa ini, “panggung yang begitu sedikit orang yang berkarir dan memperjuangkannya, “ujar Gede. Ungkapan prihatinnya menyaksikan kondisi kekayaan kebudayaan kita yang terpinggirkan oleh cekokan budaya impor. Walaupun agak minder aku sempat menjelaskan makna petuah bijak bugis yang tertulis di baju yang ia pakai. “Rebba Sipatokkong, Mali’ Siparappe, Sirui’ Menre, Tessirui No, Malilu Sipakainge, Mainge’pi Mupaja” sambil berbisik dalam hati "aku merasa senang bisa bertemu dengannya. Yah semoga kedepan aku mempunyai kesempatan lagi menjadi pendengar setia cerita dan gagasan beliau.


Foto Bersama Gede Pasek

Foto Bersama Gede Pasek

“Arung Nepo, Pemimpin Impian”

Haeruddin dan Arung Nepo

Dulu aku pernah menjadi budaknya masyarakat di sini, sewaktu aku masih menjabat sebagai anggota dewan kabupaten Barru. Setiap tanggal penerimaan gaji, warga Nepo dari berbagai profesi selalu berkumpul di depan kantor menugguku! guna meminta gaji yang aku terima, jadi terkadang aku tidak membawa pulang uang satu lembar pun pulang ke rumah, “tutur Arung Nepo. 

Hah!?  Aku sampai tidak percaya mendengarkannya. Sungguh mulianya Arung Nepo sebagai pemimpin adat yang dulunya sempat menjabat sebagai anggota DPRD, ia rela memberikan gajinya selama ia menjadi anggota DPRD. Entah masih adakah di negri ini pemimpin seperti beliau!?

Fung Datu sapaan masyarakat kepada Arung Nepo, beliau orangnya sangat sederhana sehingga amat dicintai oleh warga Nepo. Rumah panggung tempat ia tingggal pun begitu sederhana, rumah yang sudah berumur puluhan tahun dihiasi perabot rumah yang tidak mewah seperti lemari, kursi tamu, hiasan dinding dan lainnya. Rumah itu diwariskan dari generasi ke genarasi, masyarakat Nepo menyebutnya Soraja (tempat pemukiman raja) “bisik temanku Eka.

Tidak susah untuk menemukan Soraja Nepo, karna letaknya tapat berada di samping sudut lapangan kecamatan Mallusetasi kabupaten Barru dan yang luar biasa adalah hingga sekarang rumah itu belum pernah direnopasi sehingga nilai sejarah dan kebudayaannya masih terjaga.

*****

Ini kali pertama aku bertemu dengan pemimpin seperti itu, tak henti degub jantungku karena kekaguman kepada kepribadiannya yang begitu sederhana, sangat berbeda dengan kehidupan para pemimpin politik Negara ini yang aku lihat di media sosial, mereka hidup penuh kemewahan menggunakan fasilitas Negara seperti rumah, mobil yang serba mewah, beserta tunjangan hidup yang lainnya.

Aku pernah berpikir bahwa pemimpin seperti beliau hanya ada dalam mimpiku dan kini aku menyaksikan sendiri di depan mataku, betapa bahagiannya diriku ini bisa bertemu dengan pemimpin impianku. Hhm, Seperti apa pemimpin yang kalian impikan?

Ada cerita menarik yang sempat ia sampaikan. “Di desa Nepo sekitar 7 km dari soraja  terdapat situs budaya Bujung Mattimboe, Bujung Pulawengnge, Bujung Mekkatowangnge. Masing-masing situs tersebut mempunyai cerita tutur yang dikeramatkan, seperti Bujung Pulawengnge, dulu jika ada seorang remaja laki-laki/perempuan yang belum menikah-menikah karna belum dapat jodoh maka  ia akan pergi mandi di sana agak kelak bisa menemukan jodohnya, “ujar Fung Datu dengan senyum sederhananya yang khas. “Refleks, aku tertawa kecil mendengarkan Fung Datu menyampaikan cerita itu.

Kusempatkan diri untuk datang lansung ke salah satu situs tersebut yaitu Bujung Mattimboe bersama kawanku Eka dan Rafiq, kami diantar oleh cucu Fung Datu kesana. Bujung Mattimboe merupakan genangan air terjun dengan dinding batu yang amat besar sehinnga terlihat seperti gua. Walaupun ukurannya kecil tapi gua itu bisa memuat sekitar sepuluh orang.

Tak mau rugi, aku beserta eka dan cucu Fung Datu mandi di Bujung Mattimboe, sementara kawanku rafiq sibuk mendokumentasikan kami dan situs budaya tersebut. Pengennya sih mau ke Bujung Pulawengnge tapi akses jalan sangat susah dan letaknya juga sangat jauh karna aku ingin sekali menguji kebenaran dari keramat cerita tutur Bujung Pulawengnge. Hhhe.

Nepo memeliki begitu banyak kekayaan situs sejarah dan budaya tapi aku tidak sempat untuk mengunjungi semuanya, mungkin kedepan aku harus meluangkan lebih banyak waktu untuk mengetahui lebih jauh misteri-misteri yang tersembunyi di Nepo. Dan dari pengalaman di Nepo aku sangat bermimpi, agar kelak  bisa melihat pemimpin seperti beliau “Arung Nepo” bisa mengisi kursi-kursi pemerintahan RI.

Haeruddin Syams Masagenae

“Drama Raja Sawitto dan Raja Lembang Oleh Wija To Penrang KMP-PNUP“




Kain berwarna biru yang terikat dikepalanya beserta sarung yang dipinggangnya menjadikan ia terlihat perkasa, “Iyya’na okkoe bakkalolona Sawitto degage tau mulle jamaka” teriak “Kurniawan (pemeran raja Sawitto) sambil menunjuk ke arah depan dengan melangkahkan kakinya, “teriakan itu seolah menggemakan heningnya malam di desa ta’deang kabupaten Maros. “desiran angin yang dingin seolah tak terhiraukan oleh warga KMP yang asyik menonton, “Nampak tawa tipis mereka menyaksikan sang raja yang sangat percaya diri.
 
Tak lama berselang “Patando (pemeran raja Lembang) unjuk gigi “wha..haa.haa.. “ketawa kejam, menantang, sembari menujuk wajah raja Sawitto Apa mu’pau ngena !? joo’o ku’kilajako “Seru, “raja Lembang, menantang raja Sawitto untuk berduet. Kemudian  terjadi adu mulut di antara mereka yang berujung kepada pertarungan, “keduanya pun mencabut kris-nya untuk mengadu kehebatan satu sama lain.  Akhir dari drama “raja Sawitto memenangkan pertarungan dan mengajak raja Lembang untuk berdamai untuk bersama-sama membangun Pinrang kedepan.

Deskripsi singkat drama raja Sawitto dan raja Lembang setelah aku selesai menonton video-nya, “karya peserta kaderisasi “Pengenalan Organisasi Daerah Kerukunan Mahasiswa Pinrang Politeknik Negeri Ujung Pandang (PLOD 14 KMP-PNUP), silahkan nonton videonya yang ada di atas.

***

Rasa sesal masih terbayang dalam diri-ku karna tidak bisa melihat lansung drama itu, aku hanya menonton lewat video yang baru saja aku copy dari “Yudhi salah satu joniorku di KMP. Meskipun demikian aku merasa sangat bangga kepada mereka karna senantiasa menanamkan nilai-nilai kedaerahan sebagai "Wija To Penrang" dalam kegiatan kaderisasi. “saat aku selesai melihat video’nya, aku mendapat pembelajaran yang sangat bermanfaat “bahwa kita sebagai warga Pinrang harus meretas gesekan etnit yang sering terjadi, karna terkadang kita masyarakat Pinrang begitu tersekat oleh perbedaan itu sangat jelas terlihat jika di antara kita berbicara menggunakan bahasa masing-masing. 

Dari sini kemudian aku baru menyadari bahwa organisasi daerah merupakan wadah yang sangat ideal untuk menanamkan benih-benih kebudayaan lokal kepada generasi muda agar tidak tertelan oleh laju modernisasi yang berusaha menggeser kekayaan kearifan lokal yang kita miliki. Yaa, organda (organisasi daerah) adalah salah satu tameng untuk membentengi hegemoni budaya barat, korea, india, jepang, dan lainnya yang mereka kempanyekan lewat film-film yang tersebar sampai pelosok bumi melalui media elektronik. Sungguh ironis jika kita pemuda/i bangsa ini begitu membanggakan budaya luar sementara disisi lain budaya kita sendiri hampir terhapus oleh zaman.

Semoga pembelajaran “budaya” yang diajarkan kepada re-generasi KMP-PNUP bisa menjadi amunisi bagi mereka, agak kelak mereka menjadi volunteer untuk membangun kampung halaman tercinta seperti ikrar raja Sawitto dan raja Lembang pada akhir drama, mudah-mudahan ikrak itu bukan hanya lagiah belaka. 



Catatan : 
  • “Iyya’na okkoe bakkalolona Sawitto degage tau mulle jamaka” ( saya disini pemudanya Sawitto, tidak ada satupun orang yang bias mengalahkan saya) 
  • “Apa mu’pau ngena !? joo’o ku’kilajako (apa tadi yang kau katakana !? saya tidak takut)
  • Wija To Penrang (Keturunan orang pinrang)
  • Sawitto dan Lembang (Nama kerajaan di Pinrang)
Makassar, 8/Desember/2014

“Wahh! Ada Batu “Meringkik” di Kota Pare-pare

Dari kiri, Saha, Cinta, 2 warga setempat, We Aje, HSM, Fahrul

AWALNYA, aku beranggapan mustahil  ada sebuah batu yang bisa meringkik (mengeluarkan suara seperti kuda), Hah!? “mana bisa batu mengeluarkan suara seperti itu apa lagi suara yang dikeluarkan meringkik, paling hanya mitos belaka, “candaku, kepada seorang kawan yang lagi duduk di sampingku, Saha. “Ia melanjutkan ceritanya tentang batu tersebut dan berusaha meyakinkan-ku dengan wajah yang amat serius.

Entah kenapa sajian cerita panjang Saha, membuatku penasaran, “Ayo deh kita sana untuk melihat batu itu! ajakku….. Saha, “menganggukkan kepala,  meng-iya-kan ajakanku. Kami pun berangkat ke lokasi setelah menunggu, hingga sore hari. “aku juga ditemani oleh Ka Cinta, karna Ia sudah janji kepadaku untuk menelusuri kebenaran misteri batu meringkik itu saat aku menelponya sebelum aku datang ke Pare-pare.

*****

Tepat di depan papan nama yang hampir rebah, bertuliskan “Objek Wisata Bacukiki”, kami berhenti, “terlihat dibelakangnya sebuah batu besar berwarna hitam penuh semak disekelilingnya, nampaknya situs sejarah itu tidak terawat dengan baik. Ka Cinta menyalakan motor sambil berkata, “tunggu sebentar aku pergi mencari seseorang yang bisa kita jadikan informan tentang batu itu. “Aku dan Saha senyum, iyya “jawabku. Kami pun pergi mengambil gambar batu itu, “sambil menunggu…

Saat sedang menunggu, “kring..kring, HP-ku berbunyi, “halo kenapaki sappo (kawan), “tanya-ku ditelpon? “aku menuju kesana, “jawab kawanku, Fahrul. “Tak lama Ka Cinta pun datang hampir bersamaan dengan kedatangan Fahrul setelah setengah jam yang lalu aku bicara dengannya di HP. “kemudian kami pergi menjemput seseorang, “namanya We Ajare Mallo, “seru, ka Cinta.”aku tadi diarahkan kesana oleh Sudirman, “warga setempat yang sudah ia tanyai. katanya “jika ingin mengetahui sejarah batu itu silahkan tanya lansung kepada “We Ajara Mallo karna ia satu-satunya orang yang mengetahui sejarah batu itu di kampung ini.

KAMI, “Saha, ka Cinta, Fahrul, dan We Aje telah berkumpul pas di depan halaman batu. “hanya bermodalkan satu pertanyaan untuk membuat We Aje menjelaskan panjang lebar sejarah batu yang meringkik itu, “Pa, kanapa batu itu dinamakan Batu kikik ? “tanyaku kepada We Aje. “Dahulu, sebelum kerajaan batu kikik dijajah oleh belanda, batu ini merupakan simbol kebesaran dan eksistensi-nya, karna batu ini bisa mengeluarkan suara yang menjadi indikasi bahwa akan terjadi bencana di kampung ini, itulah sebabnya kenapa warga setempat sangat mensakralkannya. “jawab We Aje…

Entah kenapa batu itu bisa bersuara demikian, tapi kami mempercayai kebenarannya. “aku sendiri pernah mendengarkan suara kikik itu dan menyaksikan lansung bencana yang terjadi, setelah beberapa hari batu itu berbunyi. Namun sekarang orang lebih mengenalnya dengan nama bacukiki, “We Aje melanjutkan penjelasannya. Tapi “Batu kikik” adalah nama sebenarnya, “ceritanya berawal ketika warga bulu roangnge (gunung luas) hijrah ke tempat ini, saat mereka mendengarkan batu itu meringkik, dari situ-lah mereka menyebutnya dengan nama batu kikik (batu yang mengeluarkan suara “kikik” seperti kuda).

Seiring berjalannya waktu warga yang datang dari bulu roangnge pun menetap di sekitaran batu itu dan membentuk sistem sosial yaitu sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Arung, tepatnya Arung Batukikik. Entah itu hanya kebetulan, “Saat batu itu berbunyi tak lama berselang akan terjadi sebuah bencana, bunyi “kikik batu itu menjadi indikasi bahwa akan akan terjadi satu bencana, “yang pertama  apakah itu Arung batukikik akan meninggal, kedua “berupa penyakit kolera “semacam penyakit menular yang akan menjangkit semua masyarakat. ketiga “akan terjadi kebakaran besar di kampung ini. Wah!? “aku terhenyak mendengarkannya, sepertinya kami terlarut dalam cerita We Aje.

Kira-kira besar batu itu seperti mobil xenia, warnanya hitam pekat dan  ber-bintik-bintik putih. Terdapat dua batu disana, yang satunya agak lebih besar, di antara kedua batu terdapat celah semacam ruang kosong kecil karna kedua batu itu tidak berimpitan. Kemungkinan ketika angin kencang berhembus dan melawati celah itu, hingga bisa mengahasilkan suara me-ringkik. “potong Fahrul saat We Aje lagi terdiam sembari menunjuk ruang kosong diantara kedua batu. Yaa, bisa saja penjelasan fahrul benar meskipun kepercayaan We Aje bahwa suara kikik itu terjadi secara mistik, bisik-ku dalam hati. Entahlahh……


Betemu Seorang Budayawan di Desa Alitta

Dari kiri, Jihad, HSM, Chindang, Rafi
KALI, ini aku mencoba untuk mempelajari budaya dengan datang lansung untuk berdiskusi dengan seorang budayawan. Tak jauh dari ibu kota kabupaten Pinrang Sekitar duapuluh km arah selatan tepatnya di desa Alitta aku pernah berkunjung di sana untuk bertemu dengan seorang Budayawan namanya Daeng Chindang (Daeng = panggilan orang yang lebih tua dari kita). Aku kesana guna melakukan pendataan objek wisata alam/budaya/sejarah, seniman, lagu tradisional no name, petuah bijak bugis dan budayawan. Kegiatan ini merupakan program Sempugi yang bekerja sama dengan cipta media celuler untuk memproduksi Walppaper Objek wisata lokal dan ring tone lagu tradisional.

Di desa Alitta terdapat banyak situs sejarah/budaya, tapi hanya dua yang bisa aku akses, yakni Sumur Manurung Lapakkita dan Bujung Pitue. Keduanya sudah dikelolah oleh pemerintah setempat. Namun situs lainnya seperti makam para Arung (pemimpin) Alitta tidak terawat sampai tidak bisa teridentifikasi berhubung Alitta dulunya adalah sebuah kerajaan jadi disana terdapat banyak makam raja. Nama Alitta sendiri berasal dari kata Aditta (Adek kita) karna Alitta dulunya bagian dari konfederasi lima kerajaan Ajatappareng yaitu Sawitto, Sidenreng, Rappang, Suppa dan Alitta yang paling bungsu jadi di beri nama Aditta. Tapi Aku belum mendapatkan penjelasan kenapa bisa terjadi perubahan kata dari Aditta menjadi Alitta. Mungkin saja karna persoalan okkots ! hhhe

Situs lainnya berupa mesjid tua, tapi sayang kini bangunannya sudah roboh. Di lokasi aku hanya menemukan batu reruntuhannya. Aku coba menulusuri penyebabnya! Namun kata daeng Chindang “dek mesjid itu sengaja diruntuhkan karna dipindahakan ketempat lain” sempat sih kami pergi memcari imam mesjid guna menelusuri lebih jauh tentang mesjid tersebut akan tetapi ia tidak ada di rumah. jadi hanya sebatas itu informasi yang aku dapatkan. “Aku tiba-tiba teringat cerita salah seorang teman katanya “bukti-bukti penyebaran islam yang ada di jazirah Sulawesi selatan sangat susah untuk ditelusuri alasannya, "ada kesengajaan yang dibuat oleh oknum tertentu untuk menghilangkannya. ‘Yahh, mungkin saja mesjid tua di Alitta juga demikian. “Entahlah…

*****

Sehari aku di Alitta, aku banyak disapa oleh masyarakat Alitta yang baru pertama kali aku temui meskipun hanya senyuman tapi begiulah mereka menyambut orang baru, warga disana sungguh sangat ramah. Budaya lokal inilah yang hilang di wilayah perkotaan tanah bugis, mereka sangat sibuk untuk memperkaya diri sendiri sampai tetangganya sendiri pun meraka terkadang tidak mengenalnya. Di mall perkotaan aku sering melihat senyum orang-orang yang telah diperjakan oleh para kapitalis, mereka menyapa pelanggangnya dengan senyuman hanya karna tuntutan profesi sangat berbeda dengan senyum yang aku lihat di desa Alitta. Menurutku jika kita ingin mengetahui lebih jauh tentang kebudayaan suatu etnis maka kita harus turun lansung untuk mempelajarinya dan menjadi bagian dari kebudayaan itu.

Entah kenapa pemberitaan tentang “kebudayaan” selalu saja diidentikkan dengan tari dan musik. Seolah-olah budaya hanya bisa dipelajari melalui kedua instrument tersebut. Media menggambarkan "budaya" hanya  sebatas musik dan tari untuk kepentingan komoditi mereka.

Namun berbeda dengan pembelajaran “kebudayaan” yang aku dapatkan selama di Alitta bersama daeng Chindang. Kebudayaan yang belum pernah aku lihat di eksplorasi oleh media. Kebudayaan yang tidak sesempit ber-seni dan ber-musik. Akan tetapi “Budaya” tentang keramahan masyarakat bugis bertutur, “budaya” bagaimana mereka sangat mendahulukan ahklak ketika berkumunikasi, “budaya” tentang pesse (kebersamaan) bagaimana mereka begitu peka dengan penderitaan orang lain. “budaya” bagaimana mereka sangat menghormati sesamanya, “Budaya” bagaimana mereka akan senantiasa mengingatkan satu sama lain dalam bahasa bugis disebut Sipakatau, sipakalebbi dan sipakainge’

Ehmm, Apa pendapat kalian tentang "budaya"?

Fatimah Az-Zahra : Sosok Inspirasi Istri yang Baik

“Sebaik-baiknya istri adalah Fatimah Az-Zahra 
dan Sebaik-baiknya suami adalah Ali Bin Abu Thalib”

Kalimat di atas masih hangat dalam ingatanku, kalimat yang pernah aku dengar dari salah seorang penceramah dalam majelis khotbah jum’at. Berawal dari ceramah itu aku lalu menelusuri sosok buah hati Rasulullah Saw. 

Aku mendatangi beberapa toko buku guna mencari referensi yang menuliskan tentang biografi beliau dan meminjam koleksi buku Fatimah Az-Zahra dari teman. Sebagai orang yang memimpikan istri ideal mungkin semua laki-laki akan melakukan hal sama denganku.

*****
Wajah cerah itu terlihat sangat bahagia menyambut kelahiran sosok buah hatinya, wajah manusia mulia “Muhammad bin Abdullah dan Khadijah binti Khuwailid terlihat sangat bahagia dengan kelahiran Fatimah Az-Zahra. Sang bayi lahir dengan memancarkan cahaya dan tidak satu pun tempat di bumi, di sebelah timur maupun barat yang besinar seperti cahaya itu. 

Bayi lahir dalam keluarga mulia, bayi yang dididik dalam madrasah islam, bayi yang setiap harinya mendengarkan lantunan wahyu dari kedua orang tuanya, “begitulah gambaran kelahiran Fatimah Az-Zahra yang digambarkan seorang yang menulis tentang pribadi Fatimah Az-Zahra yang aku baca dari buku yang aku beli.

Tahukah kalian apa yang menjadikan Az-Zahra sebagai istri teladan bagi kaum muslimat ? Ali Bin Abu Thalib Ra sering memuji ahklak beliau, sebagai seorang istri ia sangat tekun mengurusi rumah tangganya.

Pernah satu ketika Ali Ra berkata kepada Rasulullah saw, bahwa Fatimah selalu mengambil air sehingga menimbulkan bekas luka didadanya, suka menggiling gandung sehingga bengkak tangannya, suka membersihkan rumah sampai berdebuh pakaiannya, dan suka menyalakan api di bawah periuk sampai kotor pakaianya.

Bukan cuman urusan rumah tangga Fatimah juga selalu menjadi orang yang senantiasa memberikan semangat kepada suaminya, memuji keberanian dan pengorbanannya untuk menegakkan agama Allah. 

Ia menghilangkan sakitnya, membuang keletihannya, sehingga Ali Ra mengatakan “ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku” Az-Zahra juga adalah istri paling taat kepada suaminya, tak pernah sekalipun ia keluar rumah tanpa izin suaminya, tidak pernah ia membuat suaminya marah walau satu hari pun. Ia sadar betul bahwa Allah tidak akan menerima perbuatan seorang istri yang membuat marah suaminya sampai si suami rida terhadapanya.

Sebaliknya, Az-Zahra juga tidak pernah marah terhadap suaminya, ia tidak pernah berdusta di rumahnya, tidak pernah berkhianat terhadap-nya, tidak pernah melawannya dalam urusan apa pun. Kata Ali Ra, “aku tidak pernah marah ke-padanya dan tidak pernah menyusahkan-nya sampai ia wafat, ia juga tidak pernah membuatku marah dan tidak pernah menentangku dalam urusan apa pun. 

Selain itu ia juga adalah istri yang paling taat beribadah sampai-sampai kedua lututnya bengkak karna saking seringnya ia bersujud.

Salah seorang putranya Hasan bin Ali pernah bercerita “aku melihat ibuku bangun di-mihrabnya pada malam jumat, dan ia terus rukuk dan sujud sampai terbit subuh. Aku mendengar ia mendoakan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. 

Ia banyak mendoakan mereka, dan tidak berdoa sesuatu pun untuk dirinya sendiri. Maka aku bertanya kepadanya, ‘Ibu, mengapa engkau mendoakan orang lain? ‘Ia pun menjawab, ‘anakku, tetangga dulu baru kemudian rumah sendiri.”

Selain urusan rumah tangga, dan ibadah Az-Zahra juga merupakan istri yang cerdas, dalam riwayatnya Aisyah pernah berkata, “Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih benar bicaranya dibanding Fatimah, kecuali ayahnya. 

Dan ia juga istri yang sangat demawan, pernah suatu ketika Rasulullah bertemu dengan seorang tua, ia berkata ‘Wahai Nabi Allah, aku sedang lapar berilah aku makan. Rasulullah berkata pergilah tempat Fatimah! Dengan arahan rasulullah Bilal pun bersegerah mengantarkannya ke rumah Fatimah. 

Sesampai di sana orang tua itu kemudian menyampaikan keperluannya “wahai Putri Muhammad, Aku seorang arab yang tua, aku tidak mempunyai pakaian dan dalam keadaan lapar, maka tolonglah aku, semoga Allah menyayangimu.

Saat itu, Fatimah besertanya keluarganya sudah tiga hari tidak makan karna tidak memiliki makanan, oleh karena itu Fatimah lansung mengambil kalung yang ada dilehernya lalu memberikannya kepada orang tua itu sambil berkata “Ambillah ini, dan juallah. kemudian kalung itu ditukarkan dengan roti, daging dan burdah (kain) kepada salah seorang sahabat Rasulullah yaitu Ammar bin Yasir.

Saking banyaknya kebaikan yang telah ia lakukan hingga lembaran kertas pun tak-kan cukup untuk menuliskannya. Mungkin kebanyakan orang muslim tidak meng-idola-kan sosoknya karna catatan sejarah tidak begitu banyak mengukirnya dalam sebuah buku, diantara toko buku yang aku datangi hanya sedikit diantaranya yang menjual buku tentang beliau, yah paling tidak aku mempunyai koleksi buku "Fatimah Az-Zahra".

Ehm, Setelah aku membaca beberapa buku tentang Fatimah Az-Zahra, aku berkesimpulan bahwa sebaik-baik-nya istri adalah mereka yang paling taat beribadah dihadapan Allah, istri yang mencintai dan menyayangi suami hanya karna Allah, istri menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah semata seperti yang tercerminkan pada pribadi agung Bunda Fatimah Az-Zahra.


Pengabdian Seorang Musikolog Tradisional

kiri Pa Haris, kanan HSM
SAYA heran dengan siswa masa kini mereka nampaknya tidak senang belajar seni, apalagi kalau pelajarannya tentang seni budaya lokal mereka akan acuh untuk mengikutinya. Sebuah sekolah dasar di kecamatan duampanua kabupaten Pinrang rata-rata muridnya buta akan kesenian tradisional. Mungkin salah satu penyebabnya adalah pengaruh musik modern ditambah lagi kurikulum sekolah yang sudah tidak intens menyajikan pelajaran seni “tutur Pa Haris kepada saya. Pa Haris adalah seorang kepala sekolah SD 46 lampa kecamatan duampanua, dulunya ia seorang guru seni dan sempat menjadi guru saya waktu masih duduk di sekolah dasar. Selain berprofesi sebagai guru ia juga seorang musikolog dan memiliki grup musik tradisional.

SIMPONI adalah nama grup musiknya, walaupun hanya sekedar hobi Pa Haris beserta pesonil simponi sering mengisi acara hiburan yang ada dikampung saya. Memainkan seruling merupakan keahliannya, saat ia meniup seruling penontong akan terkesima mendengar lantunan irama yang ia mainkan. Saat ia masih menjadi guru saya, tidak hanya memainkan alat musik tradisional yang ia ajarkan, ia juga melatih kami seni gambar, seni rupa, seni suara dan seni tari bagi teman-teman saya yang perempuan bahkan kami juga sempat diajarkan bagaimana cara membuat alat musik tradisional, yang luar biasanya lagi Pa Haris juga bisa memainkan semua alat musik tradisonal meskipun tidak se-fasih ketika ia memainkan seruling.

Dulu Pa Haris juga sempat menjadi pelatih seni musik siswa-siswa yang akan mengikuti perlombaan di luar daerah. Siswa perwakilan kabupaten pinrang yang diutus sebagai peserta festival musik tradisional yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten/kota tiap tahunnya. Sudah banyak anak didik Pa Haris yang meraih juara hingga juara satu akan tetapi ia tidak pernah mendapatkan apresiasi dari apa yang dilakukannya. Meskipun demikian ia tetap setia mengajar siswa-siswa jika ada pertandingan antar kabupaten.

Beberapa minggu yang lalu saya beserta kawan Rafiq menyempatkan diri datang kerumah Pa Haris guna belajar memainkan kecapi yang baru saja kami beli. “Selamat sore, sapa saya. Tampaknya Pa Haris lagi sibuk membersihkan halaman rumah. Iyya, Sore Nak” jawabnya. Mungkin karna ia melihat kami membawa kecapi spontan ia menyuruh kami masuk ke rumah dan ia rela meninggalkan pekerjaannya untuk menyambut kami. Seperti biasa ia selalu peka jika ada orang yang ingin belajar bermusik, baik itu di ruang kelas maupun di rumah tempat ia beristirahat. Yaah itulah yang membuat saya tidak pernah melupakan sosok-nya.

Setelah ia mengetahui tujuan kami, ia lansung menjelaskan dasar-dasar bermain kecapi dan bercerita tentang perbandingan pemain kecapi dulu dan sekarang, katanya pemain kecapi dulu susah untuk mengajar generasi muda karna mereka memainkan kecapi tanpa memakai note (irama kecapi) Pakkacapi Getti Lampa julukan kepada pemain kecapi dulu, mereka memainkan kecapi sambil melantunkan cerita dan petuah bijak bugis. Saya sempat merekam demo ia sedang berkecapi sebagai bahan bagi saya belajar di rumah.

Walaupun kini Pa Haris sudah menjadi kepala sekolah, ia tetap selalu memainkan serulingnya, kecintaannya terhadap seni tradisional tidak pernah hilang dan ia senantiasa membimbing orang-orang yang ingin belajar. Tak banyak dari generasi sekarang yang punya hobi seperti Pa Haris. Kesedihan tampak dari raut wajanya, mengingat hampir-hampir tidak ada generasi muda yang bisa memainkan alat musik tradisional. Beberapa siswanya pun di sekolah susah untuk belajar karna kurangnya pendidik di bidang seni. Namun spiritnya untuk melestarikan kesenian tradisional tidak pernah pudar. Disisa usianya ia sangat berharap bisa melihat seseorang yang mau meneruskan apa yang telah ia perjuangkan selama ini..

Baca juga di sempugi.org

Memancing ; Meditasi Untuk Melatih Kesabaran

Haeruddin

Tiap kali saya mendengarkan ceramah-ceramah baik itu di mesjid mau pun di tv, hampir semua penceramah selalu menyampaikan masalah kesabaran. Bahwa sabar merupakan salah satu indikator kemanusian seseorang. Jika kita pernah menelaah sejarah islam maka kita akan menemukan betapa para Nabi memiliki kesabaran yang sangat luar biasa, mereka adalah orang-orang yang mulia berkat kesabaran yang mereka miliki dan itulah yang menjadikan mereka istimewa disisi sang Pencipta. 

Setiap lantunan doa, saya tak pernah bosan untuk meminta agar diberikan kesabaran sebagai orang yang meneladani Nabi maka seharusnya kita harus mencontoh mereka, mungkin hampir semua orang juga begitu! namun pernahkah kalian berpikir bahwa memancing merupakan meditasi untuk melatih kesabaran ?

Haeruddin dan Kak Nawa
Kemarin merupakan pengalaman pertama saya memancing, saya diajak oleh teman untuk memancing dirumahnya. Awalnya sih cuman ingin melihat-lihat saja maklum saya tidak punya pengalaman apa lagi saya juga tidak punya pancing. Akan tetapi setelah saya menikmati makan siang dari hasil pancingan teman, saya berubah pikiran dan mencoba juga untuk memancing. 

Saya melihat teman yang begitu menikmati ikan yang ia tangkap, katanya ada kenikmatan tersendiri ketika kita memakan ikan hasil pancingan sendiri. Ehmm saya hanya tertawa kecil sambil ikut melahap ikan. Yahh kenikmatan yang saya rasakan mungkin karna lapar, berbeda dengan yang dirasakan oleh teman saya.

*****

Pemancing pemula biasannya akan menjadi bulan-bulan-an, kenapa demikian ? Yah namanya pemula pastilah pertanyaannya kita banyak sekali dan itu bisa mengganggu kosentrasi pemancing disekitaran kita dan dengan penuh candaan kita akan ditertawi oleh teman-teman kita, begitulah kondisi saya saat itu dan dari situlah bermula kesabaran kita diuji. 

Dengan pengetahuan pas-pas’an saya begitu pede melempar umpan ke air. Tak membutuhakan waktu yang lama saya lansung "strike" spontan saya berteriak sambil melompat-lompat gembira menyambut tangkapan pertama saya. Hore-hore-hore,,, saya "strike”

Tampaknya ikan memakan umpan saya adalah ikan patin jenis ikan berkumis yang termasuk dalam genus Pangasius, familia Pangasiidae. Nama "patin" sendiri disematkan dari salah satu anggotanya, P.Nasutus. disini ikan Patin menjadi incaran semua pemancing yang datang pokoknya mereka tidak akan puas kalau belum bisa mendapatkan ikan itu. 

Bagaimana saya tidak bangga dengan tangkapan pertama saya. Namun saat saya lagi berkosentrasi untuk menarik ikan patin saya, tiba-tiba senar pancingnya putus, wajah yang tadinya begitu gembira pun berubah menjadi kesedihan sambil mengelus-elus dada dan berkata, “Sabbaki ati” (sabar yah hati).

Bayangkan jika tangkapan pertama kalian lepas ditengah-tengah orang yang lagi memancing! Saya membayangkan masuk surga sejenak kemudian dilemparkan ke neraka, saking sakitnya sampai hari ini masih terasa. Tapi setelah itu saya tidak menyerah saya tetap mencoba untuk mendapat tangkapan berikutnya. 

Tahukah kalian! duduk diam berjam-jam sambari menunggu ikan memakan umpang kita adalah pekerjaan yang sangat membosankan, yahh bagi saya itu sangat,sangat, sangat membosangkan. Apalagi jika kita tidak mendapatkan hasil satu ikan-pun hingga kita selesai memancing, itulah yang saya alami.

Namun dibalik itu saya memperoleh banyak pembelajaran, bahwa proses se-harian belajar mancing bersama teman-teman (Ka Nawa dan Camrun) adalah meditasi untuk melatih kesabaran saya. Mungkin Tuhan mengabulkan doa saya melalui proses ini. Mungkin apa yang saya alami sifatnya kasuistik jadi tidak semua orang akan mengalami itu, tergantung dari kepribadian masing-masing orang, ujian tuhan untuk melatih kesabaran seseorang pasti berbeda tergantung dari kualiatas jiwanya tidak mungkin orang yang kapasitasnya seperti Nabi diuji dengan meditasi mancing, akan teapi saya menyarankan bagi kalian yang ingin menguji kesabarannya silakah pergi mancing.

Makassar 28/November/2014

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger