Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Belajar Sejarah Kecapi Bugis Bersama Sanggar Seni Maminasa

Haeruddin dan Pa Maruf Salim
Petikan jari Pak Maruf Salim menjadikan irama sinar kecapi itu bersenandung, ia sedang mendemonstrasikan sebuah lagu bugis menggunakan kecapinya, Sepintas ia terlihat sangat lihai memetik kecapi, bagaimana tidak Pa Maruf mulai memainkan kecapi Bugis sejak tahun 1968 hingga sekarang. Wow ! sungguh mengagumkan. Meskipun tubuhnya sudah menua akan tetapi kemampuannya ber-kecapi masih tetap hebat dan menurut saya ia tidak kalah jagonya dengan pemain kecapi muda yang ada di kabupaten Sidrap karna tidak bisa dipungkiri juga banyak pemain kecapi generasi kekinian lahir dari sanggar yang ia bina.

Pa Maruf merupakan salah satu maestro kecapi di kabupaten Sidrap, berawal dari hobi hingga ia sering dipanggil untuk mengiringi penari diacara pernikahan. Sekitar tahun 1970-an ia membentuk sebuah sanggar yang diberi nama “Sanggar Seni Maminasa. Personilnya 10 orang, terdiri dari 5 penari dan 5 pemain musik. Selain itu bapak Maruf Salim juga memproduksi alat musik kecapi dan gendang, harga kecapai biasanya dijual Rp. 300.000 dan gendang Rp. 2.000.000, dan harganya juga tergantung  dari kualitas kayu yang digunakan beserta motifnya.

Dulu waktu ia masih muda ia sering mengiringi penjemputan tamu pesta pernikan dengan kecapinya karna padatnya jadwal yang ia miliki sehingga pada suatu saat ia berpikir untuk membentuk sanggar seni yang sekarang dikelolah oleh cucunya. Bahkan mereka sering tampil di luar pulau Sulawesi seperti di Jawa dan Papua, kata cucunya mereka pernah manggung di sana. Mungkin media kita di Indonesia sangat jarang mengekspos sanggar seni lokal terutama yang ada di Sulawesi-Selatan sehingga mereka kala terkenal oleh band-band pop masa kini.

*****

Kecapai awalnya dipopulerkan oleh para pengembala di jazirah Sulawesi saat sang pengembala duduk bersantai menjaga ternaknya di padang rumput ia selalu memainkan kecapinya dan hampir semua pengembala pada saat itu pintar berkecapai, “tutur Pa Maruf sambil memetik kecapinya. Dan kecapai pertama kali ditemukan oleh nelayan di tanah mandar. Ketika mereka berlayar di tengah laut dan saat tali pengikat layar perahunya berbunyi terkena hembusan angin dari situlah muncul inspirasi para nelayan untuk membuat alat musik kecapi itulah sebabnya kenapa kecapi itu berbentuk perahu.

Di era modern ini kecapi sudah dikembangkan seperti di kabupaten Sidrap sangat banyak pemain kecapai tunggal yang cukup terkenal dan mereka biasanya melantunkan kisah-kisah sejarah, cerita lucu dan petuah-petuah bugis dengan irama kecapinya, kesannya seperti berkecapi sambil bercerita bukan bernyanyi yah. Dan kecapai juga kini sering dikolaborasikan dengan alat musik lainnya seperti gendang, seruling, rabana dan lain-lain guna untuk mengiringi para penari.

Selain itu banyak juga orang yang belajar memainkan kecapi untuk mendapatkan uang karna sudah dijadikan sebagai profesi untuk mengisi acara pesta, rata-rata diantara mereka adalah pengangguran yang putus sekolah, “kata Pa Maruf. Akan tetapi sekarang fenomena di Sidrap posisi sanggar seni mulai tergeser dengan kehadiran musik elekton. Yaa mungkin saja beberapa tahun kedepan musik tradisional tidak akan lagi kita dapatkan diacara resepsi di kampung-kampung karna sekarang masyarakat kecenderungannya lebih sering menyewa grup musik elekton dibandingkan dengan musik tradisional ala sanggar seni “keluh Pa Maruf.


Sungguh ironis jika musik/lagu tradisional mulai ditinggalkan oleh masyarakat kita, padahal saat masih muda dulu Pa Maruf sempat menyaksikan kejayaan musik ala sanggar seni. Hampir semua acara di desa-desa menggunakan jasa mereka bahkan sempat diadakan festival kecapi massal di mana ratusan orang berkumpul disuatu tempat dan memainkan kecapi secara bersamaan “luar biasa bukan! Tapi Kini hanya tinggal cerita kebanggaan saja karna semuanya mulai tergantikan. Entah apa yang merasuki pemikiran masyarakat kita? Ataukah ini merupakan efek dari modernisasi dan hegemoni barat yang membuat kita merasa jauh dari kebudayaan kita sendiri. Entahlah.

Melalui tulisan ini saya ingin mangajak teman-teman sekalian yang mengaku dirinya sebagai pemerhati budaya terutama dibidang seni, agar kita bisa mencarikan solusi alterntif untuk mencegah kepunahan alat musik tradisional dan membuatkan panggung bagi musisi-musisi lokal kita yang bergelut dibidang itu. Jika ada yang berminat menggunakan jasa sanggar seni Maminasa silahkan hubungi contak person yang ada dalam foto di bawah ini atau silahkan berkunjung lansung kesana.

Papan Nama Sanggar Seni Maminasa

Makassar 14 September 2015

Lasinrang Park vs Taman Lasinrang, Surga Para Remaja Pinrang

Taman Lasinrang

Lasinrang Park


Beragam jenis bunga di taman Lasinrang seolah menjadi permata yang memikat hati dan saat malam menghampiri untuk menyelimuti, kedap-kedip lampu hias menyulapnya seperti taman surga yang keluar dari kotak ajaib. Taman itu bak magnet, menarik para remaja untuk menghabiskan waktu saat sore hari bahkan hingga tengah malam.

Letak yang strategis tepat di samping jalan poros provensi menambah kekuatan daya tariknya, sampai-sampai menghentikan putaran ban kedaraan sejenak, hanya untuk mendokumentasikan dirinya di taman Lasinrang. Yaa, Bukan cuman warga setempat, orang yang lewat pun acap kali terlena akan keindahan taman Lasinrang.

Tak mau kalah pelataran Lasinrang Park yang sudah dibingkai dengan tanaman hias bak madu segar yang siap saji. Dulunya sih Lasinrang Park hanya lapangan bola yang beralaskan rumput, sekarang sudah bermetamorfosa menjadi taman kota (alun-alun kota) tempat berkumpul kupu-kupu, apa lagi pada saat malam minggu.

Aku melihat kedua tempat itu menjadi idola di Pinrang saat ini. Kerap kali aku lewat hampir tidak pernah sepi dan kebanyakan dari mereka adalah kalangan remaja. Pernah sekali aku mampir di taman Lasinrang, hanya untuk memastikan justifikasi temanku yang katanya sering kali dijadikan tempat pacaran dan aku mengiyakan pernyataan itu setelah dari sana, begitu juga dengan fenomena Lasinrang Park. Aku tidak bermaksud mengkritik mereka karna menurutku itu wajar-wajar saja selama tidak merusak dan mengotori taman.

Mungkin mereka harus berterima kasih kepada pemerintah setempat karna sudah menyediakan fasilitas gratis. Walaupun  peruntukkannya bukan untuk itu sih, namun kehadiran taman Lasinrang dan Lasinrang Park menjadi surga bagi para remaja Pinrang. Senyum tawa  mereka tampak ceria melawatkan waktu berjam-jam bersama sang kekasih, akan tetapi tidak semua juga seperti itu, beberapa diantaranya hanya sekedar bersantai melepas lelah dan penat mengisi waktu senggang.

Dulu sebelum direkonstruksi banyak pedagang yang mencari uang di Lasinrang Park sekarang pada digusur dan diberlakukan larangan menjual di halaman taman, dengan alasan untuk menjaga keindahan. Dibalik keindahan Lasinrang Park ternyata tersembunyi kesedihan para pedagang yang kehilangan tempat jualannya, “apakah para remaja tau akan hal itu?

Entah Kenapa daerah perkoataan lebih banyak di bangun tempat hiburan. Pinrang hanya contoh kecil, kita bisa melihat kota besar seperti Makassar yang padat akan tempat hiburan. Aku teringat perkataan seorang teman, "salah satu indikator banyaknya orang stres disebuah wilayah bisa dilihat dari sebarapa banyak wahana hiburan ia miliki, tuturnya. Jika itu benar berarti orang stres lebih banyak di kota  dibanding desa. Entahlah!

Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui bahwa Lasinrang Park telah menyedot APBD sebesar 200 juta, dan biaya perawatannya sebesar 12 juta per tahun (baca disini http://goo.gl/zp4RwH dan http://goo.gl/7SfPcW ) Sepintas kalau kita melihat, memang Lasinrang Park lebih ramai dikunjungi dibandingkan Taman Lasinrang dikarnakan fasilitas tamannya lebih banyak dan lebih besar tapi dari segi keindahan keduanya memiliki karismatik tersendiri yang bisa memanjakan mata kita hingga menghabiskan waktu berlama-lama disana.

Aku sampai bertanya-tanya apa alasan Pemerintah mengalokasikan dana sebesar itu untuk kedua taman tersebut. Tapi disatu sisi para remaja Pinrang sepertinya memanfaatkan betul kehadiran taman itu hingga aku hampir tidak pernah melihatnya sepi pengunjung saat sore hari. Jika kalian datang di Kabupaten Pinrang maka merugilah jika tidak menyempatkan diri ke Lasinrang Park dan Taman Lasinrang.


Taman Lainrang

Taman Lasinrang

Bunga Taman lasinrang

Fasilitas Lasinrang Park

World Heritage Day With Lontaraq Project : Mereka Adalah Pejuang Kebudayaan

Ada yang menarik hari ini di pelataran Benteng Rotterdam tepatnya di bagian belakang Museum Galigo, terlihat lapak barang-barang antik komunitas "Der Bougies Vintage" dan pemusik sinrili (Musik tradisional Bugis/Makassar) memeriahkan kegiatan World Heritage Day 2015 (hari warisan sedunia) atau biasa di singkat WHD yang dilaksanakan oleh Lontaraq Project (LP).

Kegiatan ini juga untuk memperingati hari pusaka dunia, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 18 April ditetapkan oleh ICOMOS (Internasional Council on Monuments and Sites)  tapi teman-teman LP melaksanakannya 19 April berhubung baru dapat izin tempat hari ini 'tutur Lina, ketua panitia WHD 2015.

Panitia WHD 2015

Acara ini juga diramaikan oleh penampilan Sanggar Seni Talas yang sempat berkolaborasi dengan salah satu komunitas pengunjung yaitu Taman Baca Akademos dan beberapa lembaga lain seperti Sempugi dan Komunitas Sepeda Ontel, Selain komunitas kegiatan ini juga diramaikan dengan jajanan tradisional, pejual es putar, bakso, baroncong dan lainnya. Ini kali kedua LP Makassar membuat event WHD, tapi tahun kemarin mereka melaksanakan kegitan ini di beberapa kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Samarinda, dan Bandung. Di Makassar sendiri WHD 2014 dilaksanakan di Museum kota Makassar.

Yang membuat unik WHD tahun ini ialah karena para panitia dan pengunjung diwajibkan untuk memakai sarung, bagi pengunjung yang tidak membawa sarung mereka bisa minta kepada panitia. Saya sempat tertawa sih melihat dua orang bule yang diajar sama panitia untuk memakai sarung, mereka tampak senang memakai sarung itu walaupun wajah mereka tampak kebingungan. hhhe.

Dan penampilan saudara Arif dengan sinrili-nya. Baru kali ini saya melihat sinrili ala modern, ia bisa memadukan bahasa makassar, melayu, dan inggris ketika mengisahkan sejarah benteng rotterdam sambil memainkan alat musik sinrili, jadi penonton yang tidak paham akan bahasa makassar juga bisa memahami apa yg disampaikan. Sesaat sebagian penonton sempat tertawa terbahak-bahak saat kisahnya disampaikan dengan khas makassar, kami yang tidak paham hanya ikut ketawa dengan wajah kebingungan.

Tahun ini saya merasa sangat senang karna bisa menjadi bagian dari WHD 2015 sebagai salah satu panitia. Amat susah kutemui orang-orang yang mau jadi volunteer untuk melestarikan budaya lokal, tapi saya menemukan segelintir pemuda yang memiliki spirit untuk menampilkan warisan budaya leluhur di tengah-tengah cekokan budaya asing yang menggeser kebudayaan kita sendiri. Yaa aku menyebut mereka sebagai pejuang kubudayaan.

Walaupun amat berat untuk merealisasikan kegiatan ini berhubung kami terkendala pada dana, tapi teman-teman mengambil inisiatif agar para panitia menyisihkan sebagian uang jajan mereka Rp.25.000 per orang, hmm berhubung kami semua adalah mahasiswa yang masih menggantungkan biaya hidup pada orang tua. Tapi bagi kawan-kawan LP itu tidak jadi masalah selama WHD 2015 terlaksana sebagai bentuk kecintaan kepada kebudayaan kami.

Baliho yang kami gunakan pun sangat sederhana, dengan mengumpulkan karton bekas, kemudian ujungnya diikat untuk menghubungkan satu karton dangan karton yang lain, setelah itu ditempeli kertas bergambar dan tulisan yang sudah kami print, ini kami lakukan karena kami tidak mampu membeli spanduk. Yang membuat saya salut dengan teman-teman karna mereka pantang mengemis dana kepada pihak korporasi, pemerintah dll yang selalu mengkomersilkan budaya dengan memberikan bantuan dana kepada pembuat pentas budaya.

Baliho karton
Di sisi lain kami juga hanya bisa memakai pelataran belakang benteng rotterdam karna kami tidak sanggup untuk membayar biaya sewa halaman depan. Dan itu membuat kami kerja ekstra super karna kami harus mengelilingi benteng untuk mengarahkan pengunjung ke tempat WHD. Sampai-sampai para pengujung WHD yang datang harus menelpon kami (panitia) untuk mengetahui lokasinya. Seperti teman saya yang kebingungan saat tiba di benteng “Bro di bagian mana kegiatanmu adama ini di benteng, “tanya teman saya di telpon.

Yaa, walaupun sangat sederhana, kami sangat bersyukur bisa menyukseskan kegiatan ini, dan kami juga tidak menyangka pengunjung yang datang sangat banyak hingga kami sangat kewalahan, diakhir tulisan ini saya ingin mengucapkan  terima kasih kepada semua pihak yang telah berpatisipasi dalam World Heritage Day 2015 “salam hormat saya kepada panitia WHD dan pengurus LP terutama kepada kanda Maharani Budi yang akrab disapa Ran, keringat kalian begitu mulia untuk menjaga kebudayaan nenek moyang kita, dan semoga kita bisa berjuang bersama-sama lagi pada WHD tahun depan.

Denah dan Jadwal Acara
Lapak Der Bougies Vintage
Musikalisasi Sanggar Seni Talas
Komunitas sepeda ontel
Makassar, 19 April 2015

Banjir Batu Akik di Mall Pinrang

Kemarin aku bertemu dengan seorang senior di Pinrang,  katanya ia ingin pergi ke mall Pinrang untuk melihat temannya yang tereliminasi dalam perlombaan batu akik, alasannya karna batu yang ia ikutkan lomba tidak memenuhi salah satu syarat, yaitu membawa bongkahan batu yang dilombakan. Ribet juga yah, karna jika batu yang kita punya meskipun berkelas dan sudah di olah akan tetapi jika tidak punya bongkahannya akan sia-sia dalam event lomba batu Akik di Pinrang seperti yang dialami oleh teman seniorku, yang katanya batu yang ia punya memiliki nilai jual yang tinggi. Sayang sekali aku tidak sempat menanyakan jenis batunya.

Malam tadi aku menyempatkan diri ke mall Pinrang. Ternyata di sana bukan cuman lomba tapi acara itu juga dirangkaikan dengan pameran batu. Terlihat halaman depan dan samping mall dipenuhi dengan etalase yang berjejeran dan didalamnya terdapat banyak batu akik, sampai-sampai beberapa peserta malah membawa mesin pengolah batunya. Mereka mungkin tak sadar kalau suara mesin itu sangat menggangu pengunjung seperti saya. Hhhe.

Semenjak mall Pinrang diresmikan ini kali pertama aku kesini, itupun hanya untuk melihat pameran batu. Aku sangat tertarik melihat batu yang membanjiri pekarangan mall, suasananya sangat berbeda jika dibandingkan dengan mall yang ada di Makassar yang isinya dipenuhi dengan barang impor yang menjajah produk-produk lokal. 

Entah kenapa kecenderunag masyarakat kita lebih menyukai barang luar negri! mungkin saja itu efek dari hegemoni iklan yang menjajal seluruh media sosial yang hampir setiap hari kita dipaksa untuk melihatnya walaupun pada dasarnya kita tidak membutuhkan itu tapi karna sering dilihat jadi itu terinternilisasi dalam kedirian kita menjadi sebuah kebutuan. Entahlah,  bisa juga karna ada sebab yang lain.

Aku merasa ada kebanggaan tersendiri saat berada dikerumunan pengungjung, hampir semua dari mereka terlihat senang dengan adanya kegiatan ini. Wajah riang disertai senyum tipis terpukau melihat keindahan deretan batu dibalik kaca etalase. Yah karna batu yang dipajang hampir semua berasal dari bumi Lasinrang (peristilahan nama lain kabupaten Pinrang) mungkin itu yang membuat wajah mereka memancarkan kekaguman yang tak ternilai. 

Spanduk yang dipasang di depan tiap stand memperjelas asal batunya. Seperti foto di bawah ini. Batu yang berasal dari Kecamatan Batu Lappa Pinrang. 

Stand batu Lappa
Batu Akik

Aku baru sadar ternyata Pinrang kaya akan batu Akik, ruang kosong pakarangan Mall Pinrang yang kemarin-kemarin hanya menjadi tempat parkir sekarang di penuhi oleh lapak batu Akik. Kini bukan lagi banjir air yang terjadi di Pinrang karna musim hujan sudah lewat, gilirang batu Akik yang membajirinya, tidak tangggung-tanggung tempat yang dibanjiri pun merupakan salah satu tempat mewah di kabupaten tersebut yaitu Mall Pinrang. 


Pinrang, 22/Februari/2015

Kebetulankah !? Bertemu Gede Pasek


Sore hari (11/02/2015) di Country Coffe Resto (CCR) Toddopuli Makassar terlihat banyak wartawan mengerumuni seseorang, tampaknya mereka lagi mewancari orang itu. Sementara aku di luar Café menyaksikannya sedang menunggu salah seorang seniorku namanya “Ka Idam. Aku tak tau pasti apa yang mereka perbincangkan, karna lantunan suara hujan yang menyelimuti pendengaranku. Meskipun aku penasaran tapi aku tidak punya keberanian untuk masuk. Tak lama kemudian HP-ku berdering itu panggilan yang aku tunggu-tunggu. Ternyata Ka Idam juga berada di dalam café bersama dengan kerumunan wartawan, ia menyuruhku masuk, “Panggil Ka Idam lewat telpon.

Dengan langkah yang tertatih-tatih ku beranikan diri untuk bergabung. Dalam hatiku berbisik “aku ingin sekali kabur dari tempat ini, saat melihat penampilan rapi ala pejabat orang di sekitaranku, sementara hanya aku dengan kaos oblong dan beralaskan sandal jepit. Tapi aku sudah janji untuk ketemu dengan Ka Idam di sini itulah yang mendorongku untuk tetap tinggal dan berusaha menikmati perbincangan.

Aku sempat mendengar, bahwa orang yang lagi diwawancarai itu adalah Gede Pasek. Hah!? Heranku. “Gede Pasek baru saja datang dari maros, ia kesana untuk membawakan materi dalam pelatihan kader tingkat dua  HmI Cabang Maros “Ujar orang di sampingku. Diselang kesibukannya sebagai sekertaris jendral Perhimpunan Pergerakan Indonesia Gede Pasek juga aktif untuk mengisi forum-forum diskusi di berbagia kampus di tanah air, ia salah satu tokoh pergerakan yang masih konsisten berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan Mahasiswa, sebagai orang yang pernah bergelut dalam  pergerakan Mahasiwa yang kini bisa dibilang sukses meniti karier dipanggung politik.

Aku sering melihat ia tampil dalam berita-berita di media, namun tak pernah kudapati ia diberitakan saat mengisi ruang diskusi di kampus, aku sempat membaca salah satu berita on-line bahwa kedatangan Gede Pasek di Makassar dihubung-hubungkan dengan kongres salah satu partai politik, entahlah aku juga tidak tau pasti akan hal itu. Yang pastinya aku bukan wartawan yang ingin membuat berita tentang dia. Aku hanya sekedar membuat coretan tentang pertemuan singkatku dengangnya, dan sebagai pelampaisan bagiku karena aku hanya banyak diam mendengarkan cerita beserta gagasan-gagasannya saat aku mengantar dan menemaninya di bandara hingga pukul 4 subuh, maklum aku minder untuk berbicara jadi ku lampiaskan itu dalam tulisan ini.

Meskipun singkat aku bisa mengambil banyak pembelajaran darinya, sepintas ku lihat kepribadiaannya sangat ramah dan humanis. Masih hangat dalam ingatanku ketika ia menceritakan salah seorang temannya, aku tidak tau pasti namanya. Tapi temannya itu pernah ke Cina untuk mebuat ukiran rumah ala bali, awalnya ia berpikiran akan dikontrak untuk membuat satu kompleks perumahan tapi setelah ia membuat baruga dan satu rumah ukiran bali di Cina ia tidak lagi dipanggil mengerjakan rumah berikutnya karna rumah dibuatnya hanya dijadikan percontohan dan selanjutnya orang Cina itu yang membuat rumah yang lainnya. “aku sampai tertawa mendegar cerita itu karna dijadikan sebagai lolucon. Yah begitulah orang Cina meskipun tidak orisinil tapi mereka bisa membuat karya yang mirip dengan aslinya. Kita bisa melihat begitu banyak barang elektronik duplikat buatan Cina yang beredar di pasaran.

Gede Pasek juga sempat menyinggung tentang kebudayaan bangsa ini, “panggung yang begitu sedikit orang yang berkarir dan memperjuangkannya, “ujar Gede. Ungkapan prihatinnya menyaksikan kondisi kekayaan kebudayaan kita yang terpinggirkan oleh cekokan budaya impor. Walaupun agak minder aku sempat menjelaskan makna petuah bijak bugis yang tertulis di baju yang ia pakai. “Rebba Sipatokkong, Mali’ Siparappe, Sirui’ Menre, Tessirui No, Malilu Sipakainge, Mainge’pi Mupaja” sambil berbisik dalam hati "aku merasa senang bisa bertemu dengannya. Yah semoga kedepan aku mempunyai kesempatan lagi menjadi pendengar setia cerita dan gagasan beliau.


Foto Bersama Gede Pasek

Foto Bersama Gede Pasek

“Arung Nepo, Pemimpin Impian”

Haeruddin dan Arung Nepo

Dulu aku pernah menjadi budaknya masyarakat di sini, sewaktu aku masih menjabat sebagai anggota dewan kabupaten Barru. Setiap tanggal penerimaan gaji, warga Nepo dari berbagai profesi selalu berkumpul di depan kantor menugguku! guna meminta gaji yang aku terima, jadi terkadang aku tidak membawa pulang uang satu lembar pun pulang ke rumah, “tutur Arung Nepo. 

Hah!?  Aku sampai tidak percaya mendengarkannya. Sungguh mulianya Arung Nepo sebagai pemimpin adat yang dulunya sempat menjabat sebagai anggota DPRD, ia rela memberikan gajinya selama ia menjadi anggota DPRD. Entah masih adakah di negri ini pemimpin seperti beliau!?

Fung Datu sapaan masyarakat kepada Arung Nepo, beliau orangnya sangat sederhana sehingga amat dicintai oleh warga Nepo. Rumah panggung tempat ia tingggal pun begitu sederhana, rumah yang sudah berumur puluhan tahun dihiasi perabot rumah yang tidak mewah seperti lemari, kursi tamu, hiasan dinding dan lainnya. Rumah itu diwariskan dari generasi ke genarasi, masyarakat Nepo menyebutnya Soraja (tempat pemukiman raja) “bisik temanku Eka.

Tidak susah untuk menemukan Soraja Nepo, karna letaknya tapat berada di samping sudut lapangan kecamatan Mallusetasi kabupaten Barru dan yang luar biasa adalah hingga sekarang rumah itu belum pernah direnopasi sehingga nilai sejarah dan kebudayaannya masih terjaga.

*****

Ini kali pertama aku bertemu dengan pemimpin seperti itu, tak henti degub jantungku karena kekaguman kepada kepribadiannya yang begitu sederhana, sangat berbeda dengan kehidupan para pemimpin politik Negara ini yang aku lihat di media sosial, mereka hidup penuh kemewahan menggunakan fasilitas Negara seperti rumah, mobil yang serba mewah, beserta tunjangan hidup yang lainnya.

Aku pernah berpikir bahwa pemimpin seperti beliau hanya ada dalam mimpiku dan kini aku menyaksikan sendiri di depan mataku, betapa bahagiannya diriku ini bisa bertemu dengan pemimpin impianku. Hhm, Seperti apa pemimpin yang kalian impikan?

Ada cerita menarik yang sempat ia sampaikan. “Di desa Nepo sekitar 7 km dari soraja  terdapat situs budaya Bujung Mattimboe, Bujung Pulawengnge, Bujung Mekkatowangnge. Masing-masing situs tersebut mempunyai cerita tutur yang dikeramatkan, seperti Bujung Pulawengnge, dulu jika ada seorang remaja laki-laki/perempuan yang belum menikah-menikah karna belum dapat jodoh maka  ia akan pergi mandi di sana agak kelak bisa menemukan jodohnya, “ujar Fung Datu dengan senyum sederhananya yang khas. “Refleks, aku tertawa kecil mendengarkan Fung Datu menyampaikan cerita itu.

Kusempatkan diri untuk datang lansung ke salah satu situs tersebut yaitu Bujung Mattimboe bersama kawanku Eka dan Rafiq, kami diantar oleh cucu Fung Datu kesana. Bujung Mattimboe merupakan genangan air terjun dengan dinding batu yang amat besar sehinnga terlihat seperti gua. Walaupun ukurannya kecil tapi gua itu bisa memuat sekitar sepuluh orang.

Tak mau rugi, aku beserta eka dan cucu Fung Datu mandi di Bujung Mattimboe, sementara kawanku rafiq sibuk mendokumentasikan kami dan situs budaya tersebut. Pengennya sih mau ke Bujung Pulawengnge tapi akses jalan sangat susah dan letaknya juga sangat jauh karna aku ingin sekali menguji kebenaran dari keramat cerita tutur Bujung Pulawengnge. Hhhe.

Nepo memeliki begitu banyak kekayaan situs sejarah dan budaya tapi aku tidak sempat untuk mengunjungi semuanya, mungkin kedepan aku harus meluangkan lebih banyak waktu untuk mengetahui lebih jauh misteri-misteri yang tersembunyi di Nepo. Dan dari pengalaman di Nepo aku sangat bermimpi, agar kelak  bisa melihat pemimpin seperti beliau “Arung Nepo” bisa mengisi kursi-kursi pemerintahan RI.

Haeruddin Syams Masagenae

“Drama Raja Sawitto dan Raja Lembang Oleh Wija To Penrang KMP-PNUP“




Kain berwarna biru yang terikat dikepalanya beserta sarung yang dipinggangnya menjadikan ia terlihat perkasa, “Iyya’na okkoe bakkalolona Sawitto degage tau mulle jamaka” teriak “Kurniawan (pemeran raja Sawitto) sambil menunjuk ke arah depan dengan melangkahkan kakinya, “teriakan itu seolah menggemakan heningnya malam di desa ta’deang kabupaten Maros. “desiran angin yang dingin seolah tak terhiraukan oleh warga KMP yang asyik menonton, “Nampak tawa tipis mereka menyaksikan sang raja yang sangat percaya diri.
 
Tak lama berselang “Patando (pemeran raja Lembang) unjuk gigi “wha..haa.haa.. “ketawa kejam, menantang, sembari menujuk wajah raja Sawitto Apa mu’pau ngena !? joo’o ku’kilajako “Seru, “raja Lembang, menantang raja Sawitto untuk berduet. Kemudian  terjadi adu mulut di antara mereka yang berujung kepada pertarungan, “keduanya pun mencabut kris-nya untuk mengadu kehebatan satu sama lain.  Akhir dari drama “raja Sawitto memenangkan pertarungan dan mengajak raja Lembang untuk berdamai untuk bersama-sama membangun Pinrang kedepan.

Deskripsi singkat drama raja Sawitto dan raja Lembang setelah aku selesai menonton video-nya, “karya peserta kaderisasi “Pengenalan Organisasi Daerah Kerukunan Mahasiswa Pinrang Politeknik Negeri Ujung Pandang (PLOD 14 KMP-PNUP), silahkan nonton videonya yang ada di atas.

***

Rasa sesal masih terbayang dalam diri-ku karna tidak bisa melihat lansung drama itu, aku hanya menonton lewat video yang baru saja aku copy dari “Yudhi salah satu joniorku di KMP. Meskipun demikian aku merasa sangat bangga kepada mereka karna senantiasa menanamkan nilai-nilai kedaerahan sebagai "Wija To Penrang" dalam kegiatan kaderisasi. “saat aku selesai melihat video’nya, aku mendapat pembelajaran yang sangat bermanfaat “bahwa kita sebagai warga Pinrang harus meretas gesekan etnit yang sering terjadi, karna terkadang kita masyarakat Pinrang begitu tersekat oleh perbedaan itu sangat jelas terlihat jika di antara kita berbicara menggunakan bahasa masing-masing. 

Dari sini kemudian aku baru menyadari bahwa organisasi daerah merupakan wadah yang sangat ideal untuk menanamkan benih-benih kebudayaan lokal kepada generasi muda agar tidak tertelan oleh laju modernisasi yang berusaha menggeser kekayaan kearifan lokal yang kita miliki. Yaa, organda (organisasi daerah) adalah salah satu tameng untuk membentengi hegemoni budaya barat, korea, india, jepang, dan lainnya yang mereka kempanyekan lewat film-film yang tersebar sampai pelosok bumi melalui media elektronik. Sungguh ironis jika kita pemuda/i bangsa ini begitu membanggakan budaya luar sementara disisi lain budaya kita sendiri hampir terhapus oleh zaman.

Semoga pembelajaran “budaya” yang diajarkan kepada re-generasi KMP-PNUP bisa menjadi amunisi bagi mereka, agak kelak mereka menjadi volunteer untuk membangun kampung halaman tercinta seperti ikrar raja Sawitto dan raja Lembang pada akhir drama, mudah-mudahan ikrak itu bukan hanya lagiah belaka. 



Catatan : 
  • “Iyya’na okkoe bakkalolona Sawitto degage tau mulle jamaka” ( saya disini pemudanya Sawitto, tidak ada satupun orang yang bias mengalahkan saya) 
  • “Apa mu’pau ngena !? joo’o ku’kilajako (apa tadi yang kau katakana !? saya tidak takut)
  • Wija To Penrang (Keturunan orang pinrang)
  • Sawitto dan Lembang (Nama kerajaan di Pinrang)
Makassar, 8/Desember/2014

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger