Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Membaca Dan Menulis Bagaikan Pinang Di Belah Dua



Sumber Gambar : www.wallsave.com
Ibu pernah bercerita tentang masa kecilku, saat ia memutar-mutar kedua lututku dan bernyanyi lagu khas bugis “loda-loda uttu jokka ni baja, lari’ni sangadi” kurang lebih liriknya seperti itu, lagu itu merepakan doa yang di interprerasikan dalam sebuah lagu. Ibu sangat antusias mengajariku berjalan agar kelak langkahku bisa menggapai harapan yang ia titipkan kedapaku.

Nak, sekarang kamu sudah bisa berjalan jadi silahkan langkahkan kakimu dan raih mimpimu kata ibuku.” Aku diajari berjalan agar aku bisa berjalan”
Saat berusia 6 tahun ibu mendftarkanku di sekolah Taman Kanak-Kanak, dikampungku dinamakan sekolah anre-anre (makan-makan) karna kami kesekolah menjadi sebuah kewajiban untuk membawa makanan seperti kue, nasi goreng, dan roti, tapi biasanya itu tergantung dari finansial orang tua murid.

Disana aku belajar bernyanyi lagu nasionalisme seolah-olah kami tau apa piloshofhi dari lagu itu. Seandainya saat itu aku memahami akan pentingnya mencintai produk lokal maka aku akan komplain kepada guruku kenapa lagu yang dinyanyikan bukan lagu bugis?

Setahun di TK aku kemudian lanjut sekolah di Sekolah Dasar berbeda ketika di TK disini tak ada lagi pembelajaran menyanyi akan tetapi lebih diprioritaskan belajar baca-tulis.

Seperti dengan ibuku, guru di sekolah pun begitu antusias mengajari kami baca-tulis, sambil memandang kami dengan mata berlinang semoga kedepan kalian bisa bermanfaat untuk bangsa, tutur guruku didepan kami.

“Kami diajari menulis agar kami bisa menulis”
“Kami diajari membaca agar kami bisa membaca”

Setauku dalam Islam ayat yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah iqra dalam ejaan bahasa arab yang artinya bacalah, pikiran nakalku terkadang bertanya-tanya kenapa ayat iqra tidak diturunkan dengan ayat kataba yang artinya menulis. Emm Aku lupa bahwa dalam Al-Quran tidak ada ayat kataba.

Inti dari pembelajaran yang aku dapatkan selama ini, mulai ketika ibu mengajari berjalan sampai kepada guru disekolah mengajari baca-tulis adalah belajar agar bisa melakukan apa yang dipelajaari, ini bagaikan relasi filsafat teoritis dan praktis pen.“muthadha muthahari” bagaimana memahami teori-teori filsafat setelah itu menjawantahkannya dalam lingkungan sosial sebagai rana praktis.

Sama ketika aku belajar mengendari motor setelah aku pintar, hampir setiap pelosok jalan kutelusuri dengan motorku, begitu pula dengan pembelajaranku yang lain.

Tapi kuheran dengan kebanyakan orang yang menghabiskan masa kecilnya dalam penajara tembok kelas Sekolah Dasar untuk belajar baca-tulis akan tetapi mereka malas membaca dan menulis ketika mereka sudah pintar.

Apakah mereka tau begitu sia-sianya pembelajaran yang telah dilakukan selama ini untuk belajar baca-tulis sementara kepintarannya membaca dan menulis tidak pernah di lakukan dalam kehidupan hari-hari.

Buat apa belajar menulis, jika tidak ingin menulis?
Buat apa belajar membaca kalau tidak ingin membca?

Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak terpisah, seperti dua entitas yang memiliki esensi yang sama dengan kata lain bagaikan pinang dibelah dua.

Dari sini kita bisa mengambil pembelajaran bahwa untuk mengetahui bahan bacaan seseorang cukup dengan membca tulisannya begitu pula sebaliknya. Tulisan seseorang merupakan cerminan dari apa yang mereka baca.

Layaknya kedua potongan pinang yang dibelah dua, cukup dengan melihat satu potongan maka itu akan menjadi refresentatif dari potongan yang kedua.

Seseorang yang rajin membaca tapi tidak pernah menuliskan apa yang telah di baca maka ia akan kehilangan satu potongan pinang dalam hidupnya, menulis pun begitu, jika tulisan yang dibuat tanpa ada pondasi membaca, maka kita telah menyia-nyiakan satu potongan pinang lagi.

Jika buku yang ditulis oleh muthadha muthahari, menyederhanakan kompleksitas kehidupan dengan filsafat teoritis dan praktis. Pemahaman filsafat akan pincang jika hanya memahami dan mengaktualkan salah satunya, dan itu bisa dilihat dari pribadi seorang filsuf.

Aku hanya ingin mengatakan bahwa kompleksitas kehidupan itu sesederhana satu buah pinang, bagian manapun dari pinang itu dibelah selama kita memotongnya seimbang maka akan terlihat dua potongan pinang yang kemiripannya susah dibedakan.

Begitu_jua sederhananya kehidupan Membaca-menulis…!!!

-HS’Masagenae

SEJARAH KERAJAAN SUPPA Part I

ILUSTRASI
Daerah kerajaan Suppa pada jaman pemerintahan Hindia-Belanda merupakan daerah Onder Afdeling Pinrang dimana terdapat enam arung tungke (pemerintahan tunggal) terdiri dari Kerajaan Suppa, Sawitto, Alitta, Letta, Batu Lappa, dan Kassa.

Sampai saat Indonesia merdeka dan Pinrang ditetepkan sebagai daerah Tingkat II yaitu Kabupaten pinrang. Secara etimologi Suppa berasal dari kata Subba = Muncul. Pembahasan pada tulisan ini akan lebih terfokus membahas asul-usul Suppa secara pemerintahan bukan suppa secara wilayah sebelum adanya pemerintah, pemerintah yang dimaksud adalah kerajaan Suppa.

Pembentukan kerajaan Suppa diawali dengan pengangkatan Manurung’nge sebagai Datu Suppa pertama oleh orang-orang yang menyaksikan dan mendengar berita kedatangannya di tanah Suppa.

Dalam lontara suppa diceritakan manurung’nge mompo ri lura malowangnge (muncul didanau yg besar : maksudnya ialah laut. pen.) bersama dengan sarung lumut dan benda-benda Arajang/kebesarannya yang serba emas, seperti periuk emas, sendok nasi emas, periuk sayur emas, dan peralatan dapur lain-lainnya yang terbuat dari emas.

Orang-orang yang mengetahui kedatang Manurung’nge kemudian berkerumung mulai dari orang tua, anak/cucu tanpa terkecuali untuk menyaksikan peritiwa itu dengan mata kepala mereka sendiri. Manurung’nge di Suppa tidak ada seorang pun yang mengetahui sosoknya, dari mana datangnya, maka dilekatkanlah kata Manurung’nge kepadanya.

Pada umumnya orang-orang yang melihat manurung’nge adalah seorang perempuan yang rupawan dan tidak ada yang menyamai kecantikannya ditanah Suppa begitupula dengan arajang yg bawa olehnya. Dengan alasan itu sehingga Manurung’nge mendapat perlakuan yang spesial dan mempercayakan sebagai pemimpin mereka.

Dikatakan dalam lontara suppa Lurangngi pabbanua’e ri onrong masennge patuwo engngi alane (Bawalah penduduk ke tempat yang menyenangkan yang bisa menghidupkan dirinya). Pabbanua percaya bahwa Manureng’nge sebagai pemimpin yang mengantarkan kehidupan mereka menjadi lebih baik, sejahtra, dan tentram dari sebelum kedatangannya.

Adapun gelar dari manurung’nge adalah Puatta Kewaramparangnge karna manurung’nge datang dengan harta bendanya dalam bahasa bugis disebut waramparang sedangkan nama dari Manurung’nge adalah We Tipulinge. Dengan dinobatkannya We Tipulinge sebagai Datu Suppa pertama maka resmilah kerajaan Suppa secara pemerintahan, beliau kemudian dipersunting oleh Labangngenge manurung ri bacukiki.

Penulisan cerita kedatangan Manurung’nge ri Suppa tidak disertai oleh penulisan tahun jadi untuk melacak waktu kedatangannya saya menggunakan masa kepemimpinan datu Suppa yang ke IV yaitu Lamakkarawi 1544 M yang dituliskan dilontara Suppa. Jika dirata-ratakan 1 peride 50 tahun jadi 4x50 = 200 tahun. Jadi 1544-200 = 1344 jadi asumsinya kedatangan Manurung’nge pada abad ke 13. Salah satu budayawan pinrang juga yaitu daeng chindang pernah mengatakan kepada saya bahwa kedatangan Manurung’nge ri Suppa pada ke 13 dengan asumsi generalisasi beberapa Manurung di Ajatappareng seperti di Manurung bacukiki dan Manurung cempa yang tertulis dilontara lain.

 -HS'Masagenae
Sumber Gambar : http://hot.detik.com

APAKAH SYAHID DALAM KONSEP ISLAM DAN BACA-BACA KEBBENG TIDAK SINERGIS ?

 Ilustrasi
Sejak tahun 1982 Israel memborbardir Libanon dengan melakukan invasi militer keberbagai pelosok,  terutama pumukiman penduduk dibagian selatan Libanon, ribuan penduduk sipil dan pejuang-pejuang Libanon dan kaum mujahidin mejadi korban tangan besi zionisme.

Walaupun pada akhirnya perjuangan rakyat Libanon menuai hasil pada tahun 2000 karna berhasil memukul mundur dan mempermalukan pasukan zionis yang katanya salah satu militer terhebat di dunia serta berhasil menodai superioritas mitologis kaum zionis.

Salah satu media sosial memuat berita tentang kejadian di Libanon melakukan wawancara kepada seorang ibu, saat sedang wawancara wartawan media itu kaget melihat ibu yang diwawancarainya tiba-tiba meneteskan air mata dengan wajah penuh kebingungan dia bertanya, ibu kenapa menangis ? jawab ibu : anak saya adalah seorang pejuang Hizbullah dia gugur dimedan perang, saya tidak menangisi kematiannya akan tetapi air mata ini menetes karna tidak ada lagi anak laki-laki saya yang bisa berkhikmat untuk rakyat dan agama Allah karna itu adalah anak terakhir saya, dua anak laki-laki saya sebelumnya juga syahid sebagai pejuang Hizbullah.

Cerita diatas menggambarkan tentang kesyahidan tiga orang pemuda yang lahir dalam satu rahim, lahir dari seorang perempuan yang berhati mulai dan memiliki kecintaan ilahi yang membuatnya senantiasa berbesar hati merelakan ketiga anaknya berjuang sebagai pasukan hizbullah untuk melawan kekejaman zionis.

Bagaimana dengan baca-baca kebbeng (kebal) apakah itu bertentangan dengan konsep Syahid dalam perspertif Islam?

Baca-baca kebbeng adalah mantra yang bisa membuat seseorang tidak bisa luka atau kebal ketika terkena senjata tajam, senjata api dan sejenisnya. Dalam  pendidikan kesehatan sama halnya dengan obat anti biotik yang membuat tubuh kebal dari virus, cuman baca-baca kebbeng sifatnya non materi. Selain mantra ada juga benda-benda mistik yang menjadikan seseorang kebbeng seperti kulau bessi, rantai bawi, pabbekkeng dan lain-lain.

Pada dasarnya kebbeng seperti seseorang yang menggunakaan baju besi yang melindungi seluruh bagian tubuhnya akan tetapi baju besi itu tidak bisa dilihat oleh mata.

Tubuh yang terkena sejata tajam pasti akan luka karna itu adalah sunnatullah, jadi kenapa orang kebbeng tidak luka pada saat kena senjata? Karna ada yang melapisi bagian luar tubuhnya sehingga sejata itu tidak bersentuhan lansung dengan kulit. Pelapis itu dipasang menggunakan media mistik sehingga mata telanjang tidak bisa melihatnya.

Sejarah mencatat para pejuang di tanah bugis sangatlah gagah berani ketika melawan imprealisme barat. Belanda dalam hal ini yang dilengkapi dengan persenjataan yang canggih berupa mesin milter yang bersenjata lengkap harus dilawan menggunakan badik, tombak, dan bambu runcing.

Beberapa diantara pejuang pun menjadi sosok heroid dalam cerita tutur masyarakat, cerita tutur masyarakat mengisahkan mereka sebagai seorang yang kebbeng, ketika ditembak oleh pasukan belanda peluru itu tidak bisa melukainya, walaupun baju yang dipakai berlubang oleh peluru akan tetapi kulit yg didalam pakaian tidak lecet sama sekali. Dengan kekebalannya pula mereka begitu mudah melucuti persenjataan pasukan kolonial dan merampasnya..

Kebbeng sosok heroid dalam cerita tutur masyarakat kemudian diroproduksi oleh generasi kontemporer, Kebbeng kini dijadikan sebagai ajang jago-jago-an dikalangan pemuda yang katanya mereka itu kebbeng, Penyakit sosial yang ingin selalu di anggap hebat oleh orang sekitarnya menjadikan mereka begitu pecaya diri tampil dalam perkelahian kelompok karna mengandalkan kekebalannya.

Egoh etnik yang membabi buta yang sangat fanatik juga mengakibatkan terjadinya kompotisi heroisme antar etnis dan kualisi antar etnis dikalangan masyarakat. Mereka yang berada dalam lingkaran konflik etnis berbondong-bondong belajar baca-baca kebbeng untuk memenangkan kompetisi tersebut. Ditambah lagi campur tangan politisi pragmatis yang terkadang mejadikan mereka sebagai preman bayaran ketika ingin memenangkan persaingan kursi di pemerintahan dalam momentum pesta demokasi.

Mungkin beberapa orang berpendapat bahwa keberanian sosok heroid dalam cerita tutur masyarakat dan generasi kontemporer ditanah bugis karna mereka itu kebbeng !

Pertanyaannya kemudian adalah apakah orang-orang yang katanya mereka kebbeng tidak memahami konsep syahid dalam islam ataukah mereka takut mati ataukah kebbeng  dijadikan alternatif untuk membela agama islam ?

Berbeda dengan kaum mujahidin di Libanon yang sangat merindukan kesyahidan. Juni   1985 Operasi syahid diri memaksa tentara Israel dari sebagian besar wilayah selatan Libanon mundur sepenuhnya ke zona yang mereka namakan “zona keamanan” di selatan Libanon setelah sempat memduduki separuh Negara itu.

Oprasi syahid diri dilakukan dengan para pejuang sukarela mengemudikan mobil penuh bom ke sasaran-sasaran Israel, ada juga pejuang sukarela yang bertugas sebagai garda terdepan untuk menidentifkasi bom-bom ranjau yang dipasang oleh pasukan Israel, merelakan dirinya meledak bersama bom-bom ranjau, barulah setelah itu pejuang yang lain menyerang dengan bersenjatakan hanya senjata api ringan tetapi berlandaskan dengan iman yang kuat.

Rasulullah SAW menjanjikan tempat mulia disisi Allah SWT untuk para penghulu syuhada, menjanjikan surga bagi mereka yang syahid membela agama Allah SWT dan para walinya. Sebagaimana dulu para nabi dan  rasul yang syahid, sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT .  
Sebuah hadis Nabi menyatakan; ( ان أرواح الشهداء تأوي الى قناديل تحت العرش); “Sesungguhnya roh para syuhada ditempatkan dilampu-lampu di Arasy”. (Sumber-http://jalanakhirat.wordpress.com)

Sebagai ummat islam kenapa kita harus menjauhkan diri dari kesyahidan ? kenapa kita harus Kebbeng (kebal) kalau perjuangan kita atas dasar kecintaan kepada Allah dan para walinya ? kalaupun kebbeng itu di gunakan untuk membela agama Allah, argumentasi dan tindakan apa yang bisa membenarkan hal itu?

Merekalah orang-orang kebbeng yang sangat berkapitas untuk menjawab pertanyaan diatas sehubungan karna penulis bukan seseorang yang kebbeng ! jawaban penulis yang mungkin akan sangat subjektf dipaparkan dalam tulisan berikutnya.

Penulis : Haeruddin Syams Masagenae
 Sumber Foto : http://rohayadi.wordpress.com

Konstruksi Orde Baru: Indonesianisasi Tradisi Jawa

Ilustrasi
Pertama yang ingin saya pertegas bahwa tulisan bukan untuk mendiskreditkan salah satu suku ataupun membuat spekulasi tentang primordialisme, tapi tulisan ini merupakan refleksi hasil bacaan saya dari buku Pahlawan-pahlawan belia "keluarga Indonesia dalam poltik" : saya SASAKI SHIRAISHI. judul asli dari buku itu adalah Young Heroes : The Indonesian Family in Politics yang diterjemahkan pada tahun 2009 Buku ini merupakan hasil penelitian Etnografi SASAKI SHIRAISHI pada tahun 1989 tentang masyarakat orde baru yang saat itu amat tertekan oleh sistem pemerintahan. 

SASAKI SHIRAISHI, Penerapan politik kekeluargaan (politico-familial) oleh soeharto, memposisikan dirinya bukan hanya sebagai Presiden tetapi juga Bapak tertinggi (supreme father) dan menyebut pembantunya (menteri kabinet) sebagai anak, pengertian anak disini bukan secara bilogis melainkan sebagai hubungan kerja melihat umur para menteri hampir semua berumur 50-60-an jadi relasi kerja pemerintahan seperti sebuah keluarga, seorang anak harus patuh dan tunduk kepada orang tuanya (Bapak). 

Dalam memimpin dan membimbing Indonesia Soekarno sebagai Bapak tertinggi para pejabat pembantunya, seperti juga warga negara mengikutinya sebagai seorang anak seluruh bangsa dibayangkan sebagai sebuah keluarga yaitu keluarga jawa. Negara yang multi etnik sekitar tigaratus kelompok etnik yang masing-masing mempunyai budaya keluarga yang berbeda dipaksakan menjadi satu etnik sistem keluarga.

System keluarga dan budaya jawa diterapkan di Indonesia tanpa melakukan konvensi nasional, tetapi dengan menggunakan legitimasi hukum itu diterapkan sehingga elemem masyarakat menerimanya sebagai system pemerintahan Indonesia, mereka tidak menyadari bahwa dibailik itu semua terjadi Indonesianisasi Tradisi Jawa. 

Saya pernah mendengar cerita salah satu orang dikampung saya yang mendapat masa kepemimpinan Soeharto sebut saja namanya La Baco, beliau menceritakan bahwa orang-orang Jawa mendomisnasi pemerintahan pada saat itu sehingga muncul mainstream bahwa syarat untuk masuk dalam pemerintahan adalah harus orang jawa itulah kenapa La Baco memberikan nama Jawa kepada anaknya supaya terkesan anaknya itu orang Jawa karna La Baco berharap kedepan anaknya bisa masuk dalam struktur pemerintahan Indonesia.

Jawa dan Indonesia merupakan konstruksi sejarah dan budaya orde baru menurut Sasaki Shiraishi untuk mempelajari budaya politik Indonesia terutama mengenai system kekeluargaannya kita tidak harus berpaling ke desa-desa terpencil jawa untuk mencari aslinya, tetapi dangan mengkaji bagaimana keluarga “Indonesia” dibentuk dalam bahasa Indonesia secara historis, budaya, dan politik oleh orde baru dan sampai sekarang tetesan-tetesan konstruksi tersebut masih dirasakan oleh warga Negara Indonesia. 

Tidak heran jika kemudian beberapa hari nasional yang ditetepkan oleh pemerintah sangat identik dengan budaya jawa misalanya hari batik nasional, hari kartini yang identik dengan kebaya dan konde selain itu penetapan pahlawan nasional pun didominasi oleh orang-orang jawa silahkan buktikan sendiri dengan melihat daftar pahlawan nasional.

Konsep asimilasi budaya yaitu  adanya ideologi budaya kaum mayoritas (dominasi) dipaksakan kepada minoritas supaya minoritas mengenakan identitas budaya mayoritas. Yang harus digaris bawahi disini adalah mayoritas yang dimaksud bukan secara kuantitas sumber daya manusia akan tetapi dominasi peran dalam struktur pemerintahan. 

Budaya dominasi kemudian dijadikan sebagai budaya nasional dan diperkenalkan melalui pendidikan budaya formal dan informal seperti pentas wayang, media massa, penataran, buku-buku sekolah dan lain-lain. Salah satu novel terlaris tahun yang terbit akhir 1970-an, Arjuna Mencari Cinta ; Arjuna ialah tokoh pahlawan dalam wayang jawa, dia seorang kesatria tanpa tanding di medan laga, yang petualang cintanya tak kunjung memuaskan orang jawa. Buku-buku pendidikan Sekolah Dasar (SD) dimana nama-nama tokoh yang dalam buku itu adalah nama orang jawa misalnya ini bapa Budi, dan cerita-cerita perwayangan yang diterbitkan di majalah anak bobo.

Begitulah proses Jawanisasi Politik dan budaya Indonesia yang dilakukan oleh tokoh-tokoh nasional katanya.!!!


Penulis : Haeruddin Syams Masagenae 
Sumber Gambar : http://my.opera.com 

Oto Pa'berre Rese

Oto Pa'berre Rese
Secara sepintas  jika kita meilhat foto diatas maka akan terlintas dalam benak kita foto itu adalah barang ronsokan yang tidak bernilai dan berguna, akan tetapi jika kita pernah menyaksikan lansung gambar pada foto tersebut dioperasikan maka kita akan terkesimah betapa luar biasanya fungsi barang ronsokan tersebut.

Oto Paberre Rese’ (mobil penggiling padi) itulah nama foto diatas yang disepakti oleh orang bugis. Alat ini digunakan untuk mengkonversi padi menjadi beras. Industri manapun diluar negri kita tidak akan bisa menemukannya diproduksi karna Oto Paberre Rese’ merupakan hasil modivikasi masyarakat Bugis dengan bermodalkan pengetahuan dan skill lokal yang penuh dengan inovasi dan inspirasi.

Mereka bukanlah orang yang mempunyai gelar dibelakang namanya seperti A.md Teknik, Serjana.Teknik dan Master Engineering dan  sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal untuk mempelajari bagaimana membuat alat tersebut apa lagi mengejar gelar di luar negri seperti budaya tren saat ini dimana pelajar Indonesia berbondong-bondong untuk mengambil S2 diluar negri.

Secara tampak sederhana alat ini merupakan perpaduan antara penggiling padi dengan mobil open kap, perlu kemampuan khusus untuk bisa merancangnya mulai dari penempatan penggiling padi supaya keseimbangan mobil tetap normal, perlengkapan K3 supaya tidak membahayakan pada saat di operasikan, skiil mengelas supaya penggiling padi kokoh di atas mobil ketika mobil sedang melaju maupun pada saat menggiling padi sampai kepada bagaimana mengoprasikannya pada saat ingin mengkonversi padi menjadi beras.

Pengalaman adalah guru yang paling terbaik meskipun pada umumnya masyarakat desa tidak pernah mendengar kalimat tersebut tapi dalam proses pembelajaran mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Oto Paberre Rese’ salah satu alat yang diproduksi yang berawal dari pengalaman, misalnya dulu masyarakat desa harus membawa padi mereka ketempat penggiling padi dengan menggunakan mobil open kap. Dari pengalaman dan kebutukan itu mereka kemudian memikirkan merancang alat alternatiif untuk memudahkan proses penggilingan padi dangan cos yang lebih rendah. Jadi ada pengalaman - analisis kebutuhan - ide kreatif + skil lokal - produsi - alat. Hal itu sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh masyarakat modern yang sangat kapitalis, mereka semena-mena meproduksi alat modern tanpa ada analisis kebutuhan dari konsumen tapi mereka mebuatkan iklan di media seolah-olah alat modern itu merupakan kebutuhan masyarakat.

Oto Paberre Rese’ merupakan kreatifitas orang bugis sebagai bukti untuk membantahkan kosntruk sosial bahwa pemikiran masyarakat modern lebih maju dari pada masyarakat lokal. Kapasitas tidak diukur dari pendidikan formal ataupun gelar akademik akan tetapi seberapa banyak pengalaman didapatkan.

Makassar 12/01/2014
Penulis : Haeruddinn Syams Masagenae

SILSILAH DATU SUPPA


  1. We Tepulinge  
  2. La Teddung Lompo 
  3. La Pute Bulu 
  4. La Makkarawi  
  5. We Lampe Welua  
  6. We Tosappai  
  7. La Tenrisessu 
  8. To ManippiE  
  9. We tasi’ Petta UbangE  
  10. La Todani  
  11. La Tenri Tetta’  
  12. La Doko  
  13. To Dani  
  14. La Toware’  
  15. La Pamessangi  
  16. La Sangka  
  17. La Kuneng  
  18. La Tenri Lengka
  19.  We Tenri Waru  
  20. We Bubeng  
  21. La Tenri Sukki Mappanyukki  
  22. We Maddelu’  
  23. La Parenrengi  
  24. La Makassau  
  25. La Temmassongeng Abdullahi Bau’Massepe  
  26. La Patettengi (La Cante’)  
  27. We Soji  
  28. La Kuneng

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger