- La Bangenge
- La Teddung Lompo
- La Pute Bulu
- La Paleteyange
- We Gempo
- La Cela Mata
- La Pancai Tana
- We Pasule Datu BisuE Daeng Bulaeng
- La Tenri Pau
- La Makasau
- We Time Petta BattoaE
- La Toraja
- To Dani
- La Tenri Tatta Daeng To Mami
- La Doko
- La Kuneng
- We Time
- We Cine / Cinde
- La Cibu
- We Pasulle
- La Tamma
- We Beda
- We Tanri
- We Rukiya
Latest Article Get our latest posts by subscribing this site
SILSILAH ADDATUANG SAWITTO
Posted by haeruddinsyams
Posted on 10:08 AM
with 85 comments
AMARAH
Posted by haeruddinsyams
Posted on 9:31 AM
with No comments
Kenapa kalau ditegur ia lebih duluan marah ?
Padahal aku punya niat baik kepadanya, atau mungkin caraku yang kurang baik. hhhhe
Intinya nikmati proses.
#INDO LOGO
Refleksi 17 Agustus ; Ekspedisi SUMPUGI, Makam cinnong Tabi II, Arung Matoa IV, dan Syech Jamaluddin Al Akbar Al Husaini.
Posted by haeruddinsyams
Posted on 9:12 AM
with 3 comments
17 agustus 1945 dihalaman kediaman Soekarno Jalan Pengangsaan Timur No. 16 pukul 10:00 Wib, terdengar suara lantang yang bergema, menggetarkan hati bagi orang-orang yang mendengarkannya, Sang Proklamator Ir Sukarno mambacakan Naskah Kemerdekaan RI. Moment itu kemudian dijadikan hari kemerdekaan RI yang tiap tahun direfleksikan oleh semua kalangan masyarakat RI. Mulai dari upacara kemerdekaan, lomba bernyanyi, lomba pentas seni dan olahraga. Refleksi 17 agustus dijadikan moment untuk memuliakan para pejuang dan pendiri Negara RI.
Sabtu 17/Agustus/3013 LSM
Sempugi Makassar turut merefleksi hari kemerdekaan
RI, tapi sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh kalangan masyarakat RI pada
umumnya seperti yang telah dipaparkan diatas, mereka menginterpretasikan
nasionalisme dengan melakukan ekpedisi ketempat cagar budaya lokal tepatnya di
Kabupaten Wajo Makam cinnong Tabi II, Arung Matoa IV, dan Syech Jamaluddin Al
Akbar Al Husaini.
Kegiatan tersebut juga diramaikan oleh Founding Fathers Sempugi A.Rahmat Munawar, dan Noor Sidin (Ambo Upe) dan beberapa anggota lain seperti Roedy Rustam, Renaldi Maulana, Darsam Belana, Ridwan dan Haeruddin Syam Masagenae. Kegiatan ini juga sebagai bentuk perlawanan modernisasi barat yang menghegemoni masyarakat RI melalui budaya POP, yang membuat masyarakat RI pada umumnya melupakan Sejarah dan Budaya mereka sendiri. Ini diakibatkan karna mereka terlalu sering mengkomsumsi produk-produk budaya barat yang sangat amoral melaui media.
Kegiatan tersebut juga diramaikan oleh Founding Fathers Sempugi A.Rahmat Munawar, dan Noor Sidin (Ambo Upe) dan beberapa anggota lain seperti Roedy Rustam, Renaldi Maulana, Darsam Belana, Ridwan dan Haeruddin Syam Masagenae. Kegiatan ini juga sebagai bentuk perlawanan modernisasi barat yang menghegemoni masyarakat RI melalui budaya POP, yang membuat masyarakat RI pada umumnya melupakan Sejarah dan Budaya mereka sendiri. Ini diakibatkan karna mereka terlalu sering mengkomsumsi produk-produk budaya barat yang sangat amoral melaui media.
Ekspedisi Sureng Sempugi merupakan iktiar untuk menjaga cagar budaya
lokal yang saat ini terlupakan oleh masyarakat RI dan sungguh sangat ironis
ketika mereka bertengkar masalah silsilah sementara mereka tidak pernah
mengunjungi makam-makam tokoh yang mereka justufikasi bahwa mereka adalah
keturunan tokoh tersebut.
Saat sampai di lokasi makam sangat terlihat jelas bahwa makam itu kurang diperhatikan melihat bangunan-bangunanya sudah sangat rapuh, pagarnya juga sudah berjatuhan, halaman makam ditumbuhi tanaman liar, bahkan petani disekitaran salah satu makam menjadikannya sebagai tempat pakrir motor saat mereka turun kesawah. Pertanyaannya kemudian, dimana peran dinas pendidikan dan kebudayaan untuk merawat makam tersebut sementara ada anggaran yang dialokasikan pemerintah daerah untuk perawatan cagar budaya lokal?
Selama seharian
walhasil ekspedisi berjalan lancar, dari kondisi cagar budaya lokal yang begitu
memprihatinkan banyak hal yang harus dilakukan untuk menyelamatkan
peninggalan-peniggalan tersebut, salah satunya adalah berbagi keresahan kepada
masyarakat, Karna usaha sekecil apapun pasti memberikan efek untuk memperbaiki
peradaban lokal. adapun ekspektasi gerakan ini adalah untuk bisa menciptakan
masyarakat yang humanis melalui gerakan penyelamatan budaya dan sejarah.
(Mohon kritikan dan masukannya)
Haeruddin Syams
Masagenae
Mahasiswa dan Kehidupan Sosial ; Spekulasi Heroisme Mahasiswa
Posted by haeruddinsyams
Posted on 2:59 AM
with No comments
Akademis dan organisasi merupakan terminologi yang
selalu diidentikkan dengan mahasiswa yang dalam perkembangannya mengkonstruk logika
kompetisi yang tak berujung. Dimana indikator kemapanan mahasiswa akademisi
dengan indeks prestasinya yang tinggi sedangkan mahasiswa organisatoris dengan
improvisasi yang hebat. Kalau bercermin dari sejarah, seperti yang terjadi pada
saat penggulingan rezim orde baru dimana peran gerakan mahasiswa sangat besar
walaupun disatu sisi ada isu yang mengklaim bahwa gerakan tersebut adalah
kendaraan politisi partai sebagai batu loncatan karirnya dalam instansi
pemerintahan, moment ini tidak pernah disebutkan dalam sejarah bahwa perjuangan
tersebut hanya dilakukan oleh mahasiswa akademisi saja ataupun mahasiswa
organisatoris, akan tetapi mereka berbaur membuat simpul perjuang mahasiswa.
Coretan ini dalam rangka kegiatan Youth Camp
Kontribusi mahasiswa dalam sejarah perkembangan RI
telah menganggkat stratafikasinya, digambarkanlah posisi mahasiswa berada
ditengah-tengah antara rakyat dengan pemerintah sehingga timbul perspektif
dalam masyarakat mahasiswa sebagai kaum terdidik yang mampu menjadi motorik untuk
membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.
Buah dari gerakan mahasiswa yang sifatnya temorer yang
dicatat dalam sejarah, kini direproduksi menjadi cerita heroid, spekulasi
heroisme mahasiswa dijadikan dongeng yang dicerikan pada mahasiswa baru dalam
prosesi pengkaderan. Dimana spekulasi tersebut merupakan usaha pelarian dari ketidak mampuan
mahasiswa sekarang melakukan perlawanan terhadap dominasi oligarki dalam
lingkungan kampus.
Pengultusan inilah yang membuat mahasiswa besar
kepala seolah-olah harapan untuk mencapai sila ke 5 dari pancasila “keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” ada ditangan mereka, yang menjadi
pertanyaan kemudian kenapa sampai sekarang keadilan tersebut belum bisa
dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia? malah kondisinya keadilan itu hanya
milik orang kaya saja, begitu besar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin
secara finansial maupun dimata hukum.
Dikotomi mahasiswa, rakyat, dan pemerintah merupakan
kecelakaan berpikir yang terbangun selama ini, yang mejadikan rakyat
menggantungkan harapan mereka kepada mahasiswa atas kezaliman yang dilakukan
oleh penguasa, apakah perubahan bisa terwujud jika hanya mahasiswa yang
berjuang? Ohh tidak, itu sangat mustahil
karna tanpa ada integritas ketiga elemen tersebut secara komprehenshif maka
harapan untuk tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya
akan menjadi mimpi belaka.
Jadi dapat ditarik kesimpulan
bahwa masyarakat itu tersusun atas mahasiswa, rakyat, pemerintah dan tidak akan
berubah keadaan mereka kalau perjuangannya tidak sinergis untuk merubah keadaan
mereka sendiri menjadi lebih baik.
"
mohon kritikan dan masukannya"
Haeruddin Syams Masagenae
“Keluarga, sahabat, pacar dan pengaruhnya terhadap pengkaderan”
Posted by haeruddinsyams
Posted on 1:53 AM
with 1 comment
Ketimpangan sosial sering sekali di dapatkan dalam interaksi antar satu individu dengan individu yang lain dalam institusi sosial. Terkadang fenomena tersebut menjadi percikan api yang berujung pada perdebatan, permusuhan, bahkan sampai perkelahian, bisa juga sebaliknya. Ketimpangan sosial yang dimaksud adalah adanya perlakuan berbeda suatu individu dengan individu yang lain hal tersebut terjadi karna adanya ikatan sosial yakni sebagai keluarga, sahabat,dan pacar.
Berbicara
masalah pengkaderan tentu hal tersebut sangat identik dengan lembaga karna syarat
mutlak suatu lembaga , baik itu lembaga profit, kemahasiswaan, pemerintah
adalah regenerasi sebagai sosok untuk melanjutkan agenda-agenda lembaga
tersebut dan kualitas regenerasi sangat
dipengaruhi oleh prosesi pengkaderan struktural maupun kultural. Jadi bagaimana
seseorang regenerasi ditempa sedemikian rupa untuk menghasilkan generasi yang
berkulitas, dalam proses pengkderan inilah dilakukan internalisasi nilai-nilai tujuan
lembaga tersebut.
Pengkaderan
akan sangat normatif jikalah didefenisikan dengan pendekatan lembaga, mari kita membahas pengkaderan
secaran universal dengan menggunakan pendekatan spirit perjuangan “setiap
hembusan nafas adalah pengkaderan” pada
dasarnya pengkaderan merupakan metodelogi
untuk menularkan spirit perjuangan kepada seseorang, dengan kata lain
ada transformasi nilai. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan rasa perhatian
lebih dan saling menjaga satu sama lain, walaupun tanpa adanya ikatran
keluarga, sahabat, dan pacar, jadi esensi proses pengkaderan adalah bagaimana
individu memberikan perhatian lebih terhadap individu yang lain begitu pula
sebaliknya, dan saling menjaga satu sama lain dan hal tersebut dilakukan dalam
setiap hembusan nafas. Esensi itulah yang akan menghasilkan ikatan spirit
perjuangan lebih kuat dari ikatan keluarga, sahabat, dan pacar.
Pada
dasarnya keluarga adalah ikatan darah antara satu individu dengan individu yang
lainnya dan sangat normatif. Hal itu bisa dilihat dari kartu keluarga (KK) dan
informasi lisan dari individu yang memiliki ikatan darah seperti, kakek, ayah,
dan saudara. Keluarga juga terkadang didefenisikan sebagai kesamaan dalam suatu
komunitas seperti kesamaan suku, mahasiswa, profesi kerja dll. itulah beberapa
gambaran keluarga, selanjutnya akan diintegritaskan bagaimama pengaruhnya
terhadap proses pengkaderan.
Pembasan
diatas telah disampaikan esensi pengkaderan yakni rasa perhatian dan saling
mejaga satu sama lain, jikalah hal tersebut tidak bisa diintegrasikan didalam
lingkungan keluarga maka akan menimbulkan kecanggungan untuk berkomunikasi dan
bahkan bisa saling tidak mengenal kalau keluarga tersebut berdomisili ditempat
yang berbeda, sebaliknya jika esensi pengkaderan bisa di integrasikan dalam
interaksi sosial maka akan menghasilkan ikatan kekeluargaan yang sangat kuat
walaupun tanpa adanya ikatan darah, begitu pula dengan ikatan sahabat dan
pacar.
( Mohon kritikan dan sarannya )
Haeruddin Syams
Masagenae
EYD dan Fenomena Okkots
Posted by haeruddinsyams
Posted on 9:10 AM
with 2 comments
Jakarta 27/Agustus/1975 menteri pendidikan dan kebudayaan RI menetapkan UU No. 0195/U/1975 tentang peresmian berlakunya pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (sumber wikipedia), melalui ketetapan tersebut bahasa RI diseragamkan sesuai dengan EYD. Seiring dengan itu ada beberapa pertayaan yang wajib untuk di ketahui, pertama apakah menteri pendidikan dan kebudayaan RI pada saat itu mempertimbangkan efek yang ditimbukan dari ketetapan tersebut.?
Seperti kepunahan bahasa lokal yang jumlahnya 746 ! (sumber http://bahasa-nusantara.blogspot.com) yang kedua apakah EYD refresentatif dari semua bahasa lokal yang ada di RI ? minimal satu kata dari semua bahasa lokal dimasukkan dalam bahasa Indonesia yang disempurnakan, ataukah hanya mewakili satu bahasa lokal saja yang kemudian melalui ketetapan UU EYD digunakan sebagai legatimasi untuk mengintervensi masyarakat Indonesia menggunkan bahasa tersebut dengan alasan persatuan, yang ketiga apakah EYD bisa beradaptasi dengang bahasa lokal ditiap-tiap daerah RI tanpa mencederai nilai-nilai kearifan lokal ? karna masing-masing bahasa lokal memiliki dialek yang berbeda dalam mengucapkan huruf dan kata.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut penulis memiliki jawaban yang bebas nilai, dimana setiap pembaca bebas memberikan jawaban sesuai dengan apa yang mereka pahami.
Dalam perkembangannya kemudian, EYD menjadi bumerang munculnya budaya okkots dalam masyarakat bugis/makassar, parahnya lagi dikalangan remaja tidak mau lagi menggunakan bahasa lokal karna dianggap katro, kolot, atau bahasa kerennya tidak gaul dan beberapa diantara mereka mengolok-olok ketika mendengar seseorang menggunakan bahasa bugis/makassar.
Defenisi okkots yang dimaksud disini adalah menambahkan, mengurangi, dan mengganti huruf pada kata yang sudah disempurnakan. Seperti ‘bukan+G, kapan+G, dan+G, lain+G, lain+G. disini dapat dilihat bahwa EYD susah beradaptasi dalam dialek bugis/makassar, karna pada dasarnya pengucapan kata dalam bahasa bugis/mekassar sangat identik dengan akhiran ‘NG’ tidak ada satu katapun dalam bahasa bugis/makassar yang berakhiran ‘N’ pasti kata yang berakhiran ‘N’ disertai dengan ‘G’ jadi dialek bugis/mengkasar sudah terbiasa mengucapkan akhiran ‘NG’.
Ketika kemudian EYD digunakan dalam berkomunikasi penambahan huruf ‘G’ pada kata yang huruf terakhirnya ‘N’ itu merupakan sebuah kewajaran dimana EYD dikombinasikan dengan dialek bahasa bugis/makassar. Sangat tidak adil jika memarginalkan orang bugis/makassar hanya karna menambahkan huruf ‘G’ pada kata yang berakhiran ‘N’ dan sangat lucu, bodoh, memalukan orang bugis/makassar yang merasa teralienasi jika menggunakan bahasa lokalnya sendiri, sementara darah yang mengalir dalam tubuhnya didapatkan dari orang bugis/makassar yang dulunya sangat bangga dengan identitasnya.
Sama halnya ketika EYD diterapkan dalam bahasa lokal yang lain seperti bahasa ‘kemane aje’ (kemana saja), ‘nda ape-ape (tidak apa-apa), kalau kita sepakat dengan defenisi okkots yang telah dijelaskan sebelumnya maka bahasa tersebut bisa dikatagorikan sebagai okkots. Akan tetapi mereka dengan dialeknya sangat bangga dan percaya diri, bahkan mereka tampil di film, acara-acara TV lainnya dengan bahasa ‘kemane aje’ (kemana saja), ‘nda ape-ape (tidak apa-apa) yang pada dasarnya itu adalah okkots. itulah yang membedakannya dengan orang bugis/makassar yang mereduksi budaya "siri na pesse" dan menyebabkan mereka merasa teralienasi dengan okkotsnya.
-HS’Masagenae
INI CERITA KU (BAKTI SOSIAL KMP PNUP)
Posted by haeruddinsyams
Posted on 9:21 AM
with 2 comments
Desa
Suppirang, leppangan, dan salusape, kecamatan lembang merupakan merupakan
daerah yang berada dikabupaten pinrang letaknya kira-kira 30 km dari pusat
pemerintahan. Akses jalan dari kota kecamatan menuju desa saat ini sudah bisa
dilewati menggunakan sepeda motor walaupun jalannya belum diaspal. Didesa
leppangan hanya ada 5 rumah dan desa salusape 3 rumah, masyarakat kesehariannya
bekerja sebagai petani yang merupakan sumber penghidupan untuk memenuhi
kebuthan keluarga. Mayoritas anak-anak disana belum bisa menikmati pendidikan
gratis yang selalu dikampanyekan politikus partai saat berkunjung didesa
tersebut. Sungguh sangat ironis ketika melihat kehidupan eksklusif dan glamor
anggota pemerintahan kabupaten pinrang sementara masih banyak penduduknya yang
harus bermandikan keringat hanya untuk mencari sesuap nasi.
![]() |
| Foto Bersama Anak-anak di Desa Salusapae |
Hari senin 5
agustus 2013 bertepatan dengan ibadah puasa yang ke 27 mahasiswa KMP PNUP
melakukan kegiatan Bakti Sosial, selain kegiatan tersebut merupakan program
kerja organisasi juga merupakan interpretasi fungsi mahasiswa yaitu social of
control, dimana mahasiswa harus berpartisipasi reel ditengah-tengah kehidupan
masyarakat. Inilah bentuk tindakan kemanusiaan yang sangat mulia oleh mahasiswa
KMP PNUP dengan membuat kegiatan Bakti Sosial. Ada beberapa item dalam kegiatan
baksos tersebut, yang pertama membersihkan mesjid didesa suppirang, yang kedua
membagikan bahan makanan berupa telur, indomie, ikan kaleng, minyak goreng
didesa leppangan dan salusape.
Mahasiswa KMP PNUP sangat antusias dalam menjalankan
kegiatan tersebut mulai dari anggota kehormatan, pengurus, dan adik-adik
mahasiswa baru yang sangat bersemangat ketika dalam perjalanan menuju desa,
walaupun harus melewati jalan terjal yang penuh dengan bebatuan sampai-sampai
mereka harus menyebrangi sungai untuk sampai kedesa. Yang paling luar biasa
adalah semangatnya tetap berkobar saat salah satu diantara mereka terjatuh dari
motor dan ada juga yang terpeleset sampai jatuh di air saat menyebrangi sungai.
11:00 wita desa suppirang, agenda pertama
membersihkan mesjid, Mahasiswa KMP PNUP sampai didesa suppirang tepatnya
didepan mesjid, dengan arahan ketua KMP dan ketua panitia baksos mereka
masing-masing mengambil peran untuk membersihkan mesjid seperti
menyapu/mengepel lantai, merapikan barang-barang dan perlengkapan ibadah, tapi
ada juga beberapa diantara mereka yang bermalas-malasan, hanya duduk sembil
cerita dan tertawa disekitaran mimbar mesjid. Dalam keadaan menjalankan ibadah
puasa ditambah lagi cengkraman panas matahari yang membuat energi terkuras dan
tubuh kelelahan mereka tetap memancarkan senyum bahagia diwajahnya bagaikan
lilin yang meleburkan dirinya untuk menjaga agar bunga api tetap menyala agar
dapat memancarkan cahaya ditengah-tengah kegelapan. Inilah karakter kader KMP
PNUP yang memiliki spirit perjuangan dalam menyelesaikan tanggung jawab.Satu jam berlalu dengan dibumbuhi canda tawa
akhirnya kegiatan membersihkan mesjid
pun selesai, mereka kemudian melaksanakan sholat duhur berjamah bersama
dengan masyarakat sekitar dilanjutkan dengan briefing untuk mengevaluasi dan
mebicarakan agenda berikutnya, ketua KMP sempat mengevaluasi kekurangan saat
membersihkan mesjid yaitu WC yang tersumbat belum sempat diperbaiki dan
harusnya bisa memberikan bantuan berupa lap kaki karna mesjid tersebut tidak
memiliki lap kaki. Briefing selesai, perjalanan dilanjutkan untuk menyelesaikan
agenda kedua. Jarak yang harus ditempuh untuk sampai kedesa berikutnya sekitar
4-5 km melewati jalan yang sangat tidak bersahabat ini karna kurangnya
perhatian pemerintah setempat untuk memperbaiki jalan tersebut.
13:45 akhirnya sampai didesa leppangang, barisan motor diparkir rapi dibawah rumah masyarakat kemudian mereka burkumpul untuk membagi team kerja yang akan melakukan pembagian bahan makanan ditiap-tiap rumah. Sesuai kesepakatan team terbagi dua dan tiap team terdiri dari 4-5 orang, setelah terbentuknya team mereka kemudian mendatangi rumah masyarakat untuk membagikan bahan makan. Ada juga beberapa anggota yang hanya tinggal duduk santai bercanda ria dibawah rumah dan menikmati pemandangan alam sambil berfoto-foto. Saat sampai dirumah masyarakat tiap team terlebih dahulu berbincang-bincang dan meminta kesediaan masyarakat untuk menerima pemberian bahan makanannya, karna biasanya masyarakat desa pinrang “masiri” malu menerima pemberian seseorang terlebih lagi kalau mereka tidak mengenal siapa orang tersebut, itulah tipologi masyarakat pedesaan dipinrang yang menjadikannya tekun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka karna ada konstruk budaya lokal dalam pahaman mereka ‘jangan pernah berharap pemberian seseorang, ketika engkau masih bisa mencarinya. Berhubung hanya ada 5 rumah didesa leppangan jadi tidak memakan banyak waktu untuk membagikan bahan makanannya, mereka dapat menyelesaikan dalam waktu kurang lebih 30 menit, begitu pula didesa salusape.
13:45 akhirnya sampai didesa leppangang, barisan motor diparkir rapi dibawah rumah masyarakat kemudian mereka burkumpul untuk membagi team kerja yang akan melakukan pembagian bahan makanan ditiap-tiap rumah. Sesuai kesepakatan team terbagi dua dan tiap team terdiri dari 4-5 orang, setelah terbentuknya team mereka kemudian mendatangi rumah masyarakat untuk membagikan bahan makan. Ada juga beberapa anggota yang hanya tinggal duduk santai bercanda ria dibawah rumah dan menikmati pemandangan alam sambil berfoto-foto. Saat sampai dirumah masyarakat tiap team terlebih dahulu berbincang-bincang dan meminta kesediaan masyarakat untuk menerima pemberian bahan makanannya, karna biasanya masyarakat desa pinrang “masiri” malu menerima pemberian seseorang terlebih lagi kalau mereka tidak mengenal siapa orang tersebut, itulah tipologi masyarakat pedesaan dipinrang yang menjadikannya tekun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka karna ada konstruk budaya lokal dalam pahaman mereka ‘jangan pernah berharap pemberian seseorang, ketika engkau masih bisa mencarinya. Berhubung hanya ada 5 rumah didesa leppangan jadi tidak memakan banyak waktu untuk membagikan bahan makanannya, mereka dapat menyelesaikan dalam waktu kurang lebih 30 menit, begitu pula didesa salusape.
![]() |
| Desa Leppangang |
Setelah kegiatan Bakti Sosial
selesai, mereka berkumpul didesa bungi tepatnya rumah saudari Nunu Bondeng
untuk berbuka puasa ‘menikmati masakan ala mace Nunu Bondeng’.
Mohon keritikan dan masukannya (atau sekalian ditambah)
Mohon keritikan dan masukannya (atau sekalian ditambah)
“HAERUDDIN
SYAM MASAGENAE”
Paseng III (Paparingerrang dalam Bahasa Bugis)
Posted by haeruddinsyams
Posted on 3:50 PM
with No comments
Eppai pasalewangengngi seddie tau;
- Teppalaloengngi ada-ada masala naewae situdangeng.
- Teppaliwengiengiengngi gau' siratannae.
- Moloiwi ropporoppo narewe' paimeng.
- Molai laleng namatike'
Artinya :
Ada empat hal yang membuat orang selamat ;
- Tidak menyinggung dengan kata-kata sesamanya yang duduk.
- Tidak melampaui batas kewajaran
- Menemui janlan buntu, dia kembali
- Melewati sebuah jalan, dia hati-hati.
- Teppalaloengngi ada-ada masala naewae situdangeng.
- Teppaliwengiengiengngi gau' siratannae.
- Moloiwi ropporoppo narewe' paimeng.
- Molai laleng namatike'
Artinya :
Ada empat hal yang membuat orang selamat ;
- Tidak menyinggung dengan kata-kata sesamanya yang duduk.
- Tidak melampaui batas kewajaran
- Menemui janlan buntu, dia kembali
- Melewati sebuah jalan, dia hati-hati.
Paseng I (Paparingerrang dalam Bahasa Bugis)
Posted by haeruddinsyams
Posted on 3:26 PM
with No comments
Engngerangngi duwae - alupaiwi duwae :
- Engngerangngi pappedecenna tau laingnge lao rilaemu
- Engngerang toi pappeja'mu lao ripadammu tau.
- Alupaiwi pappeja'na padammu tau lao rialemu
- Alupai toi pappedecemmu lao ripadammu tau.
Artinya :
Ingat dua hal dan lupakan dua hal ;
- Ingatlah kebaikan orang lain terhadap dirimu
- Ingat juga keburukan dirimu terhadap orang lain.
- Lupakan kebaikan kamu terhadap orang lain
- Lupakan juga keburukan orang lain terhadap dirimu.
- Engngerangngi pappedecenna tau laingnge lao rilaemu
- Engngerang toi pappeja'mu lao ripadammu tau.
- Alupaiwi pappeja'na padammu tau lao rialemu
- Alupai toi pappedecemmu lao ripadammu tau.
Artinya :
Ingat dua hal dan lupakan dua hal ;
- Ingatlah kebaikan orang lain terhadap dirimu
- Ingat juga keburukan dirimu terhadap orang lain.
- Lupakan kebaikan kamu terhadap orang lain
- Lupakan juga keburukan orang lain terhadap dirimu.
Paseng II (Paparingerrang dalam Bahasa Bugis)
Posted by haeruddinsyams
Posted on 3:47 PM
with No comments
Patampuangeng murennuangngi
- Seuwani awaraningengnge, maduanna accae, matelluna asugirengngi, maeppana dara'e.
- Apa aju tabu'e satu sikuwae. Iya aju tabu'e
- Tellu onrong de'sa tu naonroi madeceng.
- Ritaro ritanae nanre'i bebbu'e, ritaro'i ri uwae'i masigai atamang,
- Ritaro'i ri apie masigai puppu.
Artinya:
Jangan berharap kepada empat jenis iaitu;
- Pertama; keberanian, kedua; kepintaran,
ketiga;kekayaan.keempat derajat/keturunan.
- Sebab keempat ini adalah umpama kayu lapuk.
- Adapun kayu lapuk tak bisa disimpan dengan baik.
- Di tanah dimakan rayap. Di simpan di air akan terendam basah.
- Disimpan di api cepat habis terbakar.
- Seuwani awaraningengnge, maduanna accae, matelluna asugirengngi, maeppana dara'e.
- Apa aju tabu'e satu sikuwae. Iya aju tabu'e
- Tellu onrong de'sa tu naonroi madeceng.
- Ritaro ritanae nanre'i bebbu'e, ritaro'i ri uwae'i masigai atamang,
- Ritaro'i ri apie masigai puppu.
Artinya:
Jangan berharap kepada empat jenis iaitu;
- Pertama; keberanian, kedua; kepintaran,
ketiga;kekayaan.keempat derajat/keturunan.
- Sebab keempat ini adalah umpama kayu lapuk.
- Adapun kayu lapuk tak bisa disimpan dengan baik.
- Di tanah dimakan rayap. Di simpan di air akan terendam basah.
- Disimpan di api cepat habis terbakar.
“Pragmatisme dalam Berorganisasi”
Posted by haeruddinsyams
Posted on 6:34 AM
with No comments
Masih adakah mahasiswa ideal, yang rela mengorbankan waktu, material, dan pemikiran untuk berhikmat kepada sesama manusia yang membutuhkan bantuan, yang terorganisir dalam sebuah wadah dan bergerak secara kolektif di “Organisasi Kemahasiswaan”! ! !
Ungkapan prihatin penulis coba curahkan dalam coretan ini, melihat realitas organisasi kemahasiswaan yang mengalami Disorientasi. Hal mendasar sebagai indikator untuk membenarkan Distorsi tersebut adalah terlalu banyak kepentingan pribadi seseorang dalam berpartisipasi di organisasi kemahasiswaan, dan menafikkan kepentingan bersama, baik itu kepentingan materil ataupun kepentingan intelektual.
Setelah mendapatkan kepentingannya di organisasi maka berbondong-bondonglah mereka meninggalkan organisasi tersebut, yang mana tempat mereka menimbah ilmu dan memenuhi kepentingannya. Lebih parah lagi di antara mereka yang berpartisipasi dalam organisasi kemahasiswaan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka yang menunjang hidupnya selama menjalani status akademik sebagai mahasiswa.
Entah mengapa sangat susah mendapatkan kader ideal yang rela berhikmat untuk organisasi yang meniscayakan implikasi terhadap masyarakat yang membutuhkannya. Seolah-olah organisasi kemahasiswaan adalah organisasi yang orientasinya untuk mencari keuntungan secara material untuk memberikan gaji kepada semua anggotanya, ini akikbat persepsi material yang sudah berkarat dikalangan civitas akademik mahasiswa yang terkonstruk oleh hegemoni media.
Jika kita melihat sejarah 1998 saat tumbangnya rezin Suharto peran aktor organisasi kemahasiswaan sangat besar, karna memiliki kader yang sangat progresif dan sangat ideal. Tapi kini kesuksesan gerakan organisasi kemahasiswaan hanya tinggal cerita heroid yang disajikan sedemikian rupa baik itu di pengkaderan struktural maupun dalam kajian-kajian kultural. Harus kita pahami bersama bahwa peran organisasi kemahasiswaan pada saat menumbangkan rezim Suharto sangatlah besar.
Salah seorang tokoh sosial yaitu E.Humans menyatakan bahwa seseorang melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan hadiah, atau untuk mendapatkan keuntungan. Seseorang yang dinyatakan oleh E.Humans sangat mayoritas dalam organisasi kemahasiswaan yang mana mereka berpartisipasi dalam organisasi semata-semata hanya untuk kepentingan pribadi, atau dalam bahasa lainnya pragmatisme dalam berorganisasi.
Inilah pandangan subjektifitas penulis yang di curahkan dalam sebuah tulisan, yang dinilai dari kaca mata penulis bahwa kader-kader atau regenerasi dalam organisasi kemahasiswaan mayoritas sangat pragmatis. Maka dari pada itu penulis mengajak kepada para pembaca untuk memberikan perhatian lebih terhadap realitas tersebut karna menurut penulis ini tanggung jawab kita bersama.
Bahwa kompleksitas masalah organisasi kemahasiswaan sekarang membutuhkan formulasi-formulasi yang baru untuk eksistensinya kedepan, dan hal itu membutuhkan buah pemikiran kawan-kawan, karna untuk terpenuhinya ekspektasi bangsa ini sangat di pengaruhi oleh proses regenerasi di organisasi kemahasiswaan
Makassar 09 November 2012
Haeruddin Syams Masagenae
“SURAT DARI MAHASISWA UNTUK BIROKRASI”
Posted by haeruddinsyams
Posted on 6:21 AM
with No comments
Seorang ulama berkata ;
Bayarlah sebuah luka dengan kebaikan,,,,
Seorang dosen berkata ; Jika
kamu membayar luka dengan kebaikan , lalu dengan apa kamu membalas kebaikan
? “kamu seharusnya membayar sebuah luka dengan
keadilan dan kebaikan dengan kebaikan…
Wahai para orang tua kami yang duduk di kursi birokrasi kampus Hitam Politeknik Negeri Ujung Pandang, kami itu sering bertanya ketika kalian bertemu dengan kami, yang tersudut dengan interpensi kalian melalui KOMPEN (kompenisasi yang dibayar ketika tidak masuk kuliah), pembatasan jam ekstrakurikuler, dan pemotongan beasiswa saat kami mendemonstrasikan inspirasi kami. Apa yang sesungguhnya kalian pikirkan tentang kami?
Jika kalian dengan baju yang bersih kemudian melakukan ibadah dan berdoa, sungguh kami ingin tau doa apa yang kalian panjatkan kehadapan tuhan. Kadang dalam bilik kepala kami yang kecil ini muncul pertanyaan,"Mengapa mahasiswa selalu saja tidak pernah percaya dengan keputusan yang kalian ambil? Saat kami tersudut dengan teguran kalian atas demonstrasi kami, mengapa kalian asyik berwisata keluar negeri.
Kekuasaan memang panggung yang lebih baik dijalankan dengan seni peran, ketimbang dengan tindakan-tindakan yang nyata, karena berupa panggung maka yang dibutuhkan kadang buka kejujuran, tapi kecerdikan untuk meyakinkan penonton. “Bahwa apa yang sedang pura-pura dilakukan, buatlah seolah-olah sebagai adengan yang sungguh-sungguh”.
Jika kami boleh meminta keajaiban, kami minta agar para penguasa yang duduk dikursi birokrasi menyapa kami disudut kantin, seperti anaknya sendiri yang dia sayangi. Kami membayangkan suatu saat ketika kalian akan turun dari kursi kekuasaan, dan kalian mengucupkan kalimat yang tak pernah sekalipun kalian katakan,"Anakku maafkan kami atas kebijakan, tindakan, dan sikap kami yang tidak sesuai dengan harapanmu, sekali lagi maafkan kami.
Suara Aspirasi Mahasiswa Sudut Kantin
Makassar, 09 November 2012
Haeruddin Syams Masagenae





