Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

SILSILAH ADDATUANG SAWITTO

  1. La Bangenge
  2. La Teddung Lompo
  3. La Pute Bulu 
  4. La Paleteyange 
  5. We Gempo 
  6.  La Cela Mata 
  7. La Pancai Tana 
  8. We Pasule Datu BisuE Daeng Bulaeng 
  9. La Tenri Pau 
  10. La Makasau 
  11. We Time Petta BattoaE
  12. La Toraja 
  13. To Dani 
  14.  La Tenri Tatta Daeng To Mami 
  15. La Doko 
  16. La Kuneng 
  17. We Time
  18.  We Cine / Cinde 
  19. La Cibu 
  20. We Pasulle 
  21. La Tamma 
  22. We Beda 
  23. We Tanri
  24.  We Rukiya

AMARAH

Kenapa kalau ditegur ia lebih duluan marah ?
Padahal aku punya niat baik kepadanya, atau mungkin caraku yang kurang baik. hhhhe
Intinya nikmati proses.

#INDO LOGO

KRIS PUSAKA

KRIS PUSAKA

Refleksi 17 Agustus ; Ekspedisi SUMPUGI, Makam cinnong Tabi II, Arung Matoa IV, dan Syech Jamaluddin Al Akbar Al Husaini.


17 agustus 1945 dihalaman kediaman Soekarno Jalan Pengangsaan Timur No. 16 pukul 10:00 Wib, terdengar suara lantang yang bergema, menggetarkan hati bagi orang-orang yang mendengarkannya, Sang Proklamator Ir Sukarno mambacakan Naskah Kemerdekaan RI. Moment itu kemudian dijadikan hari kemerdekaan RI yang tiap tahun direfleksikan oleh semua kalangan masyarakat RI. Mulai dari upacara kemerdekaan, lomba bernyanyi, lomba pentas seni dan olahraga. Refleksi 17 agustus dijadikan moment untuk memuliakan para pejuang dan pendiri Negara RI.

Sabtu 17/Agustus/3013 LSM  Sempugi Makassar turut merefleksi hari kemerdekaan RI, tapi sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh kalangan masyarakat RI pada umumnya seperti yang telah dipaparkan diatas, mereka menginterpretasikan nasionalisme dengan melakukan ekpedisi ketempat cagar budaya lokal tepatnya di Kabupaten Wajo Makam cinnong Tabi II, Arung Matoa IV, dan Syech Jamaluddin Al Akbar Al Husaini. 

Kegiatan tersebut juga diramaikan oleh Founding Fathers Sempugi A.Rahmat Munawar, dan Noor Sidin (Ambo Upe) dan beberapa anggota lain seperti Roedy Rustam, Renaldi Maulana, Darsam Belana, Ridwan dan Haeruddin Syam Masagenae. Kegiatan ini juga sebagai bentuk perlawanan modernisasi barat yang menghegemoni masyarakat RI melalui budaya POP, yang membuat masyarakat RI pada umumnya melupakan Sejarah dan Budaya mereka sendiri. Ini diakibatkan karna mereka terlalu sering mengkomsumsi produk-produk budaya barat yang sangat amoral melaui media.

Ekspedisi Sureng Sempugi merupakan iktiar untuk menjaga cagar budaya lokal yang saat ini terlupakan oleh masyarakat RI dan sungguh sangat ironis ketika mereka bertengkar masalah silsilah sementara mereka tidak pernah mengunjungi makam-makam tokoh yang mereka justufikasi bahwa mereka adalah keturunan tokoh tersebut.

Saat sampai di lokasi makam sangat terlihat jelas bahwa makam itu kurang diperhatikan melihat bangunan-bangunanya sudah sangat rapuh, pagarnya juga sudah berjatuhan, halaman makam ditumbuhi tanaman liar, bahkan petani disekitaran salah satu makam menjadikannya sebagai tempat pakrir motor saat mereka turun kesawah. Pertanyaannya kemudian, dimana peran dinas pendidikan dan kebudayaan untuk merawat makam tersebut sementara ada anggaran yang dialokasikan pemerintah daerah untuk perawatan cagar budaya lokal?
 
Makam Arungmatoa IV
Selama seharian walhasil ekspedisi berjalan lancar, dari kondisi cagar budaya lokal yang begitu memprihatinkan banyak hal yang harus dilakukan untuk menyelamatkan peninggalan-peniggalan tersebut, salah satunya adalah berbagi keresahan kepada masyarakat, Karna usaha sekecil apapun pasti memberikan efek untuk memperbaiki peradaban lokal. adapun ekspektasi gerakan ini adalah untuk bisa menciptakan masyarakat yang humanis melalui gerakan penyelamatan budaya dan sejarah.
(Mohon kritikan dan masukannya)

Haeruddin Syams Masagenae

Mahasiswa dan Kehidupan Sosial ; Spekulasi Heroisme Mahasiswa

Akademis dan organisasi merupakan terminologi yang selalu diidentikkan dengan mahasiswa yang dalam perkembangannya mengkonstruk logika kompetisi yang tak berujung. Dimana indikator kemapanan mahasiswa akademisi dengan indeks prestasinya yang tinggi sedangkan mahasiswa organisatoris dengan improvisasi yang hebat. Kalau bercermin dari sejarah, seperti yang terjadi pada saat penggulingan rezim orde baru dimana peran gerakan mahasiswa sangat besar walaupun disatu sisi ada isu yang mengklaim bahwa gerakan tersebut adalah kendaraan politisi partai sebagai batu loncatan karirnya dalam instansi pemerintahan, moment ini tidak pernah disebutkan dalam sejarah bahwa perjuangan tersebut hanya dilakukan oleh mahasiswa akademisi saja ataupun mahasiswa organisatoris, akan tetapi mereka berbaur membuat simpul perjuang mahasiswa. 
 
Kontribusi mahasiswa dalam sejarah perkembangan RI telah menganggkat stratafikasinya, digambarkanlah posisi mahasiswa berada ditengah-tengah antara rakyat dengan pemerintah sehingga timbul perspektif dalam masyarakat mahasiswa sebagai kaum terdidik yang mampu menjadi motorik untuk membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Buah dari gerakan mahasiswa yang sifatnya temorer yang dicatat dalam sejarah, kini direproduksi menjadi cerita heroid, spekulasi heroisme mahasiswa dijadikan dongeng yang dicerikan pada mahasiswa baru dalam prosesi pengkaderan. Dimana spekulasi tersebut merupakan usaha pelarian dari ketidak mampuan mahasiswa sekarang melakukan perlawanan terhadap dominasi oligarki dalam lingkungan kampus.

Pengultusan inilah yang membuat mahasiswa besar kepala seolah-olah harapan untuk mencapai sila ke 5 dari pancasila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” ada ditangan mereka, yang menjadi pertanyaan kemudian kenapa sampai sekarang keadilan tersebut belum bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia? malah kondisinya keadilan itu hanya milik orang kaya saja, begitu besar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin secara finansial maupun dimata hukum.

Dikotomi mahasiswa, rakyat, dan pemerintah merupakan kecelakaan berpikir yang terbangun selama ini, yang mejadikan rakyat menggantungkan harapan mereka kepada mahasiswa atas kezaliman yang dilakukan oleh penguasa, apakah perubahan bisa terwujud jika hanya mahasiswa yang berjuang? Ohh tidak,  itu sangat mustahil karna tanpa ada integritas ketiga elemen tersebut secara komprehenshif maka harapan untuk tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya akan menjadi mimpi belaka.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat itu tersusun atas mahasiswa, rakyat, pemerintah dan tidak akan berubah keadaan mereka kalau perjuangannya tidak sinergis untuk merubah keadaan mereka sendiri menjadi lebih baik.

Coretan ini dalam rangka kegiatan Youth Camp



" mohon kritikan dan masukannya"
Haeruddin Syams Masagenae
 

“Keluarga, sahabat, pacar dan pengaruhnya terhadap pengkaderan”


Ketimpangan sosial sering sekali di dapatkan  dalam interaksi antar satu individu dengan individu yang lain dalam institusi sosial. Terkadang  fenomena tersebut menjadi percikan api yang berujung pada perdebatan, permusuhan, bahkan sampai perkelahian, bisa juga sebaliknya. Ketimpangan sosial yang dimaksud adalah adanya perlakuan berbeda suatu individu dengan individu yang lain hal tersebut terjadi  karna adanya ikatan sosial yakni sebagai keluarga, sahabat,dan pacar.

Berbicara masalah pengkaderan tentu hal tersebut sangat identik dengan lembaga karna syarat mutlak suatu lembaga , baik itu lembaga profit, kemahasiswaan, pemerintah adalah regenerasi sebagai sosok untuk melanjutkan agenda-agenda lembaga tersebut dan  kualitas regenerasi sangat dipengaruhi oleh prosesi pengkaderan struktural maupun kultural. Jadi bagaimana seseorang regenerasi ditempa sedemikian rupa untuk menghasilkan generasi yang berkulitas, dalam proses pengkderan inilah dilakukan internalisasi nilai-nilai tujuan lembaga tersebut.

Pengkaderan akan sangat normatif jikalah didefenisikan dengan pendekatan lembaga, mari kita membahas pengkaderan secaran universal dengan menggunakan pendekatan spirit perjuangan “setiap hembusan nafas adalah pengkaderan”  pada dasarnya pengkaderan merupakan metodelogi  untuk menularkan spirit perjuangan kepada seseorang, dengan kata lain ada transformasi nilai. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan rasa perhatian lebih dan saling menjaga satu sama lain, walaupun tanpa adanya ikatran keluarga, sahabat, dan pacar, jadi esensi proses pengkaderan adalah bagaimana individu memberikan perhatian lebih terhadap individu yang lain begitu pula sebaliknya, dan saling menjaga satu sama lain dan hal tersebut dilakukan dalam setiap hembusan nafas. Esensi itulah yang akan menghasilkan ikatan spirit perjuangan lebih kuat dari ikatan keluarga, sahabat, dan pacar.

Pada dasarnya keluarga adalah ikatan darah antara satu individu dengan individu yang lainnya dan sangat normatif. Hal itu bisa dilihat dari kartu keluarga (KK) dan informasi lisan dari individu yang memiliki ikatan darah seperti, kakek, ayah, dan saudara. Keluarga juga terkadang didefenisikan sebagai kesamaan dalam suatu komunitas seperti kesamaan suku, mahasiswa, profesi kerja dll. itulah beberapa gambaran keluarga, selanjutnya akan diintegritaskan bagaimama pengaruhnya terhadap proses pengkaderan.

Pembasan diatas telah disampaikan esensi pengkaderan yakni rasa perhatian dan saling mejaga satu sama lain, jikalah hal tersebut tidak bisa diintegrasikan didalam lingkungan keluarga maka akan menimbulkan kecanggungan untuk berkomunikasi dan bahkan bisa saling tidak mengenal kalau keluarga tersebut berdomisili ditempat yang berbeda, sebaliknya jika esensi pengkaderan bisa di integrasikan dalam interaksi sosial maka akan menghasilkan ikatan kekeluargaan yang sangat kuat walaupun tanpa adanya ikatan darah, begitu pula dengan ikatan sahabat dan pacar.


( Mohon kritikan dan sarannya )
Haeruddin Syams Masagenae

EYD dan Fenomena Okkots

Jakarta 27/Agustus/1975 menteri pendidikan dan kebudayaan RI menetapkan UU No. 0195/U/1975 tentang peresmian berlakunya pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (sumber wikipedia), melalui ketetapan tersebut bahasa RI diseragamkan sesuai dengan EYD. Seiring dengan itu ada beberapa pertayaan yang wajib untuk di ketahui, pertama apakah menteri pendidikan dan kebudayaan RI pada saat itu mempertimbangkan efek yang ditimbukan dari ketetapan tersebut.?

Seperti kepunahan bahasa lokal  yang jumlahnya 746 ! (sumber http://bahasa-nusantara.blogspot.com) yang kedua apakah EYD refresentatif dari semua bahasa lokal yang ada di RI ? minimal satu kata dari semua bahasa lokal dimasukkan dalam bahasa Indonesia yang disempurnakan, ataukah hanya mewakili satu bahasa lokal saja yang kemudian melalui ketetapan UU EYD digunakan sebagai legatimasi untuk mengintervensi masyarakat Indonesia menggunkan bahasa tersebut dengan alasan persatuan, yang ketiga apakah EYD bisa beradaptasi dengang bahasa lokal ditiap-tiap daerah RI tanpa mencederai nilai-nilai kearifan lokal ? karna masing-masing bahasa lokal memiliki dialek yang berbeda dalam mengucapkan huruf dan kata.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut penulis memiliki jawaban yang bebas nilai, dimana setiap pembaca bebas memberikan jawaban sesuai dengan apa yang mereka pahami.

Dalam perkembangannya kemudian, EYD menjadi bumerang munculnya budaya okkots dalam masyarakat bugis/makassar, parahnya lagi  dikalangan remaja tidak mau lagi menggunakan bahasa lokal karna dianggap katro, kolot, atau bahasa kerennya tidak gaul dan beberapa diantara mereka mengolok-olok ketika mendengar seseorang menggunakan bahasa bugis/makassar.

Defenisi okkots yang dimaksud disini adalah menambahkan, mengurangi, dan mengganti huruf pada kata yang sudah disempurnakan. Seperti ‘bukan+G, kapan+G,  dan+G, lain+G, lain+G. disini dapat dilihat bahwa EYD susah beradaptasi dalam dialek bugis/makassar, karna pada dasarnya pengucapan kata dalam bahasa bugis/mekassar sangat identik dengan akhiran ‘NG’ tidak ada satu katapun dalam bahasa bugis/makassar  yang berakhiran ‘N’ pasti kata yang berakhiran ‘N’ disertai dengan ‘G’ jadi dialek bugis/mengkasar sudah terbiasa mengucapkan akhiran ‘NG’.

Ketika kemudian EYD digunakan dalam berkomunikasi penambahan huruf ‘G’ pada kata yang huruf terakhirnya ‘N’ itu merupakan sebuah kewajaran  dimana EYD dikombinasikan dengan dialek bahasa bugis/makassar. Sangat tidak adil jika memarginalkan orang bugis/makassar hanya karna menambahkan huruf ‘G’ pada kata yang berakhiran ‘N’ dan sangat lucu, bodoh, memalukan orang bugis/makassar yang merasa teralienasi jika menggunakan bahasa lokalnya sendiri, sementara darah yang mengalir dalam tubuhnya didapatkan dari orang bugis/makassar yang dulunya sangat bangga dengan identitasnya.

Sama halnya ketika EYD diterapkan dalam bahasa lokal yang lain seperti bahasa ‘kemane aje’ (kemana saja), ‘nda ape-ape (tidak apa-apa), kalau kita sepakat dengan defenisi okkots yang telah dijelaskan sebelumnya maka bahasa tersebut bisa dikatagorikan sebagai okkots. Akan tetapi mereka dengan dialeknya sangat bangga dan percaya diri, bahkan mereka tampil di film, acara-acara TV lainnya dengan bahasa ‘kemane aje’ (kemana saja), ‘nda ape-ape (tidak apa-apa) yang pada dasarnya itu adalah okkots.  itulah yang membedakannya dengan orang bugis/makassar yang mereduksi budaya "siri na pesse" dan menyebabkan mereka merasa teralienasi dengan okkotsnya.

-HS’Masagenae

INI CERITA KU (BAKTI SOSIAL KMP PNUP)


Desa Suppirang, leppangan, dan salusape, kecamatan lembang merupakan merupakan daerah yang berada dikabupaten pinrang letaknya kira-kira 30 km dari pusat pemerintahan. Akses jalan dari kota kecamatan menuju desa saat ini sudah bisa dilewati menggunakan sepeda motor walaupun jalannya belum diaspal. Didesa leppangan hanya ada 5 rumah dan desa salusape 3 rumah, masyarakat kesehariannya bekerja sebagai petani yang merupakan sumber penghidupan untuk memenuhi kebuthan keluarga. Mayoritas anak-anak disana belum bisa menikmati pendidikan gratis yang selalu dikampanyekan politikus partai saat berkunjung didesa tersebut. Sungguh sangat ironis ketika melihat kehidupan eksklusif dan glamor anggota pemerintahan kabupaten pinrang sementara masih banyak penduduknya yang harus bermandikan keringat hanya untuk mencari sesuap nasi.
Foto Bersama Anak-anak di Desa Salusapae
Hari senin 5 agustus 2013 bertepatan dengan ibadah puasa yang ke 27 mahasiswa KMP PNUP melakukan kegiatan Bakti Sosial, selain kegiatan tersebut merupakan program kerja organisasi juga merupakan interpretasi fungsi mahasiswa yaitu social of control, dimana mahasiswa harus berpartisipasi reel ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Inilah bentuk tindakan kemanusiaan yang sangat mulia oleh mahasiswa KMP PNUP dengan membuat kegiatan Bakti Sosial. Ada beberapa item dalam kegiatan baksos tersebut, yang pertama membersihkan mesjid didesa suppirang, yang kedua membagikan bahan makanan berupa telur, indomie, ikan kaleng, minyak goreng didesa leppangan dan salusape.

Mahasiswa KMP PNUP sangat antusias dalam menjalankan kegiatan tersebut mulai dari anggota kehormatan, pengurus, dan adik-adik mahasiswa baru yang sangat bersemangat ketika dalam perjalanan menuju desa, walaupun harus melewati jalan terjal yang penuh dengan bebatuan sampai-sampai mereka harus menyebrangi sungai untuk sampai kedesa. Yang paling luar biasa adalah semangatnya tetap berkobar saat salah satu diantara mereka terjatuh dari motor dan ada juga yang terpeleset sampai jatuh di air saat menyebrangi sungai.

11:00 wita desa suppirang, agenda pertama membersihkan mesjid, Mahasiswa KMP PNUP sampai didesa suppirang tepatnya didepan mesjid, dengan arahan ketua KMP dan ketua panitia baksos mereka masing-masing mengambil peran untuk membersihkan mesjid seperti menyapu/mengepel lantai, merapikan barang-barang dan perlengkapan ibadah, tapi ada juga beberapa diantara mereka yang bermalas-malasan, hanya duduk sembil cerita dan tertawa disekitaran mimbar mesjid. Dalam keadaan menjalankan ibadah puasa ditambah lagi cengkraman panas matahari yang membuat energi terkuras dan tubuh kelelahan mereka tetap memancarkan senyum bahagia diwajahnya bagaikan lilin yang meleburkan dirinya untuk menjaga agar bunga api tetap menyala agar dapat memancarkan cahaya ditengah-tengah kegelapan. Inilah karakter kader KMP PNUP yang memiliki spirit perjuangan dalam menyelesaikan tanggung jawab.Satu jam berlalu dengan dibumbuhi canda tawa akhirnya kegiatan membersihkan mesjid  pun selesai, mereka kemudian melaksanakan sholat duhur berjamah bersama dengan masyarakat sekitar dilanjutkan dengan briefing untuk mengevaluasi dan mebicarakan agenda berikutnya, ketua KMP sempat mengevaluasi kekurangan saat membersihkan mesjid yaitu WC yang tersumbat belum sempat diperbaiki dan harusnya bisa memberikan bantuan berupa lap kaki karna mesjid tersebut tidak memiliki lap kaki. Briefing selesai, perjalanan dilanjutkan untuk menyelesaikan agenda kedua. Jarak yang harus ditempuh untuk sampai kedesa berikutnya sekitar 4-5 km melewati jalan yang sangat tidak bersahabat ini karna kurangnya perhatian pemerintah setempat untuk memperbaiki jalan tersebut.


13:45 akhirnya sampai didesa leppangang, barisan motor diparkir rapi dibawah rumah masyarakat kemudian mereka burkumpul untuk membagi team kerja yang akan melakukan pembagian bahan makanan ditiap-tiap rumah. Sesuai kesepakatan team terbagi dua dan tiap team terdiri dari 4-5 orang, setelah terbentuknya team mereka kemudian mendatangi rumah masyarakat untuk membagikan bahan makan. Ada juga beberapa anggota yang hanya tinggal duduk santai bercanda ria dibawah rumah dan menikmati pemandangan alam sambil berfoto-foto. Saat sampai dirumah masyarakat tiap team terlebih dahulu berbincang-bincang dan meminta kesediaan masyarakat untuk menerima pemberian bahan makanannya, karna biasanya masyarakat desa pinrang “masiri” malu menerima pemberian seseorang terlebih lagi kalau mereka tidak mengenal siapa orang tersebut, itulah tipologi masyarakat pedesaan dipinrang yang menjadikannya tekun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka karna ada konstruk budaya lokal dalam pahaman mereka ‘jangan pernah berharap pemberian seseorang, ketika engkau masih bisa mencarinya. Berhubung hanya ada 5 rumah didesa leppangan jadi tidak memakan banyak waktu untuk membagikan bahan makanannya, mereka dapat menyelesaikan dalam waktu kurang lebih 30 menit, begitu pula didesa salusape.
Desa Leppangang
Setelah kegiatan Bakti Sosial selesai, mereka berkumpul didesa bungi tepatnya rumah saudari Nunu Bondeng untuk berbuka puasa ‘menikmati masakan ala mace Nunu Bondeng’.

Mohon keritikan dan masukannya (atau sekalian ditambah)

“HAERUDDIN SYAM MASAGENAE”

Paseng III (Paparingerrang dalam Bahasa Bugis)

Eppai pasalewangengngi seddie tau;

- Teppalaloengngi ada-ada masala naewae situdangeng.
- Teppaliwengiengiengngi gau' siratannae.
- Moloiwi ropporoppo narewe' paimeng.
- Molai laleng namatike'


Artinya :


Ada empat hal yang membuat orang selamat ;
 

- Tidak menyinggung dengan kata-kata sesamanya yang duduk.
- Tidak melampaui batas kewajaran
- Menemui janlan buntu, dia kembali
- Melewati sebuah jalan, dia hati-hati.

Paseng I (Paparingerrang dalam Bahasa Bugis)

Engngerangngi duwae - alupaiwi duwae :

- Engngerangngi pappedecenna tau laingnge lao rilaemu
- Engngerang toi pappeja'mu lao ripadammu tau.
- Alupaiwi pappeja'na padammu tau lao rialemu
- Alupai toi pappedecemmu lao ripadammu tau.

Artinya :

Ingat dua hal dan lupakan dua hal ;

- Ingatlah kebaikan orang lain terhadap dirimu
- Ingat juga keburukan dirimu terhadap orang lain.
- Lupakan kebaikan kamu terhadap orang lain
- Lupakan juga keburukan orang lain terhadap dirimu.


Paseng II (Paparingerrang dalam Bahasa Bugis)

Patampuangeng murennuangngi

- Seuwani awaraningengnge, maduanna accae, matelluna asugirengngi, maeppana dara'e.
- Apa aju tabu'e satu sikuwae. Iya aju tabu'e
- Tellu onrong de'sa tu naonroi madeceng.
- Ritaro ritanae nanre'i bebbu'e, ritaro'i ri uwae'i masigai atamang,
- Ritaro'i ri apie masigai puppu.

Artinya:

Jangan berharap kepada empat jenis iaitu;

- Pertama; keberanian, kedua; kepintaran,  
ketiga;kekayaan.keempat derajat/keturunan.
- Sebab keempat ini adalah umpama kayu lapuk.
- Adapun kayu lapuk tak bisa disimpan dengan baik.
- Di tanah dimakan rayap. Di simpan di air akan terendam basah.
- Disimpan di api cepat habis terbakar.

“Pragmatisme dalam Berorganisasi”

             

Masih adakah mahasiswa ideal, yang rela mengorbankan waktu, material, dan pemikiran untuk berhikmat kepada sesama manusia yang membutuhkan bantuan, yang terorganisir dalam sebuah wadah dan bergerak secara kolektif di “Organisasi Kemahasiswaan”! ! !

Ungkapan prihatin penulis coba curahkan dalam coretan ini, melihat realitas organisasi kemahasiswaan yang mengalami Disorientasi. Hal mendasar sebagai indikator untuk membenarkan Distorsi tersebut adalah terlalu banyak kepentingan pribadi seseorang dalam berpartisipasi di organisasi kemahasiswaan, dan menafikkan kepentingan bersama, baik itu kepentingan materil ataupun kepentingan intelektual.

Setelah mendapatkan kepentingannya di organisasi maka berbondong-bondonglah mereka meninggalkan organisasi tersebut, yang mana tempat mereka menimbah ilmu dan memenuhi kepentingannya. Lebih parah lagi di antara mereka yang berpartisipasi dalam organisasi kemahasiswaan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka yang menunjang hidupnya selama menjalani status akademik sebagai mahasiswa. 

Entah mengapa sangat susah mendapatkan kader ideal yang rela berhikmat untuk organisasi yang meniscayakan implikasi terhadap masyarakat yang membutuhkannya. Seolah-olah organisasi kemahasiswaan adalah organisasi yang orientasinya untuk mencari keuntungan secara material untuk memberikan gaji kepada semua anggotanya, ini akikbat persepsi material yang sudah berkarat dikalangan civitas akademik mahasiswa yang terkonstruk oleh hegemoni media.

Jika kita melihat sejarah 1998 saat tumbangnya rezin Suharto peran aktor organisasi kemahasiswaan sangat besar, karna memiliki kader yang sangat progresif dan sangat ideal. Tapi kini kesuksesan gerakan organisasi kemahasiswaan hanya tinggal cerita heroid yang disajikan sedemikian rupa baik itu di pengkaderan struktural maupun dalam kajian-kajian kultural. Harus kita pahami bersama bahwa peran organisasi kemahasiswaan pada saat menumbangkan rezim Suharto sangatlah besar.

Salah seorang tokoh sosial yaitu E.Humans menyatakan bahwa seseorang melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan hadiah, atau untuk mendapatkan keuntungan. Seseorang yang dinyatakan oleh E.Humans sangat mayoritas dalam organisasi kemahasiswaan yang mana mereka berpartisipasi dalam organisasi semata-semata hanya untuk kepentingan pribadi, atau dalam bahasa lainnya pragmatisme dalam berorganisasi.

Inilah pandangan subjektifitas penulis yang di curahkan dalam sebuah tulisan, yang dinilai dari kaca mata penulis bahwa kader-kader atau regenerasi dalam organisasi kemahasiswaan mayoritas sangat pragmatis. Maka dari pada itu penulis mengajak kepada para pembaca untuk memberikan perhatian lebih terhadap realitas tersebut karna menurut penulis ini tanggung jawab kita bersama. 

Bahwa kompleksitas masalah organisasi kemahasiswaan sekarang membutuhkan formulasi-formulasi yang baru untuk eksistensinya kedepan, dan hal itu membutuhkan buah pemikiran kawan-kawan, karna untuk terpenuhinya ekspektasi bangsa ini sangat di pengaruhi oleh proses regenerasi di organisasi kemahasiswaan

Makassar 09 November 2012
 Haeruddin Syams Masagenae

“SURAT DARI MAHASISWA UNTUK BIROKRASI”


Seorang ulama berkata ; Bayarlah sebuah luka dengan kebaikan,,,,
Seorang dosen berkata ; Jika kamu membayar luka dengan kebaikan , lalu dengan apa kamu membalas kebaikan ?  “kamu seharusnya membayar sebuah luka dengan keadilan dan kebaikan dengan kebaikan

Wahai para orang tua kami yang duduk di kursi birokrasi kampus Hitam Politeknik Negeri Ujung Pandang, kami itu sering bertanya ketika kalian bertemu dengan kami, yang tersudut dengan interpensi kalian melalui KOMPEN (kompenisasi yang dibayar ketika tidak masuk kuliah), pembatasan jam ekstrakurikuler, dan pemotongan beasiswa saat kami mendemonstrasikan inspirasi kami. Apa yang sesungguhnya  kalian pikirkan tentang kami? 

Jika kalian dengan baju yang bersih kemudian melakukan ibadah dan berdoa, sungguh kami ingin tau doa apa yang kalian panjatkan kehadapan tuhan. Kadang dalam bilik kepala kami yang kecil ini muncul pertanyaan,"Mengapa mahasiswa selalu saja tidak pernah percaya dengan keputusan yang kalian ambil? Saat kami tersudut dengan teguran kalian atas demonstrasi kami, mengapa kalian asyik berwisata keluar negeri.

Kekuasaan memang panggung yang lebih baik dijalankan dengan seni peran, ketimbang dengan tindakan-tindakan yang nyata, karena berupa panggung maka yang dibutuhkan kadang buka kejujuran, tapi kecerdikan untuk meyakinkan penonton. “Bahwa apa yang sedang pura-pura dilakukan, buatlah seolah-olah sebagai adengan yang sungguh-sungguh”.

Jika kami boleh meminta keajaiban, kami minta agar para penguasa yang duduk dikursi birokrasi menyapa kami disudut kantin, seperti anaknya sendiri yang dia sayangi. Kami membayangkan suatu saat ketika kalian akan turun dari kursi kekuasaan, dan kalian mengucupkan kalimat yang tak pernah sekalipun kalian katakan,"Anakku maafkan kami atas kebijakan, tindakan, dan sikap kami yang tidak sesuai dengan harapanmu, sekali lagi maafkan kami.

Suara Aspirasi Mahasiswa Sudut Kantin

Makassar, 09 November 2012
Haeruddin Syams Masagenae

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger