Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Konstruksi Orde Baru: Indonesianisasi Tradisi Jawa

Ilustrasi
Pertama yang ingin saya pertegas bahwa tulisan bukan untuk mendiskreditkan salah satu suku ataupun membuat spekulasi tentang primordialisme, tapi tulisan ini merupakan refleksi hasil bacaan saya dari buku Pahlawan-pahlawan belia "keluarga Indonesia dalam poltik" : saya SASAKI SHIRAISHI. judul asli dari buku itu adalah Young Heroes : The Indonesian Family in Politics yang diterjemahkan pada tahun 2009 Buku ini merupakan hasil penelitian Etnografi SASAKI SHIRAISHI pada tahun 1989 tentang masyarakat orde baru yang saat itu amat tertekan oleh sistem pemerintahan. 

SASAKI SHIRAISHI, Penerapan politik kekeluargaan (politico-familial) oleh soeharto, memposisikan dirinya bukan hanya sebagai Presiden tetapi juga Bapak tertinggi (supreme father) dan menyebut pembantunya (menteri kabinet) sebagai anak, pengertian anak disini bukan secara bilogis melainkan sebagai hubungan kerja melihat umur para menteri hampir semua berumur 50-60-an jadi relasi kerja pemerintahan seperti sebuah keluarga, seorang anak harus patuh dan tunduk kepada orang tuanya (Bapak). 

Dalam memimpin dan membimbing Indonesia Soekarno sebagai Bapak tertinggi para pejabat pembantunya, seperti juga warga negara mengikutinya sebagai seorang anak seluruh bangsa dibayangkan sebagai sebuah keluarga yaitu keluarga jawa. Negara yang multi etnik sekitar tigaratus kelompok etnik yang masing-masing mempunyai budaya keluarga yang berbeda dipaksakan menjadi satu etnik sistem keluarga.

System keluarga dan budaya jawa diterapkan di Indonesia tanpa melakukan konvensi nasional, tetapi dengan menggunakan legitimasi hukum itu diterapkan sehingga elemem masyarakat menerimanya sebagai system pemerintahan Indonesia, mereka tidak menyadari bahwa dibailik itu semua terjadi Indonesianisasi Tradisi Jawa. 

Saya pernah mendengar cerita salah satu orang dikampung saya yang mendapat masa kepemimpinan Soeharto sebut saja namanya La Baco, beliau menceritakan bahwa orang-orang Jawa mendomisnasi pemerintahan pada saat itu sehingga muncul mainstream bahwa syarat untuk masuk dalam pemerintahan adalah harus orang jawa itulah kenapa La Baco memberikan nama Jawa kepada anaknya supaya terkesan anaknya itu orang Jawa karna La Baco berharap kedepan anaknya bisa masuk dalam struktur pemerintahan Indonesia.

Jawa dan Indonesia merupakan konstruksi sejarah dan budaya orde baru menurut Sasaki Shiraishi untuk mempelajari budaya politik Indonesia terutama mengenai system kekeluargaannya kita tidak harus berpaling ke desa-desa terpencil jawa untuk mencari aslinya, tetapi dangan mengkaji bagaimana keluarga “Indonesia” dibentuk dalam bahasa Indonesia secara historis, budaya, dan politik oleh orde baru dan sampai sekarang tetesan-tetesan konstruksi tersebut masih dirasakan oleh warga Negara Indonesia. 

Tidak heran jika kemudian beberapa hari nasional yang ditetepkan oleh pemerintah sangat identik dengan budaya jawa misalanya hari batik nasional, hari kartini yang identik dengan kebaya dan konde selain itu penetapan pahlawan nasional pun didominasi oleh orang-orang jawa silahkan buktikan sendiri dengan melihat daftar pahlawan nasional.

Konsep asimilasi budaya yaitu  adanya ideologi budaya kaum mayoritas (dominasi) dipaksakan kepada minoritas supaya minoritas mengenakan identitas budaya mayoritas. Yang harus digaris bawahi disini adalah mayoritas yang dimaksud bukan secara kuantitas sumber daya manusia akan tetapi dominasi peran dalam struktur pemerintahan. 

Budaya dominasi kemudian dijadikan sebagai budaya nasional dan diperkenalkan melalui pendidikan budaya formal dan informal seperti pentas wayang, media massa, penataran, buku-buku sekolah dan lain-lain. Salah satu novel terlaris tahun yang terbit akhir 1970-an, Arjuna Mencari Cinta ; Arjuna ialah tokoh pahlawan dalam wayang jawa, dia seorang kesatria tanpa tanding di medan laga, yang petualang cintanya tak kunjung memuaskan orang jawa. Buku-buku pendidikan Sekolah Dasar (SD) dimana nama-nama tokoh yang dalam buku itu adalah nama orang jawa misalnya ini bapa Budi, dan cerita-cerita perwayangan yang diterbitkan di majalah anak bobo.

Begitulah proses Jawanisasi Politik dan budaya Indonesia yang dilakukan oleh tokoh-tokoh nasional katanya.!!!


Penulis : Haeruddin Syams Masagenae 
Sumber Gambar : http://my.opera.com 

Oto Pa'berre Rese

Oto Pa'berre Rese
Secara sepintas  jika kita meilhat foto diatas maka akan terlintas dalam benak kita foto itu adalah barang ronsokan yang tidak bernilai dan berguna, akan tetapi jika kita pernah menyaksikan lansung gambar pada foto tersebut dioperasikan maka kita akan terkesimah betapa luar biasanya fungsi barang ronsokan tersebut.

Oto Paberre Rese’ (mobil penggiling padi) itulah nama foto diatas yang disepakti oleh orang bugis. Alat ini digunakan untuk mengkonversi padi menjadi beras. Industri manapun diluar negri kita tidak akan bisa menemukannya diproduksi karna Oto Paberre Rese’ merupakan hasil modivikasi masyarakat Bugis dengan bermodalkan pengetahuan dan skill lokal yang penuh dengan inovasi dan inspirasi.

Mereka bukanlah orang yang mempunyai gelar dibelakang namanya seperti A.md Teknik, Serjana.Teknik dan Master Engineering dan  sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal untuk mempelajari bagaimana membuat alat tersebut apa lagi mengejar gelar di luar negri seperti budaya tren saat ini dimana pelajar Indonesia berbondong-bondong untuk mengambil S2 diluar negri.

Secara tampak sederhana alat ini merupakan perpaduan antara penggiling padi dengan mobil open kap, perlu kemampuan khusus untuk bisa merancangnya mulai dari penempatan penggiling padi supaya keseimbangan mobil tetap normal, perlengkapan K3 supaya tidak membahayakan pada saat di operasikan, skiil mengelas supaya penggiling padi kokoh di atas mobil ketika mobil sedang melaju maupun pada saat menggiling padi sampai kepada bagaimana mengoprasikannya pada saat ingin mengkonversi padi menjadi beras.

Pengalaman adalah guru yang paling terbaik meskipun pada umumnya masyarakat desa tidak pernah mendengar kalimat tersebut tapi dalam proses pembelajaran mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Oto Paberre Rese’ salah satu alat yang diproduksi yang berawal dari pengalaman, misalnya dulu masyarakat desa harus membawa padi mereka ketempat penggiling padi dengan menggunakan mobil open kap. Dari pengalaman dan kebutukan itu mereka kemudian memikirkan merancang alat alternatiif untuk memudahkan proses penggilingan padi dangan cos yang lebih rendah. Jadi ada pengalaman - analisis kebutuhan - ide kreatif + skil lokal - produsi - alat. Hal itu sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh masyarakat modern yang sangat kapitalis, mereka semena-mena meproduksi alat modern tanpa ada analisis kebutuhan dari konsumen tapi mereka mebuatkan iklan di media seolah-olah alat modern itu merupakan kebutuhan masyarakat.

Oto Paberre Rese’ merupakan kreatifitas orang bugis sebagai bukti untuk membantahkan kosntruk sosial bahwa pemikiran masyarakat modern lebih maju dari pada masyarakat lokal. Kapasitas tidak diukur dari pendidikan formal ataupun gelar akademik akan tetapi seberapa banyak pengalaman didapatkan.

Makassar 12/01/2014
Penulis : Haeruddinn Syams Masagenae

SILSILAH DATU SUPPA


  1. We Tepulinge  
  2. La Teddung Lompo 
  3. La Pute Bulu 
  4. La Makkarawi  
  5. We Lampe Welua  
  6. We Tosappai  
  7. La Tenrisessu 
  8. To ManippiE  
  9. We tasi’ Petta UbangE  
  10. La Todani  
  11. La Tenri Tetta’  
  12. La Doko  
  13. To Dani  
  14. La Toware’  
  15. La Pamessangi  
  16. La Sangka  
  17. La Kuneng  
  18. La Tenri Lengka
  19.  We Tenri Waru  
  20. We Bubeng  
  21. La Tenri Sukki Mappanyukki  
  22. We Maddelu’  
  23. La Parenrengi  
  24. La Makassau  
  25. La Temmassongeng Abdullahi Bau’Massepe  
  26. La Patettengi (La Cante’)  
  27. We Soji  
  28. La Kuneng

KMP PNUP : SAHABAT MELEBIHI KELUARGA, Refleksi LDK/Pengenalan Lembaga KMP PNUP

Foto Bersama Peserta LDK/Pengenalan Lembaga KMP PNUP

LDK/Pengenalan lembaga KMP PNUP merupakan proses transformasi nilai-nilai budaya kekeluargaan dan intelektual kepada regenerasi sebagai kader wija Tu Penrang yang akan melanjutkan roda kepengurusan. Satu kebanggaan bagi saya mengikuti suksesnya kegitan tersebut, dan sangat memberikan kesan yang tak terlupakan dan  saya yakin ade-ade peserta yang mengikuti kegiatan ini tidak akan bertanya-tanya lagi, Kenapa saya harus ber KMP ?

Semangat panitia dan pengurus dalam memfasilitasi peserta merupakan nilai plus yang sangat saya apresiasi, mereka berhikmat  menguras tenaga dan pikirannya sebagai seorang keluarga yang berusaha memberikan yang terbaik bagi adik-adiknya, yang selama ini mungkin mereka tidak dapatkan dari generasi sebelumnya.  Beberapa dari mereka sampai-sampai tidak sempat melihat mimpi malam sabtunya karna semalaman tidak pernah tidur.

Saat keheningan malam yang bersahabat dengan dingin mencengkram sekitar pukul 03:17-05:07 disaksikan oleh buih ombak,rembulan dan bintang saya mendengarkan suara bergema yang amat Lantang  dari pemuda(i) wija tu penrang mengikrarkan spirit kekeluargaan, “KMP PNUP SAHABAT MELEBIHI KELUARGA” sesaat membuat tubuh saya gemetar, dari suara itu saya melihat masa depan KMP PNUP yang amat cerah dangan lahirnya kader-kader mudah yang progresif. Dari mereka saya memilki ekspektasi yang amat besar agar ikrar itu bisa diinterpretasikan dalam bentuk loyalitas untuk merealisasikan kegiatan-kegiatan KMP PNUP kedepan. Saya menantang kader lepasan pelatihan ini apakah mereka bisa menuliskan sejarah yang lebih baik di KMP PNUP dibangding torehan sejarah yang sudah ada.? Sekiranya suara lantang mereka bukan hanya ikrar palsu yang tersembunyi dibalik senyum yang selalu mereka perlihatkan kepada saya selama menjalani proses pelatihan.

Rekan anggota kehormatan yang menyempatkan waktu untuk mendampingi adik-adik menjadi catatan tersediri bagi saya bahwa kekeluargaan KMP PNUP tidak pernah putus walaupun status pengurus dan akademik kampus sudah selesai. Kekeluargaan itu akan senantiasa terjalin selama eksistensi KMP PNUP masih ada di Kampus hitam dan generasi-ganerasi berikut selalu menjaga nilai-nilai kekeluargaan itu. dan untuk rekan anggota kehormatan yang tidak sempat hadir dalam hati saya mereka pasti selalu menyempatkan diri untuk memikirkan KMP PNUP bisa menjadi yang terbaik diantara oraganda pinrang.

Semua orang yang berpartisipasi dalam kegitan tersebut pasti mempunyai kesan tersendiri, saya berharap kepada keluarga KMP PNUP yang menyempatkan membaca refleksi ini, menuliskan kesan itu dalam sebuah komentar, agar bisa menjadi referensi dan evaluasi untuk LKD/Pengenalan Lembaga kedepan.

Apa kesan menarik yang anda dapatkan ???

Komparasi Tu Manurung Perspektif Lontara dengan Paradigma Sosiologi Thomas Kun


Dalam tulisan Tu Manurung Part I saya telah memaparkan empat sudut pandang Tu Manurung. Pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk mengkomparasikan salah  satu perspektif Tu manurung dengan paradigma sosiologi Thomas kun yaitu Tu Manurung perspektif lontara. Sebelumnya saya akan mengutip kensesus dalam Lontara’ antara Tu Manurung dengan rakyat yang diwakili oleh matoa.

Rakyat :                     anginlah engkau dan kami daun kayu
                                    Kemana engkau berhembus kesana kita serta
                                    Kehendakmu, menjadi kehendak kami pula,
                                    Apa nian titahmu, kami junjung
                                    Perintahlah kami penuhi,
                                    mintalah dari kami, dan kami akan memberimu,
                                    engkau menyeru, kami dating
                                    terhadap anak isteri kami yang engkau celah
                                    kami pun akan mencelahnya,
                                    akan tetapi pimpinlah kami
                                    kearah ketentraman, kesejahtraan, dan perdamaian.
Tu Manurung :         kami menjujungnya,
                                    Keatas batok kepala
                                    Janjimu hai orang banyak,
                                    Kami tempatkan dalam rumah keemasan kemuliaan 
                                     janjimu
                                    Ketika ini, engkau bersatu padu menerima kami
                                    Sebagai RAJA-mu.
Konsesus ini merupakan batasan Hak dan Kewajiban antara Raja dalam hal ini Tu Manurung dengan rakyat.

 Paradigma Sosiologi Thomas Kun
“Paradigma I – Normal Sience – Anomali – Krisis – Revolusi – Paradigma II”
Thomas kun melihat bahwa dalam waktu tertentu institusi sosial didominasi oleh satu paradigma tertentu, yaitu suatu pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan dalam sebuah masyarakat.

Paradigma I yaitu paradigma yang mendominasi dimana kecenderungan pola pikiran, prilaku masyarakat sangat dipengaruhi oleh paradigma dominan. Normal sience dimana integritas paradigma dominan dalam masyrakat berjalan normal. Sedangkan anomali ketika terjadinya penyimpangan yang menyebabkan pertentangan, dikarenakan paradigma dominan dalam ruang lingkup paradigma I dan normal sience tidak dapat memberikan penjelasan yang memadai terhadap persoalan-persoalan yang timbul. 

Ketika penyimpangan terjadi terus menerus maka pada suatu kondisi penyimpangan tersebut akan memnuncak, maka suatu krisis akan timbul dan paradigma dominan itu sendiri mulai disangsikan validitasnya. Bila krisis sudah demikian seriusnya maka titik puncak krisis tersebut akan terjadi revolusi, dan memuncukan paradigma baru sebagai solusi yang mampu menyelesaikan penyimpangan yang terjadi pada paradigma sebelumnya. Jadi revolusi ini merupakan sesuatu yang sangat mendasar terjadinya transisi paradigma dalam masyarakat, ketika paradigma dominan mulai menurun pengaruhnya dan digantikan oleh paradigma baru yang lebih dominan.

“Komparasi” 

Sebelum kedatangan Tu Manurung masyarakat bugis-makassar terbagi atas kelompok-kelompok yang dipimpin oleh matoa atau Appang seperti saya jelaskan pada Tu Manurung Part I. Kelompok tersebut bersifat homogen garis keturunan mereka masing-masing berbeda. Misalnya kelompok  1 ; berasal dari keturunan A dan B, kelompok 2 ; C dan D pada dasarnya tidak ada pernikahan antara anggota kelompok 1 dan 2 akan tetapi keturunan merekalah masing-masing yang saling menikahi dan hubungan antara anggota dalam kelompok merupakan hubungan isomorfis satu sama lain, inilah Paradigma dominan yang mempengaruhi pola pikiran, prilaku masyarakat pra Tu Manurung disebut dengan Paradigma I.  

Integritas anggota dalam satu kelompok merupakan kondisi Normal Sience. Ketika terjadi penyimpanagan yaitu ‘sianre bale’ yang dikarenakan paradigma dominan tidak bisa memberikan solusi atas persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat, kondisi ini disebul Anomali

Dengan terjadinya anomali maka kisruh sosial tidak bisa dihentikan karna penyimpangan terjadi terus menerus dimana anggota kelompok saling memangsa satu sama lain begitu pula antara kelompok satu dengan kelompok yang lain saat penyimpangan klimaks maka akan menyebabkan krisis. Pada titik puncak krisis akan terjadi revolusi disilah kehadiran sosok Tu manurung sebagai solusi dan membentuk paradigma baru (paradigma II) Tu Manurung merupakan syarat transisi paradigma I ke paradigma II.

Jadi kesimpulan saya Perspektif Tu Manurung lontara' merupakan dialektika sosial yang dinamis. Transisi paradigma dominan dalam masyarakat bugis-makassar akan terus berubah ketika terjadi Anomali – Krisis – Revolusi, kemudian melahirkan paradigma baru. Seperti yang kita lihat kondisi sekarang dimana Era Tu Manurung digantikan dengan Era demokrasi. Walaupun terjadi dekontekstualisasi transisi paradigma Tu manurung dengan Demokrasi. Ini akan saya bahas pada tulisan Tu Manurung Part berikutnya.
­­­­­­

HS"Masagenae

Siapa Bilang Mahasiswa Makassar Hanya Pintar Demo? “Potret Kreativitas Mahasiswa KMP PNUP Makassar”

Salah seorang teman saya yang kuliah di Jakarta pernah mengatakan kepada saya, bahwa di Jakarta mahasiswa Makassar dikenal sebagai tukang demo anarkis. Sebagai mahasiswa makassar saya pribadi merasa risi mendengarnya, karna selama 4 tahun saya dikampus, saya sudah mengikuti puluhan aksi jalan bersama teman-teman di Makassar dan tidak ada satu pun demonstrasi kami yang anarkis. 

Beberapa media nasional kurang adil dalam memberitakan potret mahasiswa Makassar, hampir semua aksi mahasiswa Makassar yang diberitakan hanya menampilkan ketika demonstrasi itu berujung bentrok antara pihak keamanan ataupun warga sekitar. dan sangat jarang kita dapatkan aksi damai yang diliput oleh media, apalagi kegiatan kreativitas mahasiswa Makassar hampir-hampir tidak pernah sama sekali diberitakan oleh media seperti yang dilakukan oleh salah satu Organisasi daerah Makassar (Organda Makassar) yaitu Kerukunan Mahasiswa Pinrang Politeknik Negeri Ujung Pandang ‘KMP-PNUP’ dengan melakukan kegiatan penggalangan danah Morning Café.

Minggu/22/09/2013 pukul 06.00 Wita 10 mahasiswa KMP-PNUP berkumpul di GOR Sudiang Makassar untuk melakukan kegiatan penggalangan dana morning café, kegitan ini dilakukan dengan cara menjual bubur kacang hijau kepada orang-orang yang sedang melakukan jogging. Saat istirahat biasanya pejoging membeli makan dan minum, dari situlah mereka berkreasi agar bubur mereka bisa terjual habis berhubung karna banyak sekali pedangan dipingir jalan halaman GOR sebagai saingan mereka. Beberapa dari mereka mendatangi pejoging yang sedang duduk santai beristirahat untuk menawarkan bubur dan yang lain tinggal dilapak menjaga jualan, harga 1 gelas bubur dijual sebesar Rp 5.000

Foto bersama setelah selesai morning cafe
Saya sempat melakukan wawancara bersama mahasiswa KMP-PNUP yaitu Addha, Ida, Dewi, dan Nurfah, katanya mereka membuat bubur kacang hijau itu jam 3 subuh tadi, setelah buburnya masak mereka berangkat ke GOR sekitar jam 5 subuh, alasannya jarak GOR dengan tempat mereka sangat jauh takutnya lambat sampai disana karna bisa saja bubur mereka tidak laku, keburu duluan sama penjual lain. Adapun dana yang digunakan untuk membuat bubur hanya Rp120.000 dan ketika bubur tersebut habis terjual mereka bisa mengdapatkan keuntungan sampai 1 juta’an. Uang hasil morning café tersebut akan digunakan untuk melakukan pengkaderan anggota baru dikampus ujur Nurfah salah satu panitia kegiatan pengkaderan KMP-PNUP.

Nurfah menambahkan, bahwa selama ini organisasi mereka tidak pernah meminta bantuan dana kepada lembaga donor atapun pemerintah setempat ketika merealisasikan kegiatan organisasi, karna terkadang instansi tersebut meminta timbal balik dari batuan dana yang diberikan. jadi mereka hanya melakukan kretivitas untuk mengumpulkan dana, seperti morning café, bazar makan-minum, menjual stiker, baju, gantungan kunci dan lain-lain.


(Mohon kritikan dan sarannya) 
 “Haeruddin Syams Masagenae

Aksara Lontara Telah Tergantikan ; Nenek dan Cucunya Merasa Terasing

Ketika saya bertamu kerumah teman, saya melihat neneknya yang berusia sekitar 80′an kebingungan mendengarkan cucunya yang sangat cerewet, begitu fasih berbahasa Indonesia yang bercampur bahasa inggris, saking cerewet cucunya sampai-sampai mendominasi perbincangan canda tawa ditengah-tengah keluarga. Dengan wajah yang sedih nenek kemudian bertanya kepada anaknya “awwe agaje ro na fau appoku ” (apa yang sedang dibicarakan oleh cucu’ku) maklum nenek tidak mengerti bahasa Indonesia. dengan berbisik saya kemudian bertanya kepada teman, kenapa bisa nenekmu tidak tau bahasa Indonesia.? jawabnya karna waktu mudah dulu nenek saya hanya belajar aksara lontara dan aksara arab, apalagi penduduk kampung disini pada masa nenek saya hanya menggunakan bahasa bugis.

Sebaliknya adik teman saya cucu cerewet terlihat wajahnya berkerut karna bingung saat mendengar neneknya bercerita kata teman saya adeknya lahir dan besar dikota tidak pernah diajar bahasa bugis jadi wajar kalau kebingungan.

Tentang Aksara Lontara :

Aksara lontara merupakan salah satu filologi Aksara Nusantara yang dulunya digunakan oleh masyrakat Sulawesi Selatan ketika menulis, sebelum adanya aksara latin (alphabet Indonesia) yang diinterpretasikan dalam ejaan yang disempurnakan sebagai bahasa pemersatu RI. Aksara tersebut ditulis pada daun lontar yang panjang dan tipis digulungkan pada poros kayu sebagai mana tepe recorder itulah kenapa dikatakan aksara lontara. Dan aksara lontara terdiri dari 23 konsonan tidak memiliki sebuah virama (tanda pemati vocal) atau tanda konsonan akhir seperti aksara latin.

Lontara'
Lontara' Bugis-Makassar

Dalam perbincangan yang dipaparkan diawal tulisan terlihat bahwa adanya pergeseran budaya penggunaan aksara lontara ke aksara latin yang mengakibatkan nenek dan cucunya merasa kebingungan. Urbanisasi mengakibatkan perbedaan bahasa seperti pada cerita diatas yang kemudian menimbulkan kesan “terasing” dari kedua belah pihak, kata “terasing” disini mimilki konotasi yang bias karna tidak ada kemutlakan objek yang terasing dari salah satunya. Seperti halnya bias urban dimana masyarakat pedesaan selalu dianggap terasing akan tetapi ketika orang yang tinggal dikota datang kedesa toh dia juga akan merasa terasing. Sampai-sampai orang desa yang tidak mengetahui aksara latin disandingkanlah buta huruf kepada dirinya tanpa harus mengkaji lebih jauh kenapa mereka bisa seperti itu.

Kalau kita membaca sejarah Sulawesi Selatan sebelum adanya penyeragaman bahasa, penggunaan aksara lontara dalam masyarakat bugis-makassar merupakan hal yang lumrah bahkan pada masa pendidikan sekolah rakyat diwajibkan untuk belajar baca-tulis dengan menggunakan aksara lontara dan seseorang tidak pernah sama sekali merasa terasing akan hal itu.

Saat terjadi islamisasi pun masyarakat Bugis diperkenalkan dengan Aksara Arab, akan tetapi penggunaannya tidak menggeser budaya Aksara Lontara walaupun disatu sisi terjadi perubahan penulisan karna proses akulturasi budaya. berbeda ketika penerapan Aksara Latin dengan adanya legitimasi hukum yang terjadi adalah asimilasi budaya dimana penggunaan Aksara Lontara digantikan oleh aksara latin dan ketika masyarakat bugis-makassar kekenian tidak bisa baca-tulis menggunakan Aksara Lontara dianggab biasa-biasa saja . Yang menjadi pertanyaan apakah mereka bisa disandingkan sebagai seseorang yang buta huruf ?

Mungkin saja fenomena ini bukan hanya terjadi pada Aksara lontara akan tetapi semua Aksara Nusantara. Jadi menurut hemat saya sangat penting untuk melakukan pemberdayaan Aksara Nusantara untuk mencegahnya dari kepunahan akibat modernisasi .

(Mohon kritikan dan sarannya)
-HS'Masagenae

JALALUDDIN RUMI "FIHI MAA FIHI"



Di antara Tuhan dan manusia hanya terdapat dua hijab – yaitu kesehatan dan kekayaan—dimana hijab-hijab yang lain datang dari keduanya. Orang-orang yang merasa sehat tidak pernah mencari dan melihat Tuhan, tetapi ketika sakit menimpa mereka, mereka pun akhirnya akan menangis dan menyeru, “Oh Tuhan! Oh Tuhan” dan pasrah kepadaNya. Karena itu, kesehatan menjadi hijab mereka dan Tuhan tersembunyi di balik penyakit yang dirasakannya.

Selama manusia memiliki kekayaan,  mereka akan memuaskan keinginan-keinginannya, bersenang-senang sepanjang siang dan malam. Tetapi ketika mereka jatuh miskin, semangatnyapun melemah lalu kembali kepada Tuhan.

Mabuk dan kemiskinan membawamu datang padaku,
Aku adalah budak mabukmu dan kebutuhanmu.

Tuhan telah memberikan Fir’aun empat ratus tahun kehidupan, kerajaan dan kesenangan. Akan tetapi semua itu menjadi hijab baginya yang menjauhkannya dari Tuhan. Dia bahkan dalam satu hari tidak pernah mengalami sesuatu yang tidak diinginkannya, tidak pernah sakit, sehingga karena itulah dia benar-benar melupakan Tuhan. Tuhan lalu berfirman, “Turutilah apapun yang kamu inginkan, dan kamu tidak usah memikirkan Aku. Selamat malam!”

Raja Sulaiman tumbuh dalam pemerintahannya diselimuti kebosanan,
Tetapi sakitnya tidak pernah sembuh dengan kesibukan.

JALALUDDIN RUMI

PASSAUNG MANU



Wasiat Rasulullah Saw Kepada Abu Dzar a-Ghifffari r.a


Dalam sebuah kesempatan sahabat Abu Dzar a-Ghifffari r.a pernah bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama dengan Rasulullah S.a.w.w Diantara  isi percakapan tersebut adalah wasiat beliau kepadanya. Berikut petikannya ; 

Aku berkata kepada Nabi S.a.w.w, "Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku." 

Beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena  ia adalah pokok segala urusan." "Ya Rasulullah, tambahkanlah." pintaku. "Hendaklah engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu  dilangit." 

"Ya Rasulullah, tambahkanlah." kataku.
"Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah."
"Lagi ya Rasulullah."
"Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku."
"Lagi ya Rasulullah."
"Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka."
"Tambahilah lagi."
"Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya."
"Tambahlah lagi untukku."
"Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. 

Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui)." 

Kemudian beliau memukulkan tangannya kedadaku seraya bersabda,"Wahai Abu  Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur (berfikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan diri (dari meminta), tidaklah disebut menghitung diri sebagaimana orang yang baik akhlaqnya." 

Itulah beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah S.a.w.w kepada salah seorang sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan mengamalkan wasiat beliau. 


Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger