Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Wasiat Rasulullah Saw Kepada Abu Dzar a-Ghifffari r.a


Dalam sebuah kesempatan sahabat Abu Dzar a-Ghifffari r.a pernah bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama dengan Rasulullah S.a.w.w Diantara  isi percakapan tersebut adalah wasiat beliau kepadanya. Berikut petikannya ; 

Aku berkata kepada Nabi S.a.w.w, "Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku." 

Beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena  ia adalah pokok segala urusan." "Ya Rasulullah, tambahkanlah." pintaku. "Hendaklah engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu  dilangit." 

"Ya Rasulullah, tambahkanlah." kataku.
"Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah."
"Lagi ya Rasulullah."
"Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku."
"Lagi ya Rasulullah."
"Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka."
"Tambahilah lagi."
"Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya."
"Tambahlah lagi untukku."
"Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. 

Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui)." 

Kemudian beliau memukulkan tangannya kedadaku seraya bersabda,"Wahai Abu  Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur (berfikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan diri (dari meminta), tidaklah disebut menghitung diri sebagaimana orang yang baik akhlaqnya." 

Itulah beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah S.a.w.w kepada salah seorang sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan mengamalkan wasiat beliau. 


RAGAM PERSPEKTIF TU MANURUNG

Coretan Tu Manurung Part I

Secara etimologi Tu Manurung  berarti orang yg turun  {Tu = orang} yang berasal dari kata ‘Tau’ {Manurung = turun} yang mendapatkan kata imbuhan ‘Ma’ diartikan sebagai kata kerja, jadi Tu Manurung adalah orang yang turun dari sesuatu yang lebih tinggi. Kata tinggi disini bisa dilekatkan kepada sesuatu apapun untuk menjelaskanya.

Karna dalam logika kata ‘tinggi’ merupakan kata tunggal dimana sifatnya masih tasawwur (konsep)  yang belum ada penilaian benar/salah didalamnya. Jadi kata tinggi bisa saja diafiliasikan kepada tempat (tempat tinggi), bisa juga orang yang memiliki sesuatu yang lebih tinggi dari pada yang lain, seperti derajatnya tinggi dan pencapaian spritualnya tinggi.

Dalam sejarah peradaban masyarakat bugis/makassar mereka memiliki sistem kepemimpinan yang disebut Tu Manurung yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya sistem pemerintahan dan stratafikasi sosial. Sosok  Tu Manurung inilah yang menjadi pemimpin sebagai sentrum institusi sosial, dalam bahasa bugis/makassar pemimpin disebut sebagai Arung, Karaeng, Datu, Puang, addauwang. Berbicara masalah pemimpin ada dua tinjauan yang akan digunakan dalam menjelaskan Tu Manurung.

Pertama dalam tinjauan sosiologi horisontal, menurut H.Spencer pemimpin muncul sebagai konsekuensi adanya kelompok/keluarga, dimana wewenang dan kekuasaan seseorang ditentukan oleh kekuatan fisik dan kecerdasan, selanjutnya kewenangan dan kekuasaan tersebut memiliki sifat yang diwariskan dalam kelompok/keluarga tertentu, penetapan seorang pemimpin pun ditentukan oleh individu dalam kelompok tersebut.

Yang kedua sosiologi vertikal, seorang pemimpin merupakan alternatif yang menghubungkan ciptaan dan pencipta secara transendental. jadi sebuah keniscayaan adanya seorang pemimpin ummat manusia sebagai waliullah baik itu rasul, nabi, dan wali sebagai seseorang yang memahami hukum-hukum tauhid dan mengintegrasikannya dalam tatanan sosial, pemimpin yang dimaksud adalah seorang yang ditetapkan Tuhan karna mereka memenuhi syarat atas ihktiar yang dilakukannya,  dari kedua tinjauan tersebut kita bisa memahami Tu Manurung sebagai seorang pemimpin terus menempatkan penjelasan Tu Manurung sesuai abad terjadinya dalam sejarah seperti Tu Manurung Batara Guru yang terjadi sebelum masehi (sumber I Lagaligo), Tu Manurung Luwu Simpuru’ Siang dan Tu Manurung Goa Ri Takka basi abad 13 (Sumber ; Nilai-nilai utama kebedayaan bugis).

Dalam Lontara’ pun dijelaskan tentang Tu Manurung, Lontara’ merupakan bukti empiris yang tertulis di daun lontara dengan menggunakan huruf aksara bugis/makassar yang meceritakan peristiwa yang berkaitan dengan kerajaan, silsilah, aturan-aturan sosial, ilmu tentang pembacan kondisi-kondisi alam,dan hal-hal yang dianggap penting, disini akan dibahas lontara yang tertuliskan masalah Tu Manurung.

Dalam buku LA TOA (mattulada, 1985 hal 413-417) beliau memaparkan tentang penjelasan Tu Manurung dalam lontara, bahwa Tu Manurung sebagai bentuk lompatan kekuasaan, dari bentuk-bentuk kekuasaan pada tingkatan kaum yang dipimpin oleh matoa, kebentuk kekuasaan lebih tinggi dan lebih dipusatkan dalam tangan satu orang yaitu Tu Manurung, yang dijadikan sebagai Raja. Jadi ada 3 variabel yang terintegrasikan sebagai syarat terbentuknya sistem pemerintahan yaitu, Tu Manurung, Matoa, dan Kaum.

Sebelum kekehadiran Tu Manurung tiap-tiap kaum dipimpin oleh Matoa, dan antara matoa yang satu dengan matoa yang lain tidak ada struktur kordinasi antara mereka. Interaksi dan relasi sosial antara kaum mengalir secara natural karna tidak ada hukum normatif yang disepakati, jadi setiap kaum bebas menyerang dan diserang satu sama lain. Kondisi ini kemudian yang mengakibatkan kisruh sosial dalam lontara disebut “sianre bale” yaitu yang kuat menindas yang lemah, hal ini disebabkan karna adanya tuntutan kebutuhan hidup untuk memenuhi kebutuhan biologis dan ketidak puasan dengan apa yang dimiliki. Kemudian Tu Manurung tampil sebagai sosok heroid sebagai solusi atas kisruh sosial “sianre bale”.

Cerita Tu Manurung juga digambarkan dalam tutur masyarakat bugis/Makassar yaitu orang yang dianggap turun dari sesuatu tempat yang tinggi, memiliki kelebihan seperti kekuatan supernatural, kecerdasan, dan karismatik, oleh masyarakat orang tersebut tidak diketahui asal-asulnya maka dinisbahkanlah langit sebagai tempat turunnya. Melalui kelebihan yang dimiliki oleh Tu Manurung yang terintegrasikan dalam kehidupan masyarakat dan terciptalah masyarakat yang harmonis. Dengan adanya tutur Tu Manurung beberapa klan disulawesi-selatan kemudian mengklaim daerahnya sebagai tempat turunnya Tu Manurung yang kemudian anak/cucuk Tu Manurung menyebar ke berbagai daerah dan menjadi Raja didaerah tersebut.

Pendapat lain menilai bahwa Tu Manurung adalah simbol sosial yang dibuat untuk kepentingan kelompok tertentu, karna Tu Manurung merupakan cikal bakal terbentuknya stratafikasi sosial. Hal yang ditekankan disini bahwa Tu Manurung adalah mitologisasi yang diafiliasikan dengan aristokrat sebagai sesuatu yang menguatkan stratafikasi sosial mereka. Para aristokrat menjadikan mitologisasi Tu Manurung sebagai simbol sosial untuk kepentingannya karna Tu Manurung merupakan sesuatu yang superior sebagai legitimasi untuk mempertahankan statafikasi sosialnya secara turun-temurun.

Dari pembahasan diatas penulis membagi 4 perspektif dalam mengkaji Tu Manurung :

1.    Tu Manurung dalam perspektif kepemimpinan
2.    Tu Manurung dalam perspektif tutur masyarakat ( Pau-pau rikadong )
3.    Tu Manurung dalam perspektif Simbol sosial ( kepentingan kelompok )
4.    Tu Manurung dalam perpektif Lontara”
Untuk pembahasan lebih detail dari empat perspektif Tu Manurung akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya.


(Mohon kritikan dan sarannya)
“HS-Masagenae”

SILSILAH ARUNG ALITTA


  1. We patteteng tana Cella {We Cella}, Arung 
  2. La Gojeng, Arung Alitta dan Arung Arateng.
  3. La Massora, Arung Alitta {Suami bidadari dan Cikal bakal kisah Sumur manurung Lapakkita}
  4. We tenriLEkke, Arung Alitta.
  5. Petta Moppangnge, Arung Alitta.
  6. We Cella, Arung Alitta.
  7. We pasa Ma'BalancaE, Arung Alitta,Arung belawa,Arung Bulu Cenrana.
  8. La Pamessangi.{Petta i Kulua,matinroE ri Kulua}Arung Alitta,Datu Suppa,Arung Belawa Orai.
  9. La Pattasi, Arung Alitta{Pengalihan kekuasaan dari Gowa ke Bone}
  10. To Dani, Arung Alitta,Datu Suppa,Addatuang Sawitto,Addatuang sidenreng,Datu Citta dan Karaeng Galingkang.{Arung Ajattappareng}
  11. La Toware Arung Alitta,Datu Suppa.
  12. We Tasi Arung Alitta,Arung Ganra{Soppeng}.
  13. La Posi Arung Alitta
  14. To Sibengngareng{Petta Mabbola BatuE}, Arung Alitta. 
  15. We Mappalewa, Arung Alitta{Di Keluarkan}
  16.  Muhammad Saleng.Arung Alitta,Arung Sijelling {Calabai Tungke'Na Alitta}.
  17. We Cinde, Arung Alitta dan Addatuang Sawitto.
  18. La Cibu, Arung Alitta dan Addatuang Sawitto
  19. We Cella Tenripaddanreng {Sitti Aisyah} Arung Alitta {di peristri oleh Sultan Husein Karaeng Lembang Parang Somba di Gowa}
  20. I Pangoriseng Bau TodE Petta Alitta, Arung Alitta {Putra raja Gowa}. 
  21. La BodE.Arung Alitta{Di angkat oleh Belanda menjadi raja} 
Sumber ; Grup Facebook Pinrang City Bersatu oleh Daeng Chindank WewanRiu

SILSILAH ADDATUANG SAWITTO

  1. La Bangenge
  2. La Teddung Lompo
  3. La Pute Bulu 
  4. La Paleteyange 
  5. We Gempo 
  6.  La Cela Mata 
  7. La Pancai Tana 
  8. We Pasule Datu BisuE Daeng Bulaeng 
  9. La Tenri Pau 
  10. La Makasau 
  11. We Time Petta BattoaE
  12. La Toraja 
  13. To Dani 
  14.  La Tenri Tatta Daeng To Mami 
  15. La Doko 
  16. La Kuneng 
  17. We Time
  18.  We Cine / Cinde 
  19. La Cibu 
  20. We Pasulle 
  21. La Tamma 
  22. We Beda 
  23. We Tanri
  24.  We Rukiya

AMARAH

Kenapa kalau ditegur ia lebih duluan marah ?
Padahal aku punya niat baik kepadanya, atau mungkin caraku yang kurang baik. hhhhe
Intinya nikmati proses.

#INDO LOGO

KRIS PUSAKA

KRIS PUSAKA

Refleksi 17 Agustus ; Ekspedisi SUMPUGI, Makam cinnong Tabi II, Arung Matoa IV, dan Syech Jamaluddin Al Akbar Al Husaini.


17 agustus 1945 dihalaman kediaman Soekarno Jalan Pengangsaan Timur No. 16 pukul 10:00 Wib, terdengar suara lantang yang bergema, menggetarkan hati bagi orang-orang yang mendengarkannya, Sang Proklamator Ir Sukarno mambacakan Naskah Kemerdekaan RI. Moment itu kemudian dijadikan hari kemerdekaan RI yang tiap tahun direfleksikan oleh semua kalangan masyarakat RI. Mulai dari upacara kemerdekaan, lomba bernyanyi, lomba pentas seni dan olahraga. Refleksi 17 agustus dijadikan moment untuk memuliakan para pejuang dan pendiri Negara RI.

Sabtu 17/Agustus/3013 LSM  Sempugi Makassar turut merefleksi hari kemerdekaan RI, tapi sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh kalangan masyarakat RI pada umumnya seperti yang telah dipaparkan diatas, mereka menginterpretasikan nasionalisme dengan melakukan ekpedisi ketempat cagar budaya lokal tepatnya di Kabupaten Wajo Makam cinnong Tabi II, Arung Matoa IV, dan Syech Jamaluddin Al Akbar Al Husaini. 

Kegiatan tersebut juga diramaikan oleh Founding Fathers Sempugi A.Rahmat Munawar, dan Noor Sidin (Ambo Upe) dan beberapa anggota lain seperti Roedy Rustam, Renaldi Maulana, Darsam Belana, Ridwan dan Haeruddin Syam Masagenae. Kegiatan ini juga sebagai bentuk perlawanan modernisasi barat yang menghegemoni masyarakat RI melalui budaya POP, yang membuat masyarakat RI pada umumnya melupakan Sejarah dan Budaya mereka sendiri. Ini diakibatkan karna mereka terlalu sering mengkomsumsi produk-produk budaya barat yang sangat amoral melaui media.

Ekspedisi Sureng Sempugi merupakan iktiar untuk menjaga cagar budaya lokal yang saat ini terlupakan oleh masyarakat RI dan sungguh sangat ironis ketika mereka bertengkar masalah silsilah sementara mereka tidak pernah mengunjungi makam-makam tokoh yang mereka justufikasi bahwa mereka adalah keturunan tokoh tersebut.

Saat sampai di lokasi makam sangat terlihat jelas bahwa makam itu kurang diperhatikan melihat bangunan-bangunanya sudah sangat rapuh, pagarnya juga sudah berjatuhan, halaman makam ditumbuhi tanaman liar, bahkan petani disekitaran salah satu makam menjadikannya sebagai tempat pakrir motor saat mereka turun kesawah. Pertanyaannya kemudian, dimana peran dinas pendidikan dan kebudayaan untuk merawat makam tersebut sementara ada anggaran yang dialokasikan pemerintah daerah untuk perawatan cagar budaya lokal?
 
Makam Arungmatoa IV
Selama seharian walhasil ekspedisi berjalan lancar, dari kondisi cagar budaya lokal yang begitu memprihatinkan banyak hal yang harus dilakukan untuk menyelamatkan peninggalan-peniggalan tersebut, salah satunya adalah berbagi keresahan kepada masyarakat, Karna usaha sekecil apapun pasti memberikan efek untuk memperbaiki peradaban lokal. adapun ekspektasi gerakan ini adalah untuk bisa menciptakan masyarakat yang humanis melalui gerakan penyelamatan budaya dan sejarah.
(Mohon kritikan dan masukannya)

Haeruddin Syams Masagenae

Mahasiswa dan Kehidupan Sosial ; Spekulasi Heroisme Mahasiswa

Akademis dan organisasi merupakan terminologi yang selalu diidentikkan dengan mahasiswa yang dalam perkembangannya mengkonstruk logika kompetisi yang tak berujung. Dimana indikator kemapanan mahasiswa akademisi dengan indeks prestasinya yang tinggi sedangkan mahasiswa organisatoris dengan improvisasi yang hebat. Kalau bercermin dari sejarah, seperti yang terjadi pada saat penggulingan rezim orde baru dimana peran gerakan mahasiswa sangat besar walaupun disatu sisi ada isu yang mengklaim bahwa gerakan tersebut adalah kendaraan politisi partai sebagai batu loncatan karirnya dalam instansi pemerintahan, moment ini tidak pernah disebutkan dalam sejarah bahwa perjuangan tersebut hanya dilakukan oleh mahasiswa akademisi saja ataupun mahasiswa organisatoris, akan tetapi mereka berbaur membuat simpul perjuang mahasiswa. 
 
Kontribusi mahasiswa dalam sejarah perkembangan RI telah menganggkat stratafikasinya, digambarkanlah posisi mahasiswa berada ditengah-tengah antara rakyat dengan pemerintah sehingga timbul perspektif dalam masyarakat mahasiswa sebagai kaum terdidik yang mampu menjadi motorik untuk membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Buah dari gerakan mahasiswa yang sifatnya temorer yang dicatat dalam sejarah, kini direproduksi menjadi cerita heroid, spekulasi heroisme mahasiswa dijadikan dongeng yang dicerikan pada mahasiswa baru dalam prosesi pengkaderan. Dimana spekulasi tersebut merupakan usaha pelarian dari ketidak mampuan mahasiswa sekarang melakukan perlawanan terhadap dominasi oligarki dalam lingkungan kampus.

Pengultusan inilah yang membuat mahasiswa besar kepala seolah-olah harapan untuk mencapai sila ke 5 dari pancasila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” ada ditangan mereka, yang menjadi pertanyaan kemudian kenapa sampai sekarang keadilan tersebut belum bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia? malah kondisinya keadilan itu hanya milik orang kaya saja, begitu besar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin secara finansial maupun dimata hukum.

Dikotomi mahasiswa, rakyat, dan pemerintah merupakan kecelakaan berpikir yang terbangun selama ini, yang mejadikan rakyat menggantungkan harapan mereka kepada mahasiswa atas kezaliman yang dilakukan oleh penguasa, apakah perubahan bisa terwujud jika hanya mahasiswa yang berjuang? Ohh tidak,  itu sangat mustahil karna tanpa ada integritas ketiga elemen tersebut secara komprehenshif maka harapan untuk tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya akan menjadi mimpi belaka.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat itu tersusun atas mahasiswa, rakyat, pemerintah dan tidak akan berubah keadaan mereka kalau perjuangannya tidak sinergis untuk merubah keadaan mereka sendiri menjadi lebih baik.

Coretan ini dalam rangka kegiatan Youth Camp



" mohon kritikan dan masukannya"
Haeruddin Syams Masagenae
 

“Keluarga, sahabat, pacar dan pengaruhnya terhadap pengkaderan”


Ketimpangan sosial sering sekali di dapatkan  dalam interaksi antar satu individu dengan individu yang lain dalam institusi sosial. Terkadang  fenomena tersebut menjadi percikan api yang berujung pada perdebatan, permusuhan, bahkan sampai perkelahian, bisa juga sebaliknya. Ketimpangan sosial yang dimaksud adalah adanya perlakuan berbeda suatu individu dengan individu yang lain hal tersebut terjadi  karna adanya ikatan sosial yakni sebagai keluarga, sahabat,dan pacar.

Berbicara masalah pengkaderan tentu hal tersebut sangat identik dengan lembaga karna syarat mutlak suatu lembaga , baik itu lembaga profit, kemahasiswaan, pemerintah adalah regenerasi sebagai sosok untuk melanjutkan agenda-agenda lembaga tersebut dan  kualitas regenerasi sangat dipengaruhi oleh prosesi pengkaderan struktural maupun kultural. Jadi bagaimana seseorang regenerasi ditempa sedemikian rupa untuk menghasilkan generasi yang berkulitas, dalam proses pengkderan inilah dilakukan internalisasi nilai-nilai tujuan lembaga tersebut.

Pengkaderan akan sangat normatif jikalah didefenisikan dengan pendekatan lembaga, mari kita membahas pengkaderan secaran universal dengan menggunakan pendekatan spirit perjuangan “setiap hembusan nafas adalah pengkaderan”  pada dasarnya pengkaderan merupakan metodelogi  untuk menularkan spirit perjuangan kepada seseorang, dengan kata lain ada transformasi nilai. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan rasa perhatian lebih dan saling menjaga satu sama lain, walaupun tanpa adanya ikatran keluarga, sahabat, dan pacar, jadi esensi proses pengkaderan adalah bagaimana individu memberikan perhatian lebih terhadap individu yang lain begitu pula sebaliknya, dan saling menjaga satu sama lain dan hal tersebut dilakukan dalam setiap hembusan nafas. Esensi itulah yang akan menghasilkan ikatan spirit perjuangan lebih kuat dari ikatan keluarga, sahabat, dan pacar.

Pada dasarnya keluarga adalah ikatan darah antara satu individu dengan individu yang lainnya dan sangat normatif. Hal itu bisa dilihat dari kartu keluarga (KK) dan informasi lisan dari individu yang memiliki ikatan darah seperti, kakek, ayah, dan saudara. Keluarga juga terkadang didefenisikan sebagai kesamaan dalam suatu komunitas seperti kesamaan suku, mahasiswa, profesi kerja dll. itulah beberapa gambaran keluarga, selanjutnya akan diintegritaskan bagaimama pengaruhnya terhadap proses pengkaderan.

Pembasan diatas telah disampaikan esensi pengkaderan yakni rasa perhatian dan saling mejaga satu sama lain, jikalah hal tersebut tidak bisa diintegrasikan didalam lingkungan keluarga maka akan menimbulkan kecanggungan untuk berkomunikasi dan bahkan bisa saling tidak mengenal kalau keluarga tersebut berdomisili ditempat yang berbeda, sebaliknya jika esensi pengkaderan bisa di integrasikan dalam interaksi sosial maka akan menghasilkan ikatan kekeluargaan yang sangat kuat walaupun tanpa adanya ikatan darah, begitu pula dengan ikatan sahabat dan pacar.


( Mohon kritikan dan sarannya )
Haeruddin Syams Masagenae

EYD dan Fenomena Okkots

Jakarta 27/Agustus/1975 menteri pendidikan dan kebudayaan RI menetapkan UU No. 0195/U/1975 tentang peresmian berlakunya pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (sumber wikipedia), melalui ketetapan tersebut bahasa RI diseragamkan sesuai dengan EYD. Seiring dengan itu ada beberapa pertayaan yang wajib untuk di ketahui, pertama apakah menteri pendidikan dan kebudayaan RI pada saat itu mempertimbangkan efek yang ditimbukan dari ketetapan tersebut.?

Seperti kepunahan bahasa lokal  yang jumlahnya 746 ! (sumber http://bahasa-nusantara.blogspot.com) yang kedua apakah EYD refresentatif dari semua bahasa lokal yang ada di RI ? minimal satu kata dari semua bahasa lokal dimasukkan dalam bahasa Indonesia yang disempurnakan, ataukah hanya mewakili satu bahasa lokal saja yang kemudian melalui ketetapan UU EYD digunakan sebagai legatimasi untuk mengintervensi masyarakat Indonesia menggunkan bahasa tersebut dengan alasan persatuan, yang ketiga apakah EYD bisa beradaptasi dengang bahasa lokal ditiap-tiap daerah RI tanpa mencederai nilai-nilai kearifan lokal ? karna masing-masing bahasa lokal memiliki dialek yang berbeda dalam mengucapkan huruf dan kata.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut penulis memiliki jawaban yang bebas nilai, dimana setiap pembaca bebas memberikan jawaban sesuai dengan apa yang mereka pahami.

Dalam perkembangannya kemudian, EYD menjadi bumerang munculnya budaya okkots dalam masyarakat bugis/makassar, parahnya lagi  dikalangan remaja tidak mau lagi menggunakan bahasa lokal karna dianggap katro, kolot, atau bahasa kerennya tidak gaul dan beberapa diantara mereka mengolok-olok ketika mendengar seseorang menggunakan bahasa bugis/makassar.

Defenisi okkots yang dimaksud disini adalah menambahkan, mengurangi, dan mengganti huruf pada kata yang sudah disempurnakan. Seperti ‘bukan+G, kapan+G,  dan+G, lain+G, lain+G. disini dapat dilihat bahwa EYD susah beradaptasi dalam dialek bugis/makassar, karna pada dasarnya pengucapan kata dalam bahasa bugis/mekassar sangat identik dengan akhiran ‘NG’ tidak ada satu katapun dalam bahasa bugis/makassar  yang berakhiran ‘N’ pasti kata yang berakhiran ‘N’ disertai dengan ‘G’ jadi dialek bugis/mengkasar sudah terbiasa mengucapkan akhiran ‘NG’.

Ketika kemudian EYD digunakan dalam berkomunikasi penambahan huruf ‘G’ pada kata yang huruf terakhirnya ‘N’ itu merupakan sebuah kewajaran  dimana EYD dikombinasikan dengan dialek bahasa bugis/makassar. Sangat tidak adil jika memarginalkan orang bugis/makassar hanya karna menambahkan huruf ‘G’ pada kata yang berakhiran ‘N’ dan sangat lucu, bodoh, memalukan orang bugis/makassar yang merasa teralienasi jika menggunakan bahasa lokalnya sendiri, sementara darah yang mengalir dalam tubuhnya didapatkan dari orang bugis/makassar yang dulunya sangat bangga dengan identitasnya.

Sama halnya ketika EYD diterapkan dalam bahasa lokal yang lain seperti bahasa ‘kemane aje’ (kemana saja), ‘nda ape-ape (tidak apa-apa), kalau kita sepakat dengan defenisi okkots yang telah dijelaskan sebelumnya maka bahasa tersebut bisa dikatagorikan sebagai okkots. Akan tetapi mereka dengan dialeknya sangat bangga dan percaya diri, bahkan mereka tampil di film, acara-acara TV lainnya dengan bahasa ‘kemane aje’ (kemana saja), ‘nda ape-ape (tidak apa-apa) yang pada dasarnya itu adalah okkots.  itulah yang membedakannya dengan orang bugis/makassar yang mereduksi budaya "siri na pesse" dan menyebabkan mereka merasa teralienasi dengan okkotsnya.

-HS’Masagenae

INI CERITA KU (BAKTI SOSIAL KMP PNUP)


Desa Suppirang, leppangan, dan salusape, kecamatan lembang merupakan merupakan daerah yang berada dikabupaten pinrang letaknya kira-kira 30 km dari pusat pemerintahan. Akses jalan dari kota kecamatan menuju desa saat ini sudah bisa dilewati menggunakan sepeda motor walaupun jalannya belum diaspal. Didesa leppangan hanya ada 5 rumah dan desa salusape 3 rumah, masyarakat kesehariannya bekerja sebagai petani yang merupakan sumber penghidupan untuk memenuhi kebuthan keluarga. Mayoritas anak-anak disana belum bisa menikmati pendidikan gratis yang selalu dikampanyekan politikus partai saat berkunjung didesa tersebut. Sungguh sangat ironis ketika melihat kehidupan eksklusif dan glamor anggota pemerintahan kabupaten pinrang sementara masih banyak penduduknya yang harus bermandikan keringat hanya untuk mencari sesuap nasi.
Foto Bersama Anak-anak di Desa Salusapae
Hari senin 5 agustus 2013 bertepatan dengan ibadah puasa yang ke 27 mahasiswa KMP PNUP melakukan kegiatan Bakti Sosial, selain kegiatan tersebut merupakan program kerja organisasi juga merupakan interpretasi fungsi mahasiswa yaitu social of control, dimana mahasiswa harus berpartisipasi reel ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Inilah bentuk tindakan kemanusiaan yang sangat mulia oleh mahasiswa KMP PNUP dengan membuat kegiatan Bakti Sosial. Ada beberapa item dalam kegiatan baksos tersebut, yang pertama membersihkan mesjid didesa suppirang, yang kedua membagikan bahan makanan berupa telur, indomie, ikan kaleng, minyak goreng didesa leppangan dan salusape.

Mahasiswa KMP PNUP sangat antusias dalam menjalankan kegiatan tersebut mulai dari anggota kehormatan, pengurus, dan adik-adik mahasiswa baru yang sangat bersemangat ketika dalam perjalanan menuju desa, walaupun harus melewati jalan terjal yang penuh dengan bebatuan sampai-sampai mereka harus menyebrangi sungai untuk sampai kedesa. Yang paling luar biasa adalah semangatnya tetap berkobar saat salah satu diantara mereka terjatuh dari motor dan ada juga yang terpeleset sampai jatuh di air saat menyebrangi sungai.

11:00 wita desa suppirang, agenda pertama membersihkan mesjid, Mahasiswa KMP PNUP sampai didesa suppirang tepatnya didepan mesjid, dengan arahan ketua KMP dan ketua panitia baksos mereka masing-masing mengambil peran untuk membersihkan mesjid seperti menyapu/mengepel lantai, merapikan barang-barang dan perlengkapan ibadah, tapi ada juga beberapa diantara mereka yang bermalas-malasan, hanya duduk sembil cerita dan tertawa disekitaran mimbar mesjid. Dalam keadaan menjalankan ibadah puasa ditambah lagi cengkraman panas matahari yang membuat energi terkuras dan tubuh kelelahan mereka tetap memancarkan senyum bahagia diwajahnya bagaikan lilin yang meleburkan dirinya untuk menjaga agar bunga api tetap menyala agar dapat memancarkan cahaya ditengah-tengah kegelapan. Inilah karakter kader KMP PNUP yang memiliki spirit perjuangan dalam menyelesaikan tanggung jawab.Satu jam berlalu dengan dibumbuhi canda tawa akhirnya kegiatan membersihkan mesjid  pun selesai, mereka kemudian melaksanakan sholat duhur berjamah bersama dengan masyarakat sekitar dilanjutkan dengan briefing untuk mengevaluasi dan mebicarakan agenda berikutnya, ketua KMP sempat mengevaluasi kekurangan saat membersihkan mesjid yaitu WC yang tersumbat belum sempat diperbaiki dan harusnya bisa memberikan bantuan berupa lap kaki karna mesjid tersebut tidak memiliki lap kaki. Briefing selesai, perjalanan dilanjutkan untuk menyelesaikan agenda kedua. Jarak yang harus ditempuh untuk sampai kedesa berikutnya sekitar 4-5 km melewati jalan yang sangat tidak bersahabat ini karna kurangnya perhatian pemerintah setempat untuk memperbaiki jalan tersebut.


13:45 akhirnya sampai didesa leppangang, barisan motor diparkir rapi dibawah rumah masyarakat kemudian mereka burkumpul untuk membagi team kerja yang akan melakukan pembagian bahan makanan ditiap-tiap rumah. Sesuai kesepakatan team terbagi dua dan tiap team terdiri dari 4-5 orang, setelah terbentuknya team mereka kemudian mendatangi rumah masyarakat untuk membagikan bahan makan. Ada juga beberapa anggota yang hanya tinggal duduk santai bercanda ria dibawah rumah dan menikmati pemandangan alam sambil berfoto-foto. Saat sampai dirumah masyarakat tiap team terlebih dahulu berbincang-bincang dan meminta kesediaan masyarakat untuk menerima pemberian bahan makanannya, karna biasanya masyarakat desa pinrang “masiri” malu menerima pemberian seseorang terlebih lagi kalau mereka tidak mengenal siapa orang tersebut, itulah tipologi masyarakat pedesaan dipinrang yang menjadikannya tekun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka karna ada konstruk budaya lokal dalam pahaman mereka ‘jangan pernah berharap pemberian seseorang, ketika engkau masih bisa mencarinya. Berhubung hanya ada 5 rumah didesa leppangan jadi tidak memakan banyak waktu untuk membagikan bahan makanannya, mereka dapat menyelesaikan dalam waktu kurang lebih 30 menit, begitu pula didesa salusape.
Desa Leppangang
Setelah kegiatan Bakti Sosial selesai, mereka berkumpul didesa bungi tepatnya rumah saudari Nunu Bondeng untuk berbuka puasa ‘menikmati masakan ala mace Nunu Bondeng’.

Mohon keritikan dan masukannya (atau sekalian ditambah)

“HAERUDDIN SYAM MASAGENAE”

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger