Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Apakah Lembaga Adat Masih Relevan di Negara Kita !?

ilustrasi "Balla Lompoa"


MAU di bawah kemana lembaga adat kita? Yah itu pertanyaan yang sangat menggelitik dalam benak saya. Pertanyaan yang menjadi hantu gentayangan, memudarkan warna-warni harapan yang saya sandarkan kepada lembaga adat. Saya tidak paham kenapa bisa lembaga adat sekarang seolah-olah terikat garis komando dari Presiden, Gubernur, Bupati, dan jabatan politik lainya.

Tidak heran jika kita pernah mendapati pemimpin lembaga adat di lantik oleh pemilik kuasa ala demokrasi Negara kita. Bahkan saya sempat mendengar cerita bahwa ada seorang pemimpin lembaga adat yang di tunjuk lansung oleh Bupati. Hah! Kok bisa?

Padahal dulu lembaga adat merupakan pemilik hamparan tanah di Nusantara. Berdaulat secara geografis untuk mengelolah sumber daya alamnya, sebelum pada akhirnya melebur dalam NKRI (negara kesatuan republik Indonesia) dan lambat laun mereka pun kehilangan taring akan kuasa yang di wariskan para leluhur mereka. 

Tapi ajaibnya kota Yogyakarta, masih mampu mempertahankan sistem tradisional itu, sampai sekarang! Ini membuktikan bahwa lembaga adat tidak bisa dipisahkan dari Indonesia yang telah mengadopsi demokrasi barat. Sampai kapan pun lembaga adat akan selalu tercatat rapi dalam buku sejarah kita. Semoga kita tidak pernah melupakan sejarah ke-emasan perdagangan kerajaan Gowa di Asia paca runtuhnya kerajaan melayu Malaka akibat invasi militer Portugal.

****

Saat ini dalam bingkai persatuan Bhineka Tunggal Ika masih terdapat lembaga adat yang eksis di bangsa kita. Negara yang mewarisi domain kerajaan se-Nusantara. Terkhusus di Sulawesi-Selatan indikator keberadaannya bisa kita saksikan saat dewan adat Luwu tahun 2014 kemarin  memberikan gelar kebangsawanan kepada mantan presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Berita itu gempar dan sempat menjadi perbincangan di media sosial oleh para pemerhati budaya. 

Di tambah lagi bulan November 2015 lalu terjadi peristiwa serupa di mana Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Polisi Badrodin Haiti mendapat gelar yang sama dari lembaga adat bumi Arung Palakka. Yang heboh di wartakan oleh jurnalisme kita dan menuai respon pro-kontra di masyarakat terutama mahasiswa asal Bone yang kuliah di Makassar hingga mereka melakukan aksi demonstrasi untuk menyikapainya. 

Saya sempat terkejut karena diberikan tawaran salah seorang teman pengurus organisasi daerah (organda) Bone untuk menjadi pembicara terkait masalah itu. Sontak saya menolak karena isunya sangat sensitif, meskipun itu hanya dalih saya karena sebenarnya saya menanganggap kapasitas intelektual saya tidak kompeten untuk berbicara masalah gelar yang disebut-sebut sebagai  milik orang yang berdarah biru. "Entahlah, kita anggap saja itu benar!

Tapi dikesempatan ini saya tidak tertarik membahas tanggapan masyarakat terkait kontroversi pemberian gelar tersebut. Menurut saya setiap orang punya gagasan dan ekspektasi tersendiri. Saya hanya ingin memberikan gambaran akan impian dan harapan saya sebagai bentuk pengakuan saya terhadap eksistensi lembaga adat di bumi pertiwi kita. 

Bagi saya lembaga adat sangat ideal untuk bangsa kita kerena merupakan sistem pemerintahan yang lahir dari rahin budaya kita sendiri walaupun sudah tergeser oleh pesta demokrasi impor. "Sungguh ironis. Saya membagi beberapa poin impian dan harapan tersebut :

  1. Lembaga adat harus hadir ditengah-tengah masyarakat kita tanpa membeda-bedakan kalangan proletar dan borjuis. Ia harus hadir ketika tanah kami di rampas dan dipalsukan akta kepememilikannya oleh para pemodal, ketika rumah-rumah kami di gusur untuk membangun mall, ketika pengairan di tutup saat sawah kami membutuhkan air, ketika hutan kami di bakar dan di eksploitasi, ketika kebijakan-kebijakan pemerintah tidak memihak kepada rakyat.
  2. Lembaga adat harus mengapresiasi mereka para pemerhati budaya, mereka yang peduli akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya kita tidak hanya sibuk memberikan gelar kebangsawanan kepada pejabat pemerintahan. Misalnya organisasi yang berbasis kebudayaan baik itu  organisasi mahasiswa internal dan eksternal kampus  ataupun LSM  (lembaga swadaya masyarakat) beserta seniman, musikolog, maestro lokal kita. Jujur, saya sangat terinspirasi oleh senior saya Andi Rahmat Munawar. Ia adalah budayawan yang aktif menulis tentang kebudayaan Bugis-Makassar dari segala aspek, sebut saja gagasannya tentang "Qou Vadis Lembaga Adat"? yang menjadi inspirasi saya membuat tulisan ini. Bisa di baca di blog pribadinya di sini www.diskusilepas.com
  3. Lembaga adat harus menjadi mediator untuk mengajarkan pengetahuan dan kearifan lokal warisan nenek moyang kita. Di Bugis-Makassar terdapat segudang ilmu yang terabaiakan oleh generasi muda kita. Seperti  Lontaraq Sebbo, "kitab yang membahas tentang etika suami-istri secara islami. Lontaraq sissi, "kitab yang membahas karakter manusia dari tampilan fisik. Lontaraq abbolang, "kitab yang membahas adab-adab bagaimana cara membangun rumah. Lontaraq bessi, "kitab yang menyajikan proses pembuatan badiq. Dan masih banyak lagi yang tidak sempat saya tuliskan di sini.
  4. Seyogyanya sebuah sistem pemerintahan, lembaga adat harus merekonstruksi dan memperjelas  struktur dan hukum-hukumnya. Prof. Dr. Mattulada menjabarkan perangkat-perangkat adat dalam bukunya La Toa : 1985. "Arung Bila, membagi ade' (adat) atas lima bahagian, menurut pangkal kejadian, nilai, dan sasaran kegunaan. Pertama : ade'puranonro adalah ade' yang tidak boleh mengalami perubahan-perubahan lagi. Suatu azas yang menjadi pangkal dari seluruh azas ade' lainnya. Kedua : Ade maraja ialah adat yang dimufakati berdasarkan janji tentang batas-batas berlakunya. Ketiga : Tuppu, semacam ketetapan bagian dari ade' yang mengatur jenjang dan tingkat-tingkat ketetapan dalam kekuasaan pemerintahan. Berlakunya ade' tuppu apabila terjadi sengketa diakalangan pekatenni ade' (pemangku adat). Keempat : Wari adalah semacam ketentuan pula, bahagian dari ade' yang mengatur jori (batas-batas) hak dan kewajiban orang dalam bermasyarakat. Kelima : Rapang adalah sesuatu ketentuan yang penting dalam ade'. Di dalam hal orang berkehendak mengambil landasan-landasan baru, jika sebelum itu telah terjadi peristiwa yang semacamnya. Untuk lebih lengkapnya silahkan baca di buku La Toa bab III.
  5. Lembaga adat harus mendorong agar pemerintah dan investor harus menganut kerjasama kemitraan dengan masyarakat adat untuk menciptakan ekonomi kerakyatan yang tidak hanya menguntungkan kelompok dan orang-orang tertentu. "Pola Kemitraan adalah pola kerjasama usaha yang saling membutuhkan, menguntungkan dan saling menguatkan secara berkesinambungan. Dalam hal ini, pengembangan pola kemitraan yang melibatkan pemerintah, swasta, dalam hal ini investor dan masyarakat sudah saatnya dilakukan dan dilaksanakan. Pada pola kemitraan itu juga, para petani dalam hal ini masyarakat adat setempat, diajak turut bertanggung jawab dalam kegiatan on-farm suatu perusahan perkebunan misalnya, antara lain terlibat langsung dalam penyediaan lahan, penerapan teknologi budidaya yang dianjurkan dan menjual hasilnya keperusahan induk sebagai mitra kerja yang mengayomi dan memberikan modal usaha
  6. Lembaga adat mestinya bersikap independen. Tidak berafiliasi dengan partai politik, apalagi sampai menggunakan legitimasi jabatan adat untuk mengarahkan rakyat memilih calon tertentu.
****

Terkadang saya merenungi nasib bangsa kita, ketika membaca berita perkembangan pesat Negara-negara maju. Di saat mereka sudah melakukan pengayaan nuklir sebagai energi alternatif untuk menggantikan sumber daya alam yang kian menyusut tiap harinya. Sementara para bangsawan kita masih sibuk mengurusi perpecahan internal. Saling menjatuhkan satu sama lain, hanya untuk menjawab pertanyaan “siapa yang pantas mewarisi kursi pemimpin lembaga adat? “Siapa yang memiliki darah bangsawan yang lebih tinggi? 

Bagi saya, mereka yang tidak mampu membuka cakrawala berpikirnya untuk meneropong masa depan, adalah mereka yang tidak akan mampu memprediksi rintangan apa yang datang menghantam. Persaingan ketat di dunia Internasinal akan menjadi momok bagi mereka, hingga mereka ibarat ratusan rumah yang terbawa arus sunami yang hanya menyisakan puing-puing. Jika ingin bertahan, harusnya bangsawan-bangsawan kita di lembaga adat meyiapkan strategi-strategi jitu untuk menyongsong tantangan zaman, agar tidak terseret oleh tumpukan puing-puing akibat gerusan gelombang sunami globalisasi.

Makassar 13 Januari 2016

Bentor dan Daeng Itung

Bentor Daeng Itung
Daeng bentor, “teriak Ibu dengan melambaikan tangan kanan sembari melangkahkan kaki menuju pertigaan jalan Bonto Ramba Makassar. Sontak,  orang di depanku   lansung menyalakan bentornya untuk menjemput si Ibu, mau kemana-ki? “Tanya-nya, ke Hertasning, “jawab si Ibu sambil naik ke atas bentor. Mereka pun berangkat tanpa sempat menyepakati ongkos jasa untuk si tukang bentor.

Jika kalian melewati pertigaan depan kantor Jasa Sertifikasi PLN (perusahaan listrik negara), maka kalian akan melihat banyak becak yang bertenaga penggerak mesin di bagian belakang sebagai pengganti manusia. Orang di kota Makassar menyebutnya bentor dan profesinya di beri gelar tukang bentor atau daeng bentor. Dulu kata “daeng” hanya digunakan untuk memanggil orang yang lebih tua dari kita sebagai tanda penghormatan, entah kenapa sekarang dinisbahkan juga kepada tukang bentor dan tukang becak. (cikal bakal penyebutan daeng bentor berawal dari daeng becak). Bentor merupakan alat transportasi modifikasi, gabungan antara motor dan becak.

Setiap hari kerja aku selalu menyaksikan deretan bentor terparkir di bibir jalan Bonto Ramba, dan selalu kulihat wajah lelah pengemudinya ketika mereka sedang beristirahat sembari menunggu penumpang. Tuntutan sesuap nasilah yang menjadi pemicu semangat mereka  bekerja sebagai tukang bentor karena untuk memenuhi kebutuhan keluarga, "tutur daeng Itung yang lagi duduk di sebelahku.

Biasanya, saat matahari kembali menyapa di belahan timur bumi, daeng Itung sudah berada di pertigahan, mencari rezeki Tuhan yang diturunkan melalui perantara para penumpang. Ia baru pulang ke rumah saat jarum jam menunjuk angka sepuluh, bertepatan dengan kehadiran bulan yang telah menggantikan tugas matahari, begitulah rutinitasnya setiap hari.

Aku sering menyapa daeng Itung saat ia lagi tidak ada penumpang karena tepat depan kantorku tempat ia nongkrong. Biasanya trik yang aku gunakan untuk memulai percakapan dengan berpura-pura menanyakan sesuatu dan setelah itu aku akan menjadi pendengar setia kisah perjalanan hidupnya. Aku pasti terlarut ketika ia bertutur. Ku-dengar ‘ketika daeng Itung bercerita ia ibarat pak Raden yang bisa menyulap anak-anak usia pelajar sekolah dasar (SD) untuk larut dalam cerita dongengnya dan seolah-olah mereka hadir sebagai aktor yang memainkan peran narasi dongeng.

Tampaknya daeng Itung amat terbuka kepada orang lain tentang kepribadiannya. Aku curiga ia memikul banyak beban pikiran, jadi wajar ia begitu lepas berkisah tentang dirinya agar beban itu terasa ringan, yah bisa jadi seperti itu.

Beberapa tahun silang daeng Itung merantau ke kabupaten Pinrang selama tujuh belas tahun dan bekerja sebagai Paddaros (orang yang digaji untuk memanen padi) ia juga membawa beberapa keluarga/teman untuk tinggal di sana, saking lamanya ia sampai-sampai menikah dengan warga setempat.

Saat itu alat pemotong padi masih menggunakan Rakkapang dan kandao/sabit (alat pemotong padi tradisional)  "pungkas daeng Itung sambil menghisap rokok yang berada di selah-selah jarinya. Akan tetapi kehadiran mesin pemotong padi di Pinrang memaksa ia angkat kaki pulang ke Makassar dan kembali menjadi seorang penarik bentor. Karena dengan menggunakan mesin itu petani tidak membutuhkan banyak tenaga manusia lagi untuk memanen padi di sawah.

*****

Daeng Itung merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang terpinggirkan oleh deras laju modernisasi. Beberapa negara maju berhasil mengembangkan alat pertanian yang mengakibatkan berkurangnya lapangan pekerjaan. Meskipun di lain sisi hal itu berdampak positif terhadap perkembangan perekonomian akan tetapi toh Negara  kita hanya bisa mejadi konsumen tanpa bisa memproduksi sendiri mesin-mesin pertanian tersebut.

Ada yang bilang sih kapasitas SDM (sumber daya manusia) masyarakat kita tidak memadai, tapi menurutku ke-tidak mampuan itu disebabkan adanya kesengajaan dari pihak tertentu yang tidak ingin melihat bangasa kita maju dan mandiri, Entahlah. Yang pastinya secara tidak lansung daeng Itung adalah korban teknologi impor Negara kita.

*****

Aku pernah mendengar cerita seorang teman, katanya saat ini di kampung halamannya sangat marak terjadi pencurian dan perkelahian. Ia menganalisis penyebab melonjaknya tindakan kriminalisasi karena mesin telah menggantikan tenaga manusia untuk mengelolah lahan pertanian. Karena para aktor kriminal itu tidak lain adalah pengangguran yang telah di rampas lahan kerjanya oleh mesin-mesin kapital, Ironis yah.

Budaya gotong royong menanam dan memanen padi di kampung-kampung kini telah mengalami distorsi. Dulu kita masih bisa menyaksikan puluhan hingga ratusan orang di sawah yang sedang melakukan aktifitas pertanian dan mereka saling bahu membahu satu sama lain. Interaksi sosial juga terjalin begitu akrab di antara mereka. Tapi sekarang teknologi membuat sebagian dari mereka menjadi  pengangguran yang kemudian mengakibatkan maraknya premanisme seperti yang terjadi di kampung temanku.

Konsekuensi globalisasi membuat masyarakat desa mengalami gerak menuju kehidupan ala perkotaan, di mana kebanyakan orang lebih mementingkan individu dari pada kelompok. Aku sering melihat beberapa orang di Makassar yang sudah bertetangga puluhan tahun tapi sampai sekarang mereka tidak pernah saling menyapa.

Mereka menghabisakan waktu kerja di kantor masing-masing, setalah pulang ke rumah mereka hanya memanfaatkan untuk beristirahat. Rutinitas itu yang telah membentuk pola hidup mereka sehingga lupa menyisihkan waktu satu menit untuk bertanya siapa nama orang yang tinggal di sebelah rumahnya.

*****

Kembali ke daeng Itung. Hari aku kembali menyapa senyum daeng Itung, tampaknya ia lagi banyak rezki dan sibuk mengantar-jemput penumpang langganannya "Alahmduillah, bisik'ku dalam hati. Jadi aku hanya ngobrol dengan anak daeng Itung, aku tidak tau siapa namanya tapi biasa aku panggil dia “Bapak Aswar. Kebetulan Ia juga bekerja sebagai penarik bentor.

Awal tahun 2015 kemarin seorang cucu daeng itung juga sempat melakoni profesi yang sama tapi sekarang ia sudah beralih menjadi buruh bangunan. Pantas daeng Itung sangat menyayangi bentor karna bentor-lah yang selama ini menghidupi keluarga besarnya, mulai dari 5 orang anak sampai 14 cucu.

Seperti daeng Itung, Bapak Aswar juga senang berkisah, ia menceritakan pengalaman yang ia alami saat pesta demokrasi wali kota Makassar kemarin. Katanya, tukang bentor se-Makassar kompak memilih salah satu calon karena mereka di janji tidak akan melarang pengoperasian bentor di kota yang terkenal dengan kuliner coto dan pallubasa-nya itu.

Tidak susah untuk mengarahkan tukang bentor karna mereka memiliki asosiasi, jadi cukup memegang pemimpin mereka maka yang lain akan mengikut. Dari penuturan Bapak Aswar, selama ini mereka agak solid jika ada arahan dari ketua asosiasi.

Setiap menjelang sore keluarga daeng Itung selalu datang berkumpul menemani, aku melihat sifat humoris sebagai ciri khas keluarga daeng Itung. Suara tawa mereka begitu nyaring terdengar olehku saat berada di dalam kantor dan kemudian suara itu bermetamorfosa menjadi  magnet menggodaku untuk ikut berbagi canda bersama mereka.

Mereka tiap hari meramaikan pertigahan jalan Bonto Ramba, sampai-sampai aku hampir mengenal semua anak, menanantu, cucu daeng Itung. Satu hal yang membuat aku kagum, mereka tidak pernah mengeluh akan takdir hidup yang mereka jalani. Di kala kami sudah bersama berbagi canda-tawa mensyukuri penghasilan yang kami peroleh itu sudah sangat membuat kami bahagia "ucap daeng Itung kepadaku yang sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Yaa Allah, semoga kebahagian daeng Itung bisa terpercik padaku agar aku salalu mensyukuri pemberianmu, “harapku dalam hati.


Makassar 6 Januari 2016

Malaikat Pencari Darah : Lingkar Donor Darah Makassar (kisah 1)

Seseorang terlihat memasuki pintu gerbang UTD Makassar (unit transfusi darah Makassar) mengendarai motor suzuki smash berwarnah biru-hitam. Setelah menyimpan kendaraan di tempat parkir ia kemudian menghampiri saya yang lagi duduk depan ruangan tunggu pendonor, dari tadi kak Rudi? "Sapanya, sambil menarik kursi dekat saya untuk duduk. Saya hanya senyum dan menganggukkan kepala untuk mengiyyakan.

Namanya Iccang, mahasiswa fakultas perikanan Universitas Hasanuddin berasal dari kabupaten Bone. Di selah-selah kesibukan kuliah ia selalu menyempatkan diri ke UTD bahkan hampir setiap hari, itulah kenapa wajanya begitu akrab di kalangan pegawai dan saya tidak heran jika ia begitu bersahabat dengan mereka.

Di UTD Iccang selalu sibuk menelpon pendonor baik orang itu ia kenal maupun tidak untuk meminta kesediaannya mendonor darah secara sukarela. Di dalam  tasnya ia selalu membawa buku yang berisi biodata para pendonor. Terdapat ratusan nama beserta alamat dan kontak person tercatat di buku itu, entah bagaimana cara ia mengumpulkannya, "wajah heran saya menatap ke Iccang. Yah itu merupakan tanggung jawabnya selaku direktur LDDM (Lingkar Donor Darah Makassar). LDDM merupakan komunitas mahasiswa yang aktif mencari pendonor untuk membantu pasien yang sedang membutuhkan darah saat persediaan di UTD habis. Selain itu mereka juga terkadang mendampingi si pasien hingga ia keluar dari rumah sakit.

Hal itu mereka lakukan dengan sukarela tanpa meminta bayaran, mereka bilang kami senang berhikmat untuk kemanusiaan, itulah alasan mengapa saya menyubut mereka sebagai malaikat pencari darah. Karna malaikat merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang bertugas melakukan kebaikan sampai kiamat datang, dan apa yang mereka lakukan di LDDM memperlihatkan sisi malaikat di balik wujud manusia mereka. Pada dasarnya manusia memliki dua sisi yakni baik dan buruk. Manusia bisa lebih mulia dari malaikat jika senantiasa mengaktualkan sisi baiknya dan akan lebih hina dari iblis ketika mereka sering berbuat keburukan.

Hampir semua orang yang mereka bantu berasal dari kampung pedalaman kabupaten di Sul-Sel, saat mereka terdesak akan kebutuhan darah untuk melakukan operasi dan pihak UTD tidak sanggup menyediakan darah karna stok darah kosong. Biasanya pegawai UTD merekomendasikan kepada keluarga si pasien yang butuh darah agar menghubungi kontak person LDDM untuk meminta bantuan agar dicarikan pendonor darah.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kecemasan orang-orang desa yang datang jauh berobat ke Makassar, ketika di rumah sakit mereka di desak oleh dokter mencari 10 kantong darah sementara UTD dan PMI (palang merah Indonesia) tidak bisa membantu di tambah lagi mereka tidak memiliki keluarga dan kenalan di Makassar. Hah! Kira-kira apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisi mereka? dan jika kalian bertanya kepada saya, pasti saya akan menjawab “saya akan menghubungi Iccang Direktur LDDM untuk meminta bantuan. he,,he.

Beberapa di antara orang yang pernah mereka tolong ada yang sempat memberikan uang, makanan, minuman dan lain-lain sebagai rasa terima kasih kepada teman-teman LDDM tapi mereka selalu menolak kemudian mengatakan "kami menolong tidak pernah mengharapkan bayaran dan semacamnya dan kami sangat bersyukur jika yang kami lakukan bisa membantu.

*****

Hari ini saya berencana ikut bersama Iccang ke rumah sakit Wahidin untuk menjenguk pasien yang ia dampingi. Tepat pukul lima sore kami berangkat. Namanya Ahmad Fadil, penderita penyakit Leukimia. Kemarin Iccang beserta teman-teman LDDM sempat membantu Fadil untuk mencari pendonor yang bergolongan darah A+ sebanyak 10 kantong guna memenuhi kebutuhan operasinya.

Baju merah Iccang dan Ahmad fadil beserta Ayahnya
Ketika kami sampai di RS ruangan lontaraq kamar satu-kelas tiga Ibu Fadil lansung menyambut kami dengan senyum dan wajah ceria. Salam Ibu, "tegur Iccang, sambil berjalan menuju kasur tempat Fadil terbaring. Jam 6 nanti anak saya akan di operasi dek "seru si Ibu. Kata dokter ada pendarahan di kepalanya yang harus segera diobati "lanjutnya. Hmm, Saya hanya bisa terdiam di sebelah Iccang sembari mendengarkan percakapan mereka.

Kami juga sempat menyapa pasien yang lain namanya Sahwan berasal dari kabupaten Barru, meskipun tidak banyak yang kami perbincangkan berhubung banyak keluarga Sahwan yang tiba-tiba datang untuk menjenguknya. Begitu juga dua pasien lagi setelah Sahwan yang kami temui tapi sayang saya lupa nama mereka. Yah hari ini sangat menyenangkan karna kami bisa mengunjungi empat pasien sekaligus, terima kasih untuk Iccang telah mengajak saya. Mungkin besok-besok saya akan lebih sering menemani direktur LDDM dinas di UTD dan melakukan kunjungan pasien di rumah sakit agar saya bisa menulis lebih banyak lagi cerita di blog kesayangan saya tentang “Malaikat Pencari Darah”

Sahwan dan Iccang

Makassar 4 Januari 2016

Sanggar Ambo Sidenreng Kabupaten Sidrap : Warisan yang Menghidupi Tiga Generasi

Foto Anggota Sempugi Bersama Ibu Nurafni (pemilik sanggar Ambo Sidenreng)

SEKITAR tahun 1990 di kabupaten Sidrap seorang musikolog telah mendirikan kelompok musik sanggar Ambo Sidenreng. Berawal dari kecintaan memainkan alat musik tradisional hingga muncul inisiatif untuk membuat sanggar tersebut. Ia adalah M.Risal ayah dari Nurafni sebagai pewaris sekaligus pengelolah sanggar.

Nama sanggar berasal dari sapaan akrab M.Risal yaitu Ambo Sidenreng. Saat Ibu Nurafni bercerita panjang lebar tentang sejarah sanggarnya terbisik kekaguman dalam hati saya mendengar jerih payah rintisan ayanhnya itu “bahwa sanggarnya sudah menghidupi tiga generasi keluarganya dan menjadi warisan keluarga hingga sampai kepada anaknya. 

Wawancara dengan Ibu Nurafni

Mereka sekeluarga lihai memainkan alat musik dan sebagian lainnya juga bisa menari sehingga tidak sulit untuk mencari personil sanggar “Lanjut-nya. Yah keahlian itu merupakan warisan genetika turun-temurun mengingat bahwa nenek moyang mereka adalah seorang pemusik, “hebat bukan! seperti kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Namun gerusan modernisasi industri musik tanah air yang diselipkan ditengah-tengah masyarakat kita melalui media elektronik telah menguras keringat Bu Nurafni untuk tetap mempertahankan eksistensi grup musik-nya. Adapun upaya yang ia lakukan seperti menambahkan alat musik kontemporer misalnya gitar, bass, biola dan lain-lain.

Ia adalah sosok Ibu yang tanggap akan perkembangan zaman sehingga mengharuskannya memutar otak tujuh keliling agar sanggar warisannya tetap adaptif  tidak tertelan oleh popularitas musik/band meanstream yang di-blow up oleh stasiun tv swasta nasional untuk meraih keuntungan sebesar mungkin.

Sebagaimana yang sering kita saksikan begitu banyaknya panggung kontes penyanyi/band di tv yang hampir sama sekali tidak pernah menyediakan satu genre pun bagi mereka yang bergelut di bidang musik tradisional, sedangkan kita telah mengetahui bersama bahwa itu merupakan peniggalan terbesar budaya Nusantara kita. ‘Apakah kita hanya berdiam diri melihat warisan itu punah?

Bukan cuman di Kabupaten Sidrap Sul-Sel, beberapa sanggar di pulau Ibu kota pun mengalami nasib yang sama seperti warta republika on line pada tahun 1986 tercatat ada 579 sanggar Betawi. Namun, mulai 2000-an sampai sekarang, sanggar Betawi bisa dihitung jari, menurun drastisnya jumlah sanggar kesenian Betawi karena minimnya kesempatan tampil di sejumlah stasiun televisi, hotel, dan tempat umum lainnya. (baca disini : sanggar betawi terancam punah)

Terus kemana perginya para Professor ke-budayawan kita, menteri kebudayaan dan pariwisata, beserta politisi yang gemar menjual budaya Nusantara untuk meraih simpati masyarakat kita? Semoga mereka tidak menutup mata akan hal ini. Sungguh malang jika warisan itu terputus digenerasi kita hingga tidak bisa lagi dinikmati oleh anak-cucu kita kelak.

Melalui coretan ini saya hendak membantu untuk mengkampanyekan sanggar Ambo Sidenreng, tapi saya garis bawahi ini bukan kampanye politik. Hhhe.

Sekiranya ada yang berminat menggunakan jasa sanggar Ambo Sidenreng silahkan menghubungi Ibu Nurafni, contak person 085 399 766 884, sekedar informasi biaya penyewaan sanggar berkisar Rp. 1.400.000 untuk daerah kecamatan Rappang Sidrap dan sekitarnya, sedangkan di luar wilayah tersebut biayanya tergantung dari jauh-dekatnya lokasi acara.

Makassar 12 Desember 2015

Analisis Kemesraan Iran dengan Rusia : Antara Ideologi dan Kepentingan

sumber google
Begitu banyaknya klaim akan pemberitaan perang yang terjadi di timur tengah hingga membuat saya bingung untuk  memilah berita mana yang benar dan hoax. Saya melihat begitu besar peran media untuk menentukan keberpihakan masyarakat internasional terkait kisruh berkepanjangan yang melanda negara padang pasir itu. Terkhusus di Nusantara kita bisa merasakan percikannya lewat dinamika yang tersaji dibeberapa media massa dan tak heran jika itu menjadi buah bibir ditengah-tengah masyarakat kita.

Konflik  horizontal yang terjadi di timur tengah khususnya di Suriah dan Irak yang melibatkan beberapa kualisi oposisi pemerintah yang  mengatasnamakan dirinya sebagai mujahidin ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) atau kadang disebut ISIL (Islamic State of Iraq and Levant). Mereka bertujuan untuk mendirikan negara Islam sebagai bentuk kekecewaan terhadap kepemimpinan Bashar Al-Assad. 

Tuduhan diktator yang dinisbahkan kepada presiden Suriah merupakan alasan pemberontakan tersebut, hingga berita hoax tentang kekejaman pemerintah Suriah pun merajalela di media sosial. Benarkah Bashar Al-Assad seorang diktator ? Seperti warta media on line yang sangat gencar memberikan gambaran tentang Suriah baik itu dari pihak yang pro maupun kontra, kalian bisa membaca di link berikut ini liputanislam.com untuk mengambil kesimpulan sendiri .

Sebagai koalisi Republik Islam Iran (RII) pun turut mengambil peran dengan mendukung pemerintahan Bashar Al-Assad yang kemudian menggait Rusia juga untuk terlibat. Keikutsertaan negeri para mullah (Iran) dan Beruang Merah (Rusia) tersebut kemudian menjadi alasan sebagian orang untuk berkoar-koar memojokkan Iran. 

Walaupun sebenarnya bukan cuman di konflik Suriah dibeberapa aspek lain Iran dan Rusia juga terlihat sangat mesra misalnya kerja sama dibidang ekonomi, politik, dan militer. Sebut saja pembelian senjata rudal S-300 Rusia oleh pasukan garda revolusi Iran. bisa di baca disini sindonews.com.

Mari kita analisis kemesraan Republik Islam Iran dengan Rusia dengan menggunakan pendekatan “Logika : Kata Perbedaan Persamaan”. Yang dimaksud kata perbedaan persamaan adalah dua kata atau lebih yang memiliki ‘makna’ berbeda yang tidak mungkin bersatu secara bersamaan dalam  satu eksistensi tetapi bisa berdampingan dari sisi persamaan. Misalnya kata ‘unta’ dan ‘kuda’ kedua kata tersebut berbeda makna dan mustahil berada dalam satu eksistensi akan tetapi terdapat kesamaan antara kata ‘unta’ dan ‘kuda’ yaitu sama-sama hewan, berkaki empat dan lain sebagainya.

*****

Jika kita membaca sejarah Iran pasca meletusnya revolusi di negara tersebut yang berhasil mengusir Presiden Mohammad Reza Shah Pahlavi selaku presiden Iran dan kemudian Ayatullah Khomeini selaku pemimpin revolusi melakukan referendum dan hasilnya menetapkan ‘Islam’  sebagai idiologi negara tersebut. 

Di sisi lain Rusia yang merupakan reruntuhan Negara Uni Soviet yang beridiologikan ‘komunisme’ walaupun sekarang banyak pendapat yang mengatakan bahwa idiologi Rusia telah beralih dari komunisme menjadi kapitalisme kendati demikian dominasi partai komunis tetap merajalela di struktur pemerintahan Rusia.

ANALISIS : Dalam pembahasan Logika, kata ‘Islam’ dan ‘Komunisme’ merupakan kata perbedaan persamaan yaitu dua kata yang berbeda begitupula dengan maknanya dan mustahil berada dalam satu eksistensi tapi bisa berdampingan dari sisi kesamaan begitu pula dengan kata ‘Kapitalisme. 

Jadi pada hakikatnya Iran yang beridiologikan ‘Islam’ dan Rusia dengan Komunisme-nya tidak mungkin bersatu dalam satu eksistensi karna memperjuangkan hal yang berbeda akan tetapi mereka memiliki sisi kesamaan yaitu sama-sama bermusuhan dengan Amerika Serikat (AS).

Jadi permusuhan terhadap AS-lah yang menjadikan hubungan bilateral negeri para mulla dan beruang merah itu terlihat begitu mesrah. Mengingat bahwa  kemenangan revolusi rakyat Iran tahun 1979 secara otomatis mengubah peta politik dunia karna Republik Islam Iran muncul sebagai penentang keras dominasi negeri paman Sam dalam percaturan internasional. Hal ini tidak jauh beda dengan Rusia sebagai negara yang lahir dari rahim Uni Soviet yang mewarisi permusuhan antara Uni Soviet dan AS. 

Saya teringat akan pesan Ali Bin Abi Thalib Karamllahu Wajjaha tentang pertemanan yaitu Teman-temanmu ada tiga dan musuh-musuhmu juga ada tiga. Adapaun teman-temanmu ialah temanmu sendiri, teman dari temanmu dan musuh dari musuhmu. Sedangkan musuh-musuhmu ialah musuhmu sendiri, musuh temanmu dan teman musuhmu. 

Ketika AS menjadikan Iran dan Rusia sebagia musuh "apakah salah ketika mereka (Iran/Rusia) berteman? Seperti tuduhan presiden Barack Obama bahwa Iran adalah teroris lihat di tempo.co dan sindonews.com yang menjadi indikator permusuhan AS dengan Iran dan rivalitas antara Rusia dan AS terutama di bidang persenjataan militer dan pengayaan nuklir mejadikan Rusia sebagai saingan terbesar AS yang dianggap sebagai musuh. (sumber sindonews.com)

Kesimpulan sederhana saya tentang kemesraan RII dengan Rusia tidak lebih dari adanya kesamaan kepentingan yaitu sebagai pihak oposisi atas kuasa negara adidaya AS disemua belahan benua bumi ini. Pun sekiranya konflik timur tengah akan memicu terjadinya perang dunia III antara AS berserta koalisi NATO-nya melawan RII dan Rusia dengan sekutu-skutunya, dengan kekalahan dipihak NATO, pertanyaannya kemudian apakah RII dan Rusia masih mempertahankan kemesraan bilateral mereka?

Makassar, 11 Desember 2015

Belajar Sejarah Kecapi Bugis Bersama Sanggar Seni Maminasa

Haeruddin dan Pa Maruf Salim
Petikan jari Pak Maruf Salim menjadikan irama sinar kecapi itu bersenandung, ia sedang mendemonstrasikan sebuah lagu bugis menggunakan kecapinya, Sepintas ia terlihat sangat lihai memetik kecapi, bagaimana tidak Pa Maruf mulai memainkan kecapi Bugis sejak tahun 1968 hingga sekarang. Wow ! sungguh mengagumkan. Meskipun tubuhnya sudah menua akan tetapi kemampuannya ber-kecapi masih tetap hebat dan menurut saya ia tidak kalah jagonya dengan pemain kecapi muda yang ada di kabupaten Sidrap karna tidak bisa dipungkiri juga banyak pemain kecapi generasi kekinian lahir dari sanggar yang ia bina.

Pa Maruf merupakan salah satu maestro kecapi di kabupaten Sidrap, berawal dari hobi hingga ia sering dipanggil untuk mengiringi penari diacara pernikahan. Sekitar tahun 1970-an ia membentuk sebuah sanggar yang diberi nama “Sanggar Seni Maminasa. Personilnya 10 orang, terdiri dari 5 penari dan 5 pemain musik. Selain itu bapak Maruf Salim juga memproduksi alat musik kecapi dan gendang, harga kecapai biasanya dijual Rp. 300.000 dan gendang Rp. 2.000.000, dan harganya juga tergantung  dari kualitas kayu yang digunakan beserta motifnya.

Dulu waktu ia masih muda ia sering mengiringi penjemputan tamu pesta pernikan dengan kecapinya karna padatnya jadwal yang ia miliki sehingga pada suatu saat ia berpikir untuk membentuk sanggar seni yang sekarang dikelolah oleh cucunya. Bahkan mereka sering tampil di luar pulau Sulawesi seperti di Jawa dan Papua, kata cucunya mereka pernah manggung di sana. Mungkin media kita di Indonesia sangat jarang mengekspos sanggar seni lokal terutama yang ada di Sulawesi-Selatan sehingga mereka kala terkenal oleh band-band pop masa kini.

*****

Kecapai awalnya dipopulerkan oleh para pengembala di jazirah Sulawesi saat sang pengembala duduk bersantai menjaga ternaknya di padang rumput ia selalu memainkan kecapinya dan hampir semua pengembala pada saat itu pintar berkecapai, “tutur Pa Maruf sambil memetik kecapinya. Dan kecapai pertama kali ditemukan oleh nelayan di tanah mandar. Ketika mereka berlayar di tengah laut dan saat tali pengikat layar perahunya berbunyi terkena hembusan angin dari situlah muncul inspirasi para nelayan untuk membuat alat musik kecapi itulah sebabnya kenapa kecapi itu berbentuk perahu.

Di era modern ini kecapi sudah dikembangkan seperti di kabupaten Sidrap sangat banyak pemain kecapai tunggal yang cukup terkenal dan mereka biasanya melantunkan kisah-kisah sejarah, cerita lucu dan petuah-petuah bugis dengan irama kecapinya, kesannya seperti berkecapi sambil bercerita bukan bernyanyi yah. Dan kecapai juga kini sering dikolaborasikan dengan alat musik lainnya seperti gendang, seruling, rabana dan lain-lain guna untuk mengiringi para penari.

Selain itu banyak juga orang yang belajar memainkan kecapi untuk mendapatkan uang karna sudah dijadikan sebagai profesi untuk mengisi acara pesta, rata-rata diantara mereka adalah pengangguran yang putus sekolah, “kata Pa Maruf. Akan tetapi sekarang fenomena di Sidrap posisi sanggar seni mulai tergeser dengan kehadiran musik elekton. Yaa mungkin saja beberapa tahun kedepan musik tradisional tidak akan lagi kita dapatkan diacara resepsi di kampung-kampung karna sekarang masyarakat kecenderungannya lebih sering menyewa grup musik elekton dibandingkan dengan musik tradisional ala sanggar seni “keluh Pa Maruf.


Sungguh ironis jika musik/lagu tradisional mulai ditinggalkan oleh masyarakat kita, padahal saat masih muda dulu Pa Maruf sempat menyaksikan kejayaan musik ala sanggar seni. Hampir semua acara di desa-desa menggunakan jasa mereka bahkan sempat diadakan festival kecapi massal di mana ratusan orang berkumpul disuatu tempat dan memainkan kecapi secara bersamaan “luar biasa bukan! Tapi Kini hanya tinggal cerita kebanggaan saja karna semuanya mulai tergantikan. Entah apa yang merasuki pemikiran masyarakat kita? Ataukah ini merupakan efek dari modernisasi dan hegemoni barat yang membuat kita merasa jauh dari kebudayaan kita sendiri. Entahlah.

Melalui tulisan ini saya ingin mangajak teman-teman sekalian yang mengaku dirinya sebagai pemerhati budaya terutama dibidang seni, agar kita bisa mencarikan solusi alterntif untuk mencegah kepunahan alat musik tradisional dan membuatkan panggung bagi musisi-musisi lokal kita yang bergelut dibidang itu. Jika ada yang berminat menggunakan jasa sanggar seni Maminasa silahkan hubungi contak person yang ada dalam foto di bawah ini atau silahkan berkunjung lansung kesana.

Papan Nama Sanggar Seni Maminasa

Makassar 14 September 2015

Lasinrang Park vs Taman Lasinrang, Surga Para Remaja Pinrang

Taman Lasinrang

Lasinrang Park


Beragam jenis bunga di taman Lasinrang seolah menjadi permata yang memikat hati dan saat malam menghampiri untuk menyelimuti, kedap-kedip lampu hias menyulapnya seperti taman surga yang keluar dari kotak ajaib. Taman itu bak magnet, menarik para remaja untuk menghabiskan waktu saat sore hari bahkan hingga tengah malam.

Letak yang strategis tepat di samping jalan poros provensi menambah kekuatan daya tariknya, sampai-sampai menghentikan putaran ban kedaraan sejenak, hanya untuk mendokumentasikan dirinya di taman Lasinrang. Yaa, Bukan cuman warga setempat, orang yang lewat pun acap kali terlena akan keindahan taman Lasinrang.

Tak mau kalah pelataran Lasinrang Park yang sudah dibingkai dengan tanaman hias bak madu segar yang siap saji. Dulunya sih Lasinrang Park hanya lapangan bola yang beralaskan rumput, sekarang sudah bermetamorfosa menjadi taman kota (alun-alun kota) tempat berkumpul kupu-kupu, apa lagi pada saat malam minggu.

Aku melihat kedua tempat itu menjadi idola di Pinrang saat ini. Kerap kali aku lewat hampir tidak pernah sepi dan kebanyakan dari mereka adalah kalangan remaja. Pernah sekali aku mampir di taman Lasinrang, hanya untuk memastikan justifikasi temanku yang katanya sering kali dijadikan tempat pacaran dan aku mengiyakan pernyataan itu setelah dari sana, begitu juga dengan fenomena Lasinrang Park. Aku tidak bermaksud mengkritik mereka karna menurutku itu wajar-wajar saja selama tidak merusak dan mengotori taman.

Mungkin mereka harus berterima kasih kepada pemerintah setempat karna sudah menyediakan fasilitas gratis. Walaupun  peruntukkannya bukan untuk itu sih, namun kehadiran taman Lasinrang dan Lasinrang Park menjadi surga bagi para remaja Pinrang. Senyum tawa  mereka tampak ceria melawatkan waktu berjam-jam bersama sang kekasih, akan tetapi tidak semua juga seperti itu, beberapa diantaranya hanya sekedar bersantai melepas lelah dan penat mengisi waktu senggang.

Dulu sebelum direkonstruksi banyak pedagang yang mencari uang di Lasinrang Park sekarang pada digusur dan diberlakukan larangan menjual di halaman taman, dengan alasan untuk menjaga keindahan. Dibalik keindahan Lasinrang Park ternyata tersembunyi kesedihan para pedagang yang kehilangan tempat jualannya, “apakah para remaja tau akan hal itu?

Entah Kenapa daerah perkoataan lebih banyak di bangun tempat hiburan. Pinrang hanya contoh kecil, kita bisa melihat kota besar seperti Makassar yang padat akan tempat hiburan. Aku teringat perkataan seorang teman, "salah satu indikator banyaknya orang stres disebuah wilayah bisa dilihat dari sebarapa banyak wahana hiburan ia miliki, tuturnya. Jika itu benar berarti orang stres lebih banyak di kota  dibanding desa. Entahlah!

Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui bahwa Lasinrang Park telah menyedot APBD sebesar 200 juta, dan biaya perawatannya sebesar 12 juta per tahun (baca disini http://goo.gl/zp4RwH dan http://goo.gl/7SfPcW ) Sepintas kalau kita melihat, memang Lasinrang Park lebih ramai dikunjungi dibandingkan Taman Lasinrang dikarnakan fasilitas tamannya lebih banyak dan lebih besar tapi dari segi keindahan keduanya memiliki karismatik tersendiri yang bisa memanjakan mata kita hingga menghabiskan waktu berlama-lama disana.

Aku sampai bertanya-tanya apa alasan Pemerintah mengalokasikan dana sebesar itu untuk kedua taman tersebut. Tapi disatu sisi para remaja Pinrang sepertinya memanfaatkan betul kehadiran taman itu hingga aku hampir tidak pernah melihatnya sepi pengunjung saat sore hari. Jika kalian datang di Kabupaten Pinrang maka merugilah jika tidak menyempatkan diri ke Lasinrang Park dan Taman Lasinrang.


Taman Lainrang

Taman Lasinrang

Bunga Taman lasinrang

Fasilitas Lasinrang Park

World Heritage Day With Lontaraq Project : Mereka Adalah Pejuang Kebudayaan

Ada yang menarik hari ini di pelataran Benteng Rotterdam tepatnya di bagian belakang Museum Galigo, terlihat lapak barang-barang antik komunitas "Der Bougies Vintage" dan pemusik sinrili (Musik tradisional Bugis/Makassar) memeriahkan kegiatan World Heritage Day 2015 (hari warisan sedunia) atau biasa di singkat WHD yang dilaksanakan oleh Lontaraq Project (LP).

Kegiatan ini juga untuk memperingati hari pusaka dunia, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 18 April ditetapkan oleh ICOMOS (Internasional Council on Monuments and Sites)  tapi teman-teman LP melaksanakannya 19 April berhubung baru dapat izin tempat hari ini 'tutur Lina, ketua panitia WHD 2015.

Panitia WHD 2015

Acara ini juga diramaikan oleh penampilan Sanggar Seni Talas yang sempat berkolaborasi dengan salah satu komunitas pengunjung yaitu Taman Baca Akademos dan beberapa lembaga lain seperti Sempugi dan Komunitas Sepeda Ontel, Selain komunitas kegiatan ini juga diramaikan dengan jajanan tradisional, pejual es putar, bakso, baroncong dan lainnya. Ini kali kedua LP Makassar membuat event WHD, tapi tahun kemarin mereka melaksanakan kegitan ini di beberapa kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Samarinda, dan Bandung. Di Makassar sendiri WHD 2014 dilaksanakan di Museum kota Makassar.

Yang membuat unik WHD tahun ini ialah karena para panitia dan pengunjung diwajibkan untuk memakai sarung, bagi pengunjung yang tidak membawa sarung mereka bisa minta kepada panitia. Saya sempat tertawa sih melihat dua orang bule yang diajar sama panitia untuk memakai sarung, mereka tampak senang memakai sarung itu walaupun wajah mereka tampak kebingungan. hhhe.

Dan penampilan saudara Arif dengan sinrili-nya. Baru kali ini saya melihat sinrili ala modern, ia bisa memadukan bahasa makassar, melayu, dan inggris ketika mengisahkan sejarah benteng rotterdam sambil memainkan alat musik sinrili, jadi penonton yang tidak paham akan bahasa makassar juga bisa memahami apa yg disampaikan. Sesaat sebagian penonton sempat tertawa terbahak-bahak saat kisahnya disampaikan dengan khas makassar, kami yang tidak paham hanya ikut ketawa dengan wajah kebingungan.

Tahun ini saya merasa sangat senang karna bisa menjadi bagian dari WHD 2015 sebagai salah satu panitia. Amat susah kutemui orang-orang yang mau jadi volunteer untuk melestarikan budaya lokal, tapi saya menemukan segelintir pemuda yang memiliki spirit untuk menampilkan warisan budaya leluhur di tengah-tengah cekokan budaya asing yang menggeser kebudayaan kita sendiri. Yaa aku menyebut mereka sebagai pejuang kubudayaan.

Walaupun amat berat untuk merealisasikan kegiatan ini berhubung kami terkendala pada dana, tapi teman-teman mengambil inisiatif agar para panitia menyisihkan sebagian uang jajan mereka Rp.25.000 per orang, hmm berhubung kami semua adalah mahasiswa yang masih menggantungkan biaya hidup pada orang tua. Tapi bagi kawan-kawan LP itu tidak jadi masalah selama WHD 2015 terlaksana sebagai bentuk kecintaan kepada kebudayaan kami.

Baliho yang kami gunakan pun sangat sederhana, dengan mengumpulkan karton bekas, kemudian ujungnya diikat untuk menghubungkan satu karton dangan karton yang lain, setelah itu ditempeli kertas bergambar dan tulisan yang sudah kami print, ini kami lakukan karena kami tidak mampu membeli spanduk. Yang membuat saya salut dengan teman-teman karna mereka pantang mengemis dana kepada pihak korporasi, pemerintah dll yang selalu mengkomersilkan budaya dengan memberikan bantuan dana kepada pembuat pentas budaya.

Baliho karton
Di sisi lain kami juga hanya bisa memakai pelataran belakang benteng rotterdam karna kami tidak sanggup untuk membayar biaya sewa halaman depan. Dan itu membuat kami kerja ekstra super karna kami harus mengelilingi benteng untuk mengarahkan pengunjung ke tempat WHD. Sampai-sampai para pengujung WHD yang datang harus menelpon kami (panitia) untuk mengetahui lokasinya. Seperti teman saya yang kebingungan saat tiba di benteng “Bro di bagian mana kegiatanmu adama ini di benteng, “tanya teman saya di telpon.

Yaa, walaupun sangat sederhana, kami sangat bersyukur bisa menyukseskan kegiatan ini, dan kami juga tidak menyangka pengunjung yang datang sangat banyak hingga kami sangat kewalahan, diakhir tulisan ini saya ingin mengucapkan  terima kasih kepada semua pihak yang telah berpatisipasi dalam World Heritage Day 2015 “salam hormat saya kepada panitia WHD dan pengurus LP terutama kepada kanda Maharani Budi yang akrab disapa Ran, keringat kalian begitu mulia untuk menjaga kebudayaan nenek moyang kita, dan semoga kita bisa berjuang bersama-sama lagi pada WHD tahun depan.

Denah dan Jadwal Acara
Lapak Der Bougies Vintage
Musikalisasi Sanggar Seni Talas
Komunitas sepeda ontel
Makassar, 19 April 2015

Banjir Batu Akik di Mall Pinrang

Kemarin aku bertemu dengan seorang senior di Pinrang,  katanya ia ingin pergi ke mall Pinrang untuk melihat temannya yang tereliminasi dalam perlombaan batu akik, alasannya karna batu yang ia ikutkan lomba tidak memenuhi salah satu syarat, yaitu membawa bongkahan batu yang dilombakan. Ribet juga yah, karna jika batu yang kita punya meskipun berkelas dan sudah di olah akan tetapi jika tidak punya bongkahannya akan sia-sia dalam event lomba batu Akik di Pinrang seperti yang dialami oleh teman seniorku, yang katanya batu yang ia punya memiliki nilai jual yang tinggi. Sayang sekali aku tidak sempat menanyakan jenis batunya.

Malam tadi aku menyempatkan diri ke mall Pinrang. Ternyata di sana bukan cuman lomba tapi acara itu juga dirangkaikan dengan pameran batu. Terlihat halaman depan dan samping mall dipenuhi dengan etalase yang berjejeran dan didalamnya terdapat banyak batu akik, sampai-sampai beberapa peserta malah membawa mesin pengolah batunya. Mereka mungkin tak sadar kalau suara mesin itu sangat menggangu pengunjung seperti saya. Hhhe.

Semenjak mall Pinrang diresmikan ini kali pertama aku kesini, itupun hanya untuk melihat pameran batu. Aku sangat tertarik melihat batu yang membanjiri pekarangan mall, suasananya sangat berbeda jika dibandingkan dengan mall yang ada di Makassar yang isinya dipenuhi dengan barang impor yang menjajah produk-produk lokal. 

Entah kenapa kecenderunag masyarakat kita lebih menyukai barang luar negri! mungkin saja itu efek dari hegemoni iklan yang menjajal seluruh media sosial yang hampir setiap hari kita dipaksa untuk melihatnya walaupun pada dasarnya kita tidak membutuhkan itu tapi karna sering dilihat jadi itu terinternilisasi dalam kedirian kita menjadi sebuah kebutuan. Entahlah,  bisa juga karna ada sebab yang lain.

Aku merasa ada kebanggaan tersendiri saat berada dikerumunan pengungjung, hampir semua dari mereka terlihat senang dengan adanya kegiatan ini. Wajah riang disertai senyum tipis terpukau melihat keindahan deretan batu dibalik kaca etalase. Yah karna batu yang dipajang hampir semua berasal dari bumi Lasinrang (peristilahan nama lain kabupaten Pinrang) mungkin itu yang membuat wajah mereka memancarkan kekaguman yang tak ternilai. 

Spanduk yang dipasang di depan tiap stand memperjelas asal batunya. Seperti foto di bawah ini. Batu yang berasal dari Kecamatan Batu Lappa Pinrang. 

Stand batu Lappa
Batu Akik

Aku baru sadar ternyata Pinrang kaya akan batu Akik, ruang kosong pakarangan Mall Pinrang yang kemarin-kemarin hanya menjadi tempat parkir sekarang di penuhi oleh lapak batu Akik. Kini bukan lagi banjir air yang terjadi di Pinrang karna musim hujan sudah lewat, gilirang batu Akik yang membajirinya, tidak tangggung-tanggung tempat yang dibanjiri pun merupakan salah satu tempat mewah di kabupaten tersebut yaitu Mall Pinrang. 


Pinrang, 22/Februari/2015

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger