Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Fatimah Az-Zahra : Sosok Inspirasi Istri yang Baik

“Sebaik-baiknya istri adalah Fatimah Az-Zahra 
dan Sebaik-baiknya suami adalah Ali Bin Abu Thalib”

Kalimat di atas masih hangat dalam ingatanku, kalimat yang pernah aku dengar dari salah seorang penceramah dalam majelis khotbah jum’at. Berawal dari ceramah itu aku lalu menelusuri sosok buah hati Rasulullah Saw. 

Aku mendatangi beberapa toko buku guna mencari referensi yang menuliskan tentang biografi beliau dan meminjam koleksi buku Fatimah Az-Zahra dari teman. Sebagai orang yang memimpikan istri ideal mungkin semua laki-laki akan melakukan hal sama denganku.

*****
Wajah cerah itu terlihat sangat bahagia menyambut kelahiran sosok buah hatinya, wajah manusia mulia “Muhammad bin Abdullah dan Khadijah binti Khuwailid terlihat sangat bahagia dengan kelahiran Fatimah Az-Zahra. Sang bayi lahir dengan memancarkan cahaya dan tidak satu pun tempat di bumi, di sebelah timur maupun barat yang besinar seperti cahaya itu. 

Bayi lahir dalam keluarga mulia, bayi yang dididik dalam madrasah islam, bayi yang setiap harinya mendengarkan lantunan wahyu dari kedua orang tuanya, “begitulah gambaran kelahiran Fatimah Az-Zahra yang digambarkan seorang yang menulis tentang pribadi Fatimah Az-Zahra yang aku baca dari buku yang aku beli.

Tahukah kalian apa yang menjadikan Az-Zahra sebagai istri teladan bagi kaum muslimat ? Ali Bin Abu Thalib Ra sering memuji ahklak beliau, sebagai seorang istri ia sangat tekun mengurusi rumah tangganya.

Pernah satu ketika Ali Ra berkata kepada Rasulullah saw, bahwa Fatimah selalu mengambil air sehingga menimbulkan bekas luka didadanya, suka menggiling gandung sehingga bengkak tangannya, suka membersihkan rumah sampai berdebuh pakaiannya, dan suka menyalakan api di bawah periuk sampai kotor pakaianya.

Bukan cuman urusan rumah tangga Fatimah juga selalu menjadi orang yang senantiasa memberikan semangat kepada suaminya, memuji keberanian dan pengorbanannya untuk menegakkan agama Allah. 

Ia menghilangkan sakitnya, membuang keletihannya, sehingga Ali Ra mengatakan “ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku” Az-Zahra juga adalah istri paling taat kepada suaminya, tak pernah sekalipun ia keluar rumah tanpa izin suaminya, tidak pernah ia membuat suaminya marah walau satu hari pun. Ia sadar betul bahwa Allah tidak akan menerima perbuatan seorang istri yang membuat marah suaminya sampai si suami rida terhadapanya.

Sebaliknya, Az-Zahra juga tidak pernah marah terhadap suaminya, ia tidak pernah berdusta di rumahnya, tidak pernah berkhianat terhadap-nya, tidak pernah melawannya dalam urusan apa pun. Kata Ali Ra, “aku tidak pernah marah ke-padanya dan tidak pernah menyusahkan-nya sampai ia wafat, ia juga tidak pernah membuatku marah dan tidak pernah menentangku dalam urusan apa pun. 

Selain itu ia juga adalah istri yang paling taat beribadah sampai-sampai kedua lututnya bengkak karna saking seringnya ia bersujud.

Salah seorang putranya Hasan bin Ali pernah bercerita “aku melihat ibuku bangun di-mihrabnya pada malam jumat, dan ia terus rukuk dan sujud sampai terbit subuh. Aku mendengar ia mendoakan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. 

Ia banyak mendoakan mereka, dan tidak berdoa sesuatu pun untuk dirinya sendiri. Maka aku bertanya kepadanya, ‘Ibu, mengapa engkau mendoakan orang lain? ‘Ia pun menjawab, ‘anakku, tetangga dulu baru kemudian rumah sendiri.”

Selain urusan rumah tangga, dan ibadah Az-Zahra juga merupakan istri yang cerdas, dalam riwayatnya Aisyah pernah berkata, “Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih benar bicaranya dibanding Fatimah, kecuali ayahnya. 

Dan ia juga istri yang sangat demawan, pernah suatu ketika Rasulullah bertemu dengan seorang tua, ia berkata ‘Wahai Nabi Allah, aku sedang lapar berilah aku makan. Rasulullah berkata pergilah tempat Fatimah! Dengan arahan rasulullah Bilal pun bersegerah mengantarkannya ke rumah Fatimah. 

Sesampai di sana orang tua itu kemudian menyampaikan keperluannya “wahai Putri Muhammad, Aku seorang arab yang tua, aku tidak mempunyai pakaian dan dalam keadaan lapar, maka tolonglah aku, semoga Allah menyayangimu.

Saat itu, Fatimah besertanya keluarganya sudah tiga hari tidak makan karna tidak memiliki makanan, oleh karena itu Fatimah lansung mengambil kalung yang ada dilehernya lalu memberikannya kepada orang tua itu sambil berkata “Ambillah ini, dan juallah. kemudian kalung itu ditukarkan dengan roti, daging dan burdah (kain) kepada salah seorang sahabat Rasulullah yaitu Ammar bin Yasir.

Saking banyaknya kebaikan yang telah ia lakukan hingga lembaran kertas pun tak-kan cukup untuk menuliskannya. Mungkin kebanyakan orang muslim tidak meng-idola-kan sosoknya karna catatan sejarah tidak begitu banyak mengukirnya dalam sebuah buku, diantara toko buku yang aku datangi hanya sedikit diantaranya yang menjual buku tentang beliau, yah paling tidak aku mempunyai koleksi buku "Fatimah Az-Zahra".

Ehm, Setelah aku membaca beberapa buku tentang Fatimah Az-Zahra, aku berkesimpulan bahwa sebaik-baik-nya istri adalah mereka yang paling taat beribadah dihadapan Allah, istri yang mencintai dan menyayangi suami hanya karna Allah, istri menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah semata seperti yang tercerminkan pada pribadi agung Bunda Fatimah Az-Zahra.


Pengabdian Seorang Musikolog Tradisional

kiri Pa Haris, kanan HSM
SAYA heran dengan siswa masa kini mereka nampaknya tidak senang belajar seni, apalagi kalau pelajarannya tentang seni budaya lokal mereka akan acuh untuk mengikutinya. Sebuah sekolah dasar di kecamatan duampanua kabupaten Pinrang rata-rata muridnya buta akan kesenian tradisional. Mungkin salah satu penyebabnya adalah pengaruh musik modern ditambah lagi kurikulum sekolah yang sudah tidak intens menyajikan pelajaran seni “tutur Pa Haris kepada saya. Pa Haris adalah seorang kepala sekolah SD 46 lampa kecamatan duampanua, dulunya ia seorang guru seni dan sempat menjadi guru saya waktu masih duduk di sekolah dasar. Selain berprofesi sebagai guru ia juga seorang musikolog dan memiliki grup musik tradisional.

SIMPONI adalah nama grup musiknya, walaupun hanya sekedar hobi Pa Haris beserta pesonil simponi sering mengisi acara hiburan yang ada dikampung saya. Memainkan seruling merupakan keahliannya, saat ia meniup seruling penontong akan terkesima mendengar lantunan irama yang ia mainkan. Saat ia masih menjadi guru saya, tidak hanya memainkan alat musik tradisional yang ia ajarkan, ia juga melatih kami seni gambar, seni rupa, seni suara dan seni tari bagi teman-teman saya yang perempuan bahkan kami juga sempat diajarkan bagaimana cara membuat alat musik tradisional, yang luar biasanya lagi Pa Haris juga bisa memainkan semua alat musik tradisonal meskipun tidak se-fasih ketika ia memainkan seruling.

Dulu Pa Haris juga sempat menjadi pelatih seni musik siswa-siswa yang akan mengikuti perlombaan di luar daerah. Siswa perwakilan kabupaten pinrang yang diutus sebagai peserta festival musik tradisional yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten/kota tiap tahunnya. Sudah banyak anak didik Pa Haris yang meraih juara hingga juara satu akan tetapi ia tidak pernah mendapatkan apresiasi dari apa yang dilakukannya. Meskipun demikian ia tetap setia mengajar siswa-siswa jika ada pertandingan antar kabupaten.

Beberapa minggu yang lalu saya beserta kawan Rafiq menyempatkan diri datang kerumah Pa Haris guna belajar memainkan kecapi yang baru saja kami beli. “Selamat sore, sapa saya. Tampaknya Pa Haris lagi sibuk membersihkan halaman rumah. Iyya, Sore Nak” jawabnya. Mungkin karna ia melihat kami membawa kecapi spontan ia menyuruh kami masuk ke rumah dan ia rela meninggalkan pekerjaannya untuk menyambut kami. Seperti biasa ia selalu peka jika ada orang yang ingin belajar bermusik, baik itu di ruang kelas maupun di rumah tempat ia beristirahat. Yaah itulah yang membuat saya tidak pernah melupakan sosok-nya.

Setelah ia mengetahui tujuan kami, ia lansung menjelaskan dasar-dasar bermain kecapi dan bercerita tentang perbandingan pemain kecapi dulu dan sekarang, katanya pemain kecapi dulu susah untuk mengajar generasi muda karna mereka memainkan kecapi tanpa memakai note (irama kecapi) Pakkacapi Getti Lampa julukan kepada pemain kecapi dulu, mereka memainkan kecapi sambil melantunkan cerita dan petuah bijak bugis. Saya sempat merekam demo ia sedang berkecapi sebagai bahan bagi saya belajar di rumah.

Walaupun kini Pa Haris sudah menjadi kepala sekolah, ia tetap selalu memainkan serulingnya, kecintaannya terhadap seni tradisional tidak pernah hilang dan ia senantiasa membimbing orang-orang yang ingin belajar. Tak banyak dari generasi sekarang yang punya hobi seperti Pa Haris. Kesedihan tampak dari raut wajanya, mengingat hampir-hampir tidak ada generasi muda yang bisa memainkan alat musik tradisional. Beberapa siswanya pun di sekolah susah untuk belajar karna kurangnya pendidik di bidang seni. Namun spiritnya untuk melestarikan kesenian tradisional tidak pernah pudar. Disisa usianya ia sangat berharap bisa melihat seseorang yang mau meneruskan apa yang telah ia perjuangkan selama ini..

Baca juga di sempugi.org

Memancing ; Meditasi Untuk Melatih Kesabaran

Haeruddin

Tiap kali saya mendengarkan ceramah-ceramah baik itu di mesjid mau pun di tv, hampir semua penceramah selalu menyampaikan masalah kesabaran. Bahwa sabar merupakan salah satu indikator kemanusian seseorang. Jika kita pernah menelaah sejarah islam maka kita akan menemukan betapa para Nabi memiliki kesabaran yang sangat luar biasa, mereka adalah orang-orang yang mulia berkat kesabaran yang mereka miliki dan itulah yang menjadikan mereka istimewa disisi sang Pencipta. 

Setiap lantunan doa, saya tak pernah bosan untuk meminta agar diberikan kesabaran sebagai orang yang meneladani Nabi maka seharusnya kita harus mencontoh mereka, mungkin hampir semua orang juga begitu! namun pernahkah kalian berpikir bahwa memancing merupakan meditasi untuk melatih kesabaran ?

Haeruddin dan Kak Nawa
Kemarin merupakan pengalaman pertama saya memancing, saya diajak oleh teman untuk memancing dirumahnya. Awalnya sih cuman ingin melihat-lihat saja maklum saya tidak punya pengalaman apa lagi saya juga tidak punya pancing. Akan tetapi setelah saya menikmati makan siang dari hasil pancingan teman, saya berubah pikiran dan mencoba juga untuk memancing. 

Saya melihat teman yang begitu menikmati ikan yang ia tangkap, katanya ada kenikmatan tersendiri ketika kita memakan ikan hasil pancingan sendiri. Ehmm saya hanya tertawa kecil sambil ikut melahap ikan. Yahh kenikmatan yang saya rasakan mungkin karna lapar, berbeda dengan yang dirasakan oleh teman saya.

*****

Pemancing pemula biasannya akan menjadi bulan-bulan-an, kenapa demikian ? Yah namanya pemula pastilah pertanyaannya kita banyak sekali dan itu bisa mengganggu kosentrasi pemancing disekitaran kita dan dengan penuh candaan kita akan ditertawi oleh teman-teman kita, begitulah kondisi saya saat itu dan dari situlah bermula kesabaran kita diuji. 

Dengan pengetahuan pas-pas’an saya begitu pede melempar umpan ke air. Tak membutuhakan waktu yang lama saya lansung "strike" spontan saya berteriak sambil melompat-lompat gembira menyambut tangkapan pertama saya. Hore-hore-hore,,, saya "strike”

Tampaknya ikan memakan umpan saya adalah ikan patin jenis ikan berkumis yang termasuk dalam genus Pangasius, familia Pangasiidae. Nama "patin" sendiri disematkan dari salah satu anggotanya, P.Nasutus. disini ikan Patin menjadi incaran semua pemancing yang datang pokoknya mereka tidak akan puas kalau belum bisa mendapatkan ikan itu. 

Bagaimana saya tidak bangga dengan tangkapan pertama saya. Namun saat saya lagi berkosentrasi untuk menarik ikan patin saya, tiba-tiba senar pancingnya putus, wajah yang tadinya begitu gembira pun berubah menjadi kesedihan sambil mengelus-elus dada dan berkata, “Sabbaki ati” (sabar yah hati).

Bayangkan jika tangkapan pertama kalian lepas ditengah-tengah orang yang lagi memancing! Saya membayangkan masuk surga sejenak kemudian dilemparkan ke neraka, saking sakitnya sampai hari ini masih terasa. Tapi setelah itu saya tidak menyerah saya tetap mencoba untuk mendapat tangkapan berikutnya. 

Tahukah kalian! duduk diam berjam-jam sambari menunggu ikan memakan umpang kita adalah pekerjaan yang sangat membosankan, yahh bagi saya itu sangat,sangat, sangat membosangkan. Apalagi jika kita tidak mendapatkan hasil satu ikan-pun hingga kita selesai memancing, itulah yang saya alami.

Namun dibalik itu saya memperoleh banyak pembelajaran, bahwa proses se-harian belajar mancing bersama teman-teman (Ka Nawa dan Camrun) adalah meditasi untuk melatih kesabaran saya. Mungkin Tuhan mengabulkan doa saya melalui proses ini. Mungkin apa yang saya alami sifatnya kasuistik jadi tidak semua orang akan mengalami itu, tergantung dari kepribadian masing-masing orang, ujian tuhan untuk melatih kesabaran seseorang pasti berbeda tergantung dari kualiatas jiwanya tidak mungkin orang yang kapasitasnya seperti Nabi diuji dengan meditasi mancing, akan teapi saya menyarankan bagi kalian yang ingin menguji kesabarannya silakah pergi mancing.

Makassar 28/November/2014

Penjaga Adat Ditengah Modernisasi Kota Makassar, A’RAPPO TIDUNG MARIOLO

Gapura Jalan Tidung Mariolo
KEMARIN saya baru saja mengikuti salah satu ritual adat, untuk kesekian kalinya saya mengenal seseorang menggunakan jaringan budaya. Dia adalah Ari, salah satu warga asli Tidung Mariolo, dari penuturannya penduduk yang tinggal di wilayah itu moyoritas pribumi, sehingga pendatang yang bermukim di sana mudah untuk dikenali. Gara-gara Modernisasi domain Kerajan Tidung kini susah untuk identifikasi sekarang hanya menjadi nama sebuah jalan. Tepatnya di depan lorong masuk terdapat papan nama jalan Tidung Mariolo. meskipun demikian beberapa warga setempat masih tetap menjunjung tinggi adat mereka.

Kampoeng pejuang adalah julukan kampung Tidung Mariolo. Terlihat jelas di Gapura jalan masuk tertulis “Salamaki Battumae Rikampong Bersejarah Tidung Mariolo Markas Pejuang 45” saya tidak menyangka Kota Makassar yang dipadati dengan bangunan mewah dan sangat identik dengan acara eksotis terdapat komunitas yang menjaga adat mereka dengan melakukan acara adat satu kali dalam setahun, tepatnya di bulan Muharram. Saking dijaganya acara adat ini tidak dipublikasikan keluar dan pesan pemimpinnya bahwa dokumentasi yang didapatkan hanya bisa menjadi koleksi pribadi jangan di up load di media sosial, itulah kenapa foto yang saya pasang ditulisan ini hanya foto Gapura. Dan tulisan yang saya buat terlebih dahulu meminta izin dan saya hanya mendapat informasi tentang acara ini dari Ari bukan dari pemimpinya lansung mungkin karna saya orang baru. hhhe

A’rappo acara adat tahunan yang dilakukan masyarakat Tidung Mariolo, sebagai rasa syukur atas berkah yang mereka dapatkan dan menjadi doa agar kedepan bisa lebih banyak lagi. Dalam bahasa makassar A’rappo artinya “berbuah”, ibaratnya harapan masyarakat bisa berbuah layaknya pohon sehingga buahnya bisa dinikmati oleh semua orang. Walaupun tidak banyak orang yang berpartisipasi akan tetapi mereka yang hadir sangat antusias mengikuti semua item acara. Mayoritas dari mereka pun adalah orang yang sudah berkeluarga karna anak muda disana sangat jarang mau mengikutinya “tutur Ari kepada saya.

Selain untuk mengucapkan rasa syukur dan doa dalam acara ini juga terdapat pesan-pesan simbolik. Seperti bendera yang memiliki ukiran naga berwana kuning keemasan yang perlihatkan pada saat acara berlansung merupakan moment sakral dan utama. Masyarakat mempercayai bahwa lubang yang terdapat di bendara itu merupakan indikator bencana-bencana alam yang akan terjadi kedepan. Semakin banyak lubang maka semakin banyak bencana yang akan menimpah, untungnya lubang di bendera tidak bertambah kata Ari kepada saya. Saya merasa sangat sedih karna belum sempat mendapatkan penjelasan kenapa lubang itu bisa bertambah. Karna setelah selesai acara adat bendera itu dibungkus kain sebanyak empat lapis dan disimpan baik-baik, nanti muharram tahun depan baru dibuka lagi. Mungkin saja bendera itu dilubangi secara mistik, Entalah.....!!!

Spirit Primordial Alunan Musik di Malam Hari Desa Alitta

Senyum ceria itu selalu ku-ingat saat bertemu dengannya, saat pertama kali aku datang kesini wajah itu lansung menyapaku dan tesimpan erat di memori ingatan'ku. Walaupun itu pertemuan pertama kami setelah sekian lama aku mengenalnya di sosial media lewat grup facebook Sempugi (Grup pemerhati Sejarah/Budaya Sul-Sel-Bar). Ia adalah Daeng Cindang sapaan akrabnya, ia merupakan penanggung jawab untuk menjaga dan merawat situs sejarah Sumur Munurung La Pakkita di desa Alitta kabupaten Pinrang.

Cerita rakyat Alitta yang terjaga secara turun tumurun bahwa sumur itu khusus dibuatkan untuk seorang bidadari yang pernah tinggal di Alitta Pada masa kepemimpinan Arung La Massora dan cikal bakal Arajang dari kerajaan pun dari sana, ketika Sang bidadari mallajang (menghilang) dan meninggalkan selendangnya di Alitta. Selendang itulah kemudian menjadi Arajang yang setiap satu kali dalam lima tahun di cera".

Ini merupakan kedua kalinya aku berkunjung di rumah Daeng Cindang, Aku tiba di Desa alitta sekitar jam tujuh malam bersama dengan Sureng Sempugi Bang Darsam dan Rafi. Kami di jamu sangat istimewah, baru beberapa menit kami duduk istirahat tiba-tiba lansung dipanggil makam malam. Wahh asyik, Daeng Cindang orangnya pengertian, sangat paham bahwa kami lapar setelah melewati perjalanan Makassar-Pinrang selama kurang lebih lima jam dan memang sih budaya masyarakat Bugis begitu.

Mereka selalu memberikan yang terbaik kepada orang yang datang bertamu kerumahnya, siapa pun itu. Walupun sekarang telah mengalami distorsi gara-gara perubahan sratafikasi sosial yang diakibatkan oleh jabatan struktural di pemerintahan, beberapa diantara meraka selalu ingin diperlakukan lebih saat datang ke desa-desa sebagai seorang pejabat pemerintah. Entah kenapa juga meanset masyarakat sekarang ini terkonstruk seperti itu.

Malam pertama kami diajak kerumah kepala desa tempat yang menjadi titik setrum pesta adat maccera Arajang. Kata daeng Cindang biasanya yang menjadi kepalah desa di Alitta, ia akan menjadi penanggung jawab acara adat dan harus bersedia rumahnya dijadikan sebagai tempat pesta berlansung sebelum inti dari mecceara arajang itu dialihkan ke rumah adat Alitta sekaligus menjadi tempat penyimpanan Arajang.

Panggung Musik
Alat Musik Ana' Beccing, Lea-leang, Kancing
Penabuh Gendang
Suara musik khas bugis yang pernah aku dengar waktu mengikuti perayaan yang sama di desa Umpungeng Kabupaten Soppeng kini kembali mengguma ditelingaku. Cuman konten acarnya saja yang berbeda. Tapi yang tetap sama adalah nadanya yang memberikan spirit tersendiri bagiku selaku orang bugis yang cinta dan bangga dengan karya lokal yaitu budaya bugis. Gerakan tangan mereka begitu lincah memainkan alat musik, tidak kalah hebat oleh musisi tren era modern.

Di dalam rumah Pa desa dibuat seperti panggung, terdapat pembatas bagi para pemusik jadi selain mereka harus berada di luar. Yahh meskipun tidak dipoles se-gramor panggung pentas yang biasanya ditampikan di tv, maklum ini bukan untuk kepentingan komersil akan tetapi lebih kepada nilai-nilai humanisasi dan untuk menjaga kelestarian adat.

Aktor lantunan irama terdiri dari sepuluh orang dan masing-masing dari mereka sangat fasih memainkannya laksamana seorang maestro. Karna alat musik yang digunakan beragam jadi perlu keahlian berbeda untuk menggunakannya walaupun ada satu dua pemusik yang lihai dengan semuanya. Alat musik tradisional yang dipakai adalah tiga gendang, dua lelea, dua kancing, dua ana' beccing dan satu buah gong.

Sepintas, nampak ada alat musik yang dimainkan lebih dari satu orang, Yah ada tiga penabuh gendang akan tetapi ritme pikulan gendang diatur berbeda dan walhasil lantunan musiknya pun membuat kami tidak bosan mendengarkannya. Sama halnya dengan band pop yang memiliki tiga gitaris dengan melodi berbeda yang bisa menghipnotis pemuda/i yang katanya mereka generasi anak gaul.

Warga setempat pun begitu menikmati alunan musik itu, terlihat tawa ceria yang terpancar dari wajah mereka karna larut dalam iramanya. Menurutku inilah nasionalisme yang sesungguhnya ketika semangat masyarakat berkobar karna bangga dengan adat dan budaya mereka. Aku tiba-tiba teringat demonstrasi yang pernah kulalui, dengan semangat nasionalis kami melakukan penolakan kebijakan pro asing.

Nanti belakangan ini aku berpikir, apa sih yang kami maksud dulu nasionalisme? Tohh negara ini terdiri dari ratusan suku/bangsa dimana mereka mengekspresikan nasionalismenya dengan caranya masing-masing. Yah tidak semua dari kita bisa cinta negara ini hanya dengan mencium bendera merah putih seperti beberapa tokoh nasional. Karna beberapa di antara mereka mengaktualkannya dengan cara menjaga adat dan kebudayaannya sehingga nasionalisme itu bisa membara. ehm, menurutku sihh itu harga mati! Bagaimana dengan anda?

Ada banyak hal yang berbeda dari musik tradisonal yang sering didendangkan dalam rangkaian pesta adat bugis dengan musik meanstreme pop/rok kontemporer. Salah satunya adalah internalsisasi spirit primordial yang bisa membakar semangat perjuangan anti budaya asing di selah-selah keberagaman republik ini.

Dengan itu kita bisa membangun integritas dibalik perbedaan kita dan menjunjung tinggi bhineka tunggal ika sebagai simbol pemersatu Indonesia. Seperti alunan musik di Desa Alitta malam itu yang bisa menumbuhkan benih nasionalisme bagi orang yang medengarkannya, yah begitulah yang kusaksikan hingga aku pulang ke rumah Daeng Cindang untuk beristirahat. Dan yang membuatku kagum saat aku terbangun, ku-lihat jam menunjukkan pukul lima subuh lewat beberapa menit, terdengar dari kejauhan suara musik itu mulai dimainkan kembali, sebagai pembuka untuk memulai acara puncak meccera Arajang Alitta yang diselenggakan pada hari Rabu 22/Mei/2014.

-HS'Masagenae

Kisah di Balik Maccera Arajang Kerajaan Alitta

Rombongan masyarakat adat dengan pakaian khas Bugis telah meniggalkan rumah kepala desa Alitta menuju tempat penyimpanan Arajang kerajaan Alitta. Sebelumnya mereka telah menjemput Sanro Wanua secara adat yang nantinya akan diarak keliling desa oleh empat orang dengan menggunakan walah suji bersama dengan warga yang diiringi irama musik tradisional. Yah, Sanro wanua-lah yang akan memimpin prosesi maccera Arajang di rumah adat dan di dalam halaman sumur Manurung Lapakkita. Tidak ingin ketinggalan, beberapa tamu yang begitu antusias turut berpartisipasi sembari mendokumentasikan moment yang amat penting itu. Salah satu dari mereka adalah komunitas LSM Sempugi dan saya tergabung dalamnya.

Rombongan Masyarakat Adat
Anggota Komunitas LSM Sempugi
Sanro Wanua
Acara adat ini kurang lebih sudah lima puluh dekade terselenggara secara turun temurun dikalangan masyarakat Alitta. Semenjak masa kepemimpinan Arung Alitta yang ke tiga La Massora yang memprakarsai lahirnya sebuah Arajang kerajaan. Dan dilakukan kegiatan Maccera satu kali dalam lima tahun hingga sekarang. Kali ini dana yang digunakan berasal dari swadaya warga Alitta berupa uang ataupun beras yang sudah ditetapkan nominalnya dan beberapa donatur yang masih menjujung tinggi adatnya dengan memberikan bantuan agar kegiatan tersebut bisa terselenggara.

****

Alitta merupakan salah satu dari lima kerajaan konfederasi Ajatappareng yang dulunya membentuk sebuah kekuatan untuk membentengi kekuatan militer Goa. Tapi saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang itu tapi lebih kepada era La Massora. Menurut informasi dari daeng Cindang, Arajang Alitta berupa pakaian/selendang seorang bidadari yang pernah menjadi istri Arung Alitta ke tiga. Dalam lontara Alitta pun mendeskripsikan kisah mereka dan begitu juga tutur yang dipecayai oleh warga setempat.

Seperti biasa senyum tipis Daeng Cindang senantiasa ia pancarkan saat lagi bercerita, saya duduk santai didepannya bersama dengan sureng Sempugi sambil menyimak secara seksama ia menjelaskan kisah di balik Arajang Alitta. Adapun ceritanya sepeti berikut ; Setiap malam jum'at La Bolong-anjing peliharaan La Massora tidak pernah pulang kerumah nanti ketika malam sabtu anjing itu baru kembali, anehnya La Bolong selalu pulang dengan aroma harum dan itu sudah berlansung selama beberapa pekan sehingga membuat ia penasaran. Hal itu pun ia sampaikan kepada para penjaga dan masyarakat Alitta hingga cerita itu menyebar.

Di tempat yang lain tepatnya hutan di gunung yang masih wilayah Alitta, Lato-lato'e pangonrang manu kale'na La Massora (penjaga ayam hutan La Massora) mendengar suara anaddara (perempuan) beserta percikan air dan gongngongan anjing. Rasa penasaran pun menggerakkan ia melangkahkan kaki untuk mencarinya. Saat ia menemukan asal suara itu ia melihat tujuh perempuan "dalam lontara Alitta dituliskan anak bidadari" sedang mandi dan bermain air dengan La Bolong, Tempat itu dinamakan Bujung Pitue "tujuh buah sumur kecil kira-kira besar mulut sumur seperti piring makan. Dengan wajah kaget ia bersegera pergi untuk mencari La Massora guna menyampaikan peristiwa tersebut.

Di siang hari ba'da sholat Jum'at Lato-lato'e menemui La Massora di rumahnya dan menceritakan semua yang ia saksikan. Masa itu Arung Alitta sudah memeluk agama islam sekitar abad ke lima belas. Hari Jum'at berikutnya La Mossora masuk hutan untuk memastikan kebenaran informasi yang ia dapatkan tentang anak bidadari dan anjing peliharaannya. Bersama Lato-lato'e, La Bolong dan beberapa orang pengawal ia pun sampai di tempat itu dan membuat tempat persembunyian yang strategis menggunakan kayu besar yang ditancapkan kedalam lubang yang ia buat sedalam pusar, dengan begitu mereka bisa melihat dengan jelas yang di tunggu-tunggunya.

Matahari tepat berada di atas kepala dari kejauhan terlihat tujuh perempuan yang mendekat menujuh bujung pitue. Begitu juga dengan La Bolong tiba-tiba berlari kesana. Seperti yang dikatakan Lato-lato'e, anjing kesayangan La Massora pernah bersama anak bidadari di sana dan sekarang ia melihat lansung hal tersebut. Sepertinya keberadaan mereka tercium, salah satu dari anak bidadari mengatakan "dioko magatti nasang engka sedding mabbau tau lino" (cepatlah kalian mandi karna saya mencium aroma manusia disekitaran sini) akan tetapi yang paling bungsu tidak mempedulikan kata-kata itu dan tetap asyik bermain air. Keenam kakanya pun bersegera meninggalkan Bujung Pitue, karna terbawa keceriaan bersama La Bolong si bungsu tidak menyadari bahwa ia telah di tinggal sendiri.

Kesempatan inilah yang digunakan oleh La Massora untuk mengambil selendang anak bidadari dan menangkapnya. Dengan bantuan pasukannya anak bidadari ditandu ke perkampungan. Saat sampai diperkampungan masyarakat Alitta berkumpul di suatu tempat untuk melihat lansung anak bidadari itu. Tempat itu kemudian dinamakan Makkita (melihat) sekarang menjadi La Pakkita. La Massora kemudian meminta anak bidadari untuk menjadi istrinya. Akan tetepi anak bidadari mengajukan satu syarat, ia ingin dibuatkan sumur khusus karna ia tidak ingin bercampur air yang dipakai untuk mandi dengan manusia. Sumur itu sekarang menjadi situs budaya karna ia berada di kampung yang sudah diberi nama La Pakkita maka namanya mengikuti yaitu Sumur La Lapakkita.

Sedangkan anak bidadari dipanggil We Bungko artinya bungsu. Dari penikahan La Massora dengan We Bungko mereka dikaruniahi seorang anak laki-laki, namanya adalah La baso. Singkat cerita suatu peristiwa yang tidak pernah diduga oleh La Massora, ketika sang bidadari Mallajang (menghilang) dan menitipkan pakaian/selendang-nya yang kemudian menjadi Arajang (Kebesaran) di Alitta hingga sekarang ini.

-HS’Masagenae

SEJARAH KERAJAAN SUPPA Part II

ILUSTRASI, Sumber : http://goo.gl/lhB5cq
Sejarah Kerajaan Suppa Part I saya telah menjabarkan tentang proses terbentuknya kerajaan suppa oleh kedatangan To Manurung We Tipulinge yang kemudian ia dinobatkan sebagai Datu Suppa pertama oleh masyarakat Suppa. Untuk kesempatan kali ini saya akan mepaparkan regenerasi dari Datu suppa.

****

Dengan dianggakatnya We Tipulinge sebagai Datu Suppa pertama dan setelah ia di persunting oleh Labangngenge Manurung Ri Bacukiki maka terbentuklah keluaga dalam kerajaan Suppa, ini kemudian menjadi cikal bakal regenerasi Datu Suppa yang kelak akan meneruskan kepemimpinan.
Dari persilangan kedua To Manurung Suppa dan Sawaitto, kemudian melahirkan tiga orang anak,

1.    Lateddung Lompoh (lk)
2.    Laboting Langi (lk)
3.    We Pawawoi (pr)

Atas kehendak kedua orang tuannya, Lateddung Lompoh ditunjuk sebagai Datu Suppa sekaligus merangkap sebagai Addatuang Sawitto. Kebijakan itu kemudian menimbulkan kekecewaan dari adiknya karna ia hanya diberikan kerajaan kecil yaitu Tanete. apa’na akkarungang baiccu-mi ripamanakiangngi “Hanya kepemimpinan kecil diwariskan kepada saya” kata  Laboting Langi yang menjabat sebagai Arung Tanete. (sumber : Terjemahan Lontara Suppa Dinas Sosial, Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Pinrang 2012). Sedangkan adiknya yang bungsu We Pawawoi menjadi Arung di Bacukiki, dan di nikahi oleh anak Addaowang Sidenreng La Songko Ulaweng.

Tanpa menafikkan alasan/pendekatan yang lain, mungkin saja garis hirarkis yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa Lateddung Lompo yang diberi kuasa penuh untuk menggantikan ayah dan ibunya di Suppa dan Sawitto. Karna Datu Suppa yang menggantikan La Teddung Lompo juga merupakan anak pertamanya yaitu La Putebuluh. Akan tetapi Jika kita menggunakan pendekatan lain, biasanya dalam budaya Bugis, anak yang paling mirip dengan sosok ayah dan ibunya yang akan mewarisi pusaka sebagai bukti bahwa dia adalah pemimpin selanjutnya. Mirip yang di maksud bukan secara biologis akan tetapi karakter. Walaupun Itu hanya hipotesis saya dan masih membutuhkan pendalam data yang falid untuk kebenarannya.

-HS’Masagenae

Menghadiri Pelantikan PP-KPMP : Selamat Atas Dilantiknya Saudara Awaluddin Nadjib Sebagai Ketua Umum PP-KPMP

Minggu, 18-Mei-2014

Beberapa orang panitia terlihat lagi sibuk di depan panggung, nampaknya mereka lagi mempersiapkan pelantikan PP-KPMP. Ruangan masih terlihat sepi karna belum ada satu pun tamu datang, padahal jadwal pembukaan yang di cantumkan di dalam undangan yang diedarkan sudah lewat. Sepertinya kami dari KMP-Poltek undangan yang paling cepat datang, hampir sekitar setengah jam kami nongkrong di luar karna acaranya lambat dimulai. Saya sempat heran kenapa kegiatan ini bisa molor padahal kata salah seorang teman kegiatan ini akan di hadiri oleh wakil Gubernur Sul-Sel,  Ir. H. Agus Arifin Nu'mang, M.S. dan Bupati Pinrang, Andi Aslam Patonangi SH MSi. Kegiatan ini juga bakalan dirangkaikan dengan rapat kerja pengurus PP-KPMP.

Tak lama berselang rombongan wakil gubernur Sul-Sel dan Bupati Pinrang menaiki tangga menuju tempat pelantikan, kedatangan mereka sepertinya menjadi lampu hijau untuk dimulainya acara pelantikan. Setelah berada di dalam ruangan acara pembukaan pun lansung dimulai walaupun undangan yang lain masih banyak yang belum datang, karna beberapa menit acara berjalan kursi untuk tamu masih banyak yang kosong.

Gedung Local Education Center (LEC) Athirah Antang
Nanti setelah sambutan-sambutan barulah kursi tersebut menjadi padat. Sambutan pertama di mulai oleh Ketua PP-KPMP terpilih, dalam sambutannya iyya sempat menyinggung tentang pengadaan KPMP Center sebagai sentrum untuk pengurus kedepan. Karna di antara delapan asrama Pinrang yang ada sekarang tidak satu pun yang dijadikan sebagai KPMP Center untuk menjadi titik pertemuan kader KPMP Pinrang. Sejenak dalam pikiran saya pun terlintas pertanyaan, kenapa yahh bukan asrama yang sudah jadi saja dijadikan KPMP Center? bukankah hal itu bisa lebih cepat! dan selain itu pengurus juga bisa berbaur dengan mahasiswa Pinrang yang sudah menjadi penghuni asrama. Lagian jika harus membangun asrama baru maka itu akan menguras anggaran pemerintah sementara disisi lain 71.253 jiwa (data tahun 2010) masyarakat miskin membutuhkan tetesan dana yang merupakan hak mereka sebagai warga Pinrang. Bukankah lebih humanis(?) jika alokasi dana pengadaan KPMP Center di alihkan ke sana dan seluruh elemen mahasiswa organisasi daerah Kabupaten Pinrang tinggal mengawal bagaimana dana itu bisa tepat sasaran kalau pun pemerintah mengindahkan pembuatan asrama baru. Setelah sambutan ketua PP-KPMP dilanjutkan oleh sambutan Bupati Pinrang dan Wakil Gubernur Sul-Sel sekaligus membuka acara rapat kerja PP-KPMP hingga acara itu di tutup dengan pembacaan doa oleh salah satu panitia pelaksana.

*****

Melalui tulisan ini saya menyempatkan diri dengan segala hormat mengucapakan selamat kepada saudara Awaluddin Nadjib atas dilantiknya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Pelajar Mahasiswa Pinrang (PP-KPMP) 2014-2016. Semoga bisa mewujudkan visi dan misi-nya selama satu periode kepengurusan dan bisa menjadi jembatan aspirasi masyarakat Pinrang. Amin.

Hormat Saya. -HS'Masagenae

Antara Demokrasi Sekuler dan Teokrasi

BEBERAPA minggu yang lalu ketika saya hendak membeli pulsa, dua orang lelaki sedang bercerita tentang pemilu yang berlangsung pada 9/4/2014 sebut saja namanya Pak Aco dan Pak Beddu (nama samaran). Mereka nampaknya sudah mempunyai pilihan caleg masing-masing. 

Diskusi alot mereka membuat saya duduk sejenak untuk menjadi pendengar setia. Pak Aco kemudian menunjuk foto caleg yang ada di depan saya, sambil mengatakan bahwa itu adalah saudara saya. “Saudaranya nyaleg dengan membawa visi-misi mensejahtrakan rakyat dengan bermodalkan gelar akademik Serjana Hukum“ tuturnya.

Kemarin kakanya sudah menyelesaikan satu periode di DPR pusat dan ingin melanjutkan program yang sudah ia jalankan. ‘Tambahnya lagi. “Pak selama ini, apa anda tau apa-apa saja undang-undang yang sudah dibuat dan diamandemen oleh kaka anda selaku anggota DPR periode kemarin? “saya memotong pembicaraan sambil bertanya. Banyak sih “tapi sayang saya sudah lupa semua nak’. Jawabnya dengan wajah bingung. Kemudian ia melanjutkan pembicaan dengan memaparkan janji-janji politik kakanya selaku caleg dari salah satu parpol.

****

Sungguh naïf bagi kita yang telah memberikan kepercayaan kepada para legislator untuk merumuskan hukum di Negara ini sebagai bangsa berpenduduk islam terbesar di dunia sementara hukum itu sudah ditetapkan olah Allah swt dalam agama yang telah ia turunkan melalui para walinya. 

Yah, demokrasi kita merupakan percontohan dari demokrasi barat yang merupakan buatan manusia. Demokrasi yang memberikan kekuasan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. 

Akibatnya banyak ketetapan di dalam undang-undang yang tidak sesuai dengan nilai-nilai humanis, moralis dan spritualitas. Sebut saja Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 tahun 1967 tentang penanaman modal asing, yang melegalkan eksploitasi dan kemersialisasi di negeri kita.

Ilustrasi, Sumber : http://goo.gl/YNbfFs
Demokrasi sekuler yang diperkenalkan oleh barat seperti yang dikatakan oleh Abraham Linclon; dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dimana kekuasaan secara mutlak dipercayakan kepada legislator untuk membuat dan menetapkan hukum sebagai perwakilan rakyat di kursi pemerintahan. 

Akan tetepi di satu sisi terdapat jarak antara legislator dan rakyat yang mengakibatkan terjadinya miss komunikasi antara mereka.  Seperti yang terjadi pada Pak Aco yang tidak mengetahui perumusan undang-undang yang telah dilakukan oleh saudaranya selaku anggota DPR RI, begitu pula dengan masyarakat yang lain. Karena punya saudara saja di anggota DPR RI tidak tau apa yang mereka buat, bagaimana dengan yang tidak?

****

Demokrasi barat sangat bertentangan dengan Teokrasi (berdasarkan hukum Tuhan) karna tidak menjadikan syariat sebagai landasan sistem Negara. Jika kita menjadikan Teokrasi sebagai dasar hukum maka wewenang kita hanyalah menjabarkan dan merumuskan hukum sesuai dengan prinsip yang telah digariskan Tuhan serta berijtihad untuk sesuatu yang tidak diatur oleh ketentuan Allah Swt. 

Karena dialah pemegang kekuasaan hukum tertinggi. Dengan demikian undang-undang yang dihasilkan pasti selaras dengan Teokrasi dan yang menentukannya bukan voting rakyat akan tetapi iktiar dari seseorang dengan cara mendekatkan diri kepada pembuat hukum yaitu Allah Swt. Bukankah ulama dengan pencuri berbeda? yang di dalam demokrasi liberal suara mereka disamakan.

Sederhanya adalah Allah Swt berposisi sebagai legislator (pembuat hukum) sementara manusia berposisi sebagai orang yang berusaha memahami dan menjabarkan hukum-Nya. Jadi konstitusi harusnya relevan dengan hukum teokrasi dan hanya dengan iktiar personal (perjalanan spritual) hukum itu bisa dipahami dan dijawantahkan di kalangan masyarakat. 

Semakin besar iktiar seseorang menjalankan ibadah maka ia akan semakin dekat dengan pemilik hukum sehingga kemungkinan salah dalam mengintegritaskan nilai-nilai tauhid akan semakin kecil.

Sedangkan demokrasi liberal yang tidak mengindahkan aspek spritulitas begitu mudah untuk melakukan kecurangan karna tidak ditopang dengan pondasi yang kuat yaitu Teokrasi, sehingga walaupun seorang pencuri sah-sah saja menjadi perumus undang-undang karna yang menentukan adalah suara terbanyak, akibatnya berbagai macam cara kemudian dilakukan oleh para aktor demokrasi untuk memenangkan kompetisi politik. 

Yang diuntungkan adalah orang yang memiliki kekayaan karena dengan uang-nya mereka bisa melanggengkan kekuasaannya di atas panggung demokrasi dengan membeli suara orang miskin.

****

Pertanyaan kritisnya adalah, siapakah yang lebih pantas untuk menegakkan hukum, orang yang memiliki suara terbanyak ataukah orang yang paling dekat dengan Allah Swt.?

18 Mei 2014
-HS'Masagenae

Situs Sejarah Makam Raja Tallo

Seorang lelaki sedang duduk terdiam sembari memandangi batu nisan dalam komleks makam raja Tallo, ia sedang mejalankan tugas di makam tersebut. setiap hari kerja ia selalu melakukan aktifitas itu berhubung ia adalah penjaga yang mengelolah makam. Selamat siang Pa’ sapa saya, Ia lansung terkejut saat mendengar suara saya. Dengan perlahan ia melangkahkan kaki ke arah saya dan mengarahkan saya untuk mengisi absen registrasi pengujung, kemudian ia mengajak saya duduk bersama di pos jaga sambil mengobrol.

Pa Ibrahim, panggilan akrabnya. Ia berasal dari kabupaten pangkep datang ke Makassar pada tahun 1990. Ia adalah PNS kemendikbud yang bertugas untuk merawat dan menjaga kompleks makam raja Tallo. Sebagai PNS ia dituntut untuk megikuti ketentuan admistrasi, jadi setiap pagi di hari kerja sebelum pukul 08:00 Wita ia harus ke benteng Rotterdam untuk mengisi daftar hadir setelah itu ia lansung ke makam raja Tallo untuk menjalankan tugas, dan kembali lagi ke benteng Rotterdam pukul 15:00 untuk mengisi lagi daftar hadir sebelum ia pulang ke rumah. Yah itulah rutinitas yang dilakukannya sebagai tanggung jawab pekerjannya, tutur Pa Ibrahim ke saya.

Tampak salah satu makam yaitu Sultan Mudafar, Imanginyarrang Dg Makkiyo Raja Tallo VII selalu ramai oleh peziarah, apa lagi jika menjelang bulan ramadhan. Peziarah bukan cuman dari masyarakat yang tinggal di sekitar makam, akan tetapi dari luar makassar juga sering datang kesana. Adapun para pengunjung dari luar negri yaitu para turis mereka hanya datang untuk berwisata dan ada juga dari kalangan Mahasiswa yang datang untuk mencari informasi tentang sejarah kerajaan Tallo. Sultan Mudaffat sewaktu masih menjadi Raja Tallo ia di beri gelar macang kebo karaeng Tallo (macan putih raja Tallo). Karna beliau adalah raja pemberani, bagaikan macan ketika ia berada dalam medan perang.

Papan Nama Makam Sultan Mudaffar
Biasanya para peziarah yang datang kesana harus ditemati oleh pinati, seorang juru doa makam yang menemani peziarah. Pinati merupakan seorang juru kunci para peziarah karna mereka tidak bakalan bisa berziarah tanpa kehadiran pinati. Menurut Pa Ibrahim sosok pinati adalah orang yang secara turun temurun bertanggung jawab untuk mebacakan doa para peziarah yang datang kesana. Secara administarsi memang Pa Ibrahim selaku pengelolah dan penjaga makam akan tetapi budaya masyarakat Tallo tetap meyakini, pinati-lah yang sebenarnya penjaga makam, karna tanggung jawab itu merupakan tugas lansung yang diberikan oleh raja tallo kepada pinati pertama sampai pinati sekarang yang memiliki garis keturunan yang sama.

*****

Kompleks makam raja Tallo sangatlah mudah diakses berhubung karna tahun 2013 kemarin jalannya sudah diperbaiki hingga sampai di depan makam. Letaknya juga tidak jauh dari pusat kota (lapangan karebosi) hanya sekitar 6 km sebelah utara pusat kota, dengan waktu 15 menit kita sudah sampai di makam tersebut kalau kita berangkat dari pusat kota. Dan letak wilayah Kecamatan Tallo yang dekat dengan pintu tol Tallo, yaitu Jl Tol Ir Sutami dan Jl Tol Pelabuhan membuat situs ini juga mudah diakses baik dari pusat Kota Makassar maupun Bandara Sultan Hasanuddin, bisa menggunakan taksi maupun angkutan kota (petepete).

Di depan makam terdapat tembok besar yang terukir tulisan 21 nama-nama orang yang dimakamkan di dalam komleks. Menurut Pa Ibrahim bahwa ke 21 nama tersebut adalah nama beberapa raja-raja Tallo beserta dengan keluarga raja. Dalam sejarah pun dijelaskan bahwa sekitar abad  17 sampai dengan abad 19 kompleks makam raja Tallo merupakan pemakaman khusus keluarga kerajaan. Itulah sebabnya kenapa pemerintah memberikan nama situs sejarah tersebut Kompleks Makam Raja Tallo Sul-Sul pada saat makam itu dipukar menjadi objek wisata tahun 1974-1975 dan 1981-1982 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Adapun 21 nama tersebut :

1.    Sultan Mudafar (Imanginyarrang Dg Makkiyo, Raja Tallo VII, 1598 – 1641)
2.    Sawerannu (istri Raja Tallo VII)
3.    Sultan Abd. Kadir (Mallawakkang Dg Matinri, Raja Tallo IX)
4.    Sultan Syaifuddin (Imakkasumang Dg Mangurangi, Raja Tallo XII, 1770 – 1778)
5.    Sultana Sitti Saleha (Madulung, Raja Tallo XIII)
6.    Sultan Muh Zainal Abidin (La Oddang Riu Dg Mengeppe, Raja Tallo XV, Raja Gowa XXX)
7.    Yandulu (Krg Sinrijala)
8.    Pakanna (Raja Sanrobone XI)
9.    Sultana Sitti Aisyah (Mangati Dg Kenna)
10.    I Malawakkang Dg Sisila (Abd Kadir)
11.    Abdullah Bin Abd Gaffar (Duta Bima di Tallo)
12.    Linta Dg Tasangnging (Krg Bonto Sunggua Tumabicara Butta Gowa)
13.    Abdullah Daeng Riboko
14.    Arif Krg Labbakang
15.    Imanuntungi Dg Mattola
16.    Karaeng Parang-Parang (Krg Bainea Ri Tallo)
17.    Saribulang (Krg Campagana Tallo)
18.    Mang Towayya
19.    Sinta (Karaeng Samanggi)
20.    Karaenta Yabang Dg Talomo (Krg Campagaya Krg Bainea Ri Tallo)
21.    Karaeng Mangarabombang (Krg Bainea Ritallo).

Tallo merupakan kerajaan kembar Gowa, di masa pemerintahan Tunatangka Lopi Gowa di bagi menjadi dua wilayah dan kedua anaknya yang meneruskan kepemimpinan tersebut yaitu Batara Gowa dan Karaeng Leo RI Sero sebagai raja Tallo. Hingga pada era Lamakkarupa Daeng Parani Arung Lipukasi kerajaan Tallo dilebur kedalam Gowa dan sekarang domain Tallo hanya menjadi salah satu kecamatan di kota Makassar.

-HS’Masagenae

Terima Kasih Atas Senyum Anda; Sampah Visual di Ruang Publik

Foto Caleg di Kompleks BTN Antara makassar
Tahun ini ada yang berbeda dari potret jalan poros kompleks btn antara makassar, jalur yang setiap hari saya lewati ketika keluar dari rumah. Sepanjang jalan terlihat senyum yang sama sekali tidak pernah saya harapkan, apa lagi senyum itu dari orang yang tidak saya kenal. Tapi mereka sangat baik dan tetap menyapa lewat senyum beserta janji mereka. Sungguh bahagianya saya setiap hari melihat senyum itu. Yah senyum itu adalah spanduk, umbul-umbul dan baliho calon legeslatif (caleg) partai politik (parpol).

****

Sejak KPU membuka jadwal kampanye tanggal 15 maret 2014 senyum itu bertambah banyak. Setiap pohon, tiang listrik dan apapun itu yang bisa menjadi alternatif untuk menempelkan senyum visual beserta pesan janji para caleg. Saya pernah mendapatkan seseorang memasang spanduk dan baliho pukul dua dini hari di kompleks saya. Tapi sayang saya tidak sempat bertanya kepada mereka kenapa memasangnya jam segitu. Saya tidak menyangka ternyata senyum itu bisa merampas waktu istirahat/tidur seseorang.

Pernah suatu hari (24/03/2014) saya lewat di jalan Hertasning Makassar. Kebenaran salah satu senyum yang tertempel di kompleks saya hadir di sana melakukan kampanye politik. Betapa kagum saya kepada ia, saat saya terjebak macet di jalan itu. Ini bukan sulap, senyum itu memiliki massa yang banyak hingga bisa memacetkan jalan, luar biasa yahh? Apakah anda pernah membayangkan, hanya dengan menebar foto senyum anda, anda bisa mendapat pendukung yang bisa memacetkan jalan, hebat bukan!

Jumlah dana (cost politik) sepertinya bukan masalah bagi mereka asalkan bisa menang. Yang namanya demokrasi pemilih terbanyak pasti selalu menjadi pemenang meskipun butuh banyak dana untuk itu. Andai saja saya mempunyai kerabat yang nyaleg, Ingin sekali saya bertanya, berapa uang yang ia habiskan untuk membuat spanduk, baliho, baju, dan atribut kampanye lainnya. Dan menyarankan agar separuh dari uang itu disumbangkan saja kepada orang yang membutuhkan. Bukankah itu lebih bermanfaat! Dan bisa membuat mereka juga tersenyum.

****

Penahkah kalian berpikir bahwa baliho, billboard, umbul-umbul, spanduk, rontek, dan poster adalah sampah yang mengotori keindahan kota Makassar. keberadaannya menjadi masalah yang amal krusial dalam estetika kota karna menjajah ruang publik milik masyarakat. Kehadirannya di ruang publik memaksa kita untuk melihatnya, jadi mau tidak mau kita tidak bisa menghindarkan pandangan kita.

Menurut Sumbo Tinarbuko, seorang Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta dalam artikelnya "Sampah Visual Iklan Pemilukada" mengatakan bahwa; sampah visual adalah limbah iklan politik yang dipasang, ditancapkan, direntangkan, digantungkan, dan ditempelkan di seluruh area ruang publik, karena penempatannya tidak mempertimbangkan estetika dan ekologi visual, maka muncullah sampah visual iklan politik yang "menjajah" ruang publik.

****

Terlepas apa kata orang terhadap atribut kampanye di ruang publik, saya selalu berpikiran positif, bahwa senyum para caleg melalui visualisasi adalah niat baik mereka sebagai calon wakil rakyat. Bukankah "Senyum itu adalah Ibadah? Pesan verbal yang mengisyaratkan untuk memilih mereka yang tertulis di visiualisasi itu merupakan cita-cita mulia. Pun kedepan mereka tidak bisa merealisasikannya kita sebagai pemilih cerdas bisa menuntut melalui media aspirasi.

Tapi untuk mencegah itu semua, baiknya kita memilih wakil rakyat yang mudah kita akses agar bisa mengingatkan janji mereka saat duduk di kursi pemerintahan. Karna jika tidak, ketika mereka terpilih maka senyum visual-nya tidak akan bisa kita lihat lansung kecuali melalui media meanstreme. Di balik kaca televisi mereka berbicara program kesejahtraan rakyat tapi di satu sisi mereka tidak turung lansung mendegarkan keluhan kita.

****

Bagi mansyarakat makassar, hindarilah berkendara di jalan hertasning sekitaran lapangan sebelum pesta demokrasi 9 April 2014 diselenggarakan. Karna jalan itu sangat rawan macet oleh kehadiran senyum visual beserta dengan massanya guna berkampanye. Beberapa dekade terakhir ini lapangan Hertasning kerap kali menjadi tempat bulan-bulanan massa kampanye pilitik. Saya sendiri sudah menyaksikan lansung senyum caleg disana, sampai satu jam baru bisa keluar dari jalur jalan karna macet.

Macet di Jalan Hertasning
Selain di hertasning lapangan BTP makassar juga acap kali di gunakan sebagai tempat kampanye. Hasilnya yah macet. Hari minggu kemarin saya juga terjebak macet disana. Orang-orang yang memakai baju bergambarkan senyum caleg konvoi mulai dari gerbang BTP hingga lapangan.  Yaah, Sekali lagi saya terperangkap macet oleh ekspresi senyum visual. Terdengar suara orasi politik dihadapan kerumunan orang yang memakai baju tipis dengan desain yang seragam di halaman lapangan BTP Makassar seolah ia tidak bersalah dengan macet yang ditimbukan.

Untuk kali kedua saya berada di tengah-tengah orang dengan mimik wajah jengkel gara-gara macet. Berulang kali Nada “Aaahh" (suara keluhan) pun terlontar dari mulut mereka. Bahkan polisi pun sampai turun tangan untuk mengatur kendaran di lampu lalu lintas depan gerbang BTP karna macet yang ditimbulkan oleh massa kampanye yang ugal-ugalan berkendara. Beberapa di antara massa yang konvoi malah asyik menarik gas motor mereka dengan knalpot bogar-nya (racing) agar suara motornya teriak bagaikan guntur yang bisa memecah gendang telinga.

****

Inilah konsekuensi dari demokrasi, setiap orang bisa saja merampas kebahagian orang banyak untuk mencapai obsesi pribadinya. Sebagian orang memang menganggapnya “wajar” termasuk saya. Karna senyum itu sangat setia menyapa saya di sepanjang jalan kompleks rumah saya. “Terima kasih atas senyum Anda”

-HS’Masagenae

Tahukah Kalian Kapan Gugurnya Bunda Fatimah Az Zahra (?)

sumber : http://tausyah.wordpress.com
SEJAK saya memasuki pendidikan formal mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, Guru/Dosen pendidikan agama islam saya tidak pernah memberikan pengajaran kepada saya tentang biografi bunda Fatimah Az Zahra, kapan beliau lahir dan wafat? bagaimana perjuangan beliau menemani ayahnya untuk mendakwakan agama Islam.

Mungkin terlalu naif jika saya mengkambing hitamkan pendidikan formal yang telah memuat saya buta akan sosok belahan jiwa kekasih Allah Swt. Karena memang tidak ada bahan materi tentang biografi beliau di standarisasi pelajaran agama Islam pendidikan formal. Bukankah demikian? sampai sekarang saya tidak pernah menemukan buku wajib pendidikan agama islam yang membahas biografi beliau. Bagaimana dengan anda?

Ustad yang sering ceramah di media meanstreme juga sangat jarang mengangkat tema tentang beliau. Beberapa diantara mereka malah susah membedakan antara dakwah dengan melawak. Bahkan tidak sedikit ustad yang kita dapatkan hidup glamor, hidup dengan limpahan uang dan fasilitas mewah yang sangat jauh dari kesederhanaan, seperti yang telah dicontohkan oleh para rasul Allah Swt.

****

Teka-teki tentang keberadaan makam Fatimah binti Muhammad masih menjadi misteri sampai sekarang. Tak banyak dari kita masyarakat Indonesia sebagai muslim terbesar di dunia mengetahui kapan putri Rasulullah Saw syahid sebagai pembela agama Allah Swt, teruma bagi mereka kaum hawa karna beliau adalah penghulu para perempuan yang ada jagat raya ini. Bahkan beliau tidak dimakamkan di samping makam Rasulullah Saw. Ayah yang sangat beliau cintai.

Saya teringat cerita nenek di kampung, beliau berpesan kepada keluarga kami sebelum ia berpulang kerahmatullah "Nak kuburkan saya di samping ayah saya" karena nenek kami sangat mencintai ayahnya. Pertanyaan kritis pun terlintas dalam benak saya kenapa Fatimah Az Zahrah tidak berpesan demikian kepada keluarganya? Bukankah beliau juga sangat mencintai Ayahnya!

****

Apakah kita tau derajat beliau disisi Rasulullah Saw dan Allah Swt(?).  Mengutip hadis yang diriwayatkan oleh bukhari dan Muslim. Bukhari menyatakan Rasulullah bersabda; “Fatimah sebagian daripadaku, barang siapa membuatkan dia marah maka ia telah membuatkan aku marah” - Sahih Bukhari jilid 4 halaman 210. Dan Muslim Nisyaburi menukilkan baginda bersabda; “Fatimah sebagian daripadaku, akan membuatkan aku sakit barang siapa menyakiti beliau”- Sahih Muslim jilid 7 halaman 141.

MAAF, saya bukan ustad yang hendak meceramai para pembaca lewat coretan ini, karena saya selalu yakin bahwa pembaca lebih cerdas dari pada saya. Saya hanya seorang penulis amatir yang berusaha untuk meraih senyum mutiara hati Al-Amin, bukankah senyum beliau membuat senyum juga Rasulullah Saw? bagaimana bisa kita ummat islam bermimpi akan kenikmatan surga tanpa restu dari pembawa risalah agama islam dan restu dari putri beliau Sayyidah Fatimah Az Zahrah.

****

Selain makam, Gugurnya bunga yang sangat mirip cara berjalan, cara bicara, akhlak dan kemuliaan Rasulullah Saw juga terdapat beberapa versi, diantaranya 13 Jumadil awal dan 3 Jumadil Akhir. Tapi terlepas dari itu semua saya hanya ingin mengatakan jika kita meyakini bahwa ridho Fatimah Az Zahra adalah ridho Rasulullah Saw maka berbondong-bondonglah untuk menghidupkan mejelis doa untuk beliau atau minimal mengirimkan Al-Fatiha karena hari ini adalah 3 jumadil Akhir 1435, hari syahidnya buah hati Rasulullah Saw. Jika tidak yahh ngak usah, toh beliau juga tidak butuh doa dari kita, tapi justru sebaliknya!

Semua kembali dari diri kita masing-masing. Saya pun demikian karna pertanggung jawaban kita dihadapan Allah Swt tidak dilakukan berjamaah. Dan bukankah janji Rasulullah Saw, Bahwa islam akan menang diakhir zaman. Jadi tanpa perjuangan kita pun determinisme sejarah akan menjadi saksi berkibarnya panji-panji agama Allah Swt. Tapi pertanyaannya kemudian, apakah kita akan berada dibarisan prajurit tauhid ataukah sebaliknya (?)

Makassar 02/04/2014
-HS'Masagenae

Gazebo AD Tempat Paling Seksi di Kampus Hitam

Gazebo AD Kampus Hitam
Suara riuh musik game on line membuat saya berhenti sejenak menyaksikan mahasiswa yang sedang asyik main game di gazebo AD kampus hitam (Sebutan Politeknik Negeri Ujung Pandang dengan almamater berwarna hitam). Kerumunan mahasiswa Gamers itu menjadi perhatian setiap orang yang lewat, bagaimana tidak gema suaranya sangat menggoda apa lagi bagi mereka pecinta game.

Fasilitas wifi gratis membuat mahasiswa betah duduk belama-lama di depan leptop, apa lagi sekarang gazebo AD sudah dilengkapi fasilitas meja khusus untuk mahasiswa yang ingin on line. Selain main game ada juga yang sibuk browsing, main FB, bahkan saya sempat dengar cerita ada mahasiswa yang bela-belain datang jam enam pagi untuk download film karna kecepatannya sangat bagus bisa sampai 2 Mb/s karna masih kurang yang memakainya.

Terlihat wajah cengengesan mereka yang cuek dan tampaknya tidak memperhatikan orang-orang disekitarnya walaupun mereka duduk berdekatan, seolah-olah gazebo itu miliknya sendiri. Sosial media telah membawanya berpetualang di dunia maya. Dunia yang mebuat mereka berteman dengan banyak orang di belahan bumi sana, sementara orang yang duduk di sampingnya, sama sekali mereka tidak pernah menyapanya.

****

Pertengahan tahun 2010 lalu, ketika gazebo AD baru saja selesai di bangun, tempat itu menjadi pilihan utama bagi mahasiswa untuk membuat diskusi pelataran dan rapat organisasi. Baik itu organisasi internal maupun eksternal, mereka semua berbondong-bondong untuk memberdayakan tempat itu, saya juga termasuk mahasiswa yang sering sekali beraktifitas di gazebo AD.

Masih hangat dalam ingatan saya waktu ka Dila menjadi pemateri diskusi yang kami buat selaku pengurus HmI komisariat poltek di gazebo AD. Dan teman-teman dari Humaniora juga sering melakukan diskusi rutin di sana bahkan mereka sempat membuat lapak bazar buku di gazebo AD. Berulang kali malah saya dapatkan dua pengurus organisasi yang berbeda sedang melaksanakan rapat di sana dan mereka bisa berbagi tempat satu sama lain.

Entah kenapa birokrasi kampus menyediakan meja agar on line di gazebo AD sangat nyaman, akibatnya tempat itu padat dan menjadi tempat ter-seksi untuk nongkrong sambil menikmati fasilitas wifi gratis kampus. Bagus, kalau mahasiswa bisa memanfaatkannya untuk kerja tugas, bagaimana kalau digunakan untuk main game sampai-sampai lupa masuk kuliah!

Dengan wajah cemberut yang heran saya duduk sejenak terdiam dan bertanya-tanya, kenapa yah mereka tidak menyediakan papan tulis dan spidol saja(?) Supaya diskusi dan rapat-rapat organisasi bisa lebih lancar. Atau mereka sengaja lebih memilih meja agar bisa menggeser aktifitas organisatoris disana. Entahlah! Saya juga tidak ingin menuduh begitu saja tanpa data yang jelas.

Sempat sih ade-ade HmI membuat bedah buku di gazebo AD dan saya yang dipanggil menjadi pematerinya, akan tetapi meja-meja yang memadati-nya membuat gerah. Peserta harus berdempet-dempetan karna tempat itu jadi sempit oleh meja bersama dengan penggunanya yang sibuk senyum dan tertawa sendiri di depan leptop, mereka terlalu banyak mengambil area gazebo AD. Nampak suasananya sangat berbeda dengan diskusi yang kami buat dulu karna saat itu belum ada meja-meja yang menjajah gazebo AD.

Memang dari lima gazebo di kampus hitam, gazebo AD yang paling seksi selain besar, luas, posisinya juga berada di tengah-tengah kampus, sehingga mudah diakses oleh semua mahasiswa dari lima jurusan. Di tambah lagi fasilitas wifi dan meja yang membuat tempat itu makin ramai sekarang.

Cuman yang berbeda dari keramaian gazebo AD dulu dengan sekarang hanyalah penggunanya, karna papan tulis dan spidol telah dikalahkan oleh meja dan wifi gratis.


Senin, 1/April/2014
-HS'Masagenae

Coretan Kasih untuk Adinda Irfan : Hanya Bisa Bilang Maaf


IRFAN
SAYA sangat tercengang membaca tulisan yang dibuat oleh adinda Irfan.  judul tulisannya adalah “Maaf, Gerakan Mati Karna Senior” sekarang dia menjabat sebagai ketua HmI Komisariat Poltek, dan sementara melanjutkan pendidikan S1 di Poltek setelah tahun kemarin dia baru saja menyelesaikan pendidikan D3 dikampus yang sama. Kemarin Saya menyempatkan diri untuk bertanya tentang senior yang dia maksud (?) dengan senyum yang tipis dia pun menjelaskan panjang lebar hingga saya terkesima.

Semenjak dia menjabat sebagai ketua komsariat, banyak forum ke-ilmuan yang dia buat seperti basic training dan mengawal sampai follow up-nya, bedah buku minggu-an yang sempat saya dipangggil menjadi pemateri, diskusi pelataran kampus, diskusi di café perintis, diskusi kontemporer dan lainnya. Selain itu dia juga aktif mengikuti forum diskusi sebut saja partisipanya di bedah buku nasional Eko Presetyo  seperti yang dia sebutkan dalam tulisannya. Bukan cuman itu, dia juga aktif mengisi forum ke-ilmuan sebagai seorang pemateri apalagi dia sudah mengikuti jenjang pengkaderan tingkat II bulan dua tahun kemarin, sebagai syarat untuk menjadi pemateri di Himpunan Mahasiswa Islam.

Wajah datar saya heran dan berpikir, kenapa bisa-dia mengatakan gerakan mati, sementara banyak yang dia lakukan untuk menghidupkan gerakan Mahasiswa. apalagi sampai menyalahkan senior.

Saya tambah heran dengan justifikasi gerakan mati dalam tulisannya dengan indikator“Perdebatan tentang wacana kapitalisme, neoliberalisme, sosialisme, gerakan mahasiswa, filsafat bahkan kebenaran itu sendiri menjadi hal yang tabu bagi kalangan mahasiswa hari ini” sedangkan sebagai seorang Mahasiswa wacana itu tidak tabu baginya. Bahkan dia punya tulisan tentang itu, sebut saja tulisannya tentang “Sejarah Tasawuf, Emile Durkheim dengan Fakta Sosialnya, Penguatan Civil Society Dalam Mengawal Demokrasi” dan masih banyak lagi tulisan yang ia buat di blog-nya. Bukankah dia juga adalah Mahasiswa?

Dia juga menyebutkan indikator yang lain dari “Gerakan Mati” yakni ; “mahasiswa yang lahir adalah mahasiswa yang hanya bisa membangun baliho-baliho yang berisikan seminar nasional dan lomba. Atau bahasanya temanku mahasiswa EO (event  organizer), yang berujung pada ajang mencari popularitas. Tapi dia tidak menyebutkan mahasiswa mana yang dia maksud, karna dia selaku mahasiswa tidak lahir dalam kategori yang dia sebutkan. Karna selama ini dia tidak pernah membuat kegiatan yang berorientasikan EO (event  organizer) dan mencari popularitas dari apa yang dia lakukan.

****

Sebuah justifikasi hanya akan menjadi hipotesis dan asumsi bagi kita tanpa data yang kuat untuk mendukung kebenarannya atau minimal kita punya penelitian tentang hal tersebut. Telalu naïf jika kita menyalahkan senior. Apalagi jika kita belum mengetahui sumbangsih mereka untuk gerakan kemanusian dan apa yang dilakukannya sekarang untuk tetap di jalan perjuangan itu. Apakah kita pernah bertanya tentang itu kepada mereka? Dan apakah semua senior harus melakukan apa yang telah dilakukan oleh Bung Eko Presetyo untuk menginsipirasi juniornya? kalau dengan itu mahasiswa bisa tetap konsisten dengan gerakannya seperti yang disebutkan oleh adinda Irfan “bung eko adalah sosok senior yang mampu menginspirasi banyak mahasiswa salah satunya adalah saya”

Bagi saya, tulisan adinda Irfan  malah membuat saya berpikiran sebaliknya bahwa gerakan sekarang sangat progres. Di era saya dulu saat menjadi ketua komisariat, hampir-hampir saya tidak menemukan teman-teman pengurus yang menulis, sedangkan pengurus generasi dia banyak yang aktif menulis. Bahkan saya selaku ketua komisariat tidak pernah membuat tulisan seperti yang dia buat hingga saya dimisioner. Akan tetapi dia selaku ketua komisariat bisa berkarya dengan menorehkan perjuangan dalam sebuah tulisan, apalagi itu bukan tulisan satu-satunya yang dia buat masih banyak lagi karya yang dia torehkan dalam blog-nya http://catatan-pergerakan.blogspot.com.  Bukankah itu sebuah prestasi yang baik dalam sebuah proses regenerasi di organisasi (?)

Saya hanya bisa bilang maaf, jika selama ini tidak memberikan yang terbaik kepada adinda Irfan sebagai seorang senior. Dan tidak bisa seperti Bung Eko Presetyo yang bisa menginspirasinya.

Senin 31/Maret/2014
-HS’Masagenae

Hari Pertama Pelatihan Menulis

Beberapa hari lalu aku mendapat kabar dari salah seorang teman bahwa aku lulus pelatihan dan pendampingan menulis yang diselenggarakan oleh team MakassarNolKm.Com,  aku tidak menyangka sih dapat kabar bahagia itu. Karna salah satu syarat pendaftarannya adalah mengirim tulisan non fiksi, dan kriteria tulisan adalah deskripsi hasil dari observasi atau wawancara. Selama ini aku tidak pernah menulis seperti itu karna hampir semua tulisan yang aku buat adalah opini.

Kemarin adalah hari pertamaku mengikuti pelatihan menulis, adapun peserta yang lulus dalam pelatihan tersebut hanya sembilan orang dari empatpuluh pendaftar dan yang mengirim tulisan hanya duabelas orang.  Dalam pelatihan itu kami didampingi oleh dua orang yaitu Ka Jimpe dan Ka Ipul. Mereka berdua adalah penulis buku profesional  salah satu karyanya yang sangat terkenal yaitu Makassar Nol Km, buku itu merupakan kumpulan tulisan tentang potret kota Makassar, kata Ka Jimpe buku itu sempat menjadi buku wajib disalah satu fakultas universitas Makassar.

Peserta kegiatan itu terdiri dari beberapa kalangan ada mahasiswa, ibu rumah tangga, serjana, dan salah satu dari peserta adalah team dari Makassar Nol Km. Tema tulisan yang di buat oleh peserta juga sangat menarik seperti pangkas rambut Madura, musik jass Makassar, sampah visual, Makassar dalam mie, lingkar donor Makassar,  penjahit sepatu dan objek wisata gowa

Banyak hal yang aku dapatkan di hari pertamaku, diantaranya.

  1. Jurnalis warna, kami diajari bagaimana membuat tulisan jurnalis warga. Kata Ka Jimpe dalam situs jurnalis warga semua orang mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan berita karna profesinya berbeda dengan jurnalis konvensional yang memiliki tuntutan kerja dari media meanstrem dan berita yang mereka dapatkan pun harus difilter sebelum dipublikasikan. Hal utama dalam tulisan jurnalis warga adalah tema tulisan, biasanya tema tulisan jurnalis konvensional jika kita membaca judul tulisannya maka kita sudah bisa mengetahui isi tulisan, contoh “10 orang korban kecelakaan tabrakan Bus” tanpa harus membaca isi tulisan kita sudah bisamengetahui apa isi tulisan tersebut. Sedang tulisan jurnalis warga harus memilih judul, yang mana ketika orang membacanya maka mereka akan tertarik karna ingin mengetahui apa isi tulisan tersebut. Contoh “pro dan kontra jumlah korban tabrakan bus”
  2. Tulisan Fokus. Dalam membuat tulisan kita harus fokus dengan objek  yang ingin kita sampaikan, misalnya aku mengambil tema Makam Raja Tallo jadi deskripsi tulisannya harus difokuskan disitu adapun hal-hal yang berkaitan dengan tema hanya sebagai  tambahan tulisan yang bisa kita ambil dari buku, artikel dan lainnya, dan hal itu tidak bisa mendominasi dari tema yang kita pilih.
  3. Paragraf pertama. Hal ini sangat penting karna paragraph pertama merupakan moment kontrak antara penulis dengan pembaca, ketika paragraf pertama tidak bisa mengikat pembaca maka tulisan kita tidak akan dibaca sampai selesai oleh pembaca. Kata ka jimpe paragraf pertama harus di tuliskan kalimat aktif karna kalimat pasif biasanya membuat pembaca jenuh dengan tulisan kita. Contoh kalimat aktif : Rudi memakan roti dan Contoh kalimat pasif : Roti dimakan rudi
  4. Menhindari tulisan refleksi. Tulisan yang kita buat harus hasil dari wawancara dan observasi. sederhanya, kita menulis tentang sesuatu objek berdasarkan dari pandangan orang lain bukan hasil dari penalaran kita. Karna kata Ka Jimpe kalau tulisan refleksi  sama halnya kita membuat pidato tentang objek yang ingin kita tulis. Jadi tulisan yang kita buat adalah segala sesuatu yang kita dapatkan dari lapangan.
Ada banyak lagi sebenarnya yang disampaikan oleh pendamping yang tidak tersimpan dalam memori ingatanku karna harusnya kemarin pas setelah selesai pelatihan aku membuat tulisan ini, akan tetapi  aku tidak sempat karna setelah pelatihan aku di panggil oleh teman-teman HmI untuk bawa materi dalam kegiatan bastra dan setelah itu aku harus menulis surat kepada seseorang yang selalu menginspirasiku menulis. Sampai pagi hari surat itu baru selesai jadi aku baru sempat untuk menulis pengalamanku dalam pelatihan dan berusaha mengingat pembelajaran yang aku dapatkan.

Btn Antara, Minggu 02 Maret 2014
-HS’Masagenae

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger