Foto Saya

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

SEJARAH KERAJAAN SUPPA Part II

ILUSTRASI, Sumber : http://goo.gl/lhB5cq
Sejarah Kerajaan Suppa Part I saya telah menjabarkan tentang proses terbentuknya kerajaan suppa oleh kedatangan To Manurung We Tipulinge yang kemudian ia dinobatkan sebagai Datu Suppa pertama oleh masyarakat Suppa. Untuk kesempatan kali ini saya akan mepaparkan regenerasi dari Datu suppa.

****

Dengan dianggakatnya We Tipulinge sebagai Datu Suppa pertama dan setelah ia di persunting oleh Labangngenge Manurung Ri Bacukiki maka terbentuklah keluaga dalam kerajaan Suppa, ini kemudian menjadi cikal bakal regenerasi Datu Suppa yang kelak akan meneruskan kepemimpinan.
Dari persilangan kedua To Manurung Suppa dan Sawaitto, kemudian melahirkan tiga orang anak,

1.    Lateddung Lompoh (lk)
2.    Laboting Langi (lk)
3.    We Pawawoi (pr)

Atas kehendak kedua orang tuannya, Lateddung Lompoh ditunjuk sebagai Datu Suppa sekaligus merangkap sebagai Addatuang Sawitto. Kebijakan itu kemudian menimbulkan kekecewaan dari adiknya karna ia hanya diberikan kerajaan kecil yaitu Tanete. apa’na akkarungang baiccu-mi ripamanakiangngi “Hanya kepemimpinan kecil diwariskan kepada saya” kata  Laboting Langi yang menjabat sebagai Arung Tanete. (sumber : Terjemahan Lontara Suppa Dinas Sosial, Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Pinrang 2012). Sedangkan adiknya yang bungsu We Pawawoi menjadi Arung di Bacukiki, dan di nikahi oleh anak Addaowang Sidenreng La Songko Ulaweng.

Tanpa menafikkan alasan/pendekatan yang lain, mungkin saja garis hirarkis yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa Lateddung Lompo yang diberi kuasa penuh untuk menggantikan ayah dan ibunya di Suppa dan Sawitto. Karna Datu Suppa yang menggantikan La Teddung Lompo juga merupakan anak pertamanya yaitu La Putebuluh. Akan tetapi Jika kita menggunakan pendekatan lain, biasanya dalam budaya Bugis, anak yang paling mirip dengan sosok ayah dan ibunya yang akan mewarisi pusaka sebagai bukti bahwa dia adalah pemimpin selanjutnya. Mirip yang di maksud bukan secara biologis akan tetapi karakter. Walaupun Itu hanya hipotesis saya dan masih membutuhkan pendalam data yang falid untuk kebenarannya.

-HS’Masagenae

Menghadiri Pelantikan PP-KPMP : Selamat Atas Dilantiknya Saudara Awaluddin Nadjib Sebagai Ketua Umum PP-KPMP

Minggu, 18-Mei-2014

Beberapa orang panitia terlihat lagi sibuk di depan panggung, nampaknya mereka lagi mempersiapkan pelantikan PP-KPMP. Ruangan masih terlihat sepi karna belum ada satu pun tamu datang, padahal jadwal pembukaan yang di cantumkan di dalam undangan yang diedarkan sudah lewat. Sepertinya kami dari KMP-Poltek undangan yang paling cepat datang, hampir sekitar setengah jam kami nongkrong di luar karna acaranya lambat dimulai. Saya sempat heran kenapa kegiatan ini bisa molor padahal kata salah seorang teman kegiatan ini akan di hadiri oleh wakil Gubernur Sul-Sel,  Ir. H. Agus Arifin Nu'mang, M.S. dan Bupati Pinrang, Andi Aslam Patonangi SH MSi. Kegiatan ini juga bakalan dirangkaikan dengan rapat kerja pengurus PP-KPMP.

Tak lama berselang rombongan wakil gubernur Sul-Sel dan Bupati Pinrang menaiki tangga menuju tempat pelantikan, kedatangan mereka sepertinya menjadi lampu hijau untuk dimulainya acara pelantikan. Setelah berada di dalam ruangan acara pembukaan pun lansung dimulai walaupun undangan yang lain masih banyak yang belum datang, karna beberapa menit acara berjalan kursi untuk tamu masih banyak yang kosong.

Gedung Local Education Center (LEC) Athirah Antang
Nanti setelah sambutan-sambutan barulah kursi tersebut menjadi padat. Sambutan pertama di mulai oleh Ketua PP-KPMP terpilih, dalam sambutannya iyya sempat menyinggung tentang pengadaan KPMP Center sebagai sentrum untuk pengurus kedepan. Karna di antara delapan asrama Pinrang yang ada sekarang tidak satu pun yang dijadikan sebagai KPMP Center untuk menjadi titik pertemuan kader KPMP Pinrang. Sejenak dalam pikiran saya pun terlintas pertanyaan, kenapa yahh bukan asrama yang sudah jadi saja dijadikan KPMP Center? bukankah hal itu bisa lebih cepat! dan selain itu pengurus juga bisa berbaur dengan mahasiswa Pinrang yang sudah menjadi penghuni asrama. Lagian jika harus membangun asrama baru maka itu akan menguras anggaran pemerintah sementara disisi lain 71.253 jiwa (data tahun 2010) masyarakat miskin membutuhkan tetesan dana yang merupakan hak mereka sebagai warga Pinrang. Bukankah lebih humanis(?) jika alokasi dana pengadaan KPMP Center di alihkan ke sana dan seluruh elemen mahasiswa organisasi daerah Kabupaten Pinrang tinggal mengawal bagaimana dana itu bisa tepat sasaran kalau pun pemerintah mengindahkan pembuatan asrama baru. Setelah sambutan ketua PP-KPMP dilanjutkan oleh sambutan Bupati Pinrang dan Wakil Gubernur Sul-Sel sekaligus membuka acara rapat kerja PP-KPMP hingga acara itu di tutup dengan pembacaan doa oleh salah satu panitia pelaksana.

*****

Melalui tulisan ini saya menyempatkan diri dengan segala hormat mengucapakan selamat kepada saudara Awaluddin Nadjib atas dilantiknya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Pelajar Mahasiswa Pinrang (PP-KPMP) 2014-2016. Semoga bisa mewujudkan visi dan misi-nya selama satu periode kepengurusan dan bisa menjadi jembatan aspirasi masyarakat Pinrang. Amin.

Hormat Saya. -HS'Masagenae

Antara Demokrasi Sekuler dan Teokrasi

BEBERAPA minggu yang lalu ketika saya hendak membeli pulsa, dua orang lelaki sedang bercerita tentang pemilu yang berlangsung pada 9/4/2014 sebut saja namanya Pak Aco dan Pak Beddu (nama samaran). Mereka nampaknya sudah mempunyai pilihan caleg masing-masing. 

Diskusi alot mereka membuat saya duduk sejenak untuk menjadi pendengar setia. Pak Aco kemudian menunjuk foto caleg yang ada di depan saya, sambil mengatakan bahwa itu adalah saudara saya. “Saudaranya nyaleg dengan membawa visi-misi mensejahtrakan rakyat dengan bermodalkan gelar akademik Serjana Hukum“ tuturnya.

Kemarin kakanya sudah menyelesaikan satu periode di DPR pusat dan ingin melanjutkan program yang sudah ia jalankan. ‘Tambahnya lagi. “Pak selama ini, apa anda tau apa-apa saja undang-undang yang sudah dibuat dan diamandemen oleh kaka anda selaku anggota DPR periode kemarin? “saya memotong pembicaraan sambil bertanya. Banyak sih “tapi sayang saya sudah lupa semua nak’. Jawabnya dengan wajah bingung. Kemudian ia melanjutkan pembicaan dengan memaparkan janji-janji politik kakanya selaku caleg dari salah satu parpol.

****

Sungguh naïf bagi kita yang telah memberikan kepercayaan kepada para legislator untuk merumuskan hukum di Negara ini sebagai bangsa berpenduduk islam terbesar di dunia sementara hukum itu sudah ditetapkan olah Allah swt dalam agama yang telah ia turunkan melalui para walinya. 

Yah, demokrasi kita merupakan percontohan dari demokrasi barat yang merupakan buatan manusia. Demokrasi yang memberikan kekuasan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. 

Akibatnya banyak ketetapan di dalam undang-undang yang tidak sesuai dengan nilai-nilai humanis, moralis dan spritualitas. Sebut saja Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 tahun 1967 tentang penanaman modal asing, yang melegalkan eksploitasi dan kemersialisasi di negeri kita.

Ilustrasi, Sumber : http://goo.gl/YNbfFs
Demokrasi sekuler yang diperkenalkan oleh barat seperti yang dikatakan oleh Abraham Linclon; dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dimana kekuasaan secara mutlak dipercayakan kepada legislator untuk membuat dan menetapkan hukum sebagai perwakilan rakyat di kursi pemerintahan. 

Akan tetepi di satu sisi terdapat jarak antara legislator dan rakyat yang mengakibatkan terjadinya miss komunikasi antara mereka.  Seperti yang terjadi pada Pak Aco yang tidak mengetahui perumusan undang-undang yang telah dilakukan oleh saudaranya selaku anggota DPR RI, begitu pula dengan masyarakat yang lain. Karena punya saudara saja di anggota DPR RI tidak tau apa yang mereka buat, bagaimana dengan yang tidak?

****

Demokrasi barat sangat bertentangan dengan Teokrasi (berdasarkan hukum Tuhan) karna tidak menjadikan syariat sebagai landasan sistem Negara. Jika kita menjadikan Teokrasi sebagai dasar hukum maka wewenang kita hanyalah menjabarkan dan merumuskan hukum sesuai dengan prinsip yang telah digariskan Tuhan serta berijtihad untuk sesuatu yang tidak diatur oleh ketentuan Allah Swt. 

Karena dialah pemegang kekuasaan hukum tertinggi. Dengan demikian undang-undang yang dihasilkan pasti selaras dengan Teokrasi dan yang menentukannya bukan voting rakyat akan tetapi iktiar dari seseorang dengan cara mendekatkan diri kepada pembuat hukum yaitu Allah Swt. Bukankah ulama dengan pencuri berbeda? yang di dalam demokrasi liberal suara mereka disamakan.

Sederhanya adalah Allah Swt berposisi sebagai legislator (pembuat hukum) sementara manusia berposisi sebagai orang yang berusaha memahami dan menjabarkan hukum-Nya. Jadi konstitusi harusnya relevan dengan hukum teokrasi dan hanya dengan iktiar personal (perjalanan spritual) hukum itu bisa dipahami dan dijawantahkan di kalangan masyarakat. 

Semakin besar iktiar seseorang menjalankan ibadah maka ia akan semakin dekat dengan pemilik hukum sehingga kemungkinan salah dalam mengintegritaskan nilai-nilai tauhid akan semakin kecil.

Sedangkan demokrasi liberal yang tidak mengindahkan aspek spritulitas begitu mudah untuk melakukan kecurangan karna tidak ditopang dengan pondasi yang kuat yaitu Teokrasi, sehingga walaupun seorang pencuri sah-sah saja menjadi perumus undang-undang karna yang menentukan adalah suara terbanyak, akibatnya berbagai macam cara kemudian dilakukan oleh para aktor demokrasi untuk memenangkan kompetisi politik. 

Yang diuntungkan adalah orang yang memiliki kekayaan karena dengan uang-nya mereka bisa melanggengkan kekuasaannya di atas panggung demokrasi dengan membeli suara orang miskin.

****

Pertanyaan kritisnya adalah, siapakah yang lebih pantas untuk menegakkan hukum, orang yang memiliki suara terbanyak ataukah orang yang paling dekat dengan Allah Swt.?

18 Mei 2014
-HS'Masagenae

Situs Sejarah Makam Raja Tallo

Seorang lelaki sedang duduk terdiam sembari memandangi batu nisan dalam komleks makam raja Tallo, ia sedang mejalankan tugas di makam tersebut. setiap hari kerja ia selalu melakukan aktifitas itu berhubung ia adalah penjaga yang mengelolah makam. Selamat siang Pa’ sapa saya, Ia lansung terkejut saat mendengar suara saya. Dengan perlahan ia melangkahkan kaki ke arah saya dan mengarahkan saya untuk mengisi absen registrasi pengujung, kemudian ia mengajak saya duduk bersama di pos jaga sambil mengobrol.

Pa Ibrahim, panggilan akrabnya. Ia berasal dari kabupaten pangkep datang ke Makassar pada tahun 1990. Ia adalah PNS kemendikbud yang bertugas untuk merawat dan menjaga kompleks makam raja Tallo. Sebagai PNS ia dituntut untuk megikuti ketentuan admistrasi, jadi setiap pagi di hari kerja sebelum pukul 08:00 Wita ia harus ke benteng Rotterdam untuk mengisi daftar hadir setelah itu ia lansung ke makam raja Tallo untuk menjalankan tugas, dan kembali lagi ke benteng Rotterdam pukul 15:00 untuk mengisi lagi daftar hadir sebelum ia pulang ke rumah. Yah itulah rutinitas yang dilakukannya sebagai tanggung jawab pekerjannya, tutur Pa Ibrahim ke saya.

Tampak salah satu makam yaitu Sultan Mudafar, Imanginyarrang Dg Makkiyo Raja Tallo VII selalu ramai oleh peziarah, apa lagi jika menjelang bulan ramadhan. Peziarah bukan cuman dari masyarakat yang tinggal di sekitar makam, akan tetapi dari luar makassar juga sering datang kesana. Adapun para pengunjung dari luar negri yaitu para turis mereka hanya datang untuk berwisata dan ada juga dari kalangan Mahasiswa yang datang untuk mencari informasi tentang sejarah kerajaan Tallo. Sultan Mudaffat sewaktu masih menjadi Raja Tallo ia di beri gelar macang kebo karaeng Tallo (macan putih raja Tallo). Karna beliau adalah raja pemberani, bagaikan macan ketika ia berada dalam medan perang.

Papan Nama Makam Sultan Mudaffar
Biasanya para peziarah yang datang kesana harus ditemati oleh pinati, seorang juru doa makam yang menemani peziarah. Pinati merupakan seorang juru kunci para peziarah karna mereka tidak bakalan bisa berziarah tanpa kehadiran pinati. Menurut Pa Ibrahim sosok pinati adalah orang yang secara turun temurun bertanggung jawab untuk mebacakan doa para peziarah yang datang kesana. Secara administarsi memang Pa Ibrahim selaku pengelolah dan penjaga makam akan tetapi budaya masyarakat Tallo tetap meyakini, pinati-lah yang sebenarnya penjaga makam, karna tanggung jawab itu merupakan tugas lansung yang diberikan oleh raja tallo kepada pinati pertama sampai pinati sekarang yang memiliki garis keturunan yang sama.

*****

Kompleks makam raja Tallo sangatlah mudah diakses berhubung karna tahun 2013 kemarin jalannya sudah diperbaiki hingga sampai di depan makam. Letaknya juga tidak jauh dari pusat kota (lapangan karebosi) hanya sekitar 6 km sebelah utara pusat kota, dengan waktu 15 menit kita sudah sampai di makam tersebut kalau kita berangkat dari pusat kota. Dan letak wilayah Kecamatan Tallo yang dekat dengan pintu tol Tallo, yaitu Jl Tol Ir Sutami dan Jl Tol Pelabuhan membuat situs ini juga mudah diakses baik dari pusat Kota Makassar maupun Bandara Sultan Hasanuddin, bisa menggunakan taksi maupun angkutan kota (petepete).

Di depan makam terdapat tembok besar yang terukir tulisan 21 nama-nama orang yang dimakamkan di dalam komleks. Menurut Pa Ibrahim bahwa ke 21 nama tersebut adalah nama beberapa raja-raja Tallo beserta dengan keluarga raja. Dalam sejarah pun dijelaskan bahwa sekitar abad  17 sampai dengan abad 19 kompleks makam raja Tallo merupakan pemakaman khusus keluarga kerajaan. Itulah sebabnya kenapa pemerintah memberikan nama situs sejarah tersebut Kompleks Makam Raja Tallo Sul-Sul pada saat makam itu dipukar menjadi objek wisata tahun 1974-1975 dan 1981-1982 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Adapun 21 nama tersebut :

1.    Sultan Mudafar (Imanginyarrang Dg Makkiyo, Raja Tallo VII, 1598 – 1641)
2.    Sawerannu (istri Raja Tallo VII)
3.    Sultan Abd. Kadir (Mallawakkang Dg Matinri, Raja Tallo IX)
4.    Sultan Syaifuddin (Imakkasumang Dg Mangurangi, Raja Tallo XII, 1770 – 1778)
5.    Sultana Sitti Saleha (Madulung, Raja Tallo XIII)
6.    Sultan Muh Zainal Abidin (La Oddang Riu Dg Mengeppe, Raja Tallo XV, Raja Gowa XXX)
7.    Yandulu (Krg Sinrijala)
8.    Pakanna (Raja Sanrobone XI)
9.    Sultana Sitti Aisyah (Mangati Dg Kenna)
10.    I Malawakkang Dg Sisila (Abd Kadir)
11.    Abdullah Bin Abd Gaffar (Duta Bima di Tallo)
12.    Linta Dg Tasangnging (Krg Bonto Sunggua Tumabicara Butta Gowa)
13.    Abdullah Daeng Riboko
14.    Arif Krg Labbakang
15.    Imanuntungi Dg Mattola
16.    Karaeng Parang-Parang (Krg Bainea Ri Tallo)
17.    Saribulang (Krg Campagana Tallo)
18.    Mang Towayya
19.    Sinta (Karaeng Samanggi)
20.    Karaenta Yabang Dg Talomo (Krg Campagaya Krg Bainea Ri Tallo)
21.    Karaeng Mangarabombang (Krg Bainea Ritallo).

Tallo merupakan kerajaan kembar Gowa, di masa pemerintahan Tunatangka Lopi Gowa di bagi menjadi dua wilayah dan kedua anaknya yang meneruskan kepemimpinan tersebut yaitu Batara Gowa dan Karaeng Leo RI Sero sebagai raja Tallo. Hingga pada era Lamakkarupa Daeng Parani Arung Lipukasi kerajaan Tallo dilebur kedalam Gowa dan sekarang domain Tallo hanya menjadi salah satu kecamatan di kota Makassar.

-HS’Masagenae

Terima Kasih Atas Senyum Anda; Sampah Visual di Ruang Publik

Foto Caleg di Kompleks BTN Antara makassar
Tahun ini ada yang berbeda dari potret jalan poros kompleks btn antara makassar, jalur yang setiap hari saya lewati ketika keluar dari rumah. Sepanjang jalan terlihat senyum yang sama sekali tidak pernah saya harapkan, apa lagi senyum itu dari orang yang tidak saya kenal. Tapi mereka sangat baik dan tetap menyapa lewat senyum beserta janji mereka. Sungguh bahagianya saya setiap hari melihat senyum itu. Yah senyum itu adalah spanduk, umbul-umbul dan baliho calon legeslatif (caleg) partai politik (parpol).

****

Sejak KPU membuka jadwal kampanye tanggal 15 maret 2014 senyum itu bertambah banyak. Setiap pohon, tiang listrik dan apapun itu yang bisa menjadi alternatif untuk menempelkan senyum visual beserta pesan janji para caleg. Saya pernah mendapatkan seseorang memasang spanduk dan baliho pukul dua dini hari di kompleks saya. Tapi sayang saya tidak sempat bertanya kepada mereka kenapa memasangnya jam segitu. Saya tidak menyangka ternyata senyum itu bisa merampas waktu istirahat/tidur seseorang.

Pernah suatu hari (24/03/2014) saya lewat di jalan Hertasning Makassar. Kebenaran salah satu senyum yang tertempel di kompleks saya hadir di sana melakukan kampanye politik. Betapa kagum saya kepada ia, saat saya terjebak macet di jalan itu. Ini bukan sulap, senyum itu memiliki massa yang banyak hingga bisa memacetkan jalan, luar biasa yahh? Apakah anda pernah membayangkan, hanya dengan menebar foto senyum anda, anda bisa mendapat pendukung yang bisa memacetkan jalan, hebat bukan!

Jumlah dana (cost politik) sepertinya bukan masalah bagi mereka asalkan bisa menang. Yang namanya demokrasi pemilih terbanyak pasti selalu menjadi pemenang meskipun butuh banyak dana untuk itu. Andai saja saya mempunyai kerabat yang nyaleg, Ingin sekali saya bertanya, berapa uang yang ia habiskan untuk membuat spanduk, baliho, baju, dan atribut kampanye lainnya. Dan menyarankan agar separuh dari uang itu disumbangkan saja kepada orang yang membutuhkan. Bukankah itu lebih bermanfaat! Dan bisa membuat mereka juga tersenyum.

****

Penahkah kalian berpikir bahwa baliho, billboard, umbul-umbul, spanduk, rontek, dan poster adalah sampah yang mengotori keindahan kota Makassar. keberadaannya menjadi masalah yang amal krusial dalam estetika kota karna menjajah ruang publik milik masyarakat. Kehadirannya di ruang publik memaksa kita untuk melihatnya, jadi mau tidak mau kita tidak bisa menghindarkan pandangan kita.

Menurut Sumbo Tinarbuko, seorang Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta dalam artikelnya "Sampah Visual Iklan Pemilukada" mengatakan bahwa; sampah visual adalah limbah iklan politik yang dipasang, ditancapkan, direntangkan, digantungkan, dan ditempelkan di seluruh area ruang publik, karena penempatannya tidak mempertimbangkan estetika dan ekologi visual, maka muncullah sampah visual iklan politik yang "menjajah" ruang publik.

****

Terlepas apa kata orang terhadap atribut kampanye di ruang publik, saya selalu berpikiran positif, bahwa senyum para caleg melalui visualisasi adalah niat baik mereka sebagai calon wakil rakyat. Bukankah "Senyum itu adalah Ibadah? Pesan verbal yang mengisyaratkan untuk memilih mereka yang tertulis di visiualisasi itu merupakan cita-cita mulia. Pun kedepan mereka tidak bisa merealisasikannya kita sebagai pemilih cerdas bisa menuntut melalui media aspirasi.

Tapi untuk mencegah itu semua, baiknya kita memilih wakil rakyat yang mudah kita akses agar bisa mengingatkan janji mereka saat duduk di kursi pemerintahan. Karna jika tidak, ketika mereka terpilih maka senyum visual-nya tidak akan bisa kita lihat lansung kecuali melalui media meanstreme. Di balik kaca televisi mereka berbicara program kesejahtraan rakyat tapi di satu sisi mereka tidak turung lansung mendegarkan keluhan kita.

****

Bagi mansyarakat makassar, hindarilah berkendara di jalan hertasning sekitaran lapangan sebelum pesta demokrasi 9 April 2014 diselenggarakan. Karna jalan itu sangat rawan macet oleh kehadiran senyum visual beserta dengan massanya guna berkampanye. Beberapa dekade terakhir ini lapangan Hertasning kerap kali menjadi tempat bulan-bulanan massa kampanye pilitik. Saya sendiri sudah menyaksikan lansung senyum caleg disana, sampai satu jam baru bisa keluar dari jalur jalan karna macet.

Macet di Jalan Hertasning
Selain di hertasning lapangan BTP makassar juga acap kali di gunakan sebagai tempat kampanye. Hasilnya yah macet. Hari minggu kemarin saya juga terjebak macet disana. Orang-orang yang memakai baju bergambarkan senyum caleg konvoi mulai dari gerbang BTP hingga lapangan.  Yaah, Sekali lagi saya terperangkap macet oleh ekspresi senyum visual. Terdengar suara orasi politik dihadapan kerumunan orang yang memakai baju tipis dengan desain yang seragam di halaman lapangan BTP Makassar seolah ia tidak bersalah dengan macet yang ditimbukan.

Untuk kali kedua saya berada di tengah-tengah orang dengan mimik wajah jengkel gara-gara macet. Berulang kali Nada “Aaahh" (suara keluhan) pun terlontar dari mulut mereka. Bahkan polisi pun sampai turun tangan untuk mengatur kendaran di lampu lalu lintas depan gerbang BTP karna macet yang ditimbulkan oleh massa kampanye yang ugal-ugalan berkendara. Beberapa di antara massa yang konvoi malah asyik menarik gas motor mereka dengan knalpot bogar-nya (racing) agar suara motornya teriak bagaikan guntur yang bisa memecah gendang telinga.

****

Inilah konsekuensi dari demokrasi, setiap orang bisa saja merampas kebahagian orang banyak untuk mencapai obsesi pribadinya. Sebagian orang memang menganggapnya “wajar” termasuk saya. Karna senyum itu sangat setia menyapa saya di sepanjang jalan kompleks rumah saya. “Terima kasih atas senyum Anda”

-HS’Masagenae

Tahukah Kalian Kapan Gugurnya Bunda Fatimah Az Zahra (?)

sumber : http://tausyah.wordpress.com
SEJAK saya memasuki pendidikan formal mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, Guru/Dosen pendidikan agama islam saya tidak pernah memberikan pengajaran kepada saya tentang biografi bunda Fatimah Az Zahra, kapan beliau lahir dan wafat? bagaimana perjuangan beliau menemani ayahnya untuk mendakwakan agama Islam.

Mungkin terlalu naif jika saya mengkambing hitamkan pendidikan formal yang telah memuat saya buta akan sosok belahan jiwa kekasih Allah Swt. Karena memang tidak ada bahan materi tentang biografi beliau di standarisasi pelajaran agama Islam pendidikan formal. Bukankah demikian? sampai sekarang saya tidak pernah menemukan buku wajib pendidikan agama islam yang membahas biografi beliau. Bagaimana dengan anda?

Ustad yang sering ceramah di media meanstreme juga sangat jarang mengangkat tema tentang beliau. Beberapa diantara mereka malah susah membedakan antara dakwah dengan melawak. Bahkan tidak sedikit ustad yang kita dapatkan hidup glamor, hidup dengan limpahan uang dan fasilitas mewah yang sangat jauh dari kesederhanaan, seperti yang telah dicontohkan oleh para rasul Allah Swt.

****

Teka-teki tentang keberadaan makam Fatimah binti Muhammad masih menjadi misteri sampai sekarang. Tak banyak dari kita masyarakat Indonesia sebagai muslim terbesar di dunia mengetahui kapan putri Rasulullah Saw syahid sebagai pembela agama Allah Swt, teruma bagi mereka kaum hawa karna beliau adalah penghulu para perempuan yang ada jagat raya ini. Bahkan beliau tidak dimakamkan di samping makam Rasulullah Saw. Ayah yang sangat beliau cintai.

Saya teringat cerita nenek di kampung, beliau berpesan kepada keluarga kami sebelum ia berpulang kerahmatullah "Nak kuburkan saya di samping ayah saya" karena nenek kami sangat mencintai ayahnya. Pertanyaan kritis pun terlintas dalam benak saya kenapa Fatimah Az Zahrah tidak berpesan demikian kepada keluarganya? Bukankah beliau juga sangat mencintai Ayahnya!

****

Apakah kita tau derajat beliau disisi Rasulullah Saw dan Allah Swt(?).  Mengutip hadis yang diriwayatkan oleh bukhari dan Muslim. Bukhari menyatakan Rasulullah bersabda; “Fatimah sebagian daripadaku, barang siapa membuatkan dia marah maka ia telah membuatkan aku marah” - Sahih Bukhari jilid 4 halaman 210. Dan Muslim Nisyaburi menukilkan baginda bersabda; “Fatimah sebagian daripadaku, akan membuatkan aku sakit barang siapa menyakiti beliau”- Sahih Muslim jilid 7 halaman 141.

MAAF, saya bukan ustad yang hendak meceramai para pembaca lewat coretan ini, karena saya selalu yakin bahwa pembaca lebih cerdas dari pada saya. Saya hanya seorang penulis amatir yang berusaha untuk meraih senyum mutiara hati Al-Amin, bukankah senyum beliau membuat senyum juga Rasulullah Saw? bagaimana bisa kita ummat islam bermimpi akan kenikmatan surga tanpa restu dari pembawa risalah agama islam dan restu dari putri beliau Sayyidah Fatimah Az Zahrah.

****

Selain makam, Gugurnya bunga yang sangat mirip cara berjalan, cara bicara, akhlak dan kemuliaan Rasulullah Saw juga terdapat beberapa versi, diantaranya 13 Jumadil awal dan 3 Jumadil Akhir. Tapi terlepas dari itu semua saya hanya ingin mengatakan jika kita meyakini bahwa ridho Fatimah Az Zahra adalah ridho Rasulullah Saw maka berbondong-bondonglah untuk menghidupkan mejelis doa untuk beliau atau minimal mengirimkan Al-Fatiha karena hari ini adalah 3 jumadil Akhir 1435, hari syahidnya buah hati Rasulullah Saw. Jika tidak yahh ngak usah, toh beliau juga tidak butuh doa dari kita, tapi justru sebaliknya!

Semua kembali dari diri kita masing-masing. Saya pun demikian karna pertanggung jawaban kita dihadapan Allah Swt tidak dilakukan berjamaah. Dan bukankah janji Rasulullah Saw, Bahwa islam akan menang diakhir zaman. Jadi tanpa perjuangan kita pun determinisme sejarah akan menjadi saksi berkibarnya panji-panji agama Allah Swt. Tapi pertanyaannya kemudian, apakah kita akan berada dibarisan prajurit tauhid ataukah sebaliknya (?)

Makassar 02/04/2014
-HS'Masagenae

Gazebo AD Tempat Paling Seksi di Kampus Hitam

Gazebo AD Kampus Hitam
Suara riuh musik game on line membuat saya berhenti sejenak menyaksikan mahasiswa yang sedang asyik main game di gazebo AD kampus hitam (Sebutan Politeknik Negeri Ujung Pandang dengan almamater berwarna hitam). Kerumunan mahasiswa Gamers itu menjadi perhatian setiap orang yang lewat, bagaimana tidak gema suaranya sangat menggoda apa lagi bagi mereka pecinta game.

Fasilitas wifi gratis membuat mahasiswa betah duduk belama-lama di depan leptop, apa lagi sekarang gazebo AD sudah dilengkapi fasilitas meja khusus untuk mahasiswa yang ingin on line. Selain main game ada juga yang sibuk browsing, main FB, bahkan saya sempat dengar cerita ada mahasiswa yang bela-belain datang jam enam pagi untuk download film karna kecepatannya sangat bagus bisa sampai 2 Mb/s karna masih kurang yang memakainya.

Terlihat wajah cengengesan mereka yang cuek dan tampaknya tidak memperhatikan orang-orang disekitarnya walaupun mereka duduk berdekatan, seolah-olah gazebo itu miliknya sendiri. Sosial media telah membawanya berpetualang di dunia maya. Dunia yang mebuat mereka berteman dengan banyak orang di belahan bumi sana, sementara orang yang duduk di sampingnya, sama sekali mereka tidak pernah menyapanya.

****

Pertengahan tahun 2010 lalu, ketika gazebo AD baru saja selesai di bangun, tempat itu menjadi pilihan utama bagi mahasiswa untuk membuat diskusi pelataran dan rapat organisasi. Baik itu organisasi internal maupun eksternal, mereka semua berbondong-bondong untuk memberdayakan tempat itu, saya juga termasuk mahasiswa yang sering sekali beraktifitas di gazebo AD.

Masih hangat dalam ingatan saya waktu ka Dila menjadi pemateri diskusi yang kami buat selaku pengurus HmI komisariat poltek di gazebo AD. Dan teman-teman dari Humaniora juga sering melakukan diskusi rutin di sana bahkan mereka sempat membuat lapak bazar buku di gazebo AD. Berulang kali malah saya dapatkan dua pengurus organisasi yang berbeda sedang melaksanakan rapat di sana dan mereka bisa berbagi tempat satu sama lain.

Entah kenapa birokrasi kampus menyediakan meja agar on line di gazebo AD sangat nyaman, akibatnya tempat itu padat dan menjadi tempat ter-seksi untuk nongkrong sambil menikmati fasilitas wifi gratis kampus. Bagus, kalau mahasiswa bisa memanfaatkannya untuk kerja tugas, bagaimana kalau digunakan untuk main game sampai-sampai lupa masuk kuliah!

Dengan wajah cemberut yang heran saya duduk sejenak terdiam dan bertanya-tanya, kenapa yah mereka tidak menyediakan papan tulis dan spidol saja(?) Supaya diskusi dan rapat-rapat organisasi bisa lebih lancar. Atau mereka sengaja lebih memilih meja agar bisa menggeser aktifitas organisatoris disana. Entahlah! Saya juga tidak ingin menuduh begitu saja tanpa data yang jelas.

Sempat sih ade-ade HmI membuat bedah buku di gazebo AD dan saya yang dipanggil menjadi pematerinya, akan tetapi meja-meja yang memadati-nya membuat gerah. Peserta harus berdempet-dempetan karna tempat itu jadi sempit oleh meja bersama dengan penggunanya yang sibuk senyum dan tertawa sendiri di depan leptop, mereka terlalu banyak mengambil area gazebo AD. Nampak suasananya sangat berbeda dengan diskusi yang kami buat dulu karna saat itu belum ada meja-meja yang menjajah gazebo AD.

Memang dari lima gazebo di kampus hitam, gazebo AD yang paling seksi selain besar, luas, posisinya juga berada di tengah-tengah kampus, sehingga mudah diakses oleh semua mahasiswa dari lima jurusan. Di tambah lagi fasilitas wifi dan meja yang membuat tempat itu makin ramai sekarang.

Cuman yang berbeda dari keramaian gazebo AD dulu dengan sekarang hanyalah penggunanya, karna papan tulis dan spidol telah dikalahkan oleh meja dan wifi gratis.


Senin, 1/April/2014
-HS'Masagenae

Coretan Kasih untuk Adinda Irfan : Hanya Bisa Bilang Maaf


IRFAN
SAYA sangat tercengang membaca tulisan yang dibuat oleh adinda Irfan.  judul tulisannya adalah “Maaf, Gerakan Mati Karna Senior” sekarang dia menjabat sebagai ketua HmI Komisariat Poltek, dan sementara melanjutkan pendidikan S1 di Poltek setelah tahun kemarin dia baru saja menyelesaikan pendidikan D3 dikampus yang sama. Kemarin Saya menyempatkan diri untuk bertanya tentang senior yang dia maksud (?) dengan senyum yang tipis dia pun menjelaskan panjang lebar hingga saya terkesima.

Semenjak dia menjabat sebagai ketua komsariat, banyak forum ke-ilmuan yang dia buat seperti basic training dan mengawal sampai follow up-nya, bedah buku minggu-an yang sempat saya dipangggil menjadi pemateri, diskusi pelataran kampus, diskusi di café perintis, diskusi kontemporer dan lainnya. Selain itu dia juga aktif mengikuti forum diskusi sebut saja partisipanya di bedah buku nasional Eko Presetyo  seperti yang dia sebutkan dalam tulisannya. Bukan cuman itu, dia juga aktif mengisi forum ke-ilmuan sebagai seorang pemateri apalagi dia sudah mengikuti jenjang pengkaderan tingkat II bulan dua tahun kemarin, sebagai syarat untuk menjadi pemateri di Himpunan Mahasiswa Islam.

Wajah datar saya heran dan berpikir, kenapa bisa-dia mengatakan gerakan mati, sementara banyak yang dia lakukan untuk menghidupkan gerakan Mahasiswa. apalagi sampai menyalahkan senior.

Saya tambah heran dengan justifikasi gerakan mati dalam tulisannya dengan indikator“Perdebatan tentang wacana kapitalisme, neoliberalisme, sosialisme, gerakan mahasiswa, filsafat bahkan kebenaran itu sendiri menjadi hal yang tabu bagi kalangan mahasiswa hari ini” sedangkan sebagai seorang Mahasiswa wacana itu tidak tabu baginya. Bahkan dia punya tulisan tentang itu, sebut saja tulisannya tentang “Sejarah Tasawuf, Emile Durkheim dengan Fakta Sosialnya, Penguatan Civil Society Dalam Mengawal Demokrasi” dan masih banyak lagi tulisan yang ia buat di blog-nya. Bukankah dia juga adalah Mahasiswa?

Dia juga menyebutkan indikator yang lain dari “Gerakan Mati” yakni ; “mahasiswa yang lahir adalah mahasiswa yang hanya bisa membangun baliho-baliho yang berisikan seminar nasional dan lomba. Atau bahasanya temanku mahasiswa EO (event  organizer), yang berujung pada ajang mencari popularitas. Tapi dia tidak menyebutkan mahasiswa mana yang dia maksud, karna dia selaku mahasiswa tidak lahir dalam kategori yang dia sebutkan. Karna selama ini dia tidak pernah membuat kegiatan yang berorientasikan EO (event  organizer) dan mencari popularitas dari apa yang dia lakukan.

****

Sebuah justifikasi hanya akan menjadi hipotesis dan asumsi bagi kita tanpa data yang kuat untuk mendukung kebenarannya atau minimal kita punya penelitian tentang hal tersebut. Telalu naïf jika kita menyalahkan senior. Apalagi jika kita belum mengetahui sumbangsih mereka untuk gerakan kemanusian dan apa yang dilakukannya sekarang untuk tetap di jalan perjuangan itu. Apakah kita pernah bertanya tentang itu kepada mereka? Dan apakah semua senior harus melakukan apa yang telah dilakukan oleh Bung Eko Presetyo untuk menginsipirasi juniornya? kalau dengan itu mahasiswa bisa tetap konsisten dengan gerakannya seperti yang disebutkan oleh adinda Irfan “bung eko adalah sosok senior yang mampu menginspirasi banyak mahasiswa salah satunya adalah saya”

Bagi saya, tulisan adinda Irfan  malah membuat saya berpikiran sebaliknya bahwa gerakan sekarang sangat progres. Di era saya dulu saat menjadi ketua komisariat, hampir-hampir saya tidak menemukan teman-teman pengurus yang menulis, sedangkan pengurus generasi dia banyak yang aktif menulis. Bahkan saya selaku ketua komisariat tidak pernah membuat tulisan seperti yang dia buat hingga saya dimisioner. Akan tetapi dia selaku ketua komisariat bisa berkarya dengan menorehkan perjuangan dalam sebuah tulisan, apalagi itu bukan tulisan satu-satunya yang dia buat masih banyak lagi karya yang dia torehkan dalam blog-nya http://catatan-pergerakan.blogspot.com.  Bukankah itu sebuah prestasi yang baik dalam sebuah proses regenerasi di organisasi (?)

Saya hanya bisa bilang maaf, jika selama ini tidak memberikan yang terbaik kepada adinda Irfan sebagai seorang senior. Dan tidak bisa seperti Bung Eko Presetyo yang bisa menginspirasinya.

Senin 31/Maret/2014
-HS’Masagenae

Hari Pertama Pelatihan Menulis

Beberapa hari lalu aku mendapat kabar dari salah seorang teman bahwa aku lulus pelatihan dan pendampingan menulis yang diselenggarakan oleh team MakassarNolKm.Com,  aku tidak menyangka sih dapat kabar bahagia itu. Karna salah satu syarat pendaftarannya adalah mengirim tulisan non fiksi, dan kriteria tulisan adalah deskripsi hasil dari observasi atau wawancara. Selama ini aku tidak pernah menulis seperti itu karna hampir semua tulisan yang aku buat adalah opini.

Kemarin adalah hari pertamaku mengikuti pelatihan menulis, adapun peserta yang lulus dalam pelatihan tersebut hanya sembilan orang dari empatpuluh pendaftar dan yang mengirim tulisan hanya duabelas orang.  Dalam pelatihan itu kami didampingi oleh dua orang yaitu Ka Jimpe dan Ka Ipul. Mereka berdua adalah penulis buku profesional  salah satu karyanya yang sangat terkenal yaitu Makassar Nol Km, buku itu merupakan kumpulan tulisan tentang potret kota Makassar, kata Ka Jimpe buku itu sempat menjadi buku wajib disalah satu fakultas universitas Makassar.

Peserta kegiatan itu terdiri dari beberapa kalangan ada mahasiswa, ibu rumah tangga, serjana, dan salah satu dari peserta adalah team dari Makassar Nol Km. Tema tulisan yang di buat oleh peserta juga sangat menarik seperti pangkas rambut Madura, musik jass Makassar, sampah visual, Makassar dalam mie, lingkar donor Makassar,  penjahit sepatu dan objek wisata gowa

Banyak hal yang aku dapatkan di hari pertamaku, diantaranya.

  1. Jurnalis warna, kami diajari bagaimana membuat tulisan jurnalis warga. Kata Ka Jimpe dalam situs jurnalis warga semua orang mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan berita karna profesinya berbeda dengan jurnalis konvensional yang memiliki tuntutan kerja dari media meanstrem dan berita yang mereka dapatkan pun harus difilter sebelum dipublikasikan. Hal utama dalam tulisan jurnalis warga adalah tema tulisan, biasanya tema tulisan jurnalis konvensional jika kita membaca judul tulisannya maka kita sudah bisa mengetahui isi tulisan, contoh “10 orang korban kecelakaan tabrakan Bus” tanpa harus membaca isi tulisan kita sudah bisamengetahui apa isi tulisan tersebut. Sedang tulisan jurnalis warga harus memilih judul, yang mana ketika orang membacanya maka mereka akan tertarik karna ingin mengetahui apa isi tulisan tersebut. Contoh “pro dan kontra jumlah korban tabrakan bus”
  2. Tulisan Fokus. Dalam membuat tulisan kita harus fokus dengan objek  yang ingin kita sampaikan, misalnya aku mengambil tema Makam Raja Tallo jadi deskripsi tulisannya harus difokuskan disitu adapun hal-hal yang berkaitan dengan tema hanya sebagai  tambahan tulisan yang bisa kita ambil dari buku, artikel dan lainnya, dan hal itu tidak bisa mendominasi dari tema yang kita pilih.
  3. Paragraf pertama. Hal ini sangat penting karna paragraph pertama merupakan moment kontrak antara penulis dengan pembaca, ketika paragraf pertama tidak bisa mengikat pembaca maka tulisan kita tidak akan dibaca sampai selesai oleh pembaca. Kata ka jimpe paragraf pertama harus di tuliskan kalimat aktif karna kalimat pasif biasanya membuat pembaca jenuh dengan tulisan kita. Contoh kalimat aktif : Rudi memakan roti dan Contoh kalimat pasif : Roti dimakan rudi
  4. Menhindari tulisan refleksi. Tulisan yang kita buat harus hasil dari wawancara dan observasi. sederhanya, kita menulis tentang sesuatu objek berdasarkan dari pandangan orang lain bukan hasil dari penalaran kita. Karna kata Ka Jimpe kalau tulisan refleksi  sama halnya kita membuat pidato tentang objek yang ingin kita tulis. Jadi tulisan yang kita buat adalah segala sesuatu yang kita dapatkan dari lapangan.
Ada banyak lagi sebenarnya yang disampaikan oleh pendamping yang tidak tersimpan dalam memori ingatanku karna harusnya kemarin pas setelah selesai pelatihan aku membuat tulisan ini, akan tetapi  aku tidak sempat karna setelah pelatihan aku di panggil oleh teman-teman HmI untuk bawa materi dalam kegiatan bastra dan setelah itu aku harus menulis surat kepada seseorang yang selalu menginspirasiku menulis. Sampai pagi hari surat itu baru selesai jadi aku baru sempat untuk menulis pengalamanku dalam pelatihan dan berusaha mengingat pembelajaran yang aku dapatkan.

Btn Antara, Minggu 02 Maret 2014
-HS’Masagenae

Kompleks Makam Raja Tallo Dalam Konstruk Masyarakat Modern

IRFAN dan HS'Masagenae
Tipologi masyarakat perkoataan sangat identik dengan bangunan modern yang menyediakan berbagai fasilitas mewah, tak heran jika mall-mall menjadi tempat idola masyarakat Makassar untuk mengisi hari libur mereka. Hal itu sudah menjadi budaya meanstrem masyarakat kota dimana ketika masyarakat desa datang ke kota mayoritas dari mereka memilih mall sebagai pilihan utama untuk dikunjungi.

Saya ingat ketika pertama kali menginjakkan kaki di Makassar, walaupun saya tidak meminta teman saya langsung mengajak saya pergi ke mall. Bukan cuman mall masih masih banyak bangunan mewah lainnya yang menjadi idola di kota Makassar misalnya trans studio, rumah bernyanyi, bahkan sampai tempat hiburan lokalisasi dan klub malam.

Imbasnya adalah objek wisata yang tidak dilengkapi dengan fasilitas mewah tidak termasuk dalam daftar pilihan untuk dikunjungi, seperti objek wisata budaya benteng rotterdam, benteng sombaopu, dan makam raja Tallo yang terlupakan akibat kemegahan yang disajikan oleh kota Makassar. Tapi diantara ketiga tempat wisata budaya itu yang paling sepi dari pengunjung ialah kompleks makam raja Tallo

Padahal jika dipikir-pikir objek wisata budaya lebih memiliki unsur edukatif  jika dibandingkan dengan mall-mall, misalnya kompleks makam raja Tallo, disana kita bisa mendapat informasi sejarah kota Makassar khususnya tentang kerajaan Tallo oleh pengelolah makam dan masyarakat yang tinggal disekitaran makam. Apalagi disana juga tempat dimakamkannya beberapa perintis cikal bakal terbentuknya kota Makassar yaitu raja-raja Tallo

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung di makam raja Tallo dan saya sempat berbincang dengan salah satu masyarakat disana. Katanya dulu makam ini sangat ramai didatangi oleh orang terutama bangsawan Bugis/Makassar, akan tetapi mereka bukan hendak berwisata melainkan berziarah. Dulu mereka juga sangat menjaga dan mensakralkan makam tersebut mengingat bahwa disana tempat dimakamkannya raja-raja Tallo yang memiliki sejarah riwayat kepemimpinan yang luar biasa olehnya itu masyarakat sangat segan dan menghormatinya.

Masyarakat Makassar dulunya setelah melakukan resepsi pernikahan mereka biasanya meluangkan waktu untuk berziarah ke makam raja Tallo setelah sehari resepsi pernikahan, terutama masyarakat yang tinggal disekitaran pusat kerajaan Tallo yang sekarang menjadi kecamatan Tallo. Bahkan orang dari luar Makassar pun biasanya menyempatkan diri untuk datang berziarah kesana apalagi di hari raya idul fitri dan idul adha.

***

Akan tetapi konstruk modernisasi telah merubah paradigma masyarakat yang dulunya begitu meluhurkan sejarah dan kebudayaannya, memuliakan pendahulunya karna telah berperan besar untuk membentuk peradaban masyarakat Makassar. Kini seakan mata meraka tertutup oleh gemerlap kota Makassar, kota modern yang dihiasi bangunan mewah yang dibangun oleh pemilik modal kapitalisme. Paradigma yang membuat situs-situs sejarah menjadi objek wisata dan menghilangkan esensi kesakralannya.

Semenjak makam raja Tallo dipukar menjadi objek wisata budaya oleh pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1974-1975 dan 1981-1982 hampir semua orang yang datang kesana hanya untuk berwisata. Berbeda dengan yang dilakukan oleh masyarakat dulu yang datang untuk berziarah. Apakah mereka tidak tau bahwa makam yang mereka jadikan sebgai objek wisata budaya adalah makam raja-raja Tallo yang sangat disegani dan dihormati.

Raja sebagai penguasa sebagian besar wilayah kota Makassar pada saat belum terbentuknya RI, walaupun kini Tallo hanya sebuah kecamatan yang luasnya tidak sebanding pada saat Tallo masih menjadi kerajaan. Berbeda dengan kerajaan kembar Tallo yaitu Gowa yang menjadi sebuah kabupaten. Bukanya saya mendukung feodalisme akan tetapi kita juga harus memberikan penghormatan kepada beliau, bukan dengan menjadikan makamnya sebagai objek wisata budaya.

Jika kita bercermin kepada masyarakat Jepan yang tergolong masyarakat modern akan tetapi mereka sangat menjaga budaya dan tidak pernah melupakan sejarahnya dan mensinergiskan antara sains dengan kebudayaan. Kenapa mereka bisa melakukan itu,  sementara masyarakat modern kota Makassar tidak bisa melakukannya.?


Entahlah kenapa itu bisa terjadi! melalui tulisan ini saya ingin mengajak para pembaca khusunya masyarakat modern kota Makassar agar kita sama-sama menjaga dan melestarikan situs-situs sejarah kota Makassar.

-HS'Masagenae

Coretan Refleksi : Ekspose hasil survei IDEC dan Diskusi Politik “Membaca Politik Makassar, dan Meramal Politik Nasional”


Foto Narasumber Diskusi Politik
HARI ini aku baru saja mengikuti ekspose dan diskusi politik yang dilaksanakan oleh salah satu lembaga riset yaitu IDEC di woodsy Gab. Sebagai lembaga riset IDEC telah melaksanakan survei tentang persepsi pemilih menyangkut partai politik sebagai peserta pemiliu 2014 mulai dari tanggal 25 januari – 10 Februari. Dengan mengambil 640 sampel dan margin of eror ± 4 % pada lima daerah pemilihan kota Makassar. Acara itu juga diikuti oleh beberapa caleg partai politik dan media.

Direktur Riset IDEC yang akrab disapa Bang Rahmat mengawali diskusi dengan memaparkan hasil survei yang telah mereka lakukan bersama team survei IDEC. Salah satu hasil survei yang masih hangat dalam ingatanku adalah tentang alasan partisipasi pemilih pada 9 April mendatang adapun hasil surveinya sebagai berikut.

•    54.55 % karna sadar akan hak dan tanggung jawab sebagai warga Negara
•    1.01 % karna tertarik kepada visi dan misi caleg parpol yang saya dukung
•    14.14 % karna ingin ada perubahan dan perbaikan nasib melalui partai yang didukung
•    8.33 % ikut-ikutan
•    2.02 % karna ada keluarga yang menjadi caleg
•    1.26 % karna ada calon president atau tokoh partai yang disenangi
•    18.69 % karna menanti pemberian dari caleg dan parpol dimasa jelang pemilihan

Dari hasil survei di atas sangat terlihat jelas bahwa parpol tidak bisa menyajikan caleg yang berkulitas yang memiliki nilai jual kepada masyarakat dalam pesta demokrasi politik, terlihat hanya 1.01 % responden yang berpartisiapasi untuk memilih karna tertarik kepada visi dan misi caleg.

***
Pada kesempatan ini aku tidak akan banyak bercerita tentang hasil survei IDEC karna takutnya yang aku sampaikan sangat subjektif. Aku lebih tertarik dengan diskusi politiknya. Karna selain direktur IDEC ada tiga narasumber yang di hadirkan pada acara disikusi politik tersebut yaitu Pa Firdaus Muhammad, Pa Hidayat Nawir Rasul, dan Pa Aswar Hasan.

Hampir semua narasumber menjelaskan secara gamblang tentang bobroknya sistem demokrasi politik di negri ini, dari berbagai sudut pandang berbeda baik itu perspektif media, akademisi, praktisi, pemerintah, partai politik dan lain sebagainya, seperti yang disampaikan oleh salah satu narasumber tentang sistem pemilihan transaksional yang mendominasi dalam pesta demokrasi, hingga sampai kepada kesimpulan bahwa mayoritas pemilih dalam hal ini rakyat membutuhkan pendidikan politik untuk menjadi pemilih cerdas.

Ketika salah satu seorang peserta bertanya akan hal itu, siapa yang bertanggung jawab atas kurangnya pendidikan politik yang didapatkan oleh rakyat? Aku sangat kecewa mendengar jawaban yang diberikan oleh beberapa narasumber karna mereka memberikan jawaban yang ambigu dan saling melempar bola, ditambah lagi komentar beberapa peserta diskusi yaitu para caleg papol yang melempar kembali bola yang diberikan kepadanya oleh narasumber.

Dan ujung-unjungnya mereka menyalahkan rakyat karna menjadi pemilih pragmatis. Sekiranya rakyat sebagai pemilih juga diberikan kesempatan dalam panggung-panggung publik untuk menyampaikan pembelaan diri, mereka juga pasti memantulkan bola yang diberikan kepadanya. Tapi sayang punggung publik hanya milik elite bangsa ini, mulai dari elite parpol, politisi, akademisi, media, NGO sampai kepada elite mahasiswa. Karna tukang beca, supir angkot, dan semua non elite tidak pernah diundang untuk berekspresi di atas panggnug publik.

Aku sangat heran mendengar ketika tuduhan itu ditujukan kepada rakyat, karna pada dasarnya mereka hanya memilih, apa yang disajikan oleh parpol sebagai aktor utama demokrasi politik. Toh rakyat juga tidak pernah ditanya celag dan pemimpin apa yang mereka inginkan, yang terjadi hanyalah rakyat menjadi pemilih determitis dari pilihan yang disajikan oleh berbagai parpol dan beberapa diantara mereka juga takut berdosa karna melanggar fatwa bahwa gol-put itu haram. Dan rakyat juga menjadi pemilih pragmatis (transaksional) itu karna mereka ditawari oleh beberapa caleg dan parpol bukan mereka yang memintannya, bukankah yang melakukan serangan fajar itu adalah orang-orang parpol dan caleg?

Setelah acara diskusi itu selesai aku sempat berpikir, bagaimana jika rakyat yang dituduh pemilih pragmatis di panel dengan caleg parpol dengan dua tema yang berbeda yang pertama masalah pendidikan politik, yang kedua masalah cara bertani yang baik bagi pemilih pragmatis petani, ataukah cara mencari penumpang bagi pemilih pragmatis tukang beca atau supir angkot, intinya tema kedua disesuaikan dengan profesi pemilih pragmatis “katanyan mereka” !!!

Hmmm aku pun ingin bertanya kepada pembaca, siapakah yang bertanggung jawab atas pendidikan politik rakyat (?)

Makassar 18 Februari 2014
-HS’Masagenae

Tan Malaka Pahlawan Tanpa Pamrih

Sumber http://salihara.org
Deretan nama pahlawan nasioanal telah memarginalkan sosok Tan Malaka dalam lembaran sejarah RI, ia hanya menjadi kenangan gelap beserta buah bibir para aktivis kampus, terutama bagi aktivis aliran kiri. Dan tak jarang pula kita dapatkan cacian yang ditujukan kepadanya oleh beberapa akademisi karna deskripsi sejarah telah menokohkan ia sebagai tokoh komunis.

Beberapa hari yang lalu aku  sempat melihat berita di media saat salah satu lembaga yang berlabelkan islam membubarkan forum diskusi dan bedah buku tentang pimikiran Tan Malaka. Sungguh malang nasip sang inspirator RI,  ia menjadi pelukis yang terlupakan sementara disisi lain karya lukisan beliau dipuja-puja bagaikan dewa penyelamat.

Rintihan dalam hati kecilku pun bertanya-tanya, kenapa mereka tidak sekalian memboikot situs di dunia maya yang menyajikan pemikiran komunis? Karana mereka membubarkan diskusi tentang pemikaran Tan Malaka dengan tuduhan bahwa ia adalah seorang komunis dan melarang penyebaran buah pemikirannya. Mungkin mereka tidak pernah membaca karya-karya revolusioner Tan Malaka yang begitu fantastik, sehingga wajar mereka begitu gamblang menuduhnya komunis.

Di kampus-kampus aku sering mendengarkan mahasiswa membangga-banggakan pahlawan nasional idola mereka dan tak banyak dari mereka yang mengidolakan Tan Malaka. Jika dibandingkan dengan Soekarno, Hatta, Soedirman, atau pahlawan nasional lain, nama Tan Malaka bukanlah apa-apa ia tidak terlalu dikenal oleh publik. Bahkan di era orde baru , tiap orang termasuk mahasiswa yang mengagumi perjuangannya terpaksa harus berhadapan dengan aparat karna bagi penguasa orde baru, Tan Malaka adalah momok jadi  setiap orang yang mengaguminya harus dicurigai.

Tan Malaka memang lebih dikenal dengan pimikiran-pimikirannya. Ia lebih banyak berjuang melalui ide-ide, mungkin inilah salah satu alasan kenapa bangsa ini tidak terlalu menganggap penting perjuangannya. Selama ini, orang-orang yang mendominasi daftar nama pahlawan nasional adalah mereka yang berjuang melalui perang, sedangkan Tan Malaka yang memilih berjuang dengan caranya sendiri yaitu bukan dengan angkat senjata tidak di kategorikan sebagai pahlawan nasional.

Tak heran jika banyak orang yang berlomba membangun prasasti untuk mengenang hasil perjuangan mereka melalui kebendaan. Maka, wajar ketika Marx mengukur sejarah manusia melalui materi. Dimana logika pikir kebanyakan orang terbentur pada materialisme. Logika pikir yang memberikan penghargaan perjuangan secara fisik. Olehnya itu Seorang atlet bisa mendapat penghargaan lebih dibanding seorang peneliti karna IDE telah dikalahkan oleh FISIK.

Aku pun kembali bertanya-tanya dalam rintihan hati kecilku, kenapa perjuangan seseorang pahlawan diukur dari perjuangan fisik? diukur dari berapa banyak serdadu yang mereka bunuh? Apakah mereka tidak paham bahwa revolusi pasti berawal dari gagasan? Dan apakah mereka tidak tau bahwa setiap perubahan kecil selalu diawali dari ide? Hingga mereka berusaha menghapus Tan Malaka dalam lipatan sejarah karna perjuangan ide-idenya dipecundangi oleh perjuangan fisik pahlawan nasional.

***
Meski mereka tidak menganggap Tan Malaka sebagai pahlawan nasional, hal itu tidak akan meruntuhkan kekagumanku kepada beliau, karna bagiku ia adalah sosok yang misterius dalam kancah pahlawan nasional dan sosok yang  keberadaannya selalu saja kontroversial, seperti ketika ia mendukung Soekarno untuk menjadi presiden pertama RI dan melawan ketika Soekarno mulai menerapkan demokrasi terpimpinnya.

Yang membuat aku kagum dari sosok Tan Malaka, karna ia adalah pejuang tanpa pamrih. Sejarah mencatat bahwa Tan Malaka tak pernah menduduki jabatan-jabatan birokrat seperti Soekarno ataupun Hatta. Perjuangan politik Tan Malaka lebih diwarnai pembangkangan terhadap penguasa dan bahkan kehidupannya harus ia habiskan dari penjara ke penjara.

Ketika zaman imperialisme Belanda, ia harus mendekam di penjara begitu pula ketika Jepang berkuasa ia juga harus dipenjara, bahkan ketika Indonesia telah merdeka pun Tan Malaka harus dipenjara karna ia selalu menjadi pembangkang para penguasa.

Itulah sebabnya kenapa terlalu sedikit orang yang mengerti tentang Tan Malaka. Subjektivitas plus politisasi sejarah orde baru membuahkan gambaran gelap tentang peran ia untuk memperjuangkan republik ini. Dan pada akhirnya, Diponegoro, Imam Bonjol, Soekarno, Hatta, Soedirman, dan sederet nama pahlawan nasional lain menjadi lebih glamor dibanding Tan Malaka. Di antara nama-nama tersebut, Tan Malaka bukanlah apa-apa.

Walaupun Tan Malaka kalah tren dengan pahlawan nasional, dituduh komunis oleh beberapa orang terutama organ islam yang membubarkan acara diskusi dan bedah buku pemikirannya, sampai-sampai era orde baru mencoreng nama baiknya dan mengubur sejarah perjuangan yang ia lakukan untuk RI, dalam hati kecilku akan tetap selalu, selalu, dan selalu kagum kepada engkau TAN MALAKA.!

Makassar 17 Februari 2014
-HS’Masagenae

Tinjauan Kritis Asal Mula Nama Pinrang

Majalah Sastra SALO SADDANG
Kamis, 30/Januari/2014, Aku mendapatkan sebuah majalah dari seorang teman, ia adalah sosok spirit bagiku untuk terus belajar menulis terutama tentang sejarah dan kebudayaan Pinrang. Selama ini referensi yang aku dapatkan tentang sejarah dan kebudayaan pinrang hampir semuanya kuperoleh darinya.

Satu kebahagian bagiku karna majalah yang ia berikan diterbikan oleh Komunitas Penulis Pinrang, aku menganggap bahwa majalah itu merupakan partisipasi reel perjuangan pemuda Pinrang untuk melestarikan kebudayaan lokal. ekspresi kebahagian itu merupakan puncak dari kegelisahanku karna selama ini hampir-hampir aku tidak menemukan saudara-saudarku di Pinrang yang melakukan hal itu.

Majalah itu adalah Majalah Sastra “Salo Saddang" media yang menampung kreasi berupa esai, cerpen, puisi, resensi, riset ataupun laporan jurnalistik. Aku sangat mengapresiasi karya itu karna sangat jarang kutemukan komunitas pemuda Pinrang yang memiliki perhatian lebih terhadap sejarah dan kebudayaan Pinrang dan partisipasi Komunitas Penulis Pinrang dengan membuat majalah itu menuruku sangat luar biasa karna media itu bisa menjadi sumber informasi untuk berbagai pengetahuan seputaran sejarah dan kebudayaan Pinrang, Yah semoga apa yang dilakukan oleh kawan-kawan team Majalah Sastra Salo Saddang bisa memberikan sumbangsi besar untuk perubahan Pinrang menjadi lebih baik lagi kedepannya.

***

Salah satu artikel dalam Majalah Sastra Salo Saddang  edisi I Januari-April terdapat tulisan yaitu Asal Mula Nama Pinrang oleh La Dawan Piazza, kesempatkan waktu untuk membuat tulisan ini untuk menjalin silaturahmi melalui media antar sesama pemerhati sejarah dan kebudayaan Pinrang.dan memberikan sudut pandang berbeda dari apa yang telah dipaparkan oleh La Dawan Piazza.

Dalam tulisannya La Dawan Piazza menyebutkan ada dua peristiwa asal mula penamaan Pinrang.

Peristiwa pertama “Pinra-Pinra Onroang” artinya pindah-pindah tempat, beliau mengatakan dalam tulisannya bahwa zaman dahulu banjir besar melanda Sulawesi, banyak daerah yang tergenang air termasuk daerah Pinrang. Jadi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut hidupnya berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk mencari  wilayah pemukiman yang bebas genangan air dalam bahasa bugis disebut “Pinra-pinra Onroang” (berpindah-pindah tempat). Setelah masyarakat menemukan tempat pemukiman yang baik maka dinamakan tempat tersebut, “Pinra-pinra” (Pindah-pindah).

Peristiwa kedua, Sekitar tahun 1540 kerajaan Gowa melakukan invasi militer terhadap kerajaan Sawitto dan perlawanan yang dilakukan oleh La Palateang Raja Sawitto pada saat itu dan para perajuritnya yang gagah berani tumbang oleh kekuatan militer Gowa. Kekelahan itu mengakibatkan ditangkapnya Raja La Palateang dan permaisurinya dan mereka dibawa ke Gowa sebagai tanda kemenangan Gowa atas Sawitto.

Singkat cerita diutuslah dua bersaurada To Barani yaitu To Lengo dan To Kipa untuk membebaskannya. Akhirnya mereka berhasil menyelamatkan raja La Palateang beserta permaisurinya dan dibawa kembali ke Sawitto. Kedatangannya pun disambut dengan luapan kegembiraan oleh rakyat dan dielu-elukan sepanjang jalan menuju istana.

Dibalik kebahagian itu, mereka terharu melihat kondisi sang raja yang mengalami banyak perubahan seraya mengatakan “Pinra kana’ni tappana datu’e pole ri Gowa” yang artinya wajah raja mengalami perubahan sekembalinya dari Gowa. (untuk lengkapnya silahkan baca di Majalah Sastra SALO SADDANG hal.34 Asal mula nama Pinrang oleh La Dawan Piazza)

Dalam penjelasan La Dawan Piazza mengatakan bahwa Pinrang berasal dari kata Pinra yang mengalami pengaruh intonasi dan dialek bahasa bugis sehingga menjadi Pinrang yang sekarang diabadikan menjadi Kabupaten Pinrang.

Dari tulisan beliau aku akan mencoba melakukan tinjauan kritis dari apa yang telah beliau jelaskan, misalnya penggunaan kata Pinra pada dua kalimat yang mempunyai arti yang berbeda yaitu “Pinra=Pindah” pada kalimat “Pinra-Pinra Onroang” dan “Pinra=Perubahan” pada kalimat “Pinra kana’ni tappana datu’e pole ri Gowa” bagaimana bisa satu kata yang mimiliki arti yang berbeda dalam dua kalimat?

Dan kedua peristiwa yang beliau sebutkan yang mejadi momentum kata Pinra dan digunakan untuk melegitimasi penamaan Pinrang terjadi pada waktu yang berbeda peristiwa pertama adalah peristiwa banjir besar sebelum terbuntuknya kerajaan Sawitto, dimana kerajaan Sawitto terbentuk pada abad ke 13-14 (ini masih menjadi perdebatan dikalangan sejarahwan). Jadi banjir besar yang dimaksud terjadi sebelum abad 13-14 dan peristiwa kedua penyelamatan raja Sawitto dan permaisurinya oleh To Barani terjadi pada abad ke 15.

Beliau juga mengatakan bahwa pemberian nama Onder Afdeling Pinrang merupakan ketetapan yang dilakukan oleh Belanda yang menjajah Sawitto pada saat itu, jadi ketetapan itu terjadi pada abad 19.  Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kata Pinrang yang diberikan oleh Belanda berasal dari kata Pinra yang mengalami pengaruh intonasi dan dialek bahasa bugis?

Menurutku, mungkin perlu penjelasan ilmiah kenapa bisa Belanda menggunakan kata Pinrang karna tidak mungkin Belanda menggunakan kedua peristiwa yang dijelaskan oleh La Dawa Piazza sebagai dasar untuk meberikan nama Pinrang karna belanda bisa saja tidak mengetahui kedua peristiwa tersebut.

Kalau kita melihat UU penetapan daerah tingkat II sulawesi yg membentuk tingkat II Pinrang yang ditetapkan pada tahun 1959, dimana selisi munculnya kata Pinra pada kalimat “pinra kana'ni tappana datue pole ri gowa” dengan penetapan pinrang sebagai daerah tingkat II sulawesi sekitar 4 abad 15 tahun (sekitar 8-10 keturunan)  dan kata Pinra pada kalimat “Pinra-Pinra Onroang” yaitu peristiwa banjir besar selisihnya sekitar 5 abad lebih karna peristiwa banjir terjadi sebelum terbentuknya kerajaan Sawitto.

Jadi perubahan intonasi kata Pinra menjadi Pinrang pada peristiwa pertama mengalami proses sekitar 5 abad lebih dan pada peristiwa kedua sekitar 4 abad lebih. Menurutku perlu penjelasan yang lebih detail dan komprehenship terkait penamaan Pinrang dari kedua peristiwa tersebut karna kata Pinra yang diliustrasikan pada dua peristiwa yang berbeda sebagai pembenaran untuk penamaan Pinrang terjadi sangat jauh dengan penetapan Pinrang sebagai sebagai daerah tingkat II Sulawesi.

Dalam tulisan La Dawa Piazza juga menyebutkan Pinrang terdiri dari empat gabungan kerajaan yaitu Kassa, Batu Lappa, Sawitto dan Suppa jadi Pinrang bukan hanya Sawitto sederhananya adalah kedua peristiwa tersebut tidak bisa menjadi refresentatif dari ke empat kerajaan yang tergabung dalam Onder Afdeling Pinrang karna pada saat terjadinya kedua peristiwa itu Sawitto, Batu Lappa, Kassa,  dan Suppa belum tergabung dalam Onder Afdeling Pinrang.

Untuk mengetahui Kerajaan yang tergabung dalam Pinrang baik itu secara wilayah kekuasaan ataupun secara kepemimpinan (persetujuan Raja) kita harus membedakan, Onder Afdeling Pinrang yang ditetapkan oleh pemerintahan Hindia Belanda dan Onder Afdeling Pinrang sebagai daerah tingkat II Sulawesi.

Tapi kalau kita melihat Pinrang sekarang daerahnya terdiri dari beberapa wilayah kerajaan yaitu Kerajaan Akkarungan Tungke dan Akkarungan Lili. Akkarungan Tungke terdiri dari 6 kerajaan, 3 dari pecahan federasi Ajatappraeng yaitu Suppa, Sawitto, Alita dan 3 dari pecahan federasi Masenrengpulu yaitu Kassa, Batu Lappa, Letta. Sedangkan Akkarungan Lili yaitu kerajaan yang tergabung dalam masing-masing Akkarungan Tungke seperti Akkarungeng Lili Suppa adalah Bacukiki, Nepo, Bojo dan Palanro.

Semoga coretan kumuh ini bisa menjadi ajang silaturahmi bagi sesama pemerhati sejarah dan kebudayaan pinrang terutama buat daengku malebbie La Dawan Piazza dan Coretan ini juga akan aku kirim ke email Majalah Sastra SALO SADDANG dan berharap bisa diterbitkan pada edisi berikutnya. (hhe)

Coretan ini juga aku buat sebagai bentuk kecintaanku kepada tanah kelahiranku Pinrang dan sebagai Wija To Penrang yang selalu bermimpi untuk mewujudkan masyarakat Pinrang yang adil dan makmur dalam bingkai kearifan lokal. Mudah-mudahan coretan ini bisa bermanfaat sebagai dialektika gagasan sejarah dan kebudayaan Pinrang. Mohon masukan dan kritikan.

-HS’Masagenae

EMILE DURKHEIM : “Tinjauan Kritis Bunuh Diri”

Sumber, australianculturalsociology.wordpress.co
BEBERAPA, tahun silang saat aku masih sering mengikuti forum-forum ke-ilmuan di kampus, aku sering diajak diskusi oleh teman-teman mahasiswa yang mengklaim komunitas mereka sebagai gerakan kiri. Alasan atas pengklaiman tersebut, karna mereka selalu mengkunsumsi wacana pemikir liberal barat seperti Aguste Comte, Herbert Spencer, Marx Webber, Emile Durkheim, Kalr Max dan beberapa tokoh sosial yang lain.

Hal itulah yang mempengaruhi kenapa pejuangan yang mereka lakukan sangat konfrontatif dan hampir semua demonstrasi yang mereka lakukan selalu berujung bentrok dengan aparatus pemerintah (perjuangan ala gerakan kiri).

Hhm, aku bingung sendiri ketika meraka menyebutku sebagai mahasiswa gerakan kanan, mungkin karna aku orangnya tidak terlalu suka belajar teori sosial jadi mereka menyebutku seperti itu. Yah aku memang fobia dengan wacana sosial, olehnya senyumku kepada mereka sebagai ekspresi men-iyakan panggilan itu kepadaku.

Hari ini aku baru saja membaca beberapa buku tentang teori sosial yang membuatku teringat kepada teman-teman mahasiswa gerakan kiri, pernah suatu waktu aku menjadi pendengar setia ketika seorang temanku bercerita panjang tentang otobigrafi dan pemikiran Emile Durkheim dan aku mencoba mengkomparasikanya dengan hasil bacaanku dan mengabadikannya dalam sebuah coretan sebagai proses perjalanan intelektulku. Aku memanggil temanku dengan panggilan Mr.Aco (nama samaran) ia adalah mahasiswa aktivis gerakan kiri.

****

Emile Durkheim, tokoh sosiolog keturunan pendeta yahudi, ia lahir di Etipal Prancis 15 April 1858, sebagai keturunan pendeta ia dituntut untuk belajar menjadi seorang pendeta. Di saat berumur 10 tahun ia diminta menjadi pendeta tetapi ia menolak karna perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademis ketimbang teologis.

Lahirnya pemikiran Durkheim sebagai aspirasi untuk menkritik demonasi positivistic Aguste Comte yang terlalu filoshopis, Comte sebagai peletak batu pertama disiplin ilmu sosiologi ia berhasil membawa pengaruh besar terhadap kontigen intelektual barat, terutama para teoritis sosiologi selanjutnya seperti Hebert Spencer dan Emile Durkheim.

Salah satu karya besar Durkhem ialah “Suicide”1897/1951, (George Ritzer, teori sosilogi modern) buku itu merupakan hasil penelitian empirisnya tentang studi bunuh diri. Ia melakukan penelitian dibeberapa Negara eropa dan megkomparasikan data-data yang ia didapatkan. 

Menurut Durkhem seseorang nekat melakukan bunuh diri bukan karna gejalah-gejalah psikologi, melainkan karna adanya integritas kenyataan-kenyataan sosial kepada kediriannya Durkhem manganggap gejalah bunuh diri sebagai fenomena sosial. 

Meskipun Durkheim tidak sampai menjajal mengapa individu A dan B melakukan bunuh diri, melainkan ia melakukan komparasi, apa faktor external yang mempengaruhi seseorang bunuh diri karna ia menganggap bahwa seseorang yang nekat bunuh diri karna ada sesuatu tekanan sosia dari luar kediriannya (external) yang ia sebut sebagai fakta sosial atau barang sesuatu (thing).

Durkhem menempatkan faktor sosial sebagai alasan yang mendesak seseorang melakukan bunuh diri, ia pun menyimpulkan empat pemicu bunuh diri

1. Egoistik
2. Fatalistik
3. Altruistik, dan
4. Anomik

****

Hikzt, Aku akan mencoba mengingat peristiwa bunuh diri yang pernah diceritakan oleh temanku Mr.Aco berdasarkan apa yang telah disimpulkan oleh Durkhem.
  • Ada seorang mahasiswa yang sangat pendiam, ia memiliki kebiasaan menyendiri dan merenung, kediriannya sangat tertutup dengan mahasiswa lain sehingga ia tidak pernah sama sekali menceritakan setiap masalah yang ia dapatkan. Akibatnya adalah interaksi sosial dengan teman-temannya terputus dan ia pun merasa terkucilkan karna Ia menganggap dirinya terpisah dengan mahasiswa yang lain hal itulah kemudian mendorong Ia untuk mengakhiri hidupnya. Mr.Aco menyebut itu sebagai bunuh diri egoistik (Durkhem).
  • Seorang siswa yang baru saja lulus SMA/SMK dengan mendapat prestasi lulusan terbaik, ketika ia mendaftar di Universitas Negri ternyata predikatnya sebagai lulusan terbaik tidak selaras dengan hasil yang ia dapatkan saat mendaftar di Universitas Negri karna ia tidak lulus, beberapa kali ia mencoba untuk mendaftar kembali akan tetapi hasilnya tetap saja sama yaitu tidak lulus. Karna ekspektasinya sangat besar untuk kuliah di Universitas Negri, hasil buruk itulah yang mengakibatkan ia stres dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Mr.Aco menyebut itu sebagai bunuh diri Fatalistik (Durkhem)
  •  Mr.Aco mengkatagorikan bunuh diri Altruistik (Durkhem) sebagai sifat yang mulia karna mereka mengorbankan dirinya untuk kepentingan masyarakat. Misalnya aktivis kampus yang memiliki kepekaan kuat terhadap ketimpangan sosial sehingga ia rela mati-matian memperjuangkan hak-hak rakyat walaupun ia harus mengorbankan dirinya dengan melakukan aksi bunuh diri seperti membakar diri dan bom bunuh diri di tempat umum.
  • Depresi ekonomi merupakan salah satu penyebab seseorang nekat mengakhiri hidupnya. Mr.Aco menyebutnya sebagai bunuh diri Anomik (Durkhem). Misalnya seorang mahasiswa hedonis yang hidupnya tidak pernah susah dimana kebutuhan ekonominya selalu lebih dari cukup. Ketika orang tuanya terkena musibah dan kehilangan semua harta bendanya, hal itu kemudian berimbas kepada anakya karna kehidupan mewah yang selama ini ia nikmati dari kekayaan orang tuanya tidak bisa lagi ia rasakan, perlahan tapi pasti, musibah itu membuat ia mengalami depresi ekonomi dan memilih untuk bunuh diri.
 
-
"ILUSTRASI" theunutterablebeautyofphrases.wordpress.com
Sekarang aku baru menyesal karna melihat proses pembelajaranku yang sangat lambat, ketertarikanku untuk mempelajari teori sosial baru mekar setelah aku menyelesaikan studi di Kampus Hitam ! dan mulai sekarang aku akan giat membaca buku-buku sosial walaupun kali ini aku agak susah untuk mencari teman diskusi karna semenjak selesai di Kampus Hitam aku putus komunikasi dengan teman-teman gerakan kiri.

Makassar 4/Februari/2014
-HS’Masagenae.

Halaman

Twitter

 
Support : http://sempugi.org/ | Your Link | Your Link
Copyright © 2014. Haeruddin Syams - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger